Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.


Melongok Kedigdayaan Waktu Senggang

Pada akhirnya manusia yang menentukan
(Soekarno)

Waktu senggang saat ini identik dengan masa liburan. Momen yang dinanti sekaligus kerap ditolak oleh masyarakat modern. Waktu senggang memberi peluang bagi individu untuk bebas dari rutinitas kerja. Namun, pemaknaan waktu senggang juga bisa terlampau peyoratif sebab sering didekatkan pada sikap malas.


Buku yang ditulis oleh Fransiskus Simon ini membentangkan ceruk-lekuk kekuatan waktu senggang dalam memengaruhi, membangun dan mengkritisi kebudayaan masyarakat manusia. Umumnya, buku bergenre filsafat memiliki sifat—pinjam istilah dari Jody Pojoh—buku kubik. Maksudnya, buku yang cenderung tebal dan sulit dimengerti bahasannya—hingga terlampau ‘tinggi’ bagi pembaca awam. Kebudayaan dan Waktu Senggang ialah buku bergenre filsafat yang ‘ramah’—tebalnya cuma 134 halaman, untaian kalimatnya mudah dipahami dan isinya sungguh inspiratif.


Setiap usaha manusia untuk merumuskan kebudayaan pada akhirnya adalah representasi pluralitas dari masyarakat. Tiap ahli dari pelbagai bidang keilmuan—sosiologi, antropologi, ilmu komunikasi dan sebagainya—memiliki rumusan sendiri. Oleh karena itu, Simon mengambil posisi sebagai pemeriah perbendaharaan ide dan usul yang memungkinkan suatu diskusi baru melalui buku ini. Dengan menghadirkan pemikiran strategi kebudayaan dari CA van Peursen yang diintegrasikan bersama analisa filosofis Josef Pieper tentang waktu senggang, buku ini merupakan sebuah kolase yang indah.


Manusia modern hidup dalam kepungan segala sesuatu yang banal, bersifat anti-ritual dan seremonial hingga memunculkan krisis eksistensial. Manusia modern tak lagi punya prioritas hidup, tanpa harapan dan tak berani menyelami makna terdalam. Sebabnya ialah kecenderungan untuk mengagungkan kerja yang membuat waktu senggang terbunuh. Manusia modern tak lagi memberi ruang bagi dirinya untuk berfilsafat melalui kontemplasi dan refleksi.


Padahal, waktu senggang memiliki ‘daya ledak’ yang luarbiasa bagi kebudayaan manusia. Masyarakat Yunani Kuno telah mengenal waktu senggang yang direpresentasikan oleh kata skole. Momen itu digunakan untuk berdiskusi tentang kebenaran, merefleksikan peristiwa kehidupan dan kegiatan kontemplatif lainnya yang mengandung spiritualitas. Bahkan, karya-karya besar filsuf Yunani Kuno dikerjakan saat waktu senggang (hal.60).


Dengan pemahaman kebudayaan sebagaimana pernah dirumuskan oleh van Peursen, yakni “kebudayaan dilihat sebagai kata kerja; proses manusia membuat, melakukan transaksi-transformasi dan berubah tanpa titik akhir”, Simon mengajak pembaca untuk melihat kekuatan waktu senggang. Jadi waktu senggang tak laik jika dimaknai dan diisi dengan kemalasan. Sebaliknya, waktu senggang ialah momen untuk menyusun ‘strategi’ agar hidup manusia tak tersedot ke dalam kebudayaan yang hanya merayu dan memuaskan nafsu tapi hampa makna.


Waktu senggang bukanlah sikap dan tindakan yang terjadi karena pengaruh kekuasaan atau tekanan dari luar. Jika waktu senggang tetap dimaknai sebagai pemberian dari manajemen, maka ia tetaplah bagian dari rutinitas kerja. Padahal, kerja bagi masyarakat modern telah masuk dalam pemahaman satu dimensi; ‘kerja untuk kerja’. Begitu meruah kehilangan yang dialami oleh manusia modern akibat pendewaan pada pekerjaan. Kesempatan untuk berbagi dengan sesama, merenungkan kehidupan sampai memenuhi kebutuhan spiritual telah tereliminir secara tragis oleh totalitas pekerjaan.


Waktu senggang seharusnya merupakan momen yang tumbuh secara alamiah; bagai kebutuhan manusia untuk makan. Ia hadir sebagai perayaan yang merupakan perpaduan dari ketentraman (transquility), kontemplasi (contemplation) dan kesungguhan hidup (intensity of life). Artinya, waktu senggang adalah kesempatan bagi manusia untuk masuk-meninjau-memperbaiki ke dalam diri sendiri dan lingkungan. Sayangnya, hari ini, waktu senggang lebih dianggap manusia sebagai momen untuk lari menuju jebakan-jebakan nafsu belaka. Hingga sikap konsumerisme, hedonisme dan festival hampa makna kian karib di sekitar kita terkait waktu senggang.


Manusia memiliki akal-pikir hingga mampu merenungkan-melaksanakan yang terbaik menurutnya dalam pusaran perubahan kebudayaan yang tanpa henti. Maka, manusia bisa menjadi sandera atau agen kebudayaan secara aktif. Waktu senggang memungkinkan berjalannya proses seleksi dan kritisisasi ketika melakukan transaksi-transformasi kultural dengan kebudayaan diluar lingkungan kita. Lebih dari itu, waktu senggang juga merupakan momen yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi kreatifitas dan imajinasi. Tentu saja, hal tersebut akan berlangsung jika waktu senggang dihidupkan dengan perilaku kontemplatif dan reflektif ke dalam dan ke luar diri manusia.


Sekilas, pemikiran Simon ini memang utopis. Namun, jika manusia memiliki kecenderungan untuk bersikap destruktif hingga terbangun kebudayaan nekrofilia. Maka ia pun berkesempatan untuk menghidupkan kebudayaan biofilia, yakni kebudayaan yang senantiasa bertujuan menjaga kelangsungan hidup manusia dan dunia. Itulah sebabnya, saya kutipkan pernyataan Bung Karno di awal tulisan ini.


Kekuatan waktu senggang dalam hubungannya dengan kebudayaan memang tak bisa diremehkan. Inilah solusi sekaligus tantangan bagi masyarakat modern dalam membangun-hidupkan kebudayaan. Konflik, penggunaan narkotika, kerusakan lingkungan sampai melunturnya spiritualitas yang menubuh pada masyarakat modern sangat mungkin disebabkan oleh kebudayaan yang dibangun tanpa kematangan strategi. Manusia modern yang cenderung workaholic telah meremehkan kekuatan waktu senggang.


Proyek masyarakat-manusia modern akhirnya adalah menanggulangi proses dehumanisasi menjadi rehumanisasi, perilaku konsumer menjadi penghematan-produktif dan—yang terpenting:—seleksi kebudayaan. Jalan untuk melakukan itu semua telah dilapangkan dengan apik oleh Fransiskus Simon dalam buku ini. Sayang memang, intelektual kita ini harus pulang ke rumah Tuhan saat berusia 23 tahun.(*)

Seterusnya..




Jalan Bapak

(dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi Minggu, 20 Juli 2008)

Rokok ketujuh yang saya isap belum habis. Obrolan tetap hangat, tidak dingin seperti kopi yang ada di hadapan saya. Itulah nikmatnya melakukan ”ritual” cangkruk.

Berbincang dengan tema dan waktu tanpa batas di sebuah warung kopi adalah suatu kebiasaan yang tak mungkin lewat dalam keseharianku. Ya, ada yang bilang cangkruk hanya membuang waktu.Bahkan, seorang dosen mengatakan bahwa cangkruk itu hanya dilakukan mereka yang malas dan masih bermental budak. ”O iya...juga mereka yang hidup tanpa tujuan,” lanjut dosen itu dalam sebuah kelas pada masa awal saya kuliah.

”Apa yang salah dengan cangkruk?” pikirku bertahun-tahun setelahnya. Aku dan teman-teman menjadi konsumen warung kecil yang pemiliknya adalah kaum papa. Kami tidak cangkrukdi kafe-kafe atau di gerai kopi asal luar negeri. Ketika cangkruk pun, obrolan kami seputar berita-berita di televisi yang kerap diisi keganjilan ulah para pemimpin di negeri ini.Saya sendiri kerap menjadikan cangkruk sebagai wahana mendengarkan curhat seorang teman yang sedang bermasalah.

Cangkruk kami tidak biasa dan sangat jauh dari hura-hura. Ya, cangkruk yang bertahun-tahun saya nikmati adalah bukti bahwa masyarakat kita masih belum sepenuhnya individual.Masih ada wahana untuk berbagi kisah.Yang paling tak terlupakan, cangkruk merupakan ajang untuk berdebat,mengasah,dan menambah ilmu. ”Lewat cangkruk, ide-ide besar sering bermula,” kata seorang temanku suatu ketika. Bahkan, di era Pak Harto dulu,kata temanku lagi, para aktivis berbagi ide dan merancang gerakan dari warung kopi.

***

Tiba-tiba mata saya menjadi dingin. Perlahan,ada yang mengalir berangsur beku dalam hati.Padahal,obrolan saat itu sedang panas-panasnya.Rokok saya yang ketujuh sekejap lepas dari jepitan telunjuk dan jari tengah.Dari arah barat warung tempat saya cangkruk, sebuah gerobak datang. Saya membaca tulisan Mi Ayam berwarna kuning Golkar. Setelah memarkir gerobak itu,pendorongnya lalu masuk warung, melepaskan topi dan tersenyum ramah pada hadirin yang ada di sana.

”Ya ampun,penjual mi ayam itu lagi,” batin saya berdesir. Ya, saya sangat sering melihat penjual mi ayam yang satu ini.Namun,saya tak pernah membeli dagangannya. Saya kurang begitu suka mi.Tidak mengenyangkan. Penjual mi ayam itu beredar di sekitar Jalan Jawa. Saat siang, dia sering mangkal di samping Warnet Maxima. Kalau sedang ada duit agak banyak, saya ke Maxima siang hari.

Tiap itu pula, saya pasti melihat penjual mi ayam dan gerobaknya. Entahlah, tiap kali melihatnya seolah ada yang mengiris-iris hati dengan es batu yang tipis dan tajam.Maka itu, kadang saya memutar arah saat pulang dari kampus untuk tidak bertemu dengannya. Padahal, Jalan Jawa adalah penghubung yang sangat dekat antara tempat indekos dan kampus.

Siang itu,sang penjual mi ayam ada di hadapan saya. Ingin rasanya keluar warung.Tapi posisi badan tidak memungkinkan– saya diapit dua teman yang sedang asyik berbicara. Selain itu,tak nyaman rasanya jika keluar warung saat ada orang yang baru datang. Saya putuskan untuk bertahan sekitar 10 menit lagi.Namun,putusan saya itu tak mewujud sama sekali.

Mata saya menatap lekat–walau tetap saya usahakan agar tidak kentara–ke wajah penjual mi ayam itu. Bibirnya yang agak tebal berada di bawah kumis yang sangat rimbun, tetapi tidak tertata rapi.Kulit yang cokelat tua sisa bakaran matahari,menjadi alas bagi garis-garis wajah yang kian tampak karena keriput. Dan satu lagi, matanya.Mata itu tak merekah,tanda deraan lelah yang seolah tanpa henti.

Lengkap sudah.Penjual mi ayam itu mirip sekali dengan bapak saya.Hanya, tubuhnya tidak gemuk dan rambutnya belum putih seluruhnya. Sejak pertama bertemu dengannya, saya makin percaya dengan teori–yang tak jelas sumbernya– bahwa ada 10 orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah.

***

Jalan hidup bapak adalah lereng bukit batu yang terjal. Saya ingat betul, ketika itu saya masih duduk di kelas enam SD. Mama meminta saya untuk berangkat ke Jakarta seorang diri. ”Bapak kamu sakit,”kata ibu kepadaku waktu itu.

Setelah gonta-ganti bus dan satu kali naik feri di penyeberangan Bakauheni–Merak, saya tiba di RSCM.Di tempat itulah bapak terbaring lemah setelah dua hari sebelumnya jatuh dari sepeda motor, sebab ojek yang ditumpanginya tak berdaya menampung beban dari tubuh bapak ketika hendak menyeberangi rel.

Tak bisa lekang dari ingatan, saat itu adalah masa di mana saya mengetahui dengan pasti kalau bapak memiliki istri bukan hanya mama. Bapak membangun keluarga pula bersama tiga perempuan. Untuk pertama kalinya, saya bertatap muka dengan beberapa anak bapak. Hati siapa yang tak remuk redam kala itu?

Saya–yang saat itu masih bocah berusia 12 tahun– hanya mampu berair mata dalam hati. ”Itulah sebabnya, saya tidak pernah bisa langsung memperlihatkan rapor setelah dibagikan wali kelas.Dan ...ini juga yang menyebabkan bapak hanya pulang ke Metro dua pekan sekali,” renung saya tak pecah di mulut.

***

Entahlah, sekitar tiga tahun dari kejadian di RSCM itu, saya sempat benci dengan bapak. Namun ketika menimbang ulang, rasa bangga kepada bapak malah muncul di hati saya. ”Walau bapak punya empat istri,semua anaknya tidak ada yang tidak lulus SMU”,kata salah satu anak bapak saat saya berkunjung ke Jakarta di masa SMU.

Ia juga mengakui bahwa anakanak bapak yang berada di Tangerang, Depok, dan Rawasari sering bertemu jikaadaacarakhusus.”KeluargaDepok tuh yang paling sombong. Mentangmentang anaknya ada yang kerja di Garuda,”cibirnya kemudian. Terus saja saya merenung.Kenapa saya harus membenci bapak? Saya tidak pernah satu kali pun melihat bapak memukul mama. Bahkan berkata dengan kalimat kasar pun tidak.

Satu hal lagi, sebelas ”saudara kandung” saya memiliki panggilan yang sama untuk lelaki itu: Bapak.Sementara untuk istri bapak, tiap anak memiliki panggilan beragam. Saya panggil Mama, keluarga di Tangerang panggil Mami, keluarga di Depok panggil Bunda, sedangkan keluarga Rawasari panggil Ibu.

Seluruh anak bapak mengetahui bahwa istri bapak ada empat.Bapak tidak seperti para lelaki yang hobi ‘menyimpan’ perempuan, hingga saat sudah bosan maka ditinggalkan.Apa alasan saya,akhirnya,membenci bapak? Ketika merantau jauh dari mama dan bapak, saya makin tersadarkan bahwa saya memang harus bangga dengan bapak. Saya sering membayangkan betapa sulit kehidupan bapak dengan empat istrinya.

Kesulitan itu tentu saja dalam hal membagi keadilan, sesuatu yang saya pahami hanyalah milik Tuhan.Namun,saya juga percaya bahwa manusia hanya mampu sebatas mengusahakannya terwujud. Bohong jika saya mengatakan bahwa bapak telah adil kepada istri dan anak-anaknya. Namun, saya juga tahu bahwa bapak selalu berusaha memberi keadilan kepada kami.

Saya mengetahui bahwa semua istri bapak adalah perempuan yang bekerja di luar rumah.Jadi,penghasilan tiap keluarga berasal dari suami dan istri.Walau tentu saja, penghasilan yang berasal dari suami tak dapat diberikan utuh kepada satu keluarga. Tetap saja ada yang mengkhawatirkan saya dengan kondisi bapak. Seorang teman pernah bercerita bahwa lelaki yang bapaknya memiliki istri banyak, biasanya akan turut pula seperti itu.

”Yahh...Buah pasti jatuh tak jauh dari pohonnya, toh?”, kesimpulannya saat itu. Fakta-fakta yang menunjukkan bahwa kenakalan anak muda selalu didominasi mereka yang berasal dari keluarga broken home, yang penyebabnya tentu identik dengan ‘kenakalan’ suami. Jalan bapak berbeda dengan kebanyakan lelaki yang memiliki banyak istri.Ada tanggung jawab yang dengan keras coba diperlihatkan pada anakanaknya. Keterbukaan dan kepedulian adalah ciri yang berusaha dibangun bapak di hadapan anak-anaknya.

Setelah peristiwa di RSCM itu, bapak pernah mengajak saya berbincang soal kondisi dirinya. Ya,waktu itu saya masih marah dengan kenyataan hingga omongan bapak hanya masuk kuping tanpa menyangkut di otak. Untungnya, saya mampu berpikir agak jernih.Itulah sebabnya saya tidak terjerumus ke barang terlarang sebagai pelepasan emosi. Kenapa harus memakai narkoba karena mengetahui bapak punya istri selain ibu kita? Kenyataan tak bisa diubah.

Tiada yang harus disesali.Lagi pula, bapaklah yang melakukan poligami, bukan saya.Namun, harus ada yang diperbaiki.Saya tidak mau mengikuti jalan bapak. Jalan terjal itu hanya bisa ditempuh bapak. Saya tidak membencinya.Hanya,saya sudah berpikir serius bahwa saya tak akan bisa memiliki istri lebih dari satu.

Bapak mampu menghadirkan contoh yang baik melalui sesuatu yang dipandang miring oleh orang lain. Dan jika ada tiga amalan dari seorang manusia yang tak akan putus walau telah meninggal, saya akan menyambung amalan bapak pada dua bentuk saja.

Dengan beristri satu, saya akan menumpahkan seluruh perhatian kepada anak yang lahir dari istri saya, satu hal yang tak bisa dilakukan bapak. Saya mendapatkan ilmu memberi perhatian pada anak dari bapak.Dan saya,pasti punya cukup banyak waktu untuk mendoakan bapak dan mama.

***

”Sudah muter ke mana aja, Pak?” akhirnya saya bertanya kepada penjual mi ayam itu. ”Ah,sekitar sini aja,Dik.”
”Wah,kayanya sudah laris,Pak”
”Ah,belum...”
”Rumah sampean di mana,Pak?”
”Ini,di Jalan Sumatera Gang tiga”
”Oh..deket sini ya, Pak. Anaknya berapa,Pak?”
”Tiga...”

Mulut penjual mi ayam itu terlihat akan mengeluarkan kata-kata lagi.Saya buru-buru bertanya kembali, ”Kalau istri ada berapa,Pak?””Apa,Dik? Hahaha...Ya cuma satu.”

Obrolan kami terus berpacu dengan silang suara orang lain di warung itu. Ia bercerita tentang kampung asal sampai kisahnya datang ke kota ini pertama kali. Saya akhirnya memesan mi yang ada di gerobaknya. Selepas kejadian siang itu, saya selalu makan mi ayam kalau dompet agak tebal. Saya melahap mi sambil menatap penjualnya.Membayangkan wajah bapak dan jalan berliku yang telah dipilihnya untuk menapaki kehidupan.(*)

Seterusnya..

Buku Baru

Seterusnya..

Pulang Perang

—Seharusnya kau tak perlu pulang. Lebih baik disana. Ada yang lebih patut kau kerjakan.
+Awalnya aku pun berpikiran demikian. Tapi, aku tak kuasa lagi untuk bertahan disana. Pulang ke kampung walau nyawa taruhannya, tak masalah.
—Tengoklah, kau sendiri sudah paham soal buah yang sangat mungkin kau petik dari ulahmu. Untung saja kau sudah disini mengobrol dengan saya. Cobalah, sesekali kau ini berpikir pakai otak. Jangan hati saja kau ikuti terus!
+Kau tetap saja seperti dulu. Sok ceramah tapi tak berisi! Kalau tak pakai otak, mana mungkin aku bisa sampai dengan utuh! Kau urus saja....
—Apa? Urus apa? Kamu yang dari dulu susah diurus! Semakin tua, semakin tumpul otakmu untuk mengingat pesan bapak. Jangan mundur sebelum terdengar perintah untuk menarik serdadu! Begitu ‘kan kata bapak?! Kau ini selalu saja pekak badak! Kau paham ‘kan kalau pulang itu sama dengan mundur!
+Kau ini bodoh atau apa? Disana aku tak berperang! Aku tak tahan dengan kondisi disana. Terlalu banyak yang dikorbankan. Mataku sendiri yang melihat banyak orang menjadi budak apa saja sampai mengorbankan orang lain bukanlah persoalan besar. Mulutku tak bisa bicara. Kupendam semua dalam hati. Kau tahu, kini hatiku pun menjadi korban, sakit sekali rasanya.
—Ah, selama kerugian tak menghampirimu, maka kau bukan korban. Tak salah, akhirnya, kalau kau terus bertahan disana. Jawablah, kau bisa mencangkul? Menanam dan mengurus padi sampai panen? Kau sudi berkubang di lumpur saat matahari sedang terik? Hanya itu yang bisa dikerjakan disini. Siap kau? Sudahlah kembali saja kesana, mumpung baru sehari kau disini. Kau bisa pakai alasan urusan keluarga yang mendesak agar bisa hidup disana lagi. Berjuang menggapai mimpi keluargamu.
+Aku bisa belajar untuk turun ke sawah lagi. Lebih baik bergumul dengan tanah, air dan wereng di sawah ketimbang bergulat dengan orang-orang tak berperasaan disana. Kalau kita baik kepada alam, balasan serupa kita peroleh. Tapi, manusia tak demikian. Mataku berulang kali melihat buktinya. Semakin kau baik kepada orang lain, alih-alih dapat kebaikan pula malah kau ditendang oleh orang itu.
—Ya sudah! Kau bisa tendang balik orang itu. Bahkan kalau perlu bikin dia jatuh sampai tak bisa bangun. Mengapa itu kau ributkan?! Selama kau masih pakai otak, orang yang sangat licik bisa kau cekik. Hidup memang begitu adanya. Siapapun yang kuat, jadilah ia juara. Tanah tak akan melawan saat kau cangkuli kemudian kau tanami padi. Tanah itu benda mati! Dan hidupmu tak akan lebih baik jika kau terus-menerus bergaul dengan benda mati!
+Jika tak kau ijinkan aku menggarap sawah lagi, baiklah. Aku bawa uang untuk modal usaha disini. Aku bisa buka warung atau....
—Haa?! Hahaha...Kau tahu, sejak kita kecil sampai sekarang hanya ada satu warung di kampung ini. Ya milik Pak Warso itu. Lihatlah, tak kunjung kaya dia. Uangmu akan terbuang percuma jika usaha di disini. Buka warung makan atau toko apa saja, siapa yang mau beli? Orang-orang lebih senang belanja ke kecamatan. Itu pun sehabis panen saja saat mereka agak tebal dompet.
+Aku hanya ingin hidup tenang. Makan cukup setiap hari. Bisa bekerja walau uang yang kudapat sedikit. Aku sudah senang hidup seperti itu. Aku yakin bisa menunaikan inginku di kampung ini.
—Aku paham sekarang. Ini bukan masalah kau hidup disana atau disini. Tapi caramu menjalani keseharian saja. Selama kau tak ikut kotor di tempat yang buruk, bisalah kau tenang hidup disana atau disini. Jalani saja tugasmu. Kenyangkan perutmu. Kirimkan uang untuk anak-istri di kampung. Masa kau tetap tak bahagia hidup macam itu? Sawah warisan bapak hanya cukup untuk menghidupi keluargaku saja. Kalau kau menggarapnya pula, itu sama saja menyulitkan aku dan keluargamu sendiri. Kita bisa makin kekurangan.
+Ya sudah, kau saja yang hidup disana menggantikan aku. Sepertinya otakmu pas dengan cara hidup orang-orang disana. Kesana saja, buktikan sendiri semua ucapanku. Kau terapkan saja sendiri seluruh pemikiranmu itu.
—Bukan begitu. Aku sudah cukup hidup di kampung ini. Mengapa pula aku harus hidup disana? Maksud semua omonganku tadi agar kau bertahan disana. Kau terlalu sering memikirkan hal sepele hingga kebahagiaan tak bertandang kepadamu. Aku yakin sebentar lagi kau kian mapan. Anak-istrimu bolehlah diajak ikut hidup disana. Kemudian sekolahkan anak-anakmu agar mereka tak bernasib seperti kita. Engkau yang diminta bapak untuk kerja disana. Aku hanya ditugaskan menggarap sawah milik bapak. Masa itu belum adil bagimu?
+Ah, pintar sekali kau menyilatkan lidahmu sendiri untuk menghalangi niatku hidup tenang di kampung ini. Kau dengar ini; aku sudah putuskan untuk....
“Mas, ongkosnya”. Lamunan itu pecah. Ia keluarkan dua lembar lima puluh ribu dan diberikan ke kondektur bis. Melanjutkan atau menghentikan perjalanan, hanya dia yang mengerti.(*)
Seputaran Gumuk Kerang/0508

Seterusnya..


Bukan Dongeng Dari Tiongkok

(dipublikasi di Harian Jawa Pos edisi Minggu, 29 Juni 2008)

Berbicara Tiongkok, bagi kita yang awam, mungkin akan teringat pada film. Lumrah saja karena salah satu ‘suguhan asing’ di kancah perfilman negeri ini adalah film Tiongkok. Atau bisa jadi, pikiran kita akan melayang pada tragedi 1965 yang terjadi di Indonesia. Nama Republik Rakyat Cina sering dikaitkan dengan peristiwa itu. Namun, siapkanlah diri dengan pikiran terbuka saat membaca 76 catatan Dahlan Iskan mengenai Tiongkok dalam buku ini.

Dahlan Iskan, harus diakui, bukanlah sosok yang menjadi ‘pemerhati’ Tiongkok karena keberhasilan negara tersebut akhir-akhir ini. Hal itu terlihat pada sikap dia dalam menyikapi perjanjian normalisasi hubungan Indonesia-Tiongkok yang ditandatangani pada 1989. Peristiwa itu berlangsung di salah satu ruang hotel Imperial di Tokyo; disela-sela acara pemakaman Kaisar Hirohito.

Sejak saat itu saya merasa terdorong untuk ikut mengisi dan memberi warna agar perjanjian tersebut tidak menjadi sekedar perjanjian kosong”, tulis Dahlan.

Benar saja, bersama harian Jawa Pos yang dipimpinnya, Dahlan mulai menggelar acara kesenian dari Tiongkok. Aral yang menghadang bukan kepalang. Maklumlah, menggelar kesenian bernuansa Tionghoa pada era Orde Baru bisa menimbulkan persoalan pelik bagi penyelenggara.

Tapi, keberanian Jawa Pos Grup meng-umum-kan kesenian masyarakat Tionghoa—yang sebelumnya hanya boleh digelar khusus dalam klenteng—merupakan langkah untuk mewujudkan normalisasi hubungan dalam skala lebih luas, yaitu antar masyarakat, bukan sekadar negara.

‘Kisah cinta’ Dahlan Iskan dengan Tiongkok tidak berhenti begitu saja ketika roh reformasi mulai menyelubungi negeri ini. Saat barongsai sudah sangat umum ditengah masyarakat (bahkan lazim dipertontonkan oleh stasiun televisi), Dahlan Iskan tak lagi sekadar menjadi ‘pemerhati’. Namun, dia pelan-pelan ‘menjalankan laku’ untuk menjadi—yang saya sebut sebagai—‘ahli Tiongkok’. Dia, tampaknya, tahu betul bahwa rekonsialiasi dengan Tiongkok seharusnya tidak hanya dalam bidang kebudayaan, tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan.

Pada 8 catatan yang mengawali buku ini, Dahlan Iskan menceritakan pengalaman belajar Putonghua di Jiang Xi Shi Fan Da Xue (Jiang Xi Normal University), Nanchang. Walau telah berusia setengah abad saat memulai belajar Putonghua (‘bahasa nasional’ Tiongkok), dia tidak menyerah. Rumitnya belajar bahasa tersebut—orang Tiongkok sendiri pun kesulitan—membuat Dahlan Iskan memaknai agak berbeda hadist nabi: “Tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina”.

Dia menafsirkan bukan saja terkait dengan jarak; ilmu harus direngkuh meskipun jauh. Namun, “Tuntulah ilmu meski sulitnya amat sangat—seperti belajar bahasa Mandarin itu!” (hal:27). Bagi saya, tafsiran itu menujukkan totalitas Dahlan untuk menjadi “ahli Tiongkok”.

Membaca buku ini, kita akan diperlihatkan sebuah pemandangan Tiongkok yang berhias pertumbuhan dan perkembangan. Dan itu bukan dongeng.

Dahlan sudah bolak-balik ke Tiongkok dalam sepuluh tahun terakhir ini. Mekarnya ekonomi Tiongkok dia amati dari sangat dekat. Dia sampai paham betul suasana jalan tol yang kian tahun makin bertambah panjang menjulur hingga ke desa-desa.

Pembangunan jalan tol dimulai pada 1988 untuk menghubungkan Kota Senyang dengan Dalian sepanjang 400 km. Pada 2003, jalan tol di Tiongkok mencapai 30.000 km (hal:84-85). Pembangunan jalan tol yang ‘gila-gilaan’ itu dilakukan agar pemerataan ekonomi bisa tercapai.

Maka, benarlah, sejumlah ‘kesaksian’ dituturkan Dahlan terkait ampuhnya jalan tol dalam menopang peningkatan ekonomi Tiongkok. Begitu banyak daerah yang awalnya adalah desa terpencil, kini telah menjadi sentra rupa-rupa industri.

Selain itu, terowongan di bawah laut dan jembatan yang melintasi birunya air laut dibuat pula untuk mempermudah hubungan dengan Hongkong, Taiwan dan Makau. Jalur transportasi yang mewujud itu bukan bermodalkan ‘simsalabim’ tapi lewat matangnya rencana dan usaha yang perlahan tapi pasti.

Ketika tuntas memereteli catatan jurnalistik Dahlan Iskan dalam buku ini, saya berkesimpulan bahwa mempelajari Tiongkok adalah bergumul dengan keunikan. Walau telah mempercantik diri dengan modernisasi disana-sini, masyarakat Tiongkok tidak serta-merta menanggalkan baju leluhur mereka.

Perayaan Imlek tetap menjadi perhelatan yang luarbiasa meriah di negeri itu. Bahkan, pengobatan tradisional pun dikaji dan dikembangkan sama seriusnya dengan teknik modern di fakultas kedokteran.

Kedua, menatap Tiongkok bagai melihat sesosok raksasa yang seolah tidur, namun kini tengah bergeliat bangun. Kalau dulu Tiongkok menutupi diri dengan bambu komunisme, kini bambu itu tetap ada, tapi sebatas identitas saja.

Deng Xiaoping yang mulai membuka tirai bambu penutup Tiongkok. Perekonomian perlahan bangkit setelah pusat memberi ‘kekuasaan’ pada pemerintah daerah untuk menata diri masing-masing. Deng Xiaoping kabarnya sering memuji kota yang mampu mengembangkan perekonomian hingga persaingan antar kota pun tak terelakkan.

Saat raksasa bernama Tiongkok itu mulai semakin tegak, pemerintah pusat gencar melakukan pemerataan ekonomi ke daerah yang masih tertinggal. Melihat pertumbuhan ekonomi yang terus naik selama 25 tahun terakhir, pemerataan ekonomi kiranya bukan hal yang sulit untuk ditangani.

Pada tahun 2020, ada yang memprediksi bahwa raksasa Tiongkok itu tidak hanya tegak berdiri namun juga mengembangkan tangannya dengan gagah (hal:52). Maka, wajar jika Amerika Serikat mulai sedikit ketar-ketir. Hingga mayoritas masyarakat Tiongkok percaya bahwa kerjaan AS di Timur Tengah saat ini adalah usaha untuk menghambat kemajuan Tiongkok dari sisi energi (hal:55).

Akhirnya, buku ini bagai makanan yang bisa dikunyah semua orang. Untuk penyuka jalan-jalan, Dahlan menuliskan cara sukses berwisata di Tiongkok. Para pebisnis bisa melongok peluang membuka usaha di negeri itu. Para penulis akan mendapatkan teknik menulis agar enak dibaca. Aparat pemerintah pun rasanya rugi kalau tak memamah buku setebal 268 ini karena kesejahteran masyarakat Tiongkok masa kini, seperti ditulis Dahlan Iskan, sekali lagi, bukan sebuah dongeng.(*)

Seterusnya..