<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661</id><updated>2012-01-30T05:31:13.619+07:00</updated><title type='text'>..::hidupku::..</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>68</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-7419080566428828907</id><published>2009-02-03T14:14:00.002+07:00</published><updated>2009-02-16T00:17:26.480+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SZhOEjgQ9bI/AAAAAAAAAT0/MolUUHWyjgI/s1600-h/sampul+turse.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 217px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SZhOEjgQ9bI/AAAAAAAAAT0/MolUUHWyjgI/s320/sampul+turse.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303074401385772466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1 class="judul_artikel"&gt; Membongkar Militer(isasi) Amerika&lt;/h1&gt;(&lt;a style="color: rgb(255, 255, 255);" href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/01/04/Buku/krn.20090104.152669.id.html"&gt;dipublikasi di Koran Tempo edisi Minggu, 4 Januari 2009&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada negara yang terkenal dengan perang, ia adalah Amerika Serikat. Perang telah melabur sejarah internal negeri itu sejak didirikan oleh para eksil dari Eropa sekitar tiga abad lalu. Amerika Serikat juga aktif dalam tiap edisi Perang Dunia. Bahkan, hingga kini, tampuk panglima perang internasional kian kukuh dipegang negeri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa negara yang akan dipimpin Barack Husein Obama hingga 2013 itu terkenal doyan perang? Nick Turse memiliki jawaban mengejutkan dalam buku setebal 304 halaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berada di kelompok pemenang pasca-Perang Dunia II, industri militer yang merujuk pada pengembangan teknologi persenjataan di Amerika luar biasa meningkat. Saat itulah istilah &lt;em&gt;complex&lt;/em&gt; mulai mengemuka sebagai sebutan untuk industri militer. Tapi Presiden Amerika ke-34, Dwight D. Eisenhower, sempat meluapkan kekhawatiran terkait dengan eksistensi &lt;em&gt;complex&lt;/em&gt; ketika menyampaikan pidato perpisahan di akhir masa jabatannya pada 1961.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ike--panggilan akrab Eisenhower--memberi peringatan kepada publik Amerika bahwa &lt;em&gt;complex&lt;/em&gt; akan berkembang hingga level yang mengerikan. Maka ia mengharapkan kecerdasan publik untuk meminimalisasi dampak negatif dari &lt;em&gt;complex&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semata-mata bertujuan agar keamanan dapat tumbuh subur bersama kebebasan. Sebelumnya, pada 1957, C. Wright Mills, seorang sosiolog terkemuka di Amerika, telah pula meramalkan tumbuhnya sebuah aliansi ekonomi-militer yang mampu merasuk ke ruang-ruang politik dan pendidikan (halaman 14-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pada kurun berikutnya, &lt;em&gt;complex&lt;/em&gt; tak sekadar dapat dikaitkan dengan industri senjata untuk militer. Entitas tersebut, sebagaimana dikatakan Turse, telah bermetamorfosis menjadi gurita dengan tentakel sangat banyak hingga mudah merengkuh apa saja.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak militer Amerika kini telah membina hubungan yang sangat erat dari kaum akademisi, peneliti independen, media massa, kreator &lt;em&gt;video game&lt;/em&gt;, produser film, produsen minuman-makanan, pabrik pakaian, hingga perusahaan pembuat peralatan dapur. Koalisi itu semata-mata bertujuan untuk melanggengkan militer sebagai identitas kenegaraan AS. Lebih jauh, &lt;em&gt;complex&lt;/em&gt; yang kian menggurita dipandang oleh Turse sebagai usaha militerisasi masyarakat sipil Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara Barat, tak terkecuali Amerika, berlaku sebuah aturan yang disebut Posse Comitatus Act. Aturan tersebut melarang militer terlibat dalam usaha penegakan hukum di dalam negeri hingga berdampak pada minimnya anggaran dana yang disediakan untuk militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Turse berhasil mengungkap fakta betapa kaya militer Amerika. Pentagon dan Departemen Pertahanan Amerika bagai selang yang mengalirkan dana wajib pajak untuk kepentingan militer. Lalu dana tersebut disalurkan secara rutin kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi rekanan militer Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun sejak pidato peringatan dari Eisenhower, tercatat 22 ribu perusahaan yang mengerjakan pelbagai proyek untuk mendukung militer. Kini jumlah itu membengkak menjadi 47 ribu perusahaan (halaman 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentakel &lt;em&gt;complex&lt;/em&gt; kian menjulur ke mana-mana setelah peristiwa 11 September 2001. Anggaran untuk keamanan dan militer makin membludak, yakni mendekati jumlah US$ 1 triliun per tahun. Turse menyindir sikap berlebihan pemerintah Amerika dalam menangani keamanan dengan kalimat "&lt;em&gt;bringing the war home&lt;/em&gt;". Padahal, menurut Turse, tingkah Amerika di dunia internasional yang membuat negeri itu menjadi incaran banyak musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turse juga memaparkan data yang sangat mencengangkan terkait dengan perilaku militer Amerika dalam buku ini. Agen-agen CIA telah menghabiskan jutaan dolar untuk bersenang-senang sembari menjalankan tugas di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentagon pernah melaporkan bahwa konsumsi bahan bakar selama satu hari untuk berperang di Irak dan Afganistan sekitar 365 ribu barel, setara dengan konsumsi harian warga Swedia. Tapi Sohbet Karbuz, seorang ahli perminyakan internasional, memperkirakan bahwa jumlah itu sebenarnya mendekati angka 500 ribu barel (halaman 41-42). Tentu saja kebutuhan tersebut akan dengan mudah direngkuh oleh militer Amerika karena sejumlah perusahaan minyak berskala internasional telah menjadi kontraktor tetap dari Departemen Pertahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemborosan yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan Amerika bukan berjalan tanpa kritik. Sejak 1940-an hingga saat sedang menjabat Presiden Amerika, Ike telah mengkritik pengeluaran Departemen yang tak terkendali. Ia mengungkapkan borosnya Departemen bagai jalan kecil menuju negara garnisun di mana militer akan memegang kekuasaan yang luar biasa di seluruh negeri (halaman 270).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Militerisasi di Amerika yang berjalan dengan memanfaatkan teknologi tinggi itu membuat gundah Turse. Tentu saja disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat Amerika bahwa mereka secara diam-diam telah mendukung pengiriman dan penyerbuan yang dilakukan militer Amerika ke pelbagai belahan dunia. Dukungan itu dilakukan ketika warga Amerika mengkonsumsi produk dari perusahaan yang menjadi kontraktor Pentagon dan Departemen Pertahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, hampir tak ada perusahaan yang bukan rekanan Pentagon dan Departemen Pertahanan. Sebab, perusahaan yang tak bersedia membantu militer Amerika malah akan dipandang sangat "tak Amerika". Salah satu kampanye Barack Obama ialah "memulangkan semua tentara ke rumah mereka". Itu memang sebuah sinyal bagus bagi penciptaan perdamaian di muka bumi yang bisa disponsori oleh Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu indikator pembuktian, menurut hemat saya, ialah keberanian dia memotong tentakel &lt;em&gt;complex&lt;/em&gt;. Kalau Obama tak kuasa memangkas anggaran untuk Departemen Pertahanan, apa boleh buat, kita akan selalu mengenal Amerika sebagai negara yang gemar bertempur.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-7419080566428828907?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/7419080566428828907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=7419080566428828907&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7419080566428828907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7419080566428828907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2009/02/membongkar-militerisasi-amerika.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SZhOEjgQ9bI/AAAAAAAAAT0/MolUUHWyjgI/s72-c/sampul+turse.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-3205002936696135032</id><published>2009-01-27T15:31:00.003+07:00</published><updated>2009-01-27T16:03:06.928+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SX7Jr7pj6bI/AAAAAAAAATs/GMr5buwCIZQ/s1600-h/buku_kearifan-pelacur2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 180px; height: 282px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SX7Jr7pj6bI/AAAAAAAAATs/GMr5buwCIZQ/s320/buku_kearifan-pelacur2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295891968417851826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="title"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Noni Inggris dan Cerita Belusuk(an)nya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTQwMjQ="&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:85%;" &gt;(dipublikasi di Harian Media Indonesia edisi Sabtu, 3 Januari 2008)&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Elizabeth Pisani memberi dua tawaran kontroversial, keharusan menggunakan kondom di tempat pelacuran dan pemberian jarum steril bagi pengguna narkoba suntik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;AIDS mungkin bagai belusuk (ular laut berbisa). Siapa pun yang sering 'berbasah-basah di laut' bisa tergigit. Lantas apakah cukup melarang individu mandi di laut hanya karena keberadaan belusuk?&lt;br /&gt;Sejak Luc Montagnier dan Francoise Barre-Sinoussi (keduanya meraih Hadian Nobel bidang Kesehatan 2008) menemukan HIV pada 1982, AIDS telah membunuh 25 juta orang. Bahkan hingga kini 33 juta orang di dunia telah terinfeksi HIV. Elizabeth Pisani menuturkan pengalamannya selama berkecimpung dalam kegiatan penanggulangan HIV/AIDS melalui buku setebal 589 halaman ini.&lt;br /&gt;Pada 1993, Pisani memutuskan berhenti sebagai wartawan &lt;i&gt;Reuters&lt;/i&gt;. Ia memilih mengikuti program master dalam bidang demografi medis. Tak dinyana, jalur itu justru mengantarkannya ke dalam pusaran penanggulangan HIV/AIDS. Noni asal Inggris itu kian sibuk setelah masuk ke UNAIDS pada 1996.&lt;br /&gt;Pisani sadar bahwa menjadi aktivis penanggulangan HIV/AIDS justru meminta kerja ekstrakeras ketimbang saat ia masih berprofesi sebagai kuli tinta. Maka, buku ini pun bercerita tentang ketegaran seorang anak manusia bergelut dengan pilihan profesinya.&lt;br /&gt;Jean Baudrillard (dalam Piliang, 2004:171-172) sempat mengupas persoalan AIDS melalui karyanya berjudul &lt;i&gt;Seduction&lt;/i&gt;. Penyakit itu, menurut Baudrillard, muncul sebagai dampak dari sistem tak terkendali yang sebenarnya merupakan kreasi kita sendiri. Sistem itu ialah transparansi dan promiskuitas (jaringan seksual dengan siapa saja) dalam orbit global. Alih-alih meluapkan kenyamanan, analisa Baudrillard malah seperti manusia yang merutuki nasib tanpa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;Pisani melangkah jauh dari sekadar bermuram durja ketika melihat persoalan AIDS. Penyakit itu, menurut Pisani, hanya menular lewat dua bentuk kegiatan, yaitu seks dan narkoba suntik. Globalisasi, kemiskinan dan tinggi rendahnya tingkat pendidikan bukanlah faktor utama yang menjadi tunggangan HIV untuk menyebar ke seluruh dunia.&lt;br /&gt;Maka, solusi konkret dari Pisani ialah penggunaan kondom bagi kalangan yang melakukan seks berisiko tinggi dan pemberian jarum steril untuk pengguna narkoba suntik. Tentu solusinya mengundang kontroversi. Ia seperti mengamini berlangsungnya praktik gelap yang ada di belahan dunia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Realitas Kondom&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pisani memang mengajak kita untuk menjejak di bumi realitas, bukan terus-menerus terbang mengawang di langit idealitas. Misalnya, mampukah menghapus prostitusi (salah satu pekerjaan tertua di muka bumi)? Pisani beranggapan, gerakan penutupan bordil hanya akan mempersulit proses pencegahan AIDS karena para penjaja seks komersial (PSK) tak lagi berada di satu tempat.&lt;br /&gt;Noni dari Inggris ini tak segan masuk ke gerai seks, mulai dari lokalisasi Rawa Malang (Jakarta), bar-bar di Dili (Timor Leste), hingga sejumlah bordil di Dongxing (Tiongkok). Dia menemukan minimnya penggunaan kondom di kalangan pembeli seks dari PSK. Padahal, itulah wahana yang tepat bagi penularan HIV. Maka, aturan ketat penggunaan kondom di lokalisasi, menurut Pisani, mutlak diperlukan untuk mencegah penyebaran AIDS.&lt;br /&gt;Sering berganti pasangan dalam hubungan seksual-—tanpa menggunakan kondom-—dipastikan menjadi penyebab seseorang tertular HIV. Namun, polanya bergantung pada geografis dan kultural suatu daerah. Pada kebanyakan negara di benua Afrika, tak perlu keberadaan prostitusi untuk menularkan HIV.&lt;br /&gt;Demikian pula pola penyebaran HIV melalui jarum suntik yang dipakai bergantian di kalangan pengguna heroin. Walau seluruh dunia mengamini bahwa heroin adalah barang ilegal, tapi pengguna barang itu tak jua susut. Penjara menjadi lumbung penularan HIV melalui jarum suntik (hal.448).&lt;br /&gt;Narkoba yang tidak dikonsumsi secara suntik pun turut berkontribusi pada penyebaran AIDS. Pengguna narkoba yang sedang &lt;i&gt;high&lt;/i&gt; memiliki kecenderungan tinggi untuk melakukan hubungan seks tanpa kondom. Pisani mengakui bahwa di Indonesia dan sebagian besar negara di Asia, konsumsi narkoba memang saling tumpang tindih dengan perilaku seks berisiko tinggi dalam pola penularan HIV (hal.169).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertaruhan dana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang upaya penanggulangan, Pisani melihat adanya beberapa kendala. Pertama, birokrat di negara berkembang masih enggan mengucurkan dana bagi pencegahan epidemi AIDS. Hal itu bertolak belakang dengan pejabat di negara maju yang mulai aktif menggelontorkan dolar bagi program penanggulangan HIV/AIDS, walau tentu saja, sebelumnya birokrat di negara maju juga malas melakukan hal itu.&lt;br /&gt;Kedua, datang dari kultur suatu daerah. AIDS masih dipahami sebagai 'penyakit hukuman' bagi kelompok yang berperilaku di luar norma masyarakat. Akibatnya, orang-orang yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS enggan memeriksakan kesehatan mereka karena takut distigma negatif oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Ketiga, Pisani mengungkapkan adanya pertarungan antarlembaga yang berkecimpung di dunia narkoba dan AIDS juga sering memecahkan konsentrasi dari kegiatan pencegahan menyebarnya epidemi AIDS. Patut diketahui, kini lembaga internasional yang menangani AIDS bukan hanya UNAIDS. Pertarungan antarlembaga itu terjadi karena perbedaan ideologi yang diusung, hingga berakibat pada cara pandang dan penanganan terhadap AIDS.&lt;br /&gt;Melalui buku ini kita bisa mengetahui bahwa AIDS telah menjadi komoditi yang bisa dijual, dan pengaruhnya mampu merasuk ke relung politik. Bahkan, 'belusuk' itu tak lagi hanya menyebarkan bisanya kepada mereka yang sering 'berbasah-basah di laut'. Para istri setia dan jabang bayi pun memiliki peluang mengidap AIDS karena tertular HIV dari seorang suami yang sering 'jajan' di luar rumah.&lt;br /&gt;Akhirnya, buku ini memang menawarkan sikap bijak kepada kita dalam memahami penyakit AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Judul resensi ini telah diganti oleh redaktur Media Indonesia menjadi: "&lt;b style="font-style: italic;"&gt;Kondom dan Jarum Suntik Noni Inggris&lt;/b&gt;"&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-3205002936696135032?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/3205002936696135032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=3205002936696135032&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3205002936696135032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3205002936696135032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2009/01/noni-inggris-dan-cerita-belusukannya.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SX7Jr7pj6bI/AAAAAAAAATs/GMr5buwCIZQ/s72-c/buku_kearifan-pelacur2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-6786041173150630604</id><published>2008-12-22T17:26:00.002+07:00</published><updated>2008-12-22T17:35:06.309+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selamat Hari Ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, selamat Hari Ibu. Engkau--tak peduli perempuan atau lelaki--kelak jadi Ibu. Sayang, ini saya kasih sedikit pengumuman tentang seorang ibu yang sedang duduk di tepi senja:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt; Dear allz,...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; font-style: italic;font-family:courier new;" class="yshortcuts" id="lw_1229941490_0" &gt;Saya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt; baru dengar kabar soal NH &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" class="yshortcuts" id="lw_1229941490_1" &gt;Dini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;, salah satu novelis perempuan di era 70-an. saya pikir ini langkah bagus utk memulai CSR ala FPK.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;Di usia senja, beliau kini tinggal di Wisma Langen Werdhasih, Ungaran (&lt;/span&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; font-style: italic;font-family:courier new;" class="yshortcuts" id="lw_1229941490_2" &gt;Rumah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt; Lansia) dan sedang mengalami kesulitan dana untuk membiayai kesehatannya. Oleh karena itu, beliau hendak menjual lukisannya yang bergaya dekoratif Tionghoa seharga 3-7 juta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;Nah, jika ada yang berminat, silakan hubungi Ariany Isnamurti di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" class="yshortcuts" id="lw_1229941490_3" &gt;08179883592&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;. Jika belum berminat, tolong bantu sebarkan informasi ini saja. T&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;Nomor telepon yang ada dibawah ini saya peroleh melalui email yg dikirim pada saya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;Cepat semnuh, bu ;-)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;Terima kasih.&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Saya mendapatkan pengumuman ini dari mailing-list Forum-Pembaca-Kompas. Tidak ada pengeditan sedikit pun juga, dikopi sesuai aslinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-6786041173150630604?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/6786041173150630604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=6786041173150630604&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6786041173150630604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6786041173150630604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/12/selamat-hari-ibu-sayang-selamat-hari.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-3752585584989700880</id><published>2008-12-17T16:15:00.001+07:00</published><updated>2008-12-17T16:19:51.500+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;'Energi Mabuk' Musik Masa Kini&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008112922015727"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:85%;" &gt;(dipublikasi di Lampung Post edisi Minggu, 30 November 2008)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;TULISAN Susan S. di &lt;i&gt;Lampung Post&lt;/i&gt; (16-11) membikin perasaan saya naik-turun. Bukan saja karena Susan menulis "Mungkin nadanya (maksud: suasana tulisan Susan) marah, kesal, dan &lt;i&gt;gimana gitu&lt;/i&gt;." Namun disebabkan pula oleh "sesuatu" yang telah lama mengendap di hati. Maka, saya tergoda untuk balah soal "energi" yang ditawarkan belantika musik Indonesia masa kini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persoalan musik memang selalu bikin berisik sepanjang zaman. Dahulu, Bung Karno pernah melarang Koes Plus dengan alasan band tersebut menyebarkan energi asing (kebarat-baratan). Pendek kata, karya-karya Koes Plus tergolong lagu &lt;i&gt;ngak ngik ngok&lt;/i&gt; yang kontrarevolusi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Zaman Orde Baru, Betharia Sonata sempat juga mengelus dada saat lagu berjudul &lt;i&gt;Hati Yang Luka&lt;/i&gt; dikecam pemerintah karena "melemahkan derajat kaum perempuan".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau mau dirunut hingga masa sebelum Indonesia merdeka, kita juga akan beroleh fakta bahwa musik benar-benar bikin berisik. Lagu &lt;i&gt;Indonesia Raya&lt;/i&gt; pernah menjadi momok menakutkan pemerintah kolonial Belanda. Lagu gubahan W.R. Supratman itu dilarang dikonsumsi publik karena penjajah Belanda takut semangat antikolonialisme menguat di khalayak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lagu, mau tidak mau, memang terikat dan terkait pada ruang dan waktu tempat ia digubah. Namun itu tidak mencerminkan "masa berlaku" lagu tersebut. Misal, pada abad XXI, kita masih senang menyanyikan lagu-lagu yang lahir di zaman revolusi fisik? Atau, kita juga masih asyik saja tatkala mendengar lagu-lagu gubahan Pance Pondaag dan Obbi Mesakh, bukan?&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;p&gt;Lantas, apakah lagu-lagu yang menembus zaman dapat dikatakan sebagai karya "adiluhung"? Ah, terlalu sumpek rasanya membaca kata yang saya beri tanda kutip itu. Tapi, mari kita bahas saja biar &lt;i&gt;fresh&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;gitu.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Musik juga merupakan refleksi kondisi batin masyarakat tempat ia bermukim. Wajar toh jika lagu-lagu yang diciptakan sekitar era revolusi fisik bernada persatuan, ketegaran seorang pejuang hingga keikhlasan seseorang yang ditinggal mati sosok tersayang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau tekanan dari struktur politik (baca; penguasa) pernah melabur sejarah musik Indonesia, itu hanyalah rangkaian proses yang memang sudah "seharusnya". Bukankah hambat-menghambat merupakan proses alamiah dalam tiap sistem pada tubuh masyarakat? Untuk soal larang-melarang ini, alasan bisa dipilih sesuai dengan kesukaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lagu pun membentuk pola pengaruh-memengaruhi dengan masyarakat. Jadi, kondisi masyarakat merupakan lautan ide yang mahaluas untuk direguk orang-orang yang terlibat dalam sebuah lagu--penggubah lirik, penyanyi, dan pemain musik. Sebab itu, agak janggal kalau harus menyematkan istilah adiluhung untuk sebuah lagu di era teknologi canggih sekarang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Istilah adiluhung dan massal mengemuka tatkala produk hasil kesenian dinikmati dua kelas berbeda: Kelas atas-terpelajar dan kelas bawah-tidak sekolah. Maaf saja, bagi saya, dua istilah itu jelas-jelas bersemangat "tidak memandang manusia sebagai manusia". Maka, istilah adiluhung dan massal tidak lagi relevan untuk membincangkan dunia musik masa kini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya kok lebih sreg kalau memakai istilah populer. Lagu masa kini merupakan produk kebudayaan populer yang tujuan pembuatannya mencakup semua golongan. Dampaknya juga bermata dua; bisa mencerahkan atau membodohkan. Untuk urusan apresiasi, produk kebudayaan populer memang diserahkan secara individual.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belantika musik Indonesia sekarang, dalam pandangan saya, bagai seorang pemabuk yang sedang sempoyongan. Ia terlalu banyak menenggak pelbagai jenis minuman beralkohol--mulai produksi luar negeri sampai &lt;i&gt;home industry&lt;/i&gt;. Tidak hanya pikiran yang ke sana-sini, gerak badannya pun mondar-mandir; &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; jelas sama sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada penyanyi yang muncul dengan mengandalkan tubuh seksi semata dan suara pas-pasan. Ada yang gemar jingkrak-jingkrak di panggung sambil mengibarkan bendera Merah Putih. Ada pula yang sangat kemaruk; sudah jadi bintang iklan dan pemain sinetron masih juga &lt;i&gt;ngotot&lt;/i&gt; mengejar status penyanyi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari segi lirik--baik isi lagu maupun penggunaan bahasa--macam-macam pula. Ada yang menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan EYD. Banyak pula yang memakai gaya ucapan sehari-hari. Bahkan, ada yang bingung; lagunya menggunakan bahasa Inggris sekaligus bahasa Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebudayaan populer dalam lagu masa kini menempatkan pesona polesan dan kekuatan modal sebagai dasarnya. Ada yang memoles pada liriknya, kehidupan para pemusiknya hingga aliran musik yang digeluti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelompok musik macam Peterpan, Nidji, Dewa, Kangen Band, dan ST12 mampu memenuhi tiga unsur polesan di atas. Tentu saja, tidak kalah penting, mereka ditopang penyedia modal yang luar biasa kaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka, saya terus-terang bingung, sejak kemunculan Kangen Band, kenapa ramai-ramai mencerca mereka? Aha, tampaknya inilah proses alamiah hambat-menghambat itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semua kelompok musik, bagi saya, sama saja. Lagu-lagu mereka pun sama lengkapnya; banyak yang &lt;i&gt;cemen&lt;/i&gt;, tidak sedikit pula yang &lt;i&gt;yahud&lt;/i&gt;. Tidak perlu rasanya meninggikan sebuah kelompok musik sambil merendahkan yang lain. &lt;i&gt;Nyantai aja&lt;/i&gt;, toh mereka juga memiliki peluang yang sama: Meracuni atau mencerdaskan pikiran masyarakat. Keputusan menyukai atau membenci terletak pada apresiator (mereka yang kupingnya pernah mendengar lagu-lagu Indonesia masa kini).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ambil contoh Kangen Band. &lt;i&gt;Platinum&lt;/i&gt; berhasil diraih kelompok musik itu. Tapi pihak yang mengaku "kupingnya berdarah-darah" mendengar lagu-lagu mereka sama banyaknya dengan orang-orang yang sering mendendangkan lagunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mudah saja, kalau tidak suka dengan lagu-lagu sebuah kelompok musik: Jangan didengar. Daripada koar-koar, malah kontraproduktif. Itulah konsekuensi kebudayaan populer. Seharusnya memang seperti itu kebudayaan populer. Khalayak memiliki kuasa penuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sembari menyusun tulisan ini, saya mengirim pesan pendek via telepon seluler. Saya tanyakan pada beberapa orang: Coba beri dua kata yang terbersit di benak ketika mendengar Kangen Band.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka yang saya kirim pesan itu ialah orang-orang yang punya kaitan dengan Lampung--yang masih berdomisili di sana atau sedang merantau di tanah seberang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hasilnya variatif. Dua jawaban paling kasar: &lt;i&gt;Gua gak&lt;/i&gt; butuh dua kata, Den. Cukup satu &lt;i&gt;aja&lt;/i&gt;: Norak dan kampungan banget! Ada juga yang menjawab begini: Kembali pulang atau "kerja keras".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah sedikit bukti bahwa apresiasi terhadap satu kelompok musik memang bermacam adanya. Nilai positif dari sesuatu yang kita sangka buruk bisa saja muncul. Demikian pula, sisi negatif bisa saja melekat pada entitas yang kita anggap bagus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Energi yang ditawarkan dunia musik Indonesia masa kini hanyalah "energi mabuk". Entah itu mabuk cinta, mabuk materi, mabuk tangisan, mabuk segalanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, jentera musik Indonesia terus berjalan, bukan? Kreativitas tidak hanya harus dikembangkan oleh mereka yang terlibat aktif dalam dunia musik, tapi juga oleh orang-orang yang menjadi tujuan (baca; pasar) karya musik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebudayaan populer memang memabukkan bagi mereka yang tidak hati-hati larut di dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-3752585584989700880?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/3752585584989700880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=3752585584989700880&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3752585584989700880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3752585584989700880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/12/tulisan-susan-s.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-2482792871608224860</id><published>2008-11-10T05:38:00.006+07:00</published><updated>2008-11-10T06:17:48.082+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SRdpcMvfj3I/AAAAAAAAATU/XpWLxhdhCEE/s1600-h/Bung_Tomo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266794222410764146" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 234px; height: 320px; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SRdpcMvfj3I/AAAAAAAAATU/XpWLxhdhCEE/s320/Bung_Tomo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Penghargaan Bagi "Si Toekang Kritik"&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=41943"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;(dimuat Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 10 November 2008)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Khalayak awam setidaknya pernah membaca ada empat "Bung" dalam buku sejarah. Yakni, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo. Namun, agaknya sangat sedikit yang mengetahui bahwa nama yang disebut terakhir baru saja diangkat menjadi Pahlawan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Antara&lt;/em&gt; (03/03/08) memberitakan, pada 28 Februari 2008 diselenggarakan bedah buku Bung Tomo Menggugat (terbitan Visi Media; Januari 2008). Kegiatan yang paling akhir tentu saja diadakannya pengumpulan sejuta tanda tangan untuk Bung Tomo. Sejumlah kegiatan itu tak sia-sia. Setelah menunggu waktu bertahun-tahun, akhirnya tokoh perjuangan ’45 tersebut diangkat menjadi Pahlawan Nasional sejak 7 November 2008. Polemik berkepanjangan soal pengangkatan Bung Tomo menjadi Pahlawan Nasional tuntas sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang tokoh, Bung Tomo memang bukan ’pribadi yang biasa’. Ia merasakan riuh-rendah gelombang pergolakan politik di Indonesia pada tiga zaman: awal Indonesia merdeka, Orde Lama, dan Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketokohan Bung Tomo selama ini hanya nampak pada era revolusi fisik, yakni ketika ia membakar semangat masyarakat Surabaya untuk melawan tentara Inggris. Ia merupakan salah seorang orator ulung yang lahir dari medan peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu perintah dari Jakarta, Bung Tomo berpidato dengan semangat berapi-api. "&lt;em&gt;Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda rakyat Indonesia disuruh datang membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah dan takluk kepada Inggris. Inilah jawaban kita, jawaban pemuda-pemuda rakyat Indonesia, ’Hai Inggris, selama banteng-banteng, pemuda-pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan menyerah.’ Teman-temanku seperjuangan, terutama pemuda-pemuda Indonesia, kita terus berjuang, kita usir kaum penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai ini. Sudah lama kita menderita, diperas, diinjak-injak.&lt;/em&gt;"&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak aneh jika pertempuran 10 November 1945 menjadi perang yang dahsyat. Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran tersebut. Inggris benar-benar—pinjam istilah dari Bung Karno—"dilinggis" saat itu. Penjajahan memang tak hanya melahirkan penderitaan, namun juga menumbuhkan perlawanan yang sulit dimatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang orator sejati tak akan pernah bisa diam. Tipikal manusia seperti ini selalu menggali alam bawah sadar masyarakat—mencakup kegelisahan, penderitaan dan ketimpangan—tempat ia bernapas. Inilah pula ciri kritikus andal, yakni orang-orang yang tak pernah merasa dalam kondisi mapan. Kritik diungkapkan demi berjalannya perbaikan dalam tubuh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Tomo memang laik disebut sebagai orator sejati. Ketika ia menjadi menteri sekaligus anggota legislatif pada tahun 1950-an, Bung Tomo tak pernah diam. Ia mengritik—melalui surat dan artikel—dekadensi moral yang menggejala di kalangan pejabat kala itu. Nalar kritis Bung Tomo tak luntur walau ia merupakan ’kelompok dalam’ dari elit penguasa di awal Indonesia merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Bung Karno, betapa saya tidak gelisah, mengingat bahwa kepala pemerintahan dewasa ini adalah penggali Pancasila, sedangkan rakyat jelata rata-rata belum merasakan kemanfaatan dan kemaslahatan Pancasila. Kedaulatan rakyat telah lama diinjak-injak oleh pembantu-pembantu Bapak Presiden yang terdekat pada masa lampau, keadaan sosial tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Pada saat rakyat jelata hidup menderita merana, orang-orang yang terdekat dengan Bapak Presiden menyusun mahligai kemewahan. Yang lebih seram lagi adalah istri-istri para penguasa tertinggi yang secara sendiri menguras kekayaan negara untuk memuaskan nafsu pribadinya, berfoya-foya di luar negeri, menimbun kekayaan di dalam negeri! Sedangkan para penguasa berbuat seolah-olah tidak tahu semuanya itu.&lt;/em&gt;" Demikian petikan surat terbuka Bung Tomo yang ditujukan kepada Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Tomo bukanlah sosok yang membuktikan tesis Emile Durkheim tentang kondisi pascaperang. Seusai perang, kata Durkheim, masyarakat justru mengalami gejolak yang kian berat, sekelompok individu mengalami stres karena tak bisa melakukan pekerjaan selain mengangkat senjata. Selain itu, solidaritas masyarakat kian menipis hingga bermunculan kelompok-kelompok di dalam tubuh masyarakat yang berebut kekuasaan. Bung Tomo menganggap bahwa rakyat harus dimuliakan melalui kerja para pemimpin. Perjuangan setelah perang ialah bersatu membangun masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Soeharto dan gerbong Orde Baru-nya berkuasa di Indonesia, Bung Tomo pun belum mau berhenti melancarkan kritik. Ia menyesalkan kedekatan penguasa Cendana dengan sejumlah pengusaha yang, menurut dia, "&lt;em&gt;membikin buyar harapan Orde Baru dan menggerogoti kewibawaan Presiden&lt;/em&gt;". Bung Tomo merekam kondisi rakyat yang melihat bersatunya penguasa dan pengusaha tersebut, "&lt;em&gt;Secara diam-diam, rakyat mulai tidak senang pada kepemimpinan kawan kami Soeharto, tetapi tidak berani.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak aneh kalau Bung Tomo "Sang Toekang Kritik" pernah menjadi tahanan di Penjara Kramatjati antara 1978-1979. Seumur hidup negara ini, memang kritik seolah menjadi tabu. Padahal, kritik ialah unsur pembentuk terpenting dalam masyarakat yang sedang memperbaiki diri. Kritik menjadi penjaga perangai elite penguasa yang sering kali keluar dari jalur "mewujudkan kesejahteraan masyarakat". Selain itu, menurut C. Wright Mills, kritik adalah pembuka selubung tidak rasional dan kepercayaan pada simbol yang menggejala sepanjang tumbuh-kembang masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyala api semangat Bung Tomo harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia. Kritik bukanlah sesuatu yang membunuh. Perdebatan justru menjadikan masyarakat tak pernah sepi dari inovasi dalam memperbaiki diri. Peningkatan kualitas pendidikan ialah kunci untuk mewujudkan masyarakat yang menganggap kritik sebagai dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu sesudah Bung Tomo mengakhiri pidato dengan teriakan, "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!" rakyat maju ke medan laga melawan penjajah. Saat ini, sangat sayang kalau kita berteriak hanya untuk bertarung dengan saudara setanah air di jalanan. Kalau dulu Bung Tomo berteriak, "Semboyan kita tetap. Merdeka atau mati". Maka kini slogan bangsa Indonesia seharusnya ialah, dialog dan damai.***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 255, 255);" href="http://www.youtube.com/watch?v=zm_XZWHhayA"&gt;Klik ini&lt;/a&gt; &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 204, 204);"&gt;Saya mendengarkannya di warnet yang pasang musik pakai bahasa Inggris dengan bunyi keras sekali. Tapi saya dengarkan suara Bung Tomo itu tiga kali. Air mata saya jebol. Saya bukan romantis dan cengeng, tapi saya tak mau bohong kalau suara Bung Tomo merdu sekali. Ya Tuhan, limpahkan rahmat kepadanya...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-2482792871608224860?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/2482792871608224860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=2482792871608224860&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2482792871608224860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2482792871608224860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/11/penghargaan-bagi-si-toekang-kritik.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SRdpcMvfj3I/AAAAAAAAATU/XpWLxhdhCEE/s72-c/Bung_Tomo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5218261982389651178</id><published>2008-08-10T20:57:00.002+07:00</published><updated>2008-08-10T21:04:04.380+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SJ71OVe15cI/AAAAAAAAAOk/1oDZUd7jw70/s1600-h/IMG2529A.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232889443684574658" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SJ71OVe15cI/AAAAAAAAAOk/1oDZUd7jw70/s320/IMG2529A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Menangkap U(d)ang Dibalik Cinta&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya selalu merasa terdapat permusuhan antara nenek-moyang kita dengan hewan udang. Jika tak percaya, coba tengok penggunaan kata udang pada peribahasa yang diwariskan oleh leluhur kita. Misalnya; udang dulu tangguk (dalam keadaan sangat gelisah) dan ada udang dibalik batu (memiliki maksud tersembunyi). Atau udang hendak mengatai ikan yang memiliki arti searah dengan udang tak tahu dibungkuknya, yaitu tak tahu aib yang ada pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi dengan otak udang (bodoh) maka lengkaplah, kata udang senantiasa menempel pada peribahasa yang bermakna negatif. Padahal, hewan yang bernama-latin Crustacea itu sangatlah bergizi dan mahal harganya. Hampir tiap pulau di Indonesia memiliki daerah budidaya udang dalam tambak dengan orientasi pasar ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya udang, demikian pula cinta. Sama-sama kerap dimaknai secara keliru oleh masyarakat. Cinta sering dituduh sebagai faktor yang mengotak-udangkan seseorang. Sepintar apapun individu, kalau sudah terkena cinta maka pupus semua kejeniusannya. Hingga mau saja disuruh melakukan kegiatan yang dianggap ‘tak lumrah’ oleh publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta pun tak jarang dijadikan perangkap oleh pihak tertentu untuk sekadar menangguk keuntungan. Lewat buku ini, Nurani memberi contoh dengan kerja aparat kapitalis yang mendengungkan cinta lewat iklan, lagu-lagu romantis dan film. Tentu saja, hal itu bertujuan untuk memompa aliran modal yang bersumber dari masyarakat dalam suatu proses konsumsi massal.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat penjualan nama cinta pada suatu iklan produk berlian yang berslogan “Say it with diamond”. Ini senilai-arti dengan ada udang dibalik batu; jika ingin mengatakan cinta maka harus membeli perhiasan yang mahal dahulu. Harga berlian yang tinggi tentu saja hanya menguntungkan pengusaha—masyarakat di sekitar daerah pertambangan batu mulia tak pernah ada yang sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurani Soyomukti juga melihat adanya proses untuk menjadikan cinta sebagai barang ekslusif. Tayangan film dan sinteron yang memenuhi layar kaca setiap hari adalah medium dari kampanye eklusifitas cinta. Proses memaknai cinta tak lagi universal, tapi sebatas hubungan antar individu saja, misalnya pacaran dan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta ialah hasrat sekaligus entitas yang selalu mengiringi peradaban manusia. Kita bisa melongok buktinya pada karya sastra macam Laila Majnun, Romeo and Juliet hingga Siti Nurbaya. Karya sastra sebagai produk masyarakat tak pernah menjadikan cinta hanya memiliki satu wajah. Romeo and Juliet misalnya, bukan mengisahkan hubungan dua kekasih yang gelap mata karena cinta. Namun kisah itu merupakan cita-cita pendongkelan terhadap sikap membedakan manusia berdasarkan status—miskin-kaya, hitam-putih, keluarga kerajaan-rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ditulis oleh Nurani ini melakukan pencarian makna cinta pada lorong filsafat Karl Marx, analisa seksualitas dari Sigmund Freud dan petuah-petuah Kahlil Gibran.&lt;br /&gt;Hal menarik dari Karl Marx ialah bahwa filsuf yang sering dituduh sebagai bapak komunisme itu juga membincangkan cinta pada beberapa karyanya. Marx mendefinisikan cinta sebagai ungkapan manusia terhadap orang lain dan alam. Dalam masyarakat yang mengagungkan kepemilikan pribadi tidak terdapat cinta. Sebab masyarakat macam itu tak mampu mewujudkan keadilan ekonomi-politik dan pemerataan akses untuk memenuhi kebutuhan hidup yang senilai dengan substansi cinta (hlm.32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang melulu menempel pada materi tak akan pernah mencapai kesejatian. Bahkan, justru cinta seperti itu yang membelenggu umat manusia. Hal demikian tengah berlangsung luas di masyarakat. Materi seolah menjadi tujuan seluruh hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kini, lembaga percintaan sakral bernama pernikahan pun telah dirasuki oleh belenggu materi. “...Tak jarang mempelai merasa lebih aman setelah pasangannya membacakan janji-janji: hendak memberikan nafkah lahir dan batin...” ungkap Bonari Nabonenar dalam Pengantar buku ini (hlm.viii). Bahkan ada pula perjanjian pra-nikah yang pasti diisi oleh hal terkait materi (harta). Maka, cinta tak lagi dianggap sebagai pondasi dalam rumah tangga namun hanya salah satu elemen yang nilainya bisa jadi kurang begitu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manipulasi konon merupakan elemen penting di abad super-canggih ini. Selain seringkali dimanipulasi dalam bentuk materi, cinta kerap pula ditonjolkan untuk sekadar memenuhi libido manusia. Pemahaman ini bukan hanya menyeruak dalam bentuk sex for fun yang dilakukan oleh kaum berduit. Tapi juga muncul dalam bentuk penguasaan manusia terhadap alam (hlm.87-104). Kerusakan lingkungan yang luarbiasa di abad 21 merupakan wujud nyata nafsu manusia yang dijalankan tanpa kendali untuk meraup keuntungan dari alam. Alasannya tentu saja karena kecintaan manusia kepada materi yang sungguh berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Esensi cinta adalah kesadaran”, demikian ungkapan legendaris dari Marx. Oleh karena itu, bohong jika cinta dianggap mampu membuat kita buta. Cinta justru berfungsi membakar semangat diri untuk terus melakukan perubahan. Bahkan cinta pun menyediakan kekuatan tanpa batas bagi manusia dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran. Tentu saja, pemahaman cinta seperti itu akan muncul tatkala sikap kritis telah bersemayam dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kritis akan membuat manusia terhindar dari segala bentuk manipulasi yang mengatasnamakan cinta. Sebagaimana peradaban manusia yang berproses tanpa henti, demikian pula cinta. Setiap zaman memiliki perbedaan tafsir cinta sebab manusia akan terus-menerus mencari Cinta Sejati seumur hidup bumi. Sikap kritis menjadikan kita siap untuk merevisi pandangan hidup—termasuk soal cinta—setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, buku ini mengajak kita untuk ‘menangkap udang dibalik cinta’. Sayang memang, penulis buku ini sudah berkata: “Tulisan ini tidak layak dibaca oleh orang yang tidak percaya cinta” (hlm.ix). Padahal, melihat kekayaan isi buku ini, seharusnya Nurani menulis: “Mereka yang ingin menjelajahi ceruk-lekuk cinta seharusnya membaca buku ini”.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5218261982389651178?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5218261982389651178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5218261982389651178&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5218261982389651178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5218261982389651178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/08/menangkap-udang-dibalik-cinta-saya.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SJ71OVe15cI/AAAAAAAAAOk/1oDZUd7jw70/s72-c/IMG2529A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-4591732670315670071</id><published>2008-08-08T16:28:00.004+07:00</published><updated>2008-09-01T21:21:44.992+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SJ7xetypC_I/AAAAAAAAAOc/HiLc4Jv6rXY/s1600-h/IMG2687A.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232885327041465330" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SJ7xetypC_I/AAAAAAAAAOc/HiLc4Jv6rXY/s400/IMG2687A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;Catatan Terbuka Untuk Pidi Baiq&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Pidi Baiq, semoga Tuhan memberkati kita semua. Awalnya, paska membaca buku Drunken Molen, saya ingin membuat tinjauan yang normal saja atas buku itu; sama seperti buku-buku lain yang pernah saya baca sebelumnya. Namun, buku setebal 212 halaman itu memberikan sejenis pemahaman baru kepada saya. Yaitu, tiap buku memiliki nafasnya sendiri hingga sesungguhnya tiap buku berhak mendapatkan gaya tinjauan sesuai isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saya pun kian memahami bahwa buku layaknya manusia. Dunia buku sama majemuknya dengan bumi manusia. Bisa jadi, dua buah buku memiliki kesamaaan fisik—mulai dari jumlah halaman sampai tata perwajahan sampul—tetapi dua entitas itu berbeda. Bukan saja karena ditulis oleh dua orang yang tak sama, namun karena isi dua buah buku itu pun berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks dua buku karya Anda, Tuan Pidi, yaitu Drunken Monster (DAR! Mizan, Januari 2008) dan Drunken Molen; saya merasakan hawa yang benar-benar berbeda. Maka dari itu, tak wajar kiranya jikalau saya menuliskan tinjauan atas Drunken Molen dalam gaya yang sama seperti ketika saya meresensi Drunken Monster (dimuat Media Indonesia, 23/02/2008). Walau Anda sendiri—dalam paragraf pembuka Pengantar buku ini—mengatakan bahwa Drunken Molen adalah “Buku yang sama dengan Drunken Monster, kakaknya, karena masih berisi kumpulan catatan harian saya juga” (hal:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drunken Molen, Tuan Pidi, sangat berbeda dengan Drunken Monster. Walau pembaca tetap saja akan dibuat ‘mabuk’ oleh cerita didalamnya. Sebab kreatifitas Anda seolah tak ada habisnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Anak rohani’ kedua yang Anda lahirkan ini kian memperkuat dugaan saya bahwa seorang Pidi Baiq berkarya dengan ‘semangat membobol kebakuan’. Pertama, tentu saja kebakuan berbahasa tulis. Para ahli bahasa sudah merumuskan bahwa bahasa memiliki perbedaan pada bentuk tulis dan ucap. Padahal, sebelum ditemukan tulisan, komunikasi manusia menggunakan suara yang bersumber dari mulut pemberian Tuhan. Cerita-cerita yang Anda tulis seolah ingin bertanya, haruskah ada pembedaan antara yang tertulis dan terucap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dalam sebuah cerita sastra, khalayak memahami bahwa harus tersedia tema, plot dan alur yang jelas. Namun, hal seperti itu tidak akan ditemukan dalam cerita besutan seorang Pidi Baiq. Anda, Tuan Pidi Baiq, seperti tengah melakukan penjebolan terhadap dinding sastra yang beku dan baku itu. Teknik bercerita tak sesuai pakem sastra inilah yang kiranya membuat Jaya Suprana berujar: “Gaya tulisan Pidi Baiq tergolong supersonik...Juga pilihan (atau mungkin tidak dipilih?) tema-tema tulisannya benar-benar lincah tak terbelenggu oleh apapun” (hal:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreatifitas seorang Pidi Baiq dalam menjalin cerita humor memang patut diacungi jempol. Tak ada satu pun cerita dalam Drunken Molen yang memiliki ‘kesamaan nada’ dengan kisah-kisah yang telah dibukukan dalam Drunken Monster. Hanya saja, renungan filosofis berbalut kisah lucu kiranya lebih banyak bertebaran di sekujur Drunken Molen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Pidi Baiq, kalau hari ini rakyat Indonesia lebih karib dengan kata jebakan, saya merasa itu terjadi karena kinerja KPK. Ya, lembaga negara yang super body itu sering sekali menjebak pejabat pemerintah yang dikategorikan ‘busuk’. Cerita-cerita yang Anda tuliskan, Tuan Pidi, mungkin semacam antidot dari begitu negatifnya makna jebakan di masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jebakan tak harus bermakna negatif. Kegiatan ‘menjebak’ hanya akan membawa kita mengetahui sifat asali manusia. Jika manusia itu baik, maka saat dijebak pun tak akan terjadi apa-apa. Lain halnya jika manusia yang dijebak ialah tipikal “si manusia bersifat buruk”, maka ruang pengadilan akan menantinya. Jadi yang baik atau buruk adalah manusia, bukan jebakan.&lt;br /&gt;Kreatifitas cerita-cerita Pidi Baiq, menurut saya, ialah kelincahan dan kejelian memproses suatu jebakan (jelek baik ditertawakan). Tapi jebakan itu tak berakhir dengan kerugian si manusia yang terjebak. Seperti yang Anda ceritakan di Tangga Studio Foto (hal:107-115) dan The Nazar (hal:177-185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema ‘Jebakan’ ini benar-benar menuntun saya untuk memahami seluruh cerita Anda, Tuan Pidi. Sebab kata ‘jebakan’ itu juga bisa dipanjangkan menjadi ‘jelek baik diceritakan’, ‘jelek baik direnungkan’ atau apa saja; bebas seperti nafas yang menghembus dari tiap kisah karangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jebakan yang Anda buat dalam cerita-cerita itu pun bisa menjadi satu bangunan interaksi dengan pembaca. Maksudnya, Anda seperti selalu menjebak pembaca saat menikmati satu kisah dalam Drunken Molen. Pembaca seolah mengetahui bahwa yang berkata “Iya” dalam suatu dialog adalah Tuan Pidi sendiri tapi nyatanya tidak (hal:145-147).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, jebakan yang paling hakiki dalam seluruh cerita Anda kepada pembaca yaitu kenyataan bahwa suatu kisah tidak akan bisa kita tebak bagian akhirnya. Jadi, Anda bagaikan memaksa pembaca untuk terus membuka mata dan mengeja kalimat yang sudah dirangkai tanpa rasa malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kreatifitas ini, saya teringat pada kata-kata Nawal el Saadawi, sastrawan terkemuka dari Mesir. Baginya, kreatifitas ialah penyingkapan dan pengungkapan kembali tentang suatu hal dalam cara pandang baru. Melalui penulisan cerita dengan gaya tutur ini, Tuan Pidi telah membuka kembali tafsir-tafsir yang penting tentang suatu hal namun sering dipandang remeh oleh masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita karangan Pidi Baiq, wahai pembaca, akan membawa kita pada suatu ruang untuk memahami bahwa manusia harus berdaulat atas dirinya sendiri. Tapi bukan berarti manusia macam itu sah untuk menikmati hidupnya sendiri jauh dari orang lain. Manusia yang berdaulat itu justru harus membantu sesama agar mencapai kedaulatan yang sama dengan dirinya. Maka manusia harus berinteraksi, bermain dan saling membantu. Sebab Tuhan tak menempatkan manusia sebagai satu-satunya makhluk di bumi ini. Terakhir, manusia tak boleh lupa bahwa canda dan tawa ialah bunga-bunga kehidupan.(*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:85%;" &gt;Versi lain tulisan ini ada di &lt;a href="http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/?doky=MjAwOA==&amp;amp;dokm=MDg=&amp;amp;dokd=MzE=&amp;amp;dig=YXJjaGl2ZXM=&amp;amp;on=VUxT&amp;amp;uniq=NzMw"&gt;Ruang Baca Koran Tempo Edisi 31 Agustus 2008&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-4591732670315670071?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/4591732670315670071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=4591732670315670071&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4591732670315670071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4591732670315670071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/08/catatan-terbuka-untuk-pidi-baiq-tuan.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_XD7IdX38vhg/SJ7xetypC_I/AAAAAAAAAOc/HiLc4Jv6rXY/s72-c/IMG2687A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-6649279026754556581</id><published>2008-07-25T01:51:00.005+07:00</published><updated>2008-07-25T15:56:52.555+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SImVKRZh06I/AAAAAAAAAOI/QmbZSh1H7X0/s1600-h/kebudsimon.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226872846241878946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SImVKRZh06I/AAAAAAAAAOI/QmbZSh1H7X0/s320/kebudsimon.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Melongok Kedigdayaan Waktu Senggang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“&lt;em&gt;Pada akhirnya manusia yang menentukan&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;(Soekarno)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu senggang saat ini identik dengan masa liburan. Momen yang dinanti sekaligus kerap ditolak oleh masyarakat modern. Waktu senggang memberi peluang bagi individu untuk bebas dari rutinitas kerja. Namun, pemaknaan waktu senggang juga bisa terlampau peyoratif sebab sering didekatkan pada sikap malas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Buku yang ditulis oleh Fransiskus Simon ini membentangkan ceruk-lekuk kekuatan waktu senggang dalam memengaruhi, membangun dan mengkritisi kebudayaan masyarakat manusia. Umumnya, buku bergenre filsafat memiliki sifat—pinjam istilah dari Jody Pojoh—buku kubik. Maksudnya, buku yang cenderung tebal dan sulit dimengerti bahasannya—hingga terlampau ‘tinggi’ bagi pembaca awam. Kebudayaan dan Waktu Senggang ialah buku bergenre filsafat yang ‘ramah’—tebalnya cuma 134 halaman, untaian kalimatnya mudah dipahami dan isinya sungguh inspiratif.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Setiap usaha manusia untuk merumuskan kebudayaan pada akhirnya adalah representasi pluralitas dari masyarakat. Tiap ahli dari pelbagai bidang keilmuan—sosiologi, antropologi, ilmu komunikasi dan sebagainya—memiliki rumusan sendiri. Oleh karena itu, Simon mengambil posisi sebagai pemeriah perbendaharaan ide dan usul yang memungkinkan suatu diskusi baru melalui buku ini. Dengan menghadirkan pemikiran strategi kebudayaan dari CA van Peursen yang diintegrasikan bersama analisa filosofis Josef Pieper tentang waktu senggang, buku ini merupakan sebuah kolase yang indah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Manusia modern hidup dalam kepungan segala sesuatu yang banal, bersifat anti-ritual dan seremonial hingga memunculkan krisis eksistensial. Manusia modern tak lagi punya prioritas hidup, tanpa harapan dan tak berani menyelami makna terdalam. Sebabnya ialah kecenderungan untuk mengagungkan kerja yang membuat waktu senggang terbunuh. Manusia modern tak lagi memberi ruang bagi dirinya untuk berfilsafat melalui kontemplasi dan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Padahal, waktu senggang memiliki ‘daya ledak’ yang luarbiasa bagi kebudayaan manusia. Masyarakat Yunani Kuno telah mengenal waktu senggang yang direpresentasikan oleh kata skole. Momen itu digunakan untuk berdiskusi tentang kebenaran, merefleksikan peristiwa kehidupan dan kegiatan kontemplatif lainnya yang mengandung spiritualitas. Bahkan, karya-karya besar filsuf Yunani Kuno dikerjakan saat waktu senggang (hal.60).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dengan pemahaman kebudayaan sebagaimana pernah dirumuskan oleh van Peursen, yakni “kebudayaan dilihat sebagai kata kerja; proses manusia membuat, melakukan transaksi-transformasi dan berubah tanpa titik akhir”, Simon mengajak pembaca untuk melihat kekuatan waktu senggang. Jadi waktu senggang tak laik jika dimaknai dan diisi dengan kemalasan. Sebaliknya, waktu senggang ialah momen untuk menyusun ‘strategi’ agar hidup manusia tak tersedot ke dalam kebudayaan yang hanya merayu dan memuaskan nafsu tapi hampa makna.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Waktu senggang bukanlah sikap dan tindakan yang terjadi karena pengaruh kekuasaan atau tekanan dari luar. Jika waktu senggang tetap dimaknai sebagai pemberian dari manajemen, maka ia tetaplah bagian dari rutinitas kerja. Padahal, kerja bagi masyarakat modern telah masuk dalam pemahaman satu dimensi; ‘kerja untuk kerja’. Begitu meruah kehilangan yang dialami oleh manusia modern akibat pendewaan pada pekerjaan. Kesempatan untuk berbagi dengan sesama, merenungkan kehidupan sampai memenuhi kebutuhan spiritual telah tereliminir secara tragis oleh totalitas pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Waktu senggang seharusnya merupakan momen yang tumbuh secara alamiah; bagai kebutuhan manusia untuk makan. Ia hadir sebagai perayaan yang merupakan perpaduan dari ketentraman (transquility), kontemplasi (contemplation) dan kesungguhan hidup (intensity of life). Artinya, waktu senggang adalah kesempatan bagi manusia untuk masuk-meninjau-memperbaiki ke dalam diri sendiri dan lingkungan. Sayangnya, hari ini, waktu senggang lebih dianggap manusia sebagai momen untuk lari menuju jebakan-jebakan nafsu belaka. Hingga sikap konsumerisme, hedonisme dan festival hampa makna kian karib di sekitar kita terkait waktu senggang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Manusia memiliki akal-pikir hingga mampu merenungkan-melaksanakan yang terbaik menurutnya dalam pusaran perubahan kebudayaan yang tanpa henti. Maka, manusia bisa menjadi sandera atau agen kebudayaan secara aktif. Waktu senggang memungkinkan berjalannya proses seleksi dan kritisisasi ketika melakukan transaksi-transformasi kultural dengan kebudayaan diluar lingkungan kita. Lebih dari itu, waktu senggang juga merupakan momen yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi kreatifitas dan imajinasi. Tentu saja, hal tersebut akan berlangsung jika waktu senggang dihidupkan dengan perilaku kontemplatif dan reflektif ke dalam dan ke luar diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sekilas, pemikiran Simon ini memang utopis. Namun, jika manusia memiliki kecenderungan untuk bersikap destruktif hingga terbangun kebudayaan nekrofilia. Maka ia pun berkesempatan untuk menghidupkan kebudayaan biofilia, yakni kebudayaan yang senantiasa bertujuan menjaga kelangsungan hidup manusia dan dunia. Itulah sebabnya, saya kutipkan pernyataan Bung Karno di awal tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kekuatan waktu senggang dalam hubungannya dengan kebudayaan memang tak bisa diremehkan. Inilah solusi sekaligus tantangan bagi masyarakat modern dalam membangun-hidupkan kebudayaan. Konflik, penggunaan narkotika, kerusakan lingkungan sampai melunturnya spiritualitas yang menubuh pada masyarakat modern sangat mungkin disebabkan oleh kebudayaan yang dibangun tanpa kematangan strategi. Manusia modern yang cenderung workaholic telah meremehkan kekuatan waktu senggang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Proyek masyarakat-manusia modern akhirnya adalah menanggulangi proses dehumanisasi menjadi rehumanisasi, perilaku konsumer menjadi penghematan-produktif dan—yang terpenting:—seleksi kebudayaan. Jalan untuk melakukan itu semua telah dilapangkan dengan apik oleh Fransiskus Simon dalam buku ini. Sayang memang, intelektual kita ini harus pulang ke rumah Tuhan saat berusia 23 tahun.(*) &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-6649279026754556581?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/6649279026754556581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=6649279026754556581&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6649279026754556581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6649279026754556581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/07/melongok-kedigdayaan-waktu-senggang.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SImVKRZh06I/AAAAAAAAAOI/QmbZSh1H7X0/s72-c/kebudsimon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-331287139707899668</id><published>2008-07-20T23:56:00.005+07:00</published><updated>2008-07-21T17:47:41.698+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SIRpKl32KRI/AAAAAAAAAN4/G-xQHzx03lw/s1600-h/IMG2633A.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225417098342574354" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SIRpKl32KRI/AAAAAAAAAN4/G-xQHzx03lw/s400/IMG2633A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SIRo59KUg8I/AAAAAAAAANw/pR9RiWUOOKA/s1600-h/IMG2633A.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Jalan Bapak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;(dimuat di Harian Seputar Indonesia &lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/cerpen-puisi/jalan-bapak-2.html"&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;edisi Minggu, 20 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok ketujuh yang saya isap belum habis. Obrolan tetap hangat, tidak dingin seperti kopi yang ada di hadapan saya. Itulah nikmatnya melakukan ”ritual” cangkruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbincang dengan tema dan waktu tanpa batas di sebuah warung kopi adalah suatu kebiasaan yang tak mungkin lewat dalam keseharianku. Ya, ada yang bilang cangkruk hanya membuang waktu.Bahkan, seorang dosen mengatakan bahwa cangkruk itu hanya dilakukan mereka yang malas dan masih bermental budak. ”O iya...juga mereka yang hidup tanpa tujuan,” lanjut dosen itu dalam sebuah kelas pada masa awal saya kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa yang salah dengan cangkruk?” pikirku bertahun-tahun setelahnya. Aku dan teman-teman menjadi konsumen warung kecil yang pemiliknya adalah kaum papa. Kami tidak cangkrukdi kafe-kafe atau di gerai kopi asal luar negeri. Ketika cangkruk pun, obrolan kami seputar berita-berita di televisi yang kerap diisi keganjilan ulah para pemimpin di negeri ini.Saya sendiri kerap menjadikan cangkruk sebagai wahana mendengarkan curhat seorang teman yang sedang bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cangkruk kami tidak biasa dan sangat jauh dari hura-hura. Ya, cangkruk yang bertahun-tahun saya nikmati adalah bukti bahwa masyarakat kita masih belum sepenuhnya individual.Masih ada wahana untuk berbagi kisah.Yang paling tak terlupakan, cangkruk merupakan ajang untuk berdebat,mengasah,dan menambah ilmu. ”Lewat cangkruk, ide-ide besar sering bermula,” kata seorang temanku suatu ketika. Bahkan, di era Pak Harto dulu,kata temanku lagi, para aktivis berbagi ide dan merancang gerakan dari warung kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba mata saya menjadi dingin. Perlahan,ada yang mengalir berangsur beku dalam hati.Padahal,obrolan saat itu sedang panas-panasnya.Rokok saya yang ketujuh sekejap lepas dari jepitan telunjuk dan jari tengah.Dari arah barat warung tempat saya cangkruk, sebuah gerobak datang. Saya membaca tulisan Mi Ayam berwarna kuning Golkar. Setelah memarkir gerobak itu,pendorongnya lalu masuk warung, melepaskan topi dan tersenyum ramah pada hadirin yang ada di sana.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya ampun,penjual mi ayam itu lagi,” batin saya berdesir. Ya, saya sangat sering melihat penjual mi ayam yang satu ini.Namun,saya tak pernah membeli dagangannya. Saya kurang begitu suka mi.Tidak mengenyangkan. Penjual mi ayam itu beredar di sekitar Jalan Jawa. Saat siang, dia sering mangkal di samping Warnet Maxima. Kalau sedang ada duit agak banyak, saya ke Maxima siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap itu pula, saya pasti melihat penjual mi ayam dan gerobaknya. Entahlah, tiap kali melihatnya seolah ada yang mengiris-iris hati dengan es batu yang tipis dan tajam.Maka itu, kadang saya memutar arah saat pulang dari kampus untuk tidak bertemu dengannya. Padahal, Jalan Jawa adalah penghubung yang sangat dekat antara tempat indekos dan kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu,sang penjual mi ayam ada di hadapan saya. Ingin rasanya keluar warung.Tapi posisi badan tidak memungkinkan– saya diapit dua teman yang sedang asyik berbicara. Selain itu,tak nyaman rasanya jika keluar warung saat ada orang yang baru datang. Saya putuskan untuk bertahan sekitar 10 menit lagi.Namun,putusan saya itu tak mewujud sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya menatap lekat–walau tetap saya usahakan agar tidak kentara–ke wajah penjual mi ayam itu. Bibirnya yang agak tebal berada di bawah kumis yang sangat rimbun, tetapi tidak tertata rapi.Kulit yang cokelat tua sisa bakaran matahari,menjadi alas bagi garis-garis wajah yang kian tampak karena keriput. Dan satu lagi, matanya.Mata itu tak merekah,tanda deraan lelah yang seolah tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkap sudah.Penjual mi ayam itu mirip sekali dengan bapak saya.Hanya, tubuhnya tidak gemuk dan rambutnya belum putih seluruhnya. Sejak pertama bertemu dengannya, saya makin percaya dengan teori–yang tak jelas sumbernya– bahwa ada 10 orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan hidup bapak adalah lereng bukit batu yang terjal. Saya ingat betul, ketika itu saya masih duduk di kelas enam SD. Mama meminta saya untuk berangkat ke Jakarta seorang diri. ”Bapak kamu sakit,”kata ibu kepadaku waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah gonta-ganti bus dan satu kali naik feri di penyeberangan Bakauheni–Merak, saya tiba di RSCM.Di tempat itulah bapak terbaring lemah setelah dua hari sebelumnya jatuh dari sepeda motor, sebab ojek yang ditumpanginya tak berdaya menampung beban dari tubuh bapak ketika hendak menyeberangi rel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa lekang dari ingatan, saat itu adalah masa di mana saya mengetahui dengan pasti kalau bapak memiliki istri bukan hanya mama. Bapak membangun keluarga pula bersama tiga perempuan. Untuk pertama kalinya, saya bertatap muka dengan beberapa anak bapak. Hati siapa yang tak remuk redam kala itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya–yang saat itu masih bocah berusia 12 tahun– hanya mampu berair mata dalam hati. ”Itulah sebabnya, saya tidak pernah bisa langsung memperlihatkan rapor setelah dibagikan wali kelas.Dan ...ini juga yang menyebabkan bapak hanya pulang ke Metro dua pekan sekali,” renung saya tak pecah di mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, sekitar tiga tahun dari kejadian di RSCM itu, saya sempat benci dengan bapak. Namun ketika menimbang ulang, rasa bangga kepada bapak malah muncul di hati saya. ”Walau bapak punya empat istri,semua anaknya tidak ada yang tidak lulus SMU”,kata salah satu anak bapak saat saya berkunjung ke Jakarta di masa SMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengakui bahwa anakanak bapak yang berada di Tangerang, Depok, dan Rawasari sering bertemu jikaadaacarakhusus.”KeluargaDepok tuh yang paling sombong. Mentangmentang anaknya ada yang kerja di Garuda,”cibirnya kemudian. Terus saja saya merenung.Kenapa saya harus membenci bapak? Saya tidak pernah satu kali pun melihat bapak memukul mama. Bahkan berkata dengan kalimat kasar pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi, sebelas ”saudara kandung” saya memiliki panggilan yang sama untuk lelaki itu: Bapak.Sementara untuk istri bapak, tiap anak memiliki panggilan beragam. Saya panggil Mama, keluarga di Tangerang panggil Mami, keluarga di Depok panggil Bunda, sedangkan keluarga Rawasari panggil Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh anak bapak mengetahui bahwa istri bapak ada empat.Bapak tidak seperti para lelaki yang hobi ‘menyimpan’ perempuan, hingga saat sudah bosan maka ditinggalkan.Apa alasan saya,akhirnya,membenci bapak? Ketika merantau jauh dari mama dan bapak, saya makin tersadarkan bahwa saya memang harus bangga dengan bapak. Saya sering membayangkan betapa sulit kehidupan bapak dengan empat istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan itu tentu saja dalam hal membagi keadilan, sesuatu yang saya pahami hanyalah milik Tuhan.Namun,saya juga percaya bahwa manusia hanya mampu sebatas mengusahakannya terwujud. Bohong jika saya mengatakan bahwa bapak telah adil kepada istri dan anak-anaknya. Namun, saya juga tahu bahwa bapak selalu berusaha memberi keadilan kepada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengetahui bahwa semua istri bapak adalah perempuan yang bekerja di luar rumah.Jadi,penghasilan tiap keluarga berasal dari suami dan istri.Walau tentu saja, penghasilan yang berasal dari suami tak dapat diberikan utuh kepada satu keluarga. Tetap saja ada yang mengkhawatirkan saya dengan kondisi bapak. Seorang teman pernah bercerita bahwa lelaki yang bapaknya memiliki istri banyak, biasanya akan turut pula seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yahh...Buah pasti jatuh tak jauh dari pohonnya, toh?”, kesimpulannya saat itu. Fakta-fakta yang menunjukkan bahwa kenakalan anak muda selalu didominasi mereka yang berasal dari keluarga broken home, yang penyebabnya tentu identik dengan ‘kenakalan’ suami. Jalan bapak berbeda dengan kebanyakan lelaki yang memiliki banyak istri.Ada tanggung jawab yang dengan keras coba diperlihatkan pada anakanaknya. Keterbukaan dan kepedulian adalah ciri yang berusaha dibangun bapak di hadapan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa di RSCM itu, bapak pernah mengajak saya berbincang soal kondisi dirinya. Ya,waktu itu saya masih marah dengan kenyataan hingga omongan bapak hanya masuk kuping tanpa menyangkut di otak. Untungnya, saya mampu berpikir agak jernih.Itulah sebabnya saya tidak terjerumus ke barang terlarang sebagai pelepasan emosi. Kenapa harus memakai narkoba karena mengetahui bapak punya istri selain ibu kita? Kenyataan tak bisa diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada yang harus disesali.Lagi pula, bapaklah yang melakukan poligami, bukan saya.Namun, harus ada yang diperbaiki.Saya tidak mau mengikuti jalan bapak. Jalan terjal itu hanya bisa ditempuh bapak. Saya tidak membencinya.Hanya,saya sudah berpikir serius bahwa saya tak akan bisa memiliki istri lebih dari satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak mampu menghadirkan contoh yang baik melalui sesuatu yang dipandang miring oleh orang lain. Dan jika ada tiga amalan dari seorang manusia yang tak akan putus walau telah meninggal, saya akan menyambung amalan bapak pada dua bentuk saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan beristri satu, saya akan menumpahkan seluruh perhatian kepada anak yang lahir dari istri saya, satu hal yang tak bisa dilakukan bapak. Saya mendapatkan ilmu memberi perhatian pada anak dari bapak.Dan saya,pasti punya cukup banyak waktu untuk mendoakan bapak dan mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah muter ke mana aja, Pak?” akhirnya saya bertanya kepada penjual mi ayam itu. ”Ah,sekitar sini aja,Dik.”&lt;br /&gt;”Wah,kayanya sudah laris,Pak”&lt;br /&gt;”Ah,belum...”&lt;br /&gt;”Rumah sampean di mana,Pak?”&lt;br /&gt;”Ini,di Jalan Sumatera Gang tiga”&lt;br /&gt;”Oh..deket sini ya, Pak. Anaknya berapa,Pak?”&lt;br /&gt;”Tiga...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut penjual mi ayam itu terlihat akan mengeluarkan kata-kata lagi.Saya buru-buru bertanya kembali, ”Kalau istri ada berapa,Pak?””Apa,Dik? Hahaha...Ya cuma satu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan kami terus berpacu dengan silang suara orang lain di warung itu. Ia bercerita tentang kampung asal sampai kisahnya datang ke kota ini pertama kali. Saya akhirnya memesan mi yang ada di gerobaknya. Selepas kejadian siang itu, saya selalu makan mi ayam kalau dompet agak tebal. Saya melahap mi sambil menatap penjualnya.Membayangkan wajah bapak dan jalan berliku yang telah dipilihnya untuk menapaki kehidupan.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-331287139707899668?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/331287139707899668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=331287139707899668&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/331287139707899668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/331287139707899668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/07/jalan-bapak-dimuat-di-harian-seputar.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SIRpKl32KRI/AAAAAAAAAN4/G-xQHzx03lw/s72-c/IMG2633A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-1898657188335609186</id><published>2008-07-14T12:40:00.002+07:00</published><updated>2008-07-14T12:50:48.308+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Buku Baru&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SHrpCO6EmhI/AAAAAAAAANo/247Qf_SMmCc/s1600-h/IMG2529A.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222742942460189202" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SHrpCO6EmhI/AAAAAAAAANo/247Qf_SMmCc/s400/IMG2529A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-1898657188335609186?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/1898657188335609186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=1898657188335609186&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1898657188335609186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1898657188335609186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/07/buku-baru.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SHrpCO6EmhI/AAAAAAAAANo/247Qf_SMmCc/s72-c/IMG2529A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5625982700833446705</id><published>2008-07-02T14:06:00.001+07:00</published><updated>2008-07-02T14:09:12.691+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pulang Perang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;—Seharusnya kau tak perlu pulang. Lebih baik disana. Ada yang lebih patut kau kerjakan.&lt;br /&gt;+Awalnya aku pun berpikiran demikian. Tapi, aku tak kuasa lagi untuk bertahan disana. Pulang ke kampung walau nyawa taruhannya, tak masalah.&lt;br /&gt;—Tengoklah, kau sendiri sudah paham soal buah yang sangat mungkin kau petik dari ulahmu. Untung saja kau sudah disini mengobrol dengan saya. Cobalah, sesekali kau ini berpikir pakai otak. Jangan hati saja kau ikuti terus!&lt;br /&gt;+Kau tetap saja seperti dulu. Sok ceramah tapi tak berisi! Kalau tak pakai otak, mana mungkin aku bisa sampai dengan utuh! Kau urus saja....&lt;br /&gt;—Apa? Urus apa? Kamu yang dari dulu susah diurus! Semakin tua, semakin tumpul otakmu untuk mengingat pesan bapak. Jangan mundur sebelum terdengar perintah untuk menarik serdadu! Begitu ‘kan kata bapak?! Kau ini selalu saja pekak badak! Kau paham ‘kan kalau pulang itu sama dengan mundur!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;+Kau ini bodoh atau apa? Disana aku tak berperang! Aku tak tahan dengan kondisi disana. Terlalu banyak yang dikorbankan. Mataku sendiri yang melihat banyak orang menjadi budak apa saja sampai mengorbankan orang lain bukanlah persoalan besar. Mulutku tak bisa bicara. Kupendam semua dalam hati. Kau tahu, kini hatiku pun menjadi korban, sakit sekali rasanya.&lt;br /&gt;—Ah, selama kerugian tak menghampirimu, maka kau bukan korban. Tak salah, akhirnya, kalau kau terus bertahan disana. Jawablah, kau bisa mencangkul? Menanam dan mengurus padi sampai panen? Kau sudi berkubang di lumpur saat matahari sedang terik? Hanya itu yang bisa dikerjakan disini. Siap kau? Sudahlah kembali saja kesana, mumpung baru sehari kau disini. Kau bisa pakai alasan urusan keluarga yang mendesak agar bisa hidup disana lagi. Berjuang menggapai mimpi keluargamu.&lt;br /&gt;+Aku bisa belajar untuk turun ke sawah lagi. Lebih baik bergumul dengan tanah, air dan wereng di sawah ketimbang bergulat dengan orang-orang tak berperasaan disana. Kalau kita baik kepada alam, balasan serupa kita peroleh. Tapi, manusia tak demikian. Mataku berulang kali melihat buktinya. Semakin kau baik kepada orang lain, alih-alih dapat kebaikan pula malah kau ditendang oleh orang itu.&lt;br /&gt;—Ya sudah! Kau bisa tendang balik orang itu. Bahkan kalau perlu bikin dia jatuh sampai tak bisa bangun. Mengapa itu kau ributkan?! Selama kau masih pakai otak, orang yang sangat licik bisa kau cekik. Hidup memang begitu adanya. Siapapun yang kuat, jadilah ia juara. Tanah tak akan melawan saat kau cangkuli kemudian kau tanami padi. Tanah itu benda mati! Dan hidupmu tak akan lebih baik jika kau terus-menerus bergaul dengan benda mati!&lt;br /&gt;+Jika tak kau ijinkan aku menggarap sawah lagi, baiklah. Aku bawa uang untuk modal usaha disini. Aku bisa buka warung atau....&lt;br /&gt;—Haa?! Hahaha...Kau tahu, sejak kita kecil sampai sekarang hanya ada satu warung di kampung ini. Ya milik Pak Warso itu. Lihatlah, tak kunjung kaya dia. Uangmu akan terbuang percuma jika usaha di disini. Buka warung makan atau toko apa saja, siapa yang mau beli? Orang-orang lebih senang belanja ke kecamatan. Itu pun sehabis panen saja saat mereka agak tebal dompet.&lt;br /&gt;+Aku hanya ingin hidup tenang. Makan cukup setiap hari. Bisa bekerja walau uang yang kudapat sedikit. Aku sudah senang hidup seperti itu. Aku yakin bisa menunaikan inginku di kampung ini.&lt;br /&gt;—Aku paham sekarang. Ini bukan masalah kau hidup disana atau disini. Tapi caramu menjalani keseharian saja. Selama kau tak ikut kotor di tempat yang buruk, bisalah kau tenang hidup disana atau disini. Jalani saja tugasmu. Kenyangkan perutmu. Kirimkan uang untuk anak-istri di kampung. Masa kau tetap tak bahagia hidup macam itu? Sawah warisan bapak hanya cukup untuk menghidupi keluargaku saja. Kalau kau menggarapnya pula, itu sama saja menyulitkan aku dan keluargamu sendiri. Kita bisa makin kekurangan.&lt;br /&gt;+Ya sudah, kau saja yang hidup disana menggantikan aku. Sepertinya otakmu pas dengan cara hidup orang-orang disana. Kesana saja, buktikan sendiri semua ucapanku. Kau terapkan saja sendiri seluruh pemikiranmu itu.&lt;br /&gt;—Bukan begitu. Aku sudah cukup hidup di kampung ini. Mengapa pula aku harus hidup disana? Maksud semua omonganku tadi agar kau bertahan disana. Kau terlalu sering memikirkan hal sepele hingga kebahagiaan tak bertandang kepadamu. Aku yakin sebentar lagi kau kian mapan. Anak-istrimu bolehlah diajak ikut hidup disana. Kemudian sekolahkan anak-anakmu agar mereka tak bernasib seperti kita. Engkau yang diminta bapak untuk kerja disana. Aku hanya ditugaskan menggarap sawah milik bapak. Masa itu belum adil bagimu?&lt;br /&gt;+Ah, pintar sekali kau menyilatkan lidahmu sendiri untuk menghalangi niatku hidup tenang di kampung ini. Kau dengar ini; aku sudah putuskan untuk....&lt;br /&gt;“Mas, ongkosnya”. Lamunan itu pecah. Ia keluarkan dua lembar lima puluh ribu dan diberikan ke kondektur bis. Melanjutkan atau menghentikan perjalanan, hanya dia yang mengerti.(*)&lt;br /&gt;Seputaran Gumuk Kerang/0508 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5625982700833446705?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5625982700833446705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5625982700833446705&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5625982700833446705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5625982700833446705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/07/pulang-perang-seharusnya-kau-tak-perlu.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-2334374511450029299</id><published>2008-07-02T13:57:00.001+07:00</published><updated>2008-07-02T14:04:25.834+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGsoX9sWjwI/AAAAAAAAANY/VezwSceM9g4/s1600-h/IMG2376A.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218308985401544450" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGsoX9sWjwI/AAAAAAAAANY/VezwSceM9g4/s320/IMG2376A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bukan Dongeng Dari Tiongkok&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;(dipublikasi di Harian Jawa Pos edisi Minggu, 29 Juni 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berbicara Tiongkok, bagi kita yang awam, mungkin akan teringat pada film. Lumrah saja karena salah satu ‘suguhan asing’ di kancah perfilman negeri ini adalah film Tiongkok. Atau bisa jadi, pikiran kita akan melayang pada tragedi 1965 yang terjadi di Indonesia. Nama Republik Rakyat Cina sering dikaitkan dengan peristiwa itu. Namun, siapkanlah diri dengan pikiran terbuka saat membaca 76 catatan Dahlan Iskan mengenai Tiongkok dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan, harus diakui, bukanlah sosok yang menjadi ‘pemerhati’ Tiongkok karena keberhasilan negara tersebut akhir-akhir ini. Hal itu terlihat pada sikap dia dalam menyikapi perjanjian normalisasi hubungan Indonesia-Tiongkok yang ditandatangani pada 1989. Peristiwa itu berlangsung di salah satu ruang hotel Imperial di Tokyo; disela-sela acara pemakaman Kaisar Hirohito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Sejak saat itu saya merasa terdorong untuk ikut mengisi dan memberi warna agar perjanjian tersebut tidak menjadi sekedar perjanjian kosong&lt;/em&gt;”, tulis Dahlan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, bersama harian Jawa Pos yang dipimpinnya, Dahlan mulai menggelar acara kesenian dari Tiongkok. Aral yang menghadang bukan kepalang. Maklumlah, menggelar kesenian bernuansa Tionghoa pada era Orde Baru bisa menimbulkan persoalan pelik bagi penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, keberanian Jawa Pos Grup meng-umum-kan kesenian masyarakat Tionghoa—yang sebelumnya hanya boleh digelar khusus dalam klenteng—merupakan langkah untuk mewujudkan normalisasi hubungan dalam skala lebih luas, yaitu antar masyarakat, bukan sekadar negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Kisah cinta’ Dahlan Iskan dengan Tiongkok tidak berhenti begitu saja ketika roh reformasi mulai menyelubungi negeri ini. Saat barongsai sudah sangat umum ditengah masyarakat (bahkan lazim dipertontonkan oleh stasiun televisi), Dahlan Iskan tak lagi sekadar menjadi ‘pemerhati’. Namun, dia pelan-pelan ‘menjalankan laku’ untuk menjadi—yang saya sebut sebagai—‘ahli Tiongkok’. Dia, tampaknya, tahu betul bahwa rekonsialiasi dengan Tiongkok seharusnya tidak hanya dalam bidang kebudayaan, tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 8 catatan yang mengawali buku ini, Dahlan Iskan menceritakan pengalaman belajar Putonghua di Jiang Xi Shi Fan Da Xue (Jiang Xi Normal University), Nanchang. Walau telah berusia setengah abad saat memulai belajar Putonghua (‘bahasa nasional’ Tiongkok), dia tidak menyerah. Rumitnya belajar bahasa tersebut—orang Tiongkok sendiri pun kesulitan—membuat Dahlan Iskan memaknai agak berbeda hadist nabi: “&lt;em&gt;Tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menafsirkan bukan saja terkait dengan jarak; ilmu harus direngkuh meskipun jauh. Namun, “&lt;em&gt;Tuntulah ilmu meski sulitnya amat sangat—seperti belajar bahasa Mandarin itu!&lt;/em&gt;” (hal:27). Bagi saya, tafsiran itu menujukkan totalitas Dahlan untuk menjadi “ahli Tiongkok”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini, kita akan diperlihatkan sebuah pemandangan Tiongkok yang berhias pertumbuhan dan perkembangan. Dan itu bukan dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan sudah bolak-balik ke Tiongkok dalam sepuluh tahun terakhir ini. Mekarnya ekonomi Tiongkok dia amati dari sangat dekat. Dia sampai paham betul suasana jalan tol yang kian tahun makin bertambah panjang menjulur hingga ke desa-desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan jalan tol dimulai pada 1988 untuk menghubungkan Kota Senyang dengan Dalian sepanjang 400 km. Pada 2003, jalan tol di Tiongkok mencapai 30.000 km (hal:84-85). Pembangunan jalan tol yang ‘gila-gilaan’ itu dilakukan agar pemerataan ekonomi bisa tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, benarlah, sejumlah ‘kesaksian’ dituturkan Dahlan terkait ampuhnya jalan tol dalam menopang peningkatan ekonomi Tiongkok. Begitu banyak daerah yang awalnya adalah desa terpencil, kini telah menjadi sentra rupa-rupa industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, terowongan di bawah laut dan jembatan yang melintasi birunya air laut dibuat pula untuk mempermudah hubungan dengan Hongkong, Taiwan dan Makau. Jalur transportasi yang mewujud itu bukan bermodalkan ‘simsalabim’ tapi lewat matangnya rencana dan usaha yang perlahan tapi pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tuntas memereteli catatan jurnalistik Dahlan Iskan dalam buku ini, saya berkesimpulan bahwa mempelajari Tiongkok adalah bergumul dengan keunikan. Walau telah mempercantik diri dengan modernisasi disana-sini, masyarakat Tiongkok tidak serta-merta menanggalkan baju leluhur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Imlek tetap menjadi perhelatan yang luarbiasa meriah di negeri itu. Bahkan, pengobatan tradisional pun dikaji dan dikembangkan sama seriusnya dengan teknik modern di fakultas kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menatap Tiongkok bagai melihat sesosok raksasa yang seolah tidur, namun kini tengah bergeliat bangun. Kalau dulu Tiongkok menutupi diri dengan bambu komunisme, kini bambu itu tetap ada, tapi sebatas identitas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deng Xiaoping yang mulai membuka tirai bambu penutup Tiongkok. Perekonomian perlahan bangkit setelah pusat memberi ‘kekuasaan’ pada pemerintah daerah untuk menata diri masing-masing. Deng Xiaoping kabarnya sering memuji kota yang mampu mengembangkan perekonomian hingga persaingan antar kota pun tak terelakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat raksasa bernama Tiongkok itu mulai semakin tegak, pemerintah pusat gencar melakukan pemerataan ekonomi ke daerah yang masih tertinggal. Melihat pertumbuhan ekonomi yang terus naik selama 25 tahun terakhir, pemerataan ekonomi kiranya bukan hal yang sulit untuk ditangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2020, ada yang memprediksi bahwa raksasa Tiongkok itu tidak hanya tegak berdiri namun juga mengembangkan tangannya dengan gagah (hal:52). Maka, wajar jika Amerika Serikat mulai sedikit ketar-ketir. Hingga mayoritas masyarakat Tiongkok percaya bahwa kerjaan AS di Timur Tengah saat ini adalah usaha untuk menghambat kemajuan Tiongkok dari sisi energi (hal:55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, buku ini bagai makanan yang bisa dikunyah semua orang. Untuk penyuka jalan-jalan, Dahlan menuliskan cara sukses berwisata di Tiongkok. Para pebisnis bisa melongok peluang membuka usaha di negeri itu. Para penulis akan mendapatkan teknik menulis agar enak dibaca. Aparat pemerintah pun rasanya rugi kalau tak memamah buku setebal 268 ini karena kesejahteran masyarakat Tiongkok masa kini, seperti ditulis Dahlan Iskan, sekali lagi, bukan sebuah dongeng.(*)&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-2334374511450029299?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/2334374511450029299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=2334374511450029299&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2334374511450029299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2334374511450029299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/07/berbicara-tiongkok-bagi-kita-yang-awam.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGsoX9sWjwI/AAAAAAAAANY/VezwSceM9g4/s72-c/IMG2376A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-4117969004427147669</id><published>2008-06-26T14:47:00.004+07:00</published><updated>2008-06-26T15:14:52.484+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGNP0RhBehI/AAAAAAAAANE/FViF5DsmOx4/s1600-h/OtherSideOfMe047.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216100552898869778" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGNP0RhBehI/AAAAAAAAANE/FViF5DsmOx4/s320/OtherSideOfMe047.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGNLaYYK0DI/AAAAAAAAAM0/3IBr0PbA-zI/s1600-h/Sampul+Buku+Sherlock+Homes--MackCitrin.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;‘Kisah Baru’ Sherlock Holmes dan ‘Kekuasaan’ Pengarang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;(dipublikasi di Jurnal Nasional edisi Minggu, 15 Juni 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sir Arthur Conan Doyle (1859-1930) boleh saja telah tiada. Namun tokoh rekaannya, Sherlock Holmes, melegenda hingga kini. Detektif yang akrab dengan cangklong dan kaca pembesar serta beralamat di 221B Baker Street, London, itu tetap menjadi ikon penting di jagat buku-buku aliran misteri kriminal. Kisah Holmes ternyata masih bisa dikulik lagi hingga belum khatam dalam 56 cerita pendek dan 4 novel yang telah dibesut oleh Conan Doyle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tracy Mack dan Michael Citrin membangkitkan kembali petualangan Holmes dalam buku setebal 316 halaman ini. Sebagai sebuah karya lanjutan, nampaknya Mack dan Citrin paham bahwa mereka harus hadir dengan ‘sesuatu yang baru’. Tentu saja agar tak dikira hanya mendompleng sisi legendaris sang detektif—yang sejatinya telah divonis oleh Conan Doyle hanya hidup antara tahun 1881-1904.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang menyukai Dr. John Watson—sosok yang setia mengiringi Holmes saat menyelidiki suatu kasus—agaknya harus kecewa sebab ia bukan salah satu tokoh utama kisah Holmes di buku ini. Watson dilengserkan dari perannya sebagai pencatat kiprah Holmes dalam jagat detektif kriminal. Ia sekadar teman serumah Holmes—sederajat dengan Mrs. Hudson si pengurus rumah dan Billy si penyampai pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Laskar Jalanan Baker Street—saya singkat Lajabas—yang menggantikan peran Watson dalam membantu secara penuh Holmes ketika menyelidiki kasus. Mereka merupakan sekelompok anak berumur dibawah lima belas tahun yang dipertemukan oleh kesamaan nasib: miskin. Hidup mereka bergantung dari mengemis, mengamen dan pekerjaan jalanan lainnya. Geng rekaan ini pernah disebut oleh Conan Doyle pada dua cerita pendek dan dua novel sebagai pihak yang juga menjadi ‘telinga dan mata Holmes’ saat menunaikan tugas sebagai detektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut diingat kembali bahwa Conan Doyle memosisikan Watson sebagai pihak yang seolah menulis petualangan Holmes. Hal inilah yang memantik ide awal bagi Mack dan Citrin untuk membangkitkan lagi Sherlock Holmes. Watson ‘dituduh’ telah sengaja melupakan kerja Lajabas dalam membantu Holmes saat penyelidikan. Tertulis dibagian Pendahulan: “&lt;em&gt;Nah, kita tidak pernah tahu apakah Watson bermaksud mengangkat nama Holmes sendirian (dan menyebabkan namanya sendiri ikut terangkat)&lt;/em&gt;”. Maka “&lt;em&gt;Semua sejarah membutuhkan koreksi, dan inilah saatnya Laskar Jalanan Baker Street tampil ke permukaan&lt;/em&gt;” (hal:21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watson—dalam buku ini—selalu digambarkan sebagai sosok yang penuh kekagetan, sinis terhadap keberadaan Lajabas dan nalar detektifnya tidak tajam walau telah bertahun-tahun mendampingi Holmes. Sementara Lajabas merupakan kelompok yang selalu bersemangat membantu Holmes. Apalagi, Holmes begitu percaya kepada Wiggins yang merupakan pemimpin Lajabas. Ditambah lagi dengan sosok Ozzie yang sangat paham soal penarikan kesimpulan secara deduktif ala Holmes. Buku ini bagai langkah pasti Lajabas dalam melibas peran Watson sebagai pendamping Holmes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sesuatu yang baru’ sebagaimana ditawarkan Mack dan Citrin dalam buku ini, menurut saya, hanya terkait dengan ‘kekuasaan si pengarang’. Conan Doyle mengutamakan Watson dan buku ini memberi porsi lebih pada Lajabas. Sementara latar kisah buku ini tetap pada era Victoria di Inggris. Hal ini berpotensial menenggelamkan kesohoran Holmes terkait lekuk teknik yang digunakannya ketika menelusuri lorong misteri suatu kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku yang diniatkan sebagai seri perdana dari petualangan Holmes versi Mack dan Citrin ini terdapat dua kasus kriminal yang saling terkait. Sebuah buku—bernama The Stuart Chronicle—milik kerajaan Inggris yang berabad umurnya telah raib. Holmes dijemput oleh Pangeran Wales untuk meninjau lokasi hilangnya buku itu sebagai langkah awal investigasi. Beberapa hari kemudian, sebuah pertunjukan sirkus kehilangan salah satu bintangnya. Walenda Bersaudara yang mempertontonkan kebolehan mereka dalam atraksi meniti tali terjatuh hingga wafat di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Holmes masih tetap jeli dalam menghubungkan fakta dari dua kejadian tersebut. Namun, lembaran buku ini lebih banyak bercerita tentang langkah Lajabas dalam memenuhi perintah Holmes untuk ikut serta menangani kasus. Mereka tunggang-langgang mencari informasi soal Walenda Bersaudara di lokasi sirkus Grand Barboza. Usaha keras Lajabas akhirnya berbuah petunjuk penting bagi Holmes. Sosok Orlando Vile muncul sebagai pihak yang mengajak Walenda Bersaudara untuk menggunakan keahlian mereka dalam pencurian The Stuart Chronicle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana standar kisah Holmes, dua kasus tersebut berhasil diungkap. Penyergapan yang dilakukan Holmes dan Lajabas di dermaga saat Vile hendak menjual buku curiannya kepada Prof. Moriarty adalah ‘pintu pembuka’ akhir kisah buku ini. Vile tertangkap, namun Moriarty lolos membawa buku tersebut. Kemudian Moriarty memberikan buku itu kepada jasa pendokumentasian yang ada di daerah Oxford untuk digandakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Lajabas menjadi ‘penolong’ Holmes dalam menemukan The Stuart Chronicle. Kantor jasa penggandaan dokumen itu merupakan tempat kerja Ozzie saat tidak berkumpul dengan Lajabas. Buku itu berhasil direbut Holmes setelah melewati pertarungan yang menegangkan di kantor tersebut. Saya hanya membayangkan, kalau saja Moriarty tidak memberikan buku itu ke tempat Ozzie bekerja, mungkin benda berlapis emas dan permata itu tetap raib. Mack dan Citrin masih ‘kurang halus’ meramu hubungan tiap adegan dalam kisah Holmes di buku ini jadi tidak memberi kejutan yang menghentak bagi pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, buku ini tetap laik dibaca sebagai tombo kangen pada petualangan Holmes. Hanya saja, ‘teknik kerja’ Holmes sekadar diketahui saat ia bercerita bukan ketika ia bergerak hingga kurang dari lekuk yang memukau. Maklumlah, sebab yang bekerja ialah Lajabas. Terakhir—ini yang paling saya sesali—berulang kali dituturkan bahwa kerja Lajabas hanya sebatas mengharap upah dan merasa bangga karena membantu The Famous Sherlock Holmes.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-4117969004427147669?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/4117969004427147669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=4117969004427147669&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4117969004427147669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4117969004427147669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/06/kisah-baru-sherlock-holmes-dan.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGNP0RhBehI/AAAAAAAAANE/FViF5DsmOx4/s72-c/OtherSideOfMe047.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-6240094428531760334</id><published>2008-06-25T05:02:00.005+07:00</published><updated>2008-06-26T15:13:00.603+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGNPeS2XhWI/AAAAAAAAAM8/pYJs3YRA_T0/s1600-h/IMG0491A.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216100175299708258" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGNPeS2XhWI/AAAAAAAAAM8/pYJs3YRA_T0/s320/IMG0491A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGFwaM44JGI/AAAAAAAAAMs/gGrmxeIg1og/s1600-h/IMG0491A.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Menjangkau Universalitas Islam Via Rap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;(dipublikasi di Jurnal Nasional edisi Minggu, 8 Juni 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika Prancis selama ini dikenal sebagai “jantung kebudayaan Eropa” maka buku ini menelisik sisi lain dari negeri tempat bermulanya revolusi sosial itu. Régis Fayette Mikano tak sekadar mendedahkan kisah hidupnya dalam buku setebal 240 halaman ini. Namun, ia pun bicara soal kemiskinan, diskriminasi, kekerasan, kriminalitas dan tentu saja spiritualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Régis berangkat ke Prancis sebab ikut ayahnya yang mendapatkan beasiswa kuliah dari pemerintah Kongo. Apa lacur, sang ayah kemudian malah pergi dengan wanita lain beberapa tahun setelah mereka bermukim di Prancis. Ibu Régis harus membesarkan empat orang anak dan menanggung hutang sebesar 50 ribu franc. Ditambah lagi, mereka harus hidup dalam lingkungan imigran yang penuh dengan kekerasan di selatan kota Strasbourg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cité, begitulah sebutan untuk pemukiman yang dibangun oleh pemerintah Prancis bagi para imigran—kebanyakan dari Afrika. Régis bermukim di distrik Neuhof; sebuah distrik dengan jumlah imigran terbesar di Strasbourg. Ia pun tak kuasa menolak pengaruh berupa perilaku buruk yang lazim berlangsung di cité. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, Régis telah mencuri jemuran atau permen di sebuah toko dan memalak uang dari anak kecil yang berkulit putih.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Régis adalah anak yang cerdas hingga ia mendapatkan keringanan biaya untuk mengenyam pendidikan di salah satu sekolah menengah ternama di Strasbourg. Tapi, kehidupan buruk yang telah lekat padanya sejak kecil tak mampu dilepaskan dengan mudah. Perilaku kriminal Régis makin meningkat pada masa ini; ia mulai menjual ganja dan menjadi pencopet di pusat kota Strasbourg dengan sasaran para wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dilakukan Régis sebab ekonomi keluarga terbelit kemiskinan. Pemerintah Prancis memang memberikan subsidi kepada para imigran, hanya saja jumlahnya cukup kecil. Sementara itu, bantuan dari lembaga kemasyarakatan tidak bisa diandalkan untuk bertahan hidup secara permanen. Menjual ganja dan mencopet adalah langkah yang dipilih oleh Régis agar tak meminta uang jajan kepada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriminalitas yang diperbuat Régis kian meningkat setara dengan prestasi yang diraihnya di sekolah. Ia menjalani semacam ‘kehidupan ganda’. Yaitu menjadi penjual ganja dan pencopet yang sukses menjalankan aksi-aksinya sedangkan pada sisi lain Régis selalu menjadi murid terpintar di tiap tingkatan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari, peta kriminalitas di cité kian rumit karena peredaran narkotika jenis heroin. Perebutan daerah kekuasaan setiap hari terjadi di cité dan ‘perilaku jantan’—seperti berkelahi satu lawan satu—telah luntur. Cité kian suram karena himpitan kemiskinan dan maraknya ketergantungan pada heroin. Melihat hal ini Régis kian terombang-ambing. Nalar intelektual yang kuat telah menyelematkannya dari pengaruh heroin, ia tak pernah mencoba barang itu. Tapi, ia pun memendam rasa prihatin akan nasib mayoritas temannya yang telah adiktif pada heroin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan cité juga memperkenalkan Régis pada musik yang diciptakan oleh kaum kulit hitam. Ia sering mendengar lantunan jazz dan musik tradisional Afrika. Namun, musik rap yang diperkenalkan oleh sepupunya justru memikat hati Régis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rap masuk ke Prancis berbarengan dengan musik aliran hip-hop. Régis bukanlah tipikal individu yang mudah terasuki ‘sesuatu’. Ia menelusuri musik rap sampai ke akar. Hingga ia pun menyadari bahwa musik yang lahir di ghetto (wilayah kulit hitam di Amerika Serikat) itu mengusung perlawanan atas sikap diskriminatif yang dilancarkan kaum kulit putih. Hal ini bertolak-belakang dengan mayoritas kaum muda di Prancis yang menyukai musik rap dan hip-hop hanya untuk ‘sekadar gaya’ (ikut-ikutan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, pergulatan dengan musik rap membawa Régis pada perjumpaan dengan Islam. Hal ini terjadi saat ia membaca sejarah kelompok rap awal yang lahir di AS. Kelompok rap di Negeri Paman Sam itu rata-rata didirikan oleh orang kulit hitam yang memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia makin menyadari bahwa Islam ialah agama yang telah dianut oleh mayoritas penghuni cité. Namun, karena modernitas berbalut kriminalitas telah menyelubungi cité yang miskin, Islam lebih identik dengan generasi tua berikut sejarah dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya (hal.71). Maka, cahaya Islam tidak terlalu menampakkan diri dalam cité.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memeluk agama Islam, Régis berubah total. Tak hanya dunia narkotika yang ditinggalkannya, namun ia pun berhenti menyanyikan rap. Ia rajin mendakwahkan Islam ke seantero Prancis bersama sebuah kelompok tarekat. Akhirnya Régis menyadari bahwa tarekat yang diikutinya telah menjadikan Islam sebagai agama yang ofensif dan isolatif. Hal ini membuat hatinya gundah. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa mayoritas pengikut tarekat tersebut memeluk Islam hanya sebagai pelarian dari kekecewaan yang mereka cecap dalam alam modern. Jadi bukan suatu sikap pasrah setelah melakukan pencarian secara benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, hidup Régis kian karut-marut; terpontang-panting pada dualisme. Antara memenuhi kebutuhan duniawi dan ibadah kepada Tuhan, aturan halal dan haram sampai berhenti atau meneruskan bermain musik rap. Pada suatu masa, ia pernah menjalani tiga kegiatan sekaligus: bermain musik rap, berdakwah dan menjual narkotika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipikal Régis yang selalu mencari makna hidup tanpa lelah membuatnya dekat dengan ajaran Sidi Hamzah al-Qadiri al-Boutchichi. Ulama yang hidup di Maroko tersebut telah membuka mata Régis tentang Islam yang humanis dan berlandaskan pada cinta kasih nan universal. Jalan hidup dipilih Régis; mendakwahkan ajaran Islam lewat lagu-lagu rap gubahannya. Bahkan, ia pun menjadikan karyanya sebagai medium untuk menyuarakan kondisi cité kepada masyarakat lain. Melalui rap, Régis ingin mengusahakan terciptanya dunia yang memandang seseorang tanpa sikap diskriminatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Régis Fayette Mikano—yang telah mengubah namanya menjadi Abd al Malik—merupakan sosok pencari makna kehidupan yang tangguh. Ia menolak terjebak dalam suatu lingkaran yang hanya ingin menggelapkan dunia.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-6240094428531760334?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/6240094428531760334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=6240094428531760334&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6240094428531760334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6240094428531760334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/06/menjangkau-universalitas-islam-via-rap_25.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SGNPeS2XhWI/AAAAAAAAAM8/pYJs3YRA_T0/s72-c/IMG0491A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-286326622179629613</id><published>2008-06-03T17:20:00.003+07:00</published><updated>2008-06-03T17:31:55.756+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SEUdFmIveWI/AAAAAAAAAMc/lelq41-Icvs/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207600526097611106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SEUdFmIveWI/AAAAAAAAAMc/lelq41-Icvs/s320/untitled.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Merajut Dialog Tanpa Amarah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;(&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;dipublikasi&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;di Harian Seputar Indonesia, Minggu 25 Mei 2008)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kita mungkin tak menyadari bahwa marah merupakan perilaku yang searti dengan peribahasa “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Bahkan, bisa jadi kita tak mahfum bahwa marah laiknya sebuah wabah penyakit yang bisa menyebar dengan cepat. Setidaknya, itulah dua persoalan yang dikemukakan oleh Carl Semmelroth dalam lembar-lembar awal buku ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Marah akan terjadi manakala perilaku orang lain tak sesuai dengan harapan kita. Awalnya, mungkin sekadar meluap dalam bentuk ucapan. Namun lambat-laun kemarahan kita akan mewujud melalui tindakan dengan alasan ‘memberi pelajaran’. Semmelroth mengatakan bahwa kemarahan—sejak pertama kali muncul dalam rasio kita—kepada orang lain memang bertujuan pada tindakan. Marah yang direfleksikan dalam bentuk selain tindakan bagai ‘tabungan’ untuk kemarahan yang lebih besar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini sejatinya hanya membahas hubungan orangtua dan anak dalam keluarga. Semmelroth melihat bahwa perilaku marah akan diperkenalkan kepada individu pertama kali oleh anggota keluarga. Hal ini senada dengan analisa Emile Durkheim, yaitu keluarga merupakan media sosialisasi perdana bagi individu. Saat seorang anak sering dimarahi oleh orangtua, sesungguhnya si anak sedang ditularkan ‘penyakit akut’ yang akan membuatnya mudah marah kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keluarga memegang peran penting dalam membentuk anggota masyarakat yang sabar dan menjunjung tinggi jalur nir-kekerasan. Oleh karena itu, buku ini juga membawa pesan sosial yang lebih luas cakupannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semmelroth menekankan perlunya pembiasaan diri bagi individu—yang dimulai dari keluarga—untuk melakukan konsensus secara bersama. Hal ini penting untuk menghindari kemarahan orangtua kepada anak. Aturan dalam keluarga haruslah dibentuk dengan jalan urun-rembug antara orangtua dan anak pada ‘satu meja’. Keluhan dan keinginan tiap pihak bisa diutarakan secara bebas dalam momen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lebih jauh, konsensus yang bersemangat egaliter dilakukan agar terbentuk interaksi yang harmonis. Keluarga seharusnya mengajarkan bahwa orangtua bukanlah penguasa bagi anak-anaknya. Interaksi nan egaliter dan terbuka niscaya memberi pengetahuan kepada anak-anak bahwa orangtua pun bisa salah. Kemudian, orangtua bisa memberi contoh kepada anak-anaknya dalam menghadapi kesalahan secara ‘ksatria’.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Orangtua yang pemarah akan membangun kesan ‘angker’ bagi anak-anaknya. Hingga komunikasi antara keduanya bisa terputus. Anak-anak pun tak nyaman dan mudah terjerumus ke dalam perilaku negatif di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini dilengkapi dengan halaman-halaman yang bisa kita tuliskan untuk mengukur perilaku kemarahan. Semmelroth benar-benar membuat buku terapi dimana pembaca adalah seorang terapis sekaligus pasien. Kemarahan hanya bisa dikurangi bahkan dihilangkan oleh individu yang secara sungguh-sungguh menjauhi perilaku negatif itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semmelroth juga mengungkapkan bahwa ada pula marah yang bermuatan positif. Yaitu ketika seorang anak tidak mematuhi aturan yang dibuat bersama orangtua. Dalam buku ini, Semmelroth mengajari kita teknik memarahi anak yang tidak melukai jiwa dan raga. Malah, menurut saya, tips unik dari Semmelroth tersebut bisa membuat si anak tidak sadar jika sedang dimarahi. Sebuah langkah untuk marah yang menggelitik dan mendidik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Melalui buku ini, Semmelroth seolah ingin menegaskan bahwa tiap manusia memiliki aura positif yang sebanding dengan aura negatif. Kemarahan yang terlampau sering diterima oleh individu hanya akan membangkitkan aura negatif dan membunuh aura positif dalam dirinya. Lebih jauh, saya melihat bahwa Semmleroth ingin menghadirkan kembali fungsi-fungsi utama dalam keluarga yang saat ini mulai meluntur sebagai akibat dari ‘sapuan badai modernisme’.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jamak paham, kini orangtua juga sibuk diluar rumah karena harus memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun, tak selaiknya masalah pelik dalam pekerjaan dibawa orangtua saat berinteraksi dengan anak hingga marah seringkali menyeruak. Melalui buku ini pula, kita diperlihatkan cara menjadikan rumah sebagai wahana yang menyenangkan bagi orangtua dan anak.***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-286326622179629613?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/286326622179629613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=286326622179629613&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/286326622179629613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/286326622179629613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/06/merajut-dialog-tanpa-amarah.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SEUdFmIveWI/AAAAAAAAAMc/lelq41-Icvs/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-8113375477835740961</id><published>2008-04-23T00:56:00.003+07:00</published><updated>2008-04-23T01:32:00.500+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dibalik Kasus Ibu Bunuh Lima Anaknya&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;[&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;dipublikasi di Kolom Bedah Pustaka Harian Media Indonesia edisi Sabtu, 19 April 2008&lt;/span&gt;]&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192138274836644642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 235px; CURSOR: hand; HEIGHT: 303px; TEXT-ALIGN: center" height="303" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SA4uQHhZAyI/AAAAAAAAAL0/mVkxdb0Pvyw/s320/OtherSideOfMe019.jpg" width="256" border="0" /&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Siapa yang tak terenyuh saat diberitakan adanya pembunuhan anak oleh ibu kandung? Referensi pengetahuan kita yang bermuasal dari dongeng—misal kisah Malin Kundang—hanya menceritakan seorang ibu yang mengutuk anaknya. Itu pun karena si anak telah mendurhakai sang ibu. Maka, wajar jika Prof. Sartono Mukadis menulis pada bagian Pengantar buku ini (hal.16): “Rasanya kalau ada penulis datang menawarkan skenario mirip kasus Andrea Yates—tentu sebelum kasus ini terungkap—hampir pasti akan ditolak produser paling kaya sekalipun. Terlalu berlebihan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah fakta dari kisah Andrea Yates yang membunuh kelima anaknya pada 20 Juni 2001 dalam waktu tak lebih dari satu jam. Kasus ini sempat menghebohkan seluruh pelosok Amerika Serikat. Suzanne O’Malley mendedahkan cerita seputar kasus Andrea dengan alur yang tidak monoton dan kalimat nun memikat dalam buku bertebal 432 halaman ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak, awalnya, menduga bahwa salah satu pendorong Andrea ‘menginterupsi’ hak hidup kelima buah hatinya—yang tertua berusia 7 tahun dan paling kecil baru genap 6 bulan—adalah penyakit kejiwaan (psikosis) bernama post-partum depression. Psikosis macam ini lazim diderita ibu yang baru melahirkan anaknya. Sejak tahun 400 SM, Hippocrates telah menyatakan bahwa kasus kriminal karena dorongan post-partum depression tak laik diberi hukuman oleh pengadilan (hal.414).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, persoalan pelik membelit kasus Andrea. Galibnya, seorang ibu yang membunuh anak karena alasan post-partum depression akan mengungkapkan penyesalan yang mendalam sebab saat peristiwa berlangsung ia dalam keadaan tak sadar. Andrea justru mengakui secara sadar bahwa tindakannya adalah suatu kebenaran namun salah di mata hukum. Hal ini yang menjadikan Kejaksaan Harris County di Texas berkeyakinan bahwa Andrea tidak gila. Hingga laiklah digelar sebuah sidang untuk menentukan vonis bagi Andrea. Drama persidangan Andrea adalah kisah tentang pembelaan bagi ‘ketaksadaran’ dan tuntutan atas ‘kesadaran’ Andrea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persidangan kasus Andrea Yates dimulai pada 18 Februari 2002—bersamaan dengan keluarnya maklumat keras dari George W Bush untuk memerangi ‘Poros Setan’ (hal.223). Perlu diketahui, kasus Andrea disebut banyak pihak sebagai salah satu tragedi sosial terbesar yang terjadi di Amerika Serikat pada awal abad XXI. Peristiwa ‘penyerangan Menara Kembar WTC dan Pentagon’ pada 11/09/2001 sempat membuat proses penyidikan kasus Andrea tertunda (hal:190). Vonis hukuman mati adalah mosi yang diajukan Kejaksaan Harris County kepada Andrea. Sebelumnya, pada 30 Juli 2001, tim pengacara Andrea menyatakan pembelaan atas dasar kegilaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul asli buku ini: The Unspeakable Crime of Andrea Yates: “Are You There Alone?” sangatlah cocok menggambarkan isinya. Yakni cerita dari pelbagai sisi nan tak terlacak oleh banyak pihak terkait kasus Andrea. O’Malley telah menggumpalkan hasil investigasinya ke dalam sebuah kalimat “Are You There Alone?”. Kalimat tanya itu menunjukkan bahwa ada keluasan bahasan—bukan sekadar kasus psikologi—yang terkandung dalam analisa O’Malley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, penggunaan kalimat tanya itu bagai menunjukkan bahwa O’Malley secara radikal tidak percaya kalau Andrea melakukan pembunuhan itu 'seorang diri'. Inilah keunikan laporan investigasi yang dituliskan dengan kaidah jurnalisme sastrawi. Kandungan data dan fakta jelas menopang isi cerita, namun sisi estetika sastra turut menampakkan diri. Penerjemah buku ini, sangat disayangkan, telah mengubah ‘umbul orisinil’ buku ini menjadi sangat formal-akademis—bagai judul tugas akhir seorang mahasiswa fakultas psikologi. Walau harus diakui pula bahwa secara keseluruhan kualitas terjemahan isi buku ini sangatlah baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea memang tak 'sendiri' melakukan pembunuhan itu. O’Malley menelisik sejarah kehidupan Andrea melalui wawancara dengan seratus orang lebih yang dibagi kedalam 20 area investigasi (hal.21-22). Catatan kehidupan Andrea merupakan kisah seorang penderita psikosis akut yang mudah berhalusinasi. Ia kurang mendapatkan perhatian—terutama pujian usai menyelesaikan suatu kegiatan—dari orangtua. Andrea tumbuh menjadi perempuan yang diduga kuat menderita skizofrenia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Juni 1999 ialah awal malapetaka bagi kejiwaan Andrea ketika ia mencoba bunuh diri dengan menenggak lebih dari 40 butir Trazodone 50 miligram—obat penenang dosis tinggi. Ketika itu, Luke—anak ketiga Andrea—baru berusia 4 bulan (hal:77-78). Ia melakukan percobaan bunuh diri lagi pada 20 Juli 1999. Pendorongnya ialah keinginan untuk lepas dari penderitaan.&lt;br /&gt;Andrea kemudian menjalani rehabilitasi mental dengan sejumlah psikiater berbeda yang selalu meresepkan beragam obat untuk kesembuhannya. Kondisi kejiwaan Andrea yang mudah berhalusinasi kian diperumit oleh isi khotbah dari Michael Woroniecki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penebusan manusia kepada Tuhan agar kelak di akherat mendapatkan surga adalah inti doktrin Woroniecki. Namun, “doktrin Woroniecki kacau-balau. Entah itu bagi pengamat awam maupun bagi orang-orang yang berusaha mengikuti Woroniecki selama bertahun-tahun”. Lebih jauh, “Walaupun tebusan diberikan kepada seluruh umat manusia sepanjang masa, jumlah orang yang selamat sepertinya hanya ada delapan orang: Woroniecki beserta istri dan anak-anaknya” (hal:181). Woroniecki sempat dikecam sebagai pihak yang menyebabkan kasus Andrea terjadi. Hanya saja, ia mengelak dengan mengatakan bahwa ia hanyalah penyampai pesan Tuhan dan keluarga Yates salah menginterpretasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menenggelamkan kelima anaknya sampai tak bernyawa ke dalam bath-up, Andrea berharap mereka tak tercemar dosa dunia hingga pasti masuk surga. Pengacara Andrea mengatakan ini adalah bagian dari halusinasi Andrea. Sementara Penuntut Umum berkeyakinan hal tersebut merupakan pembunuhan tingkat tinggi. O’Malley juga merekam terbelahnya opini publik AS dengan menyertakan pemberitaan media soal kasus Andrea dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui persidangan yang dramatis, Andrea akhirnya hanya dihukum penjara seumur hidup. Kematian tetaplah tragedi, namun yang terpenting adalah mengetahui sebab kematian itu terjadi. Buku yang ditulis O’Malley ini (dan kasus Andrea itu sendiri) mampu memancangkan pelbagai perubahan di AS, terutama pada ranah hukum, ilmu psikologi dan hak-hak kaum ibu.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-8113375477835740961?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/8113375477835740961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=8113375477835740961&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8113375477835740961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8113375477835740961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/04/dibalik-kasus-ibu-bunuh-lima-anaknya.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SA4uQHhZAyI/AAAAAAAAAL0/mVkxdb0Pvyw/s72-c/OtherSideOfMe019.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-2361506378527379164</id><published>2008-04-18T05:55:00.003+07:00</published><updated>2008-04-18T06:11:54.100+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sebuah Foto-Berita ...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Fotonya:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190355336880741346" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SAfYreDUW-I/AAAAAAAAALo/wDuOhN_TRHM/s320/2.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Dan beritanya:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;Tujuh Penumpang. Model menunjukkan mobil Chevrolet Captiva Diesel 2.0L-VCDi saat peluncurannya, di Jakarta, Rabu (17/4). Kendaraan berkapasitas tujuh orang dan berbahan bakar diesel ini diluncurkan PT.General Motors Autoworld Indonesia dengan harga Rp289.500.000 untuk wilayah DKI Jakarta.&lt;br /&gt;Fotografer: WIENDA PARWITASARI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari saya...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, saya bukan fotografer atau ahli terkait foto--apapun namanya itu. Saya cuma sedang jalan-jalan di dunia maya saja. Lantas bertemu dengan foto diatas. Lihatlah, betapa sebuah tulisan dan gambar bisa bertemu dengan dampak tafsir tertentu. Perhatikanlah dengan seksama dan sangat teliti. Adakah yang aneh dengan foto diatas--tentu saja setelah dikaitkan dengan beritanya? Simaklah dengan sangat dalam. Buatlah kesimpulan menurut pengalaman Anda dalam mencampur info dari gambar dan tulisan. Kemudian, mungkin, kesimpulan tafsir kita atas foto-berita itu bisa ketemu--entah dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: &lt;em&gt;Percayalah, foto dan tulisan diatas saya kutip utuh. Tak ada pemotongan atau gubahan sedikit pun dengan aslinya. Sebab saya bukan editor.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-2361506378527379164?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/2361506378527379164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=2361506378527379164&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2361506378527379164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2361506378527379164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/04/sebuah-foto-berita.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/SAfYreDUW-I/AAAAAAAAALo/wDuOhN_TRHM/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-7679275548643231344</id><published>2008-04-18T03:11:00.003+07:00</published><updated>2008-04-18T03:46:19.897+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sebuah Cerita Tentang...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;Entah dari siapa saya dengar cerita ini. Saya telah berusaha keras untuk mengingat sumbernya. Tapi nihil hasilnya. Jangan-jangan cerita ini bermuasal dari hati saya sendiri?&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syahdan...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Seorang turis bernama Kuciumi Matamu berkunjung ke Indonesia. Ia melawat ke sebuah daerah. Ditemani seorang pemandu yang sangat licik, ia berkeliling di daerah itu. Pemandu itu licik? Ya, sebab namanya Licik Niandikau. Ia hanya mengajak si turis berkeliling ke tempat-tempat yang mudah dijangkau dan banyak makanan. Licik Niandikau selalu berkata bahwa tempat yang mereka kunjungi adalah tempat wisata yang mashyur di daerah tersebut, walau mereka hanya bertandang ke sebuah sawah. Sebab Kuciumi bukanlah penduduk asli daerah tersebut, maka percaya sajalah dia (seperti percayanya pembaca kisah ini kepada saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika mereka rehat di sebuah rumah makan, Kuciumi sedang melihat-lihat brosur perjalanan wisata.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Oooo...Ini nama apakah ini&lt;/em&gt;?", tanya Kuciumi sambil menunjuk kata 'Rafflesia Arnoldi' yang tertera di brousr.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Ohhh...itu nama bunga langka, Nona Kuciumi&lt;/em&gt;", sahut Licik sambil menyeka makanan yang masih ada di sekitar mulutnya.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Aaaa...saya mau lihat itu bunga. Gimana bisa caranya?&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Wahhh, gampang saja...Usai makan ini, saya ajak Nona kesana&lt;/em&gt;", Licik menjawab setelah bersendawa dan menyeruput es alpukat. Ia telah kenyang bukan kepalang.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Dari namanya saja sudah indah sekali. Pasti demikian bentuknya. Juga sangat harum ya?&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Oh, iya tentu saja. Nanti Nona Kuciumi lihat sendiri. Bunga yang luar biasa&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mereka sampai jua di lokasi penangkaran bunga Rafflesia Arnoldi. Jarak antara rumah makan ke tempat itu, sebenarnya dekat saja. Tetapi Licik melewati jalan yang tak seharusnya. Ia berputar agar sampai disana satu jam setelah pergi dari rumah makan.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Ohhh...Licik bau apa ini? Mana bunga yang harum dan langka itu?&lt;/em&gt;", Kuciumi berkata sambil menutup hidung.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Wah, Nona...kita telah salah ambil waktu untuk melihat bunga itu&lt;/em&gt;", ucap Licik "&lt;em&gt;Sekarang, bunga itu sedang sensitif. Jadi menyemprotkan bau tak sedap ini. Kapan-kapan kita kesini lagi. Yang penting, Nona Kuciumi pernah ke tempat bunga Rafflesia Arnoldi.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Akhirnya...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kamu, wahai manusia, menjadi makhluk yang mudah terpesona hanya karena nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PS: Buat warga negara yang sedang sibuk oleh Pemilihan Gubernur di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan lainnya di seluruh kepulauan Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;em&gt;Memilih atau Tidak Memilih saat Pemilu tak pernah bisa dijadikan ukuran nasionalisme&lt;/em&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-7679275548643231344?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/7679275548643231344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=7679275548643231344&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7679275548643231344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7679275548643231344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/04/sebuah-cerita-tentang.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-2166882747434489709</id><published>2008-04-13T11:14:00.002+07:00</published><updated>2008-04-13T11:25:37.690+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kotakarjaket&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;“Setiap orang harus pergi agar mengerti arti pulang”. Aku ucapkan kembali larik dari salah satu puisi milik Isbedy Stiawan ZS saat kita sedang melewati jalan yang sepi. Seolah jalan itu tidur tadi malam. Ada kesegaran yang baru menggeliat bangkit di situ.&lt;br /&gt;“Kamu ngomong apa tadi?”, tanyamu sambil memperlahankan laju sepeda motor.&lt;br /&gt;“Ah, gak apa-apa. Cuma sedikit nyanyi aja, biar gak dingin.”&lt;br /&gt;“Pasti puisi itu lagi. Ya, kita memang harus pergi. Tak baik berlama-lama disini.”&lt;br /&gt;“Ya, mungkin saja. Tapi yakinlah, kepergian juga membuat kita kedatangan rindu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah di dalam kendaraan besar yang berlari kencang saat pesan pendekmu masuk ke ponsel.&lt;br /&gt;“Hati-hati di jalan. Ingat titipanku: Jaket!”&lt;br /&gt;“Terimakasih tadi sudah mengantarku. Disebelahku ada gadis berjaket. Mau aku mintakan jaketnya untukmu?”, kuketik kata-kata itu dan segera kukirim kepadamu. Tidak kau balas. Padahal aku masih bertanya-tanya, jaket seperti apa yang kau idam-idamkan? Pembicaraan kita pada malam kemarin tak menuntaskan soal itu. “Pokoknya jaket yang nyaman, jangan terlalu tebal. Terserah warna apa.”, ucapmu saat itu. Adakah kenyamanan tiap orang sama? Atau seragamkah pemahaman per kepala tentang tebal dan tipis?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku tiba di kota yang menabukan keterkejutan, Takarja. Pongky menjemputku.&lt;br /&gt;“Tadi baca tulisan di pintu terminal?”, ia bertanya sambil tetap konsentrasi pada kemudi mobil.&lt;br /&gt;Mataku yang lekat melihat ramai jalanan segera menoleh kepadanya,&lt;br /&gt;“Ora...Ada tulisan apa?”&lt;br /&gt;“Selamat Datang Di Takarja. Jangan Gampang Kaget”, jawab Pongky kemudian tertawa. Bagiku, ia tetaplah pandai berpesan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berapa banyak orang yang telah mengutuk kota ini? Aku tak tahu. Kau pernah bersumpah tak akan sudi hidup di Takarja. Aku pun demikian. Seluruh suara seolah saling berebut minta didengar di sini. Kau dan aku sama tak menyukai kehidupan yang senantiasa hingar-bingar. Tapi kini, jalanan Takarja bagai membalikkan anggapan kita tentang kota ini menjadi sekadar tuduhan yang tak berbukti.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jalanan yang kulewati bersama mobil Pongky seperti tak pernah lelah mengalirkan orang-orang dan benda mati yang nampak hidup. Suara-suara yang menghentak itu terasa nyaman bagi mereka. Aku coba menyelaminya; kalau ada kelelahan di kota ini, maka itu adalah milik seluruh manusia di jalanan Takarja yang pernah mampir di mataku. Tapi, toh mereka mampu menutupinya. Mereka seperti sudah lama berdamai dengan Takarja yang melelahkan. Baiklah, mungkin lebih tepatnya, mereka dipaksa untuk menerima kondisi Takarja. Dan mereka menikmati paksaan itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Radi telah keluar kamar sejak pukul empat, ketika aku mulai beranjak tidur karena semalam suntuk bincang dengannya. Tetap bertubuh ceking, Radi masih nampak seperti dulu; tak pernah lelah.&lt;br /&gt;“Tidur dulu lah, Rad. Masa sih sudah mau kerja. Awakmu ora kesel tah?”, tanyaku saat Radi selesai mandi.&lt;br /&gt;“Nang kene, sing ora kuwat, yo monggo minggir wae”&lt;br /&gt;Pongky pun bekerja hari itu. Maka kuputuskan untuk putar-putar kota seorang diri. Pongky merekomendasikan angkutan yang cukup baru di Takarja. Namanya bus berjalur.&lt;br /&gt;“Kalau naik itu aman, tenang aja”, ujar Pongky sebelum menutup pembicaraan kami via telepon.&lt;br /&gt;“Weeyyy...”, aku berteriak kaget karena suara itu. Rekaman suara perempuan yang dibunyikan untuk memberitahu nama halte bus berjalur kepada penumpang. Kulihat beberapa orang tertawa kecil. Aha, aku telah lupa dengan pesan Pongky ketika menjemputku di terminal. Tapi apa salahnya dengan kekagetanku? Sejak tadi, di dalam kendaraan itu tiada suara manusia. Seluruh penumpang seolah merenungkan persoalan hidupnya sendiri. Mereka bagai lupa bahwa orang lain disampingnya bukanlah benda mati. Kata siapa tertawa itu lebih sulit daripada bercakap basa-basi? Baiklah, tertawa memang tetap sulit. Yang mudah ialah menertawakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku turun di Passer Bahroe, lokasi perbelanjaan yang sudah berdiri sejak Belanda memerintah di negeri ini. Passer Bahroe sudah milik Indonesia kini, pikirku sambil berkeliling disana. Oh, mataku menatap toko yang menjual macam-macam pakaian, kemudian masuk kesana.&lt;br /&gt;“Mbak, saya orang baru di Takarja. Bisa kasih liat jaket yang cocok dipakai disini?”&lt;br /&gt;“Oh, yang gimana ya, Mas...”, pegawai toko itu nampak bingung menatapku.&lt;br /&gt;“Terserah. Yang penting cocok untuk pendatang seperti saya.”&lt;br /&gt;“Aduh, yang lebih jelas gitu, Mas. Modelnya? Coraknya?”,&lt;br /&gt;Terserah bukan kata yang tepat untuk dilafalkan, kini kau paham?&lt;br /&gt;“Kata teman saya, di Takarja banyak yang jualan jaket yang cuma dipakai lima tahun sekali? Disini jual jaket macam itu?”&lt;br /&gt;“Gak ada, Mas...”&lt;br /&gt;Lalu aku tanyakan soal jaket yang bertuliskan “Jaket Ini Tak Akan Menghangatkanmu Kalau Kau Tak Berbicara Dengan Orang Disampingmu”. Pegawai toko itu menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada jaket berwarna hitam. “Dunia = Bekerja” tertulis dengan tinta putih di bagian belakangnya. Aku pilih jaket itu sebagai tafsiran atas ‘terserah’-mu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari telah menuju petang ketika aku keluar dari Passer Bahroe. Dari dalam bus yang kutumpangi, aku lihat antrian mobil kian panjang di jalanan Takarja.(*)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bumi Parahyangan,&lt;br /&gt;Sehari Paska-Ultah Yeye 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-2166882747434489709?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/2166882747434489709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=2166882747434489709&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2166882747434489709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2166882747434489709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/04/kotakarjaket-setiap-orang-harus-pergi.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5859693134997089855</id><published>2008-04-01T12:59:00.011+07:00</published><updated>2008-04-02T23:20:55.309+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Villa Merah, Sampai Petang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184160502775282754" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R_HWgqqH_EI/AAAAAAAAAJQ/NI6awg658w0/s320/OtherSideOfMe014.jpg" border="0" /&gt; &lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di Jawa Barat lagi, Jatinangor tepatnya. Maka saya berkirim pesan pendek via telepon seluler ke orang itu, Pidi Baiq. Saya pikir, pesan teks akan berbalas serupa, nyata tidak. Pidi langsung menelpon.&lt;br /&gt;“Deni, kamu langsung aja kemari, ke tempat saya. Tahu Gedung Sate ‘kan?”&lt;br /&gt;“Aduh gak tahu, Pak Haji”&lt;br /&gt;“Kamu sekarang dimana ini?”&lt;br /&gt;“Di Jatinangor, di depan Jatos”&lt;br /&gt;“Oh, itu sih punya temen saya... Udah, kamu ke Gedung Sate aja.”&lt;br /&gt;“Saya gak tahu jalannya, Pak Haji”&lt;br /&gt;“Tanya aja sama orang-orang...Semua pada tahu itu Gedung Sate”&lt;br /&gt;“Iyalah kalo gitu...”&lt;br /&gt;“Kamu ke Gedung Sate ya, udah ke situ aja. Tunggu disitu. Ntar kontak saya lagi...Tenang aja, di situ daerah kekuasaan saya.”&lt;br /&gt;“Hehehe...Oke, ntar saya hubungi lagi, Pak Haji.”&lt;br /&gt;Karena hari sudah berangsur sore, maka saya batalkan bertemu dengan Pidi. Kebetulan, Yeye ingin melihat hasil tes yang dilakukannya di Jakarta untuk jadi karyawan Bank Mandiri. Jadi pada keesokan harinya, kami sama-sama punya kegiatan untuk keluar dari Jatinangor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeye sedang siap-siap rupanya. Hari sudah masuk siang sekali, kira-kira pukul 13.00. Salat Jumat telah usai sedari tadi.&lt;br /&gt;“Ntar sendiri aja ya ketemu Pidi”, kata Yeye sambil masukin buku Drunken Monster ke dalam tasnya.&lt;br /&gt;“Loh, mendingan bareng aja. Paling juga gak terlalu jauh ke Bank Mandiri. Liat aja deh di peta.”&lt;br /&gt;Yeye punya peta Kota Bandung yang alangkah lengkapnya. Sampai nama-nama jalan juga tersedia.&lt;br /&gt;“Berdua ajalah...’kan pengumuman juga jam lima sore gitu.”, saya berucap sambil kunci pintu.&lt;br /&gt;“Iya juga sih. Ini ntar nyampe Bandung paling jam setengah 3 gitu.”&lt;br /&gt;“Makanya ikut aja ketemu Pidi. Emang kenapa gitu gak mau ketemu dia?”&lt;br /&gt;“Takut dikerjain. Baca aja bukunya. Ceritanya waktu ngerjain orang aja sampe gitu banget.”&lt;br /&gt;“Hehehehe, Gak mungkin lah, tenang aja.”, saya berkata demikian dengan muncul suatu perasaan yang sama dengan Yeye. Bagaimana kalau kami dikerjain? Saya ingat cerita Pidi yang menyiramkan air minum ke celana Noor Awaludin Gani saat orang Malaysia itu sedang tertidur, menginap di rumah Pidi (Drunken Monster, hal. 157).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam bis Damri yang membawa kami ke Bandung, pikiran saya masih ragu untuk bertemu Pidi. Saya berharap dia sibuk. Jadi dia tak bisa menemui kami. Jadi pertemuan itu akan singkat saja. Yaitu sekadar tegur sapa semata dan pemenuhan janji saja. Pidi berjanji memberikan kaos C59 yang bertema buku Drunken Monster kepada saya. Ia telah pula menyanggupi untuk membawakan empat kaos yang sama karena empat teman saya di Jember memesan pula. Ditambah lagi dengan tanda tangan pada buku Drunken Monster milik Yeye dan saya. Saya berharap pertemuan kami akan seperti itu saja. Karena apa? Karena saya mulai terpengaruh ketakutan yang sama dengan Yeye.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya menatap ke bangunan di sepanjang jalan yang menyalurkan bis ke Kota Bandung. Bis Damri telah selesai melewati Jalan Tol yang saya selalu lupa namanya. Saya coba ingat-ingat, apa saja yang berubah. Terakhir ke kota ini sekitar bulan November 2007.&lt;br /&gt;“Loh, ini dulu gak ada ‘kan?”, saya bertanya ke Yeye sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan besar berwarna merah marun pada bagian dinding. Semacam mall untuk barang elektronik agaknya.&lt;br /&gt;“Gak ah, dari dulu juga ada. Tapi bukan itu namanya. Namanya apa gitu. Pertokoan biasa gitu lah.”, Yeye menjawab sambil lanjut bertanya ke kondektur bis yang berjalan di samping tempat duduk kami; “Pak, ini lewat Jalan Ciliwung?”. “Ya, Neng. Bentar lagi juga lewat Jalan Ciliwung.”&lt;br /&gt;Oh, semakin dekat saja rupanya dengan tempat yang dijanjikan Pidi sebagai lokasi kami bertemu.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Oke. Sy lg di ciliwung 23 Bdg. Daerah cilaki. Daerah PUSDAI. Daerah gedungsate&lt;/span&gt;”, tulis Pidi dalam pesan pendek. Sebelumnya saya menyampaikan bahwa saya sedang di dalam bis Damri mau ke Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya dan Yeye turun bis. Bergandengan tangan berdua menyusuri Jalan Ciliwung.&lt;br /&gt;“Ih, itu nomer 27...”, saya berkata sambil tunjuk sebuah rumah.&lt;br /&gt;“Ya, berarti sekitar sini aja dong”&lt;br /&gt;Mata Yeye dan saya tengok-longok kanan dan kiri. Selepas suatu tikungan, mata saya tertumbuk pada sebuah bangunan agak tua namun ramai orang di halamannya. Merah tua pula warna dinding pada bangunan itu. Pohon-pohon berdiri gagah di halaman bangunan itu. Ada beberapa tempat untuk duduk yang memiliki payung besar, galib kita jumpai pada rumah makan yang menyediakan meja di luar ruangan. Itulah Villa Merah. Sebuah tempat yang pernah disebut oleh Pidi saat saya chatting bersamanya sekira bulan Februari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permisi, Pak Pidi Baiq ada?”, saya sudah melewati pagar dan berjalan ke arah pintu kemudian bersuara kalimat tanya tersebut kepada tiga orang yang sedang duduk ngobrol di pelataran rumah itu. Tiga orang itu nampaknya masih SMU; dua lelaki dan satu perempuan. “Oh, gak tau ya...Coba tanya sama yang disitu aja. Itu kawan-kawannya Pidi”, si perempuan menjawab sambil tunjuk kumpulan lelaki yang sedang ngobrol di tempat duduk dengan payung besar. Saya ambil langkah menuju kesana. Kumpulan lelaki yang agaknya telah kuliah itu pun tak tahu pasti keadaan Pidi dimana, hanya saja saya diminta untuk menunggu. Saya kembali ke pelataran rumah itu dan duduk bersama Yeye di bagian agak depan dari pintu. Saya ambil telepon seluler dari kantong celana, kemudian pencet-pencet keypad-nya agar bisa mengirim text massage ke nomor telepon seluler milik Pidi. Ia membalas dengan cepatnya, saya kembali diminta menunggu, kali ini oleh Pidi sendiri. Ia sedang di bengkel mobil katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencuri pandang ke dalam rumah yang jendelanya besar itu. Ada semacam meja resepsionis yang dijaga oleh dua orang perempuan—kalau tak keliru, salah satunya berjilbab. Dua lelaki dan satu perempuan yang nampaknya masih SMU itu ada disamping kami. Mereka berbincang dalam suasana senang. Saya coba curi-curi dengar yang mereka obrolkan. Namun sulit juga. Logat mereka agak susah saya cerna. Mungkin karena mereka mencampur-adukkan bahasa Indonesia dan Sunda dalam logat yang sangat Sunda. Aha, itu ada orang naik sepeda motor berboncengan. Mata saya memang kadang mengarah ke jalan yang ada didepan rumah. Dua orang yang bersepeda motor itu hampir melewati pagar, saya sudah mengira dengan sangat yakin bahwa yang berada di belakang pastilah Pidi Baiq. Saya pernah menonton &lt;a href="http://esduren.multiply.com/video/item/17/Drunken_Monster_2_Tidak_jadi_dekan_lagi_karena..."&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;rekaman launching buku Drunken Monster di blog multiply milik Tita&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Sepeda motor terus berjalan pelan dan parkir di bagian samping rumah. Saya melihat Pidi memperhatikan kami. Dia senyum dengan girang kemudian melangkah ke tempat kami berdiri, sementara orang yang memboncengnya telah pergi dengan sepeda motor seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai...Hai...”, Pidi bersuara setengah teriak kepada kami.&lt;br /&gt;“Deni, Pak Haji”, saya menyodorkan tangan untuk salaman dengan dia.&lt;br /&gt;Saya memperkenalkan Yeye hampir berbarengan dengan Pidi yang berkata “Ini?” sambil mengarahkan tangan dan pandangan ke arah Yeye.&lt;br /&gt;“Oh gitu...Aduh, kita ngobrol dimana ya, Den”, kata Pidi yang menenteng plastik besar berwarna abu-abu sambil jalan mondar-mandir mengarah ke halaman.&lt;br /&gt;“Rame nih...disini”, lanjutnya&lt;br /&gt;“Terserah Pak Haji ajalah”, saya berkata sambil mengikutinya. Tentu saja tidak mondar-mandir seperti dia. Saya dan Yeye agak diam sejenak sambil mengikuti perintahnya saja, namanya juga tamu; biarlah tuan rumah yang repot ;).&lt;br /&gt;Pidi berjalan ke arah kumpulan lelaki yang nampak telah kuliah tadi, dia berkata; “Ini temen-temen saya. Tapi kamu gak usah kenal lah...”. Kumpulan lelaki itu tertawa saja. Saya pun demikian. Yeye menganggukkan kepala kepada teman-teman Pidi hampir berbarengan dengan saya. Kami mengikuti Pidi yang berjalan ke belakang rumah. Ada semacam kantin kecil sekali berdiam disitu.&lt;br /&gt;“Nah disini aja”, Pidi bersuara setelah berhenti di depan pintu kantin itu.&lt;br /&gt;“Deni, kamu pesen apa? Pesen aja...Disini mah bebas”&lt;br /&gt;“Ya, Pak Haji. Terserah aja.”&lt;br /&gt;“Hmm...apa ya...Kamu merokok ya Deni, berarti pesen kopi aja, mau ya?”&lt;br /&gt;“Ya lah, Pak Haji”&lt;br /&gt;“Si itu, siapa namanya...pesen apa?”&lt;br /&gt;Suasana kantin yang saya tak tahu sebelumnya mendadak heboh oleh Pidi. Dia hingar-bingar sekali. Ia menyapa orang-orang yang nampaknya sebagai pegawai kantin disitu.&lt;br /&gt;“Duh, euy banyak duitnya...Ini Den yang banyak duitnya...Saya mah ‘gak”, ucapan Pidi disambut senyum-senyum kecil orang yang sedang menghitung uang di meja kantin.&lt;br /&gt;“Katanya baru muncul di Empat Mata, Pak Haji”, saya memulai percakapan setelah duduk di kursi kantin itu. Pidi seolah tak mau menjawab dengan lugas. Dia senyum-senyum saja.&lt;br /&gt;“Iya, disuruh nyanyi...”, jawab Pidi akhirnya.&lt;br /&gt;Lalu beberapa orang pegawai kantin itu bersuara dalam bahasa Sunda. Dan saya lagi-lagi tak paham dengan ucapan mereka yang dibarengi tawa renyah itu. Saya hanya menangkap bahwa Pidi dan beberapa pegawai kantin itu akrabnya sangat. Kami tak lama duduk di kantin itu.&lt;br /&gt;“Ayo kesitu aja. Kayaknya udah kosong”, Pidi mengajak kami keluar kantin menuju tempat dengan meja melingkar yang berpayung besar. Posisinya ada di samping rumah dekat semacam lahan parkir dengan beberapa motor berjejer tidak rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk disana. Pidi mengeluarkan keahliannya: bicara kesana-sini. Orang Jawa bilang ngobrol ngalor-ngidul. Namun bagi Orang Madura, itu dinamakan acaca kedejeh-kalaok.&lt;br /&gt;“Ada pengajian disini, Den. Tiap malem Kamis”, Pidi berucap.&lt;br /&gt;“Iya gitu, Pak Haji?”, saya seolah tak percaya.&lt;br /&gt;“Iya, biasalah pengajian yang tak bermanfaat. Yang dateng banyak. Suka-suka aja. Tukang becak juga biasa dateng. Yang ngisi saya.”&lt;br /&gt;“Hehehehe”&lt;br /&gt;“Eh beneran. Temanya macem-macem. Yaa...yang tak berguna gitulah. Kayak...misalnya Panas Bumi dan Nasehat-Nasehat Pidi Baiq”&lt;br /&gt;“Hahahahaha....Terus...”&lt;br /&gt;“Ya, orang-orang pada ngumpul semua. Kadang saya gak dateng. Hahahahaha...bebaslah pokoknya”&lt;br /&gt;Pidi pun berkisah tentang beberapa pemikiran yang dia tuliskan saat di Belanda. Pemikiran yang coba menghubungkan filsafat barat dan filsafat timur (kepercayaan berbasis religi dan kebudayaan). “Kalau kita merenung secara dalam, maka tak sulit juga memahami pemikiran Sunan Kalijaga”, Pidi mulai berteori tentang sebuah karya. Baginya, yang terpenting adalah seseorang harus benar-benar menyatu dengan karya yang dibuatnya. Saya ingat, saat chatting, Pidi pernah bilang bahwa dia selalu berpedoman untuk Manunggaling Kawulo Karya. Mungkin inilah yang dipahaminya sebagai ‘menyatu dengan karya’.&lt;br /&gt;“Maka setiap orang harus serius untuk apa saja yang dikerjakannya”, kata Pidi sambil dilanjutkan;&lt;br /&gt;“Saya tuh kasian ya, orang-orang selalu ingin bekerja, maka mereka seolah sengsara. Kenapa sih ‘gak bersenang-senang saja. Ya, bersenang-senang dengan sesuatu yang mereka kerjakan. Agar tidak tersiksa. Bayangin kalo kita ngeliat orang-orang waktu pulang kerja. Mereka naek motor, terus macet. Aduh mukanya udah kayak apa aja di jalan. Seharusnya mereka bersenang-senang”.&lt;br /&gt;Saya hanya angguk-angguk kepala dan Yeye yang senyum-senyum denger Pidi bersuara.&lt;br /&gt;“Tadi malem apa gitu pengajian disini?”&lt;br /&gt;“Malem Jum’at”, jawab Pidi dengan pasti.&lt;br /&gt;“Berarti Kamis malam, Pak Haji?”&lt;br /&gt;“Ya...Eh, Iya...Gitulah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan kami makin tak tentu ragamnya. Pidi tanya ke Yeye soal kuliah. “Oh, Fikom Unpad, ya...Itu si Iyang juga dari sana. Banyak temen-temen saya di Fikom Unpad.”, kata Pidi. Kemudian, Pidi menceritakan soal dunia komik yang ditekuninya kepada kami.&lt;br /&gt;“Komik itu ya, juga Fikom loh. Saya mikir ini waktu di Belanda. Komik itu pasti singkatan yang punya kepanjangan. Pasti itu. Tapi saya cari kok gak ada. Jangan-jangan kepanjangannya adalah Communication Graphic. Ya beneran ini. Komik juga merupakan teknik berkomunikasi. Hanya saja dengan gambar. Kalo mau buat komik yang bagus harus bisa Fikom juga ‘kan”. Dalam hati saya, “Aduh, Pak Haji kok sembarangan? ‘Kan harusnya Ilmu Komunikasi bukan Fikom”. Namun ini uniknya Pidi Baiq, bicara yang (terkesan) sembarangan itu justru kita mengerti maksudnya. Banyak orang yang sudah dengan sangat rapi bicara dalam bahasa-bahasa ilmiah (yang tentu tak sembarangan) malah sulit dipahami maunya apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan itu ditemani dengan tiga gelas kopi. Yeye ditawari jus tapi malah milih kopi. Kelihatan sekali dia Orang Lampung. Propinsi penghasil kopi terlaris dan terkenal (saya tidak bilang terenak).&lt;br /&gt;“Ini semua anak-anak SMA, Pak Haji?”, saya bertanya soal peserta bimbel di Villa Merah.&lt;br /&gt;“Ya, semuanya. Kelas II dan III SMA”&lt;br /&gt;“Ada berapa yang ikut bimbel disini?”&lt;br /&gt;Pidi diam sejenak, mengernyitkan dahi, “Hmmm...Seribu orang”&lt;br /&gt;“Mulai jam berapa gitu bimbelnya?”&lt;br /&gt;“Jam 2 siang sampe jam 6. Tapi kalo disini sih ada orang terus. 24 jam, Den.”&lt;br /&gt;Saya memperhatikan lekat-lekat tiap sudut Villa Merah yang bisa saya lihat dari posisi kami duduk berbincang. Pidi bicara soal membangun komunitas yang ternyata malah menjadi pekerjaan kalau bisa disebut begitu. “Kebanyakan orang ‘kan cari pekerjaan untuk bisa dapat uang. Nah, ternyata dari membangun komunitas itu juga bisa dapet uang. Tapi yang kita cari bukan itu ‘kan awalnya. Kita membangun komunitas itu untuk bersenang-senang gitulah. Jadi banyak pekerjaan sebenarnya yang bisa kita buat. Tentu saja kalau kita mau berkarya. Nah itulah yang utama. Membangun komunitas untuk berkarya.”, Pidi bicara panjang sekali memang. Nampaknya ia suka begitu. Saya pun memang senang mendengarkan orang bicara panjang. Semakin orang bicara panjang, semakin banyak ilmu yang bisa saya serap. Oh, Pidi Baiq maafkan daku ini, telah mencuri pemikiranmu. Semoga Pak Haji tak marah dikemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah tak berkonsentrasi lagi dengan obrolan kami. Lebih asyik memperhatikan peserta bimbel yang telah keluar dari ruangan. Jumlah mereka memang banyak. Nampaknya itu waktu mereka rehat. Sebab sebelum halaman rumah ramai oleh anak-anak SMA itu, ada dentang bel yang nyaring sekali. Bel yang kiranya dibunyikan via listrik itu tepat berada di tembok dihadapan tempat kami mengobrol. Maka saya bisa melihat bel berwarna merah itu menempel disana. Saya berpikir, itukah bel yang biasa dipakai untuk alarm tanda kebakaran? Bunyinya keras sekali seperti saat sebuah gedung mengalami peledakan, mirip dengan yang saya lihat di film-film. Aduh, alangkah uniknya Villa Merah itu. Suara Pidi yang bercerita menggebu soal banyak hal telah saya anggap sebagai embun pagi. Menyegarkan namun tak begitu saya perhatikan. Sekali lagi, karena saya lebih tertarik mengamati para siswa SMA yang riang diantara kami. Sebelum lebih jauh menelisik siswa SMA itu, saya minta buku Drunken Monster ke Yeye. Pidi sedang lengah tak bicara karena dia sibuk menyapa orang-orang yang ada di halaman Villa Merah.&lt;br /&gt;“Eh, buku itu”, Pidi berkata seolah malu-malu melihat karyanya.&lt;br /&gt;“Iya, Pak Haji. Ini minta tanda tangan dong...”, kata saya.&lt;br /&gt;“Boleh”&lt;br /&gt;“Tapi gak ada pulpen nih”, saya berkata lagi. Yeye juga dari tadi sebelumnya sudah mengobrol sana-sini dengan Pidi.&lt;br /&gt;“Oh gitu...”, Pidi kemudian memanggil orang berbaju rapi dengan rambut klimis yang saya tidak tahu namanya. Pidi minta pulpen kepada dia. Datanglah pulpen kepada Pidi Baiq itu secepat angkot yang berhenti karena lambaian tangan calon penumpang.&lt;br /&gt;“Disini aja Pak Haji kasih tanda tangannya”, saya berkata sambil menyodorkan buku Drunken Monster yang sudah saya buka pada halaman 9 atau tepat pada halaman ‘Ucapan Terimakasih’.&lt;br /&gt;“Oke”, Pidi mengambil buku itu. Nampak berpikir sejenak. Lalu ia mulai menulis dengan pulpen pinjaman di halaman buku itu. Pertama ia tulis namanya dalam huruf Arab yang gundul.&lt;br /&gt;“Nah ini kalau kalian jadi nikah, tulis ini di undangannya...hehehehe”, kata Pidi sambil menuliskan frase “dari dua jadi satu” dibawah “Kepada Deni ♥ Yeyey”.&lt;br /&gt;“Apa itu Pak Haji?”, saya bertanya soal yang dituliskan Pidi. Sebelum dia menjawab, saya cepat berseloroh, “Oh, beli dua dapat satu, ya?”. Padahal saya sudah bisa baca dengan jelas tulisan itu.&lt;br /&gt;“Bukan Den. Dari dua jadi satu”, jelas Pidi. “Beli dua dapat satu. Ah ada-ada aja, kamu”, timpal Pidi dengan senyum tersungging.&lt;br /&gt;“Hehehehe....” saya tertawa kecil. Kelak, bercandaan saya inilah yang bikin saya dan Yeye membahas agak panjang dalam angkot ketika pulang ke Jatinangor. Jadi menyesal juga bilang “Beli dua dapat satu”.&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184159240054897714" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R_HVXKqH_DI/AAAAAAAAAJI/zTa8C09QwQA/s320/Tanda+Tangan+Pidi2.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Pidi berkisah lagi. Ceritanya kian rupa-rupa. Saya tetap asyik memperhatikan siswa SMA yang ada di Villa Merah. Mereka riang sekali. Ada yang ke kantin. Tertawa keras sambil berbincang senang. Adakah mereka mendapatkan hal ini di sekolah? Saya pernah bimbel ketika masa SMA dahulu. Namun suasana ketika istirahat tidak seperti ini. Kaku. Sebab saat di ruangan pun otak saya diperas oleh mentor yang mengajar bimbel. Maka saya dan teman-teman di bimbel dahulu sering bercanda yang cenderung melecehkan saat waktu istirahat tiba. Jadi tidak asyik. Misalnya saja, menggoda teman perempuan yang kami anggap cantik, kasih suit-suit kepada dia sampai akhirnya dia marah. Lantas kami tertawa. Hati senang sementara si perempuan merasa jadi pecundang: Korban pelecehan. Ah, masa lalu. Tak ada yang seperti itu di Villa Merah saat saya memperhatikan siswa SMA yang mondar-mandir di halaman. Mereka tenang walau riang. Tawa pun lepas. Siswa dan siswi campur-baur. Ada lagi yang unik. Beberapa siswa nampak dengan ikhlas dipandu oleh beberapa orang dewasa untuk menggores-gores kertas kosong warna putih. Mereka seperti diajari menggambar lewat proses privat, secara khusus. Pidi pernah cerita kepada saya, kalau siswa SMA yang ada Villa Merah itu adalah mereka yang bercita-cita untuk kuliah di FSRD ITB. Oh, itu saya dengar Pidi cerita soal Bu Rosi.&lt;br /&gt;“Kalau istri saya tak suka saya nasehati, maka saya akan tengadahkan tangan”&lt;br /&gt;“Ngapain?”, Yeye tanya.&lt;br /&gt;“Saya bilang, Tuhan lihatlah saya sudah menasehatinya. Jadi biar dia takut sekalian. Saya ‘kan tidak pernah marah. Jadi kalau istri tidak senang dengan nasehat saya, biarlah saya laporkan kepada yang lebih berhak”, jelas Pidi.&lt;br /&gt;“Hahahaha...”, saya hampir terpingkal karena keras tertawa. Lucu? Ya tentu saja. Tetapi tengoklah gaya bercanda Pidi. Inilah yang saya sebut sebagai ‘tertawa sarat makna’ (Kolom Bedah Pustaka Media Indonesia, 23/02/2008). Saya lalu mulai menyelidiki proses kreatif Pidi dalam menuliskan cerita-cerita di Drunken Monster.&lt;br /&gt;“Itu semua yang di buku beneran kejadiannya, Pak Haji?”.&lt;br /&gt;“Iya dong. Jadi saya nerapin langsung ide yang saya punya. Kalo gak gitu, gimana saya bisa tahu reaksi orang-orang itu. ‘Kan harus dilihat secara langsung.”, ungkap Pidi ringan saja. “Ya, ada juga sih yang beberapa gagal. Misalnya, pernah ya waktu itu saya mau bercandain seorang ibu di angkot. Kayaknya sih dia lagi punya masalah gitu. Jadi dia langsung marah ke saya. Pake bilang ‘Awas ya kamu, anak saya karate’. Kalo yang kayak gitu gagal, Den.”&lt;br /&gt;“Hehehehe”, pikir saya dalam hati: gagal pun masih tetap lucu juga.&lt;br /&gt;“Sebenarnya, kita harus tahu dulu gimana yang bener. Gimana yang seharusnya. Jadi ketika kita bercanda bukan hanya kita yang puas. Orang yang dibercandain pun juga mendapat sesuatu.”, jelas Pidi tanpa saya tanya.&lt;br /&gt;“Ya , Pak Haji. Di buku itu juga ada tips membangun keluarga bahagia, tanpa harus bikin pembaca seolah jadi murid.”, tambah saya.&lt;br /&gt;“Hehehehe...Ya gitulah.”&lt;br /&gt;Ya memang begitu Pidi. Seseorang yang dalam permenungan saya telah sangat serius dalam bercanda dan berkarya. Sesuatu yang bagi kebanyakan orang dianggap sepele akan ditekuni sampai menemukan gayanya sendiri, ‘gaya yang sangat Pidi’. Bercanda yang tak sekadar bikin kita tertawa. Bercanda dengan nilai-nilai yang mengandung sisi serius yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kian senja. Pukul lima kurang seperempat sore. Yeye minta ijin untuk shalat ashar. Anak-anak SMA sudah masuk ke ruang belajarnya lagi. Sebab bel tanda kembali beraktifitas di ruangan telah berbunyi sedari tadi entah pukul berapa. Jadi halaman Villa Merah sepi kembali. Kantin nampaknya telah bersiap untuk menutup diri. Saya berdua saja dengan Pidi; masih tetap di tempat kami bincang-senang. Beberapa orang baru datang di Villa Merah. Seorang menghampiri tempat kami ngobrol dan berdiri sambil menyapa Pidi. Pidi menjelaskan kalau orang itu adalah pengurus partai. Si orang itu menolak penjelasan Pidi. Saya hanya senyum-senyum.&lt;br /&gt;“Mas, saya mau bikin partai nih rencananya. Namanya Partai Besar Rakyat Lapar. Ya, itu namanya. PBRL, gitu.”, Pidi berkata disambut tawa kecil dari orang itu.&lt;br /&gt;“Disini banyak, Den, orang partai yang maen kesini. Mereka tertawa disini bersama-sama”, kata Pidi setelah orang itu pergi dari hadapan kami.&lt;br /&gt;“Kemaren di Empat Mata ngapain aja, Pak Haji? Kebetulan saya gak nonton”, saya coba mengulik kemunculan Pidi di acara yang dipandu oleh Tukul.&lt;br /&gt;Pidi kasih jawaban yang sangat menyentuh hati saya tentang alasan yang menyebabkan dia mau muncul di acara tersebut. Tetapi saya tak usah tulis disini jawaban dari Pidi itu. Pokoknya sebuah jawaban yang diluar dugaan saya. Setelah itu, Pidi kasih nasehat yang bikin saya makin kagum dengan dia. Sebuah nasehat yang berhubungan erat dengan alasan kehadirannya di Empat Mata. Ditambah lagi dengan nasehat tentang cara bertahan hidup di Indonesia. Seorang teman Pidi datang ikut nimbrung bersama kami. Pidi bincang-bincang dengan dia. Saya mendengarkan saja obrolan mereka. Lalu Yeye datang. Ia telah selesai shalat. Mukanya terlihat cerah, mungkin karena baru saja wudhu. Yeye duduk kembali di bangku yang sempat ditinggalkannya tadi.&lt;br /&gt;“Udah?”, saya berkata sambil pandang Yeye.&lt;br /&gt;“Eh, iya...Terserah aja”, jawab Yeye.&lt;br /&gt;“Pak Haji, udah dulu. Kita mau pulang dulu aja.”, saya berucap berbarengan dengan mengarahkan mata ke Pidi.&lt;br /&gt;“Oh gitu, okelah. Kapan-kapan disambung lagi. Itu kaos lima biji. Satu bonus buat kamu. Itu bukan punya saya soalnya. Tadi ambil di Mizan.”&lt;br /&gt;Saya ambil uang dan serahkan ke Pidi. Teman-teman saya di Jember agaknya bisa tersenyum bahagia karena titipan mereka sudah saya dapatkan.&lt;br /&gt;Saya tanya gimana cara ke Jalan Surapati sebab Bank Mandiri ada disana. Pidi kasih penjelasan. Kami jabatan tangan. Obrolan diselesaikan. Saya kasih Assalamu’alaikum ke Pidi. “Mari Pak Haji” adalah kalimat yang meluncur terakhir dari mulut saya. Yeye menundukkan kepala sambil senyum. Yeye dan saya berjalan keluar dari Villa Merah. Kami disambut Jalan Ciliwung lagi kemudian bergerak ke jalan yang lebih ramai, Jalan yang saya lupa namanya. Kami berhentikan angkot. Tanya sebentar apakah angkot ini ke Bank Mandiri. Supir bilang iya, tapi jalan sedikit soalnya angkot dia tidak lewat persis di depan Bank Mandiri. Baiklah tak mengapa kalau begitu, wahai supir yang baik hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di angkot saya ingat-ingat lagi beberapa bagian obrolan dengan Pidi. Saya ingat soal dia bilang tentang keteguhan berkarya dan membuat sesuatu yang unik. Saya cerna lagi nasehat dia tentang menjalani hidup dengan riang-bahagia. Terimakasih Pak Haji. Saat itu saya berpikir, sebaiknya dia bikin buku dengan judul: “Canda Berbalut Nasehat Pidi Baiq”. Agaknya bagus kalau benar-benar jadi buku semacam itu. Sudahlah, Pidi berkarya dengan caranya. Kita pun akan berkarya dengan gaya kita. Tapi Pidi menginspirasi siapa saja, tentu saja mereka yang paham betul bahwa dalam humor atau bercanda ada makna yang harus disingkap. Agar humor jadi tak garing. Kesimpulan saya tetap setelah bertemu Pidi: dia benar-benar menyatu dengan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami tiba di Bank Mandiri. Ada nama Yeye di daftar pengumuman peserta tes yang lolos ke tahap 3. Ya sudahlah. Yeye berbahagia. Saya demikian pula adanya. Dan dia harus ke Jakarta untuk ikut tes lagi. Kemudian kami mencari cara untuk pulang. Bis Damri jurusan Dipatiukur-Jatinangor telah tiada karena hari sudah sangat petang hampir malam. Pukul 18.00 kata Yeye setelah saya bertanya, “Jam berapa?”. Kami naik angkot lagi, kini yang menuju Gedebage. Kemudian naik dua angkot lagi, sampailah Yeye dan saya di Jatinangor. Alhamdulillah dengan selamat.(*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatinangor, 29 Maret-1 April 2008&lt;br /&gt;***&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Ini adalah karangan pertama saya setelah dua minggu terakhir. Saya harus belajar lagi merangkai kata dalam berkalimat karena dua minggu ini saya lewati tanpa mengetik satu karangan pun.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5859693134997089855?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5859693134997089855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5859693134997089855&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5859693134997089855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5859693134997089855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/04/villa-merah-sampai-petang-di-jawa-barat.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R_HWgqqH_EI/AAAAAAAAAJQ/NI6awg658w0/s72-c/OtherSideOfMe014.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5225949150768462037</id><published>2008-03-06T22:15:00.004+07:00</published><updated>2008-03-16T14:53:53.520+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jaket&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;[&lt;span style="font-size:85%;color:#ffcccc;"&gt;Oh, engkau pastilah marah padaku jikalau kau tahu bahwa pesan pendek yang kau kirimkan padaku malam itu telah kujadikan alasan untuk menulis cerita dibawah ini. Engkau pasti marah kalau kau baca cerita ini. "Hey, ini kan kisahmu...", ucapmu pasti begitu. Tapi, pesan pendek yang isinya: "Habis sudah, sekarang jaketnya pun hilang. Tadi ketinggalan di desa.", itu engkau yang kirim ke ponselku 'kan? Oh, jangan marahlah. Jangan kau pilah-pilah lagi, mana kisahmu, dan yang manakah kisahku. Baca sajalah.&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;Dengan ijin Tuhan, sempat bernafas di Harian Surya edisi Minggu, 16 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Ia ingin sekali pergi dari sini. Menghilang dari cerita yang sedang engkau baca ini. Tapi itu tak mudah. Sama seperti keinginan lari dari kota tempat tubuhnya mendekam sekira sepuluh tahun ini. Kota yang dahulu dengan ramah menyambut kedatangannya. Ia ingat betul, satu-dua terlampau sedikit untuk menghitung senyuman penyambutan yang dilakukan kota itu padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari kesini, bergabung bersama kami”, adalah kalimat yang selalu diucapkan semua mulut setelah selesai menyunggingkan senyum kepadanya. Ia bahagia sekali. Apalagi setelah mendapatkan jaket yang lama diidamkan. Jaket itu disimpannya dalam lemari, setelah sebelumnya disemprotkan pengharum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang yang baru saja ia peroleh itu bahkan lebih berharga ketimbang jaket pemberian ibunya sebelum ia merantau ke kota itu. “Pakai jaket ini, biar tidak masuk angin”, &lt;span class="fullpost"&gt;ibunya berpesan sebelum ia naik bis yang berhenti di depan kantor kecamatan. “Ibu tidak mau muluk-muluk. Belajarlah yang rajin. Ibu hanya ingin kau bekerja disitu”, ucap ibunya sambil mengarahkan telunjuk ke bangunan yang berdiri di hadapan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Ingat-ingatlah selalu, jaket yang kita pakai adalah jatidiri dan harga diri yang harus dipertahankan”, pesan itu selalu terngiang di telinganya. Suara menggelegar seorang senior pada suatu acara yang sakral. Maka ia memiliki tiga jaket. Dalam lemarinya terlipat rapi dua jaket yang telah dicuci bersih dan disemprotkan pengharum. Sementara jaket ibunya sudah lusuh tak terurus. Persis seperti gambaran kehidupanya di kota itu. Kota yang rusuh, tak lagi ramah. Kota yang membuat jaket pemberian ibunya sama sekali tak berharga. Bahkan mimpi ibunya tersangkut di awan pekat yang menggantung diatas kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Aku tak bisa menjamin bahwa kita tidak akan diD.O jika terus menggelar aksi”, ucap pelan seorang senior yang dulu bersuara lantang soal jaket kepadanya. Ia menanggapi dengan suara yang cukup keras hingga otot lehernya pun sedikit nampak.&lt;br /&gt;“Tapi, jelas-jelas rektor busuk itu sudah korup dan ada...”&lt;br /&gt;“Apa? Ada bukti? Aku sudah tahu itu. Tapi kita tidak bisa! Kita harus hentikan aksi ini! Titik!”, potong senior itu kemudian pergi.&lt;br /&gt;“Saudara-saudara, kita akan hentikan aksi ini. Kita akan membawa kasus ini ke ruang sidang saja!”, suara senior itu kembali menggelegar. Ia hanya terdiam. Sebab ia tahu, ruang sidang di negeri ini tak akan pernah menghukum siapapun yang memakan uang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah lelah mengumpat ketika mendengar kabar bahwa senior yang menghentikan aksi pengganyangan rektor korup itu telah dibebaskan dari pembayaran SPP sampai selesai studi. Bahkan seluruh SSP yang sudah dibayarkan akan dikembalikan.&lt;br /&gt;“Aku ini perantau. Dan kau tahu, perantau yang baik akan selalu mencari cara agar dapat terus hidup di negeri orang.”, ucap senior itu pada suatu siang di sebuah warung.&lt;br /&gt;“Bukan! Kau memang perantau. Tapi perantau yang licik. Perantau yang sangat paham cara menjual diri di negeri orang!”, ia membentak hingga semua pembicaraan orang lain terhenti di warung itu. Kemudian kekeh senior itu mengiringi dirinya yang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, ia membuang dua jaketnya ke comberan. “Lebih baik kalian ada disana daripada di lemariku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak akan pernah lagi mencaci. Hatinya telah terlampau sakit. Perempuan yang selama lima tahun bersedia mendengarkan keluh dan membagi tawa dengannya telah dipersunting oleh senior yang perantau itu.&lt;br /&gt;“Aku menunggu kamu, Mas. Menunggu lamaranmu...”&lt;br /&gt;“Ya, aku salah. Aku terlalu mendahulukan rasa takut untuk berkeluarga denganmu”&lt;br /&gt;“Maaf Mas, dia telah dengan gagah berani membawa orangtuanya datang untuk melamarku. Aku menerima ajakan dia, Mas. Maaf”&lt;br /&gt;Percakapan sore itu adalah bayangan yang tak pernah lekang menelungkupinya. Memburamkan jiwanya, bahkan mendiamkan mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya tak lagi bisa berkata-kata saat dia sadar bahwa bis yang baru saja ditumpanginya telah membawa serta jaketnya. Jaket yang diberikan perempuan itu pada sore yang memisahkan mereka. “Habis sudah. Kini jaketnya pun ikut pergi”, gumamnya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk di pinggir ranjang dalam kamar yang pengap. Kamar yang tetap didiaminya walau kini ia telah bergelar sarjana. Gelar yang diharapkan ibunya agar ia mampu bekerja di kantor kecamatan yang berjarak 30 kilometer dari rumahnya. Lalu ia menatap rapat ke arah jaket yang digantung pada tembok. Jaket yang sangat kumal berhiaskan sarang laba-laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia raih jaket itu kemudian menebaskan tangannya agar debu dan jejaring laba-laba tak menyelimuti barang pemberian ibunya itu. Kini hanya jaket itu yang bisa membuatnya tahan dari dingin. Jaket yang telah lama dilupakannya. Bahkan untuk sekadar dicuci dan dilipat rapi dalam lemari pun tak pernah. “Ibu, maafkan Malin Kundang ini”, ia terisak. Lelehan bulir airmatanya adalah air pertama yang membasahi jaket itu setelah sepuluh tahun lalu.&lt;br /&gt;Ia sangat ingin meninggalkan kota dan cerita ini. Kota dan cerita yang kini terlalu sering mencibir pergulatannya dengan nasib.(*)&lt;br /&gt;Bumi Pendalungan, Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5225949150768462037?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5225949150768462037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5225949150768462037&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5225949150768462037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5225949150768462037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/03/jaket-oh-engkau-pastilah-marah-padaku.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-8981314620723647651</id><published>2008-03-04T15:50:00.002+07:00</published><updated>2008-03-04T16:07:34.355+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ayat-Ayat Parpol&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Aku gak nonton. Antrian panjang. Aku pulang saja.&lt;/em&gt;”, itu bunyi pesan pendek dari seorang teman yang kini mukim di Surabaya. Sebelumnya, saya bertanya “&lt;em&gt;Apakah dikau telah menonton film Ayat-Ayat Cinta di bioskop?&lt;/em&gt;”. Sayang, masyarakat Jember harus menunggu agak lama untuk bisa menikmati buah karya Hanung Bramantyo itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada gosip beredar. Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) sudah bisa ditonton masyarakat Jember. Aih, gosip tentu tak jelas ‘episentrum’-nya, jangan percaya. Kalaupun memang benar telah ada, hormatilah sebuah karya. AAC yang beredar di Jember itu pasti bajakan atau ‘barang gelap’, jangan ditonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapakah, film AAC sangat menyihir publik Indonesia? Mungkin karena ketangkasan media massa menggembar-gemborkannya sejak mulai diproduksi. Lagu soundtrack film itu—besutan Melly Goeslaw dan Anto Hoed yang dinyanyikan Rossa—sudah lama berkumandang di sekitar kita. Bisa pula disebabkan oleh kesuksesan AAC dalam bentuk novel. Kang Abik, penulis novel itu, mampu menghadirkan epos tentang cinta dalam bentuk yang populer kepada masyarakat Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian seabrek ‘bagai’ ditengah-tengah kita. Masyarakat manusia konon bagai tubuh. Jika bisul bersemayam di kaki, maka sakitnya terasa juga oleh bagian tubuh lain. Lalu jikalau ada bagian tubuh yang memborok tak bisa disembuhkan lagi, pantaslah untuk diamputasi; dipotong tanpa basa-basi. Berlaku pulakah logika amputasi itu untuk masyarakat manusia? Jelaslah tidak. Tetapi melimpah-ruah fakta berseliweran di masyarakat: kelompok yang tidak mampu—dari perspektif apapun—boleh saja disingkirkan jauh-jauh. Aduh, saya mendadak takut hidup ditengah masyarakat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita bicara ideal. Kalau tak ingin ada bagian tubuh yang diamputasi, maka hidup sehatlah. Sesama bagian tubuh membahu-bantu agar terhindar dari sakit. Persis seperti saat kita mandi. Tangan ikhlas saja mengedarkan sabun ke seluruh tubuh. Mirip ketika kita makan, aliran makanan di mulai dari kunyahan gigi sampai diproses oleh organ dalam dan darah menjadi medium untuk mengasupkan gizi pada tiap bagian tubuh kita. Sudah idealkah? Ahli ilmu biologi paling tahu soal ini. Kerjasama antar bagian tubuh itu seharusnya menjadi contoh bagi kita saat berinteraksi dengan sesama makhluk Tuhan dalam keseharian. Bicara ideal, saya jadi semangat untuk bermasyarakat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan baik antar organ tubuh itu, ternyata didasari pada saling cinta. Tangan tak ikhlas jika perut keroncongan, maka tanah dicangkul. Bahkan, kalau perlu, barang orang lain dicuri. Tangan tahu, jika perut tak diisi maka ia akan lunglai tanpa daya. Inikah cinta yang indah itu? Tapi mirip sekali dengan sekadar pemenuhan kepentingan saja. Ah, macam politik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah, mungkin cinta itu tipis saja bedanya dengan politik. Keduanya memiliki tujuan yang sama untuk diraih: kesejatian. Cinta dan politik adalah pula kendaraan yang biasa kita naiki untuk melunaskan keinginan. Miripkah? Jika ada seorang lelaki mencintai seorang perempuan, maka ia akan menikahinya dengan proses ijab-qabul. Ya, anak muda bilang, itu kuno. Sekarang musim pacaran yang utama, maka ‘tembak’ saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan ini, seorang politisi yang nyambi calon legislatif/cagub/cabup/capres saat pemilu akan mengajak rakyat untuk menjadi pemilihnya. Si politisi itu mengumbar janji, mirip proses ijab-qabul atau aksi ‘nembak’ dalam pacaran anak muda masa kini. Cinta dilontarkan dengan semangat. Tetapi cinta, demikian politik, disempitkan dalam satu ruang saja. Yaitu, pemenuhan keinginan yang mengendap di hati. Cinta hilang kesejatian. Politik bukan alat untuk memenuhi umat dengan kesejahteraan. Cinta dan politik tak universal jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mudah saja, seorang politisi lupa dengan konstituen ketika sudah berstatus anggota dewan/bupati/gubernur/presiden. Karena, “&lt;em&gt;Aku mencintaimu saat Pemilu saja&lt;/em&gt;”, demikian mungkin ungkapan politisi itu. Cinta dan politik yang seremonial, sekadar pesta dan sebatas pemenuhan biologis (libidinal); jauh dari kesejatian. Saya takut dengan yang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat bahagia jika mendapatkan istri atau pemimpin yang memahami logika hubungan antar anggota tubuh seperti telah diungkap diatas. Cinta selalu setiap saat. Tapi tak hanya kepada saya. Mereka juga mencintai tetangga, orang satu desa sampai beda negara. Mereka selalu mengerahkan cinta kepada sesama makhluk hidup. Menjaga kehidupan makhluk yang macam apapun rupanya. Membantu makhluk yang dianggap tidak mampu hidup agar tetap hidup. Aih, indahnya cinta jika termaknai seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah cinta memancar kemana-mana. Bukan hanya kepada kekasih/suami saja. Tak sekadar mengarah pada individu yang satu kelompok dan satu golongan. Cinta yang indah bagai gerak tangan yang tiada lelah menyabuni seluruh kulit tiap kali kita mandi. Cinta yang sejati ialah cinta seorang pemimpin yang hidup miskin ketika rakyatnya miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-Ayat Cinta berhasil mengajak kita memikir ulang tentang cinta yang sejati. Tapi saya takut, kalau para lelaki hanya terinspirasi pada sosok Fahri yang poligami. Saya yakin, penulis AAC tak bermaksud menjadikan poligami-nya Fahri sebagai wujud cinta universal. Percayalah, AAC tak laik disandingkan dengan kisah cinta Parpol kepada konstituennya. Ayat-Ayat cinta Parpol masa kini tak universal, tapi libidinal dan tentu saja: dangkal.(*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-8981314620723647651?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/8981314620723647651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=8981314620723647651&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8981314620723647651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8981314620723647651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/03/ayat-ayat-parpol-aku-gak-nonton.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-29359144134863776</id><published>2008-03-01T15:13:00.006+07:00</published><updated>2008-03-01T15:34:18.236+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R8kSpciFltI/AAAAAAAAAIM/-fFhoihjYlo/s1600-h/Sampul+DDSB.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172686150254827218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R8kSpciFltI/AAAAAAAAAIM/-fFhoihjYlo/s320/Sampul+DDSB.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;"&gt;Risalah Mahasiswa Melawan Neo-Liberalisme&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mahasiswa merupakan status sekaligus peran dalam masyarakat. Dalam belitan biaya pendidikan yang masih mahal di negara kita, jelaslah bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang mengisi kelas menengah. Layaklah jika mahasiswa menjadi salah satu ‘agen perubahan’ yang selalu meraung dari ruang tempatnya mendekam.&lt;br /&gt;Peran yang seharusnya diambil oleh mahasiswa dalam masyarakat serupa dua sisi uang koin. Di satu sisi sering berbuah realita dalam pelbagai bentuknya. Namun, peran mahasiswa dalam masyarakat kerap pula dianggap mitos belaka. Nurani Soyomukti berusaha menelisik realita dan mitos Gerakan Mahasiswa (GM) melalui pengalaman sejarah dan pengamatan gaya hidup kontemporer dalam buku setebal 184 halaman ini.&lt;br /&gt;Sebagai penghuni masyarakat yang mendekam di kelas menengah, mahasiswa memiliki potensi untuk memperoleh beragam akses ketimbang kelas bawah (masyarakat miskin). Hatta, tak aneh jika mahasiswa mudah disusupi pelbagai pengetahuan—yang kerap menjadi ideologi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang diindoktrinasi oleh teori-teori ‘kepatuhan’ berbaju ilmu pengetahuan akademis hanya akan menjadi mahasiswa yang aktif di bangku kelas saja. Sementara mahasiswa yang dirasuki pengetahuan berbasis ‘kesenangan’ bisa dengan mudah menjelma makhluk hedonis yang individualistik. Kedua tipikal mahasiswa tersebut memiliki kesamaan ciri, yaitu mengurung diri dalam ruang yang mereka bangun sendiri tanpa pernah mau melongok bagian masyarakat yang lain.&lt;br /&gt;Mahasiswa yang dipengaruhi oleh ajaran kritis dan filsafat yang mencerahkan hingga kerap melakukan proses reflektif adalah ciri mahasiswa ‘yang lain’. Tipikal mahasiswa seperti ini seolah tak kunjung lelah mencari makna hidup melalui buku-buku, aktif di organisasi dan berdekatan dengan persoalan masyarakat umum. Mereka tak hanya hidup dalam dunia yang digeluti sehari-hari.&lt;br /&gt;Kelompok mahasiswa macam inilah yang kemudian menjadi motor penggerak dalam pelbagai GM. Merekalah yang bersedia membaktikan diri untuk membuktikan bahwa GM bukanlah mitos belaka. Hal tersebut, diurai dengan jelas melalui pendekatan sejarah (hal: 26-33) yang teliti oleh penulis buku ini.&lt;br /&gt;Paska runtuhnya rezim orde baru, GM bagai memasuki masa surut. Padahal, ruang-ruang kebebasan berekspresi mulai terbuka luas. Demonstrasi tak lagi milik mahasiswa semata. Jika banyak buku yang membahas GM hanya memusatkan perhatian pada struktur interaksi-politis antar elemen demokratik di kalangan mahasiswa, maka buku ini melangkah ke jalan yang berbeda.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tumpulnya mahasiswa sebagai kelompok pembaharu dalam masyarakat justru terjadi karena aktifitas mereka yang lebih disibukkan oleh memilah-pilih derajat ‘penting’ atau ‘tidak penting’ dari suatu tindakan. Jika kita melihat tindakan dengan perspektif Talcott Parsons maka analisa Nurani dalam buku ini menemukan ketepatannya. Menurut Parsons (dalam Poloma; 1984:172), tindakan individu dalam sistem sosial akan sesuai dengan norma atau aturan-aturan yang dibuat oleh sistem.&lt;br /&gt;Dalam pandangan Nurani, ternyata sistem makro yang mengatur dunia mahasiswa tetaplah kapitalisme. Walau kampus dan dunia mahasiswa itu sendiri memiliki norma ideal, kapitalisme telah menundukkan dan mengatur semua itu. Jelmaan kapitalisme yang paling mutakhir adalah neo-liberalisme.&lt;br /&gt;Secara tersirat, Nurani ingin mengemukakan bahwa segala kemajuan yang berlangsung di dunia pendidikan tinggi sebenarnya merupakan bentuk langsung dari kepatuhan pada neo-liberalisme (hal:80-82). Sistem belajar di pendidikan tinggi dirancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mampu kritis. Kampus tidak lagi dijadikan sebagai basis menemukan esensi hidup yang hakiki. Ruang kuliah hanyalah medium untuk mengadu nasib bagi para mahasiswa dalam menaikkan taraf hidup.&lt;br /&gt;Sementara itu, diluar kampus, mahasiswa menemukan kehidupan serba berbalut kemewahan yang mewujud dalam mall, glamouritas selebritas dan segala bentuk ‘kesenangan’ lainnya. Mahasiswa dibentuk agar menganggap kampus sebagai ruang tersendiri yang tidak berdialektika dengan kehidupan diluarnya. Kalau saja Nurani memasukkan peristiwa tahun 2007, saat tiga orang mahasiswa ITS mendapat skorsing dari birokrat kampus karena ‘bersuara beda’ untuk menyikapi kasus lumpur Lapindo, tentulah analisa tentang ketertundukan kampus kepada neo-liberalisme dalam buku ini akan kian membumi-bukti.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Neo-liberalisme telah memalun mahasiswa dengan erat dan kuat. Inilah dampak nyata kreasi-konstruksi media massa tentang identitas mahasiswa. Dunia mahasiswa, sebagaimana dimunculkan oleh sinetron televisi misalnya, seolah sempit saja. Hanya seputar hubungan antar persona yang disebut pacaran, pertarungan gengsi antar kelompok dan bentuk ‘kehidupan gaul’ lainnya.&lt;br /&gt;Neo-liberalisme yang bergerak lindap di tubuh mahasiswa saat ini seolah mendaraskan satu pesan singkat. Yaitu, mahasiswa hari ini haruslah mementingkan gaya hidup konsumtif ketimbang mencari hakikat paling dasar dari kehidupan sehari-hari melalui kerja produktif dan reflektif.&lt;br /&gt;Bab III dalam buku ini mengupas dengan luas dan bernas tentang gaya hidup mahasiswa kini melalui psikoanalisis Freudian dan ‘kritik cinta’ Erich Fromm. Melalui penghayatan yang tinggi akan karya Khalil Gibran, Nurani turut pula menyerukan bahwa cinta yang etik, esetetik dan laik untuk dipertahankan adalah cinta tanpa kepura-puraan dan bersifat universal. Cinta bukanlah alat untuk memasung kreatifitas dan menggenjot konsumsi seperti galibnya kita temukan pada gaya pacaran mahasiswa masa kini. Cinta pada taraf yang sakral dan melampaui tubuh justru menjadikan manusia kian inovatif dalam melakukan perubahan dan berproduksi untuk kesejahteraan seisi alam.&lt;br /&gt;Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah optimisme yang diusung oleh penulisnya. Melalui optimisme ini, Nurani seolah belum percaya bahwa neo-liberalisme benar-benar menang dalam peradaban manusia kini. Neo-liberalisme, selain menciptakan individu yang patuh dan konsumtif, juga telah melahirkan sosok individu (atau kelompok) yang terus berteriak melawannya. Mereka adalah kaum yang dianggap ‘tidak penting’ oleh peradaban neo-liberal masa kini. Akhirnya, bagi siapa saja yang masih menginginkan kebudayaan berbasis nilai kemanusiaan, pendidikan yang membebaskan dan demokrasi yang menuju kesejahteraan, maka buku karya Nurani Soyomukti ini adalah risalah nan penting untuk dihayati.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-29359144134863776?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/29359144134863776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=29359144134863776&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/29359144134863776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/29359144134863776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/03/risalah-mahasiswa-melawan-neo.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R8kSpciFltI/AAAAAAAAAIM/-fFhoihjYlo/s72-c/Sampul+DDSB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-2870011141549986881</id><published>2008-02-27T14:52:00.003+07:00</published><updated>2008-02-27T15:08:06.846+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sebuah Metro&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171566738551778466" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 412px; CURSOR: hand; HEIGHT: 280px; TEXT-ALIGN: center" height="240" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R8UYjG-arKI/AAAAAAAAAIE/EHU2qZPq9kk/s320/metro-inpics5.jpg" width="412" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu selalu datang dengan tidak sopan. Dia masuk tanpa mengetuk. Datang tanpa diundang. Setelah didalam, ia memanen sebuah demi sebuah kenangan yang benihnya telah lama ia tanam. Jadilah hati ini menjelma melankolis dan romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua gara-gara teman saya, Erik. Nama lengkapnya Erik Yanusa. Ia kini di Tangerang. Bekerja disana, katanya. Bekerja apa, saya tak tahu. “Yahhh...jadi buruhlah”, kata Erik. Jadi buruh kok tiap hari online di internet, Rik? Oh, gua jaga warnet, Den. Beberapa hari ini, saya memang aktif mengobrol bersama Erik itu dengan fasilitas YM! milik Yahoo! Ya, menumpang sama perusahaan Amerika buat bincang-bincang dengan teman lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erik itu yang membuat rindu menghampiri saya lagi. Rindu pada rumah milik orangtua saya. Pada kota milik Propinsi Lampung, Metro namanya. Erik lah yang mengajak saya ziarah lagi ke rumah dan kota tempat saya mukim selama enam belas tahun dan sampai kini masih terus menjadi tujuan kala musim mudik lebaran tiba. Rumah dan kota itu bukan tempat kelahiran saya. Mereka justru membantu saya untuk melahirkan banyak hal; pertemanan, permusuhan, permainan segala macam bentuknya, persaudaraan sedarah, pertempuran antar siswa beda SMU, perjalanan dari gunung ke gunung serta tentu saja, makna sejati dari pertemuan dan perpisahan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini salah satu obrolan diantara kami saat chat—entah pada hari yang kapan—yang berkesan buat saya:&lt;br /&gt;yanusa_erick: jadi inget waktu perpisahan SMA&lt;br /&gt;yanusa_erick: gua ditanya sama Nita, ntar kita kalo sudah lulus jadi apa ya?&lt;br /&gt;yanusa_erick: iya, kita jadi apa ya, den?&lt;br /&gt;yanusa_erick: ada yang udah jadi pns&lt;br /&gt;yanusa_erick: polisi&lt;br /&gt;yanusa_erick: dokter&lt;br /&gt;yanusa_erick: karyawan&lt;br /&gt;Denny Ardiansyah: pengangguran&lt;br /&gt;yanusa_erick: ha ha&lt;br /&gt;yanusa_ercik: ya, kita jadi apa, ya?&lt;br /&gt;Denny Ardiansyah: kita akan selalu jadi kita, rik&lt;br /&gt;Denny Ardiansyah: kita menari dan bernyanyi dengan nasib kita&lt;br /&gt;Denny Ardiansyah: kita menyanyi lagu kita&lt;br /&gt;Denny Ardiansyah: menari dengan tarian kita&lt;br /&gt;Denny Ardiansyah: karena mereka juga begitu&lt;br /&gt;Denny Ardiansyah: mereka menyanyi dengan lagu nasib mereka&lt;br /&gt;Denny Ardiansyah: menari dengan tarian nasib mereka&lt;br /&gt;yanusa_erick: sip. lu mang bisa aja dari dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh tahun, saya meninggalkan kota Metro. Hidup di daerah lain, walau masih tetap ada di lingkaran Indonesia. Mengapakah, tiap kenangan datang, selalu saja menjelma anak kecil lagi? Masa kanak dahulu kala, sering kali meributkan teman di sekolah pakai sepatu merk dan warna apa, tas yang bagaimana bentuknya. Kenapa ada teman perempuan yang pakai lipstik. Si Anu putus ya sama Si Itu? Eh, lupa nih kasih tau...kemaren, Si Dia pulang bareng Si Doi, loh. Ah, entahlah, masa kanak sampai SMA seolah sama saja. Bikin gregetan. Bikin keringetan. Bikin bangga, malu, benci dan rupa-rupa emosi lainnya menempel di ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu mungkin saja sesuatu yang menarik kita dengan tarian yang menggoda agar kita mau kembali kesana; mengulang lagi tindakan yang belum sempat dilakukan, menikmati kembali masa-masa penuh tawa, menutup kejadian yang bikin kita menangis tersedu-sedan. Tapi, kita, tak mampu masuk lagi secara fisik ke masa lalu. Hanya masa lalu yang mampu menusuk masuk tanpa permisi ke dalam kita, ke hati dan otak kita. Sungguh menyebalkan memang, namun itulah yang bisa terbilang. Menggerutu sajalah. Waktu tak berhenti. Waktu berjalan terus. Tak membalik ke belakang tentu saja. Waktu berlari lurus ke muka. Bagi masa lalu, waktu telah berhenti. Tetap. Tak ada yang bisa diganti bahkan terganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menziarahkan ingatan ke masa lalu seolah menghentikan waktu saja. Aih, gak penting ‘kan, akhirnya. Anggapan seperti itu timbul bisa saja. Sebab sudah saya ungkap diatas tentang jati diri waktu dan masa lalu pada paragraf diatas, toh. Tapi, cobalah tarik nafas sehela saja. Sebentar kita kenangkan masa lalu, jika ia menghampiri kita. Menarilah, menarilah bersama entitas itu dengan khusyuk, dengan khidmat dan nikmat. Ziarah ingatan bukanlah korupsi yang menjadi persoalan umum. Kegiatan itu semacam langkah bersenang-senang. Menarik diri sebentar dari gelanggang keseharian kita yang kadang sesak bukan kepalang. Mengingat-ingat masa lalu bagai sebuah oase yang menyegarkan kita kembali. Para ilmuwan sebuat hal itu refleksi. Tapi saya bilang, itu cuma mengingat saja tanpa kita bisa berbuat apa-apa, kecuali tertawa, menangis atau tak bergeming sama sekali bagian tubuh kita kecuali jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dibilang kita mati setiap hari, setiap jam bahkan detik yang telah kita lalui. Masa lalu adalah tempat mayat kita dimakamkan, tanpa ada upacara apa-apa. Kita hidup hanya hari ini, bukan kemarin atau zaman dahulu kala. Masa lalu tak bisa diubah. Tapi hari ini bisa kita bentuk apapun sebagaimana mau kita. Kelak, hari ini juga menjadi masa lalu, sesuatu yang beku dan kaku. Maka, Cicero mengatakan jikalau ada anggapan bahwa di dunia tiada yang abadi, maka kelirulah anggapan itu. Perubahan adalah yang abadi di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang masa lalu seolah langkah saja untuk melarikan diri kita dari buaian perubahan yang datang tiap detik. Kita hidup, kemudian mati lagi, hidup lagi, mati lagi, terus begitu. Dan kita kenangkan kematian itu. Kita memancangkan perubahan tiap kali ingatan menjalari kenangan. Maka, anehlah jika kita masih bilang, eh Si Anu berubah loh. Dia itu begini begitu sekarang ini, enggak kayak dulu ih. Sudahlah, jangan lagi digunjingkan yang hari ini. Kenanganlah saja masa lalu. Ingatlah seingin kita mengingat. Perubahan abadi. Tiap kita berubah. Tak tetap. Kalau kaget, ya memang itu akibatnya. Kalemlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat yang telah lalu, ya perlulah. Tapi kalau hanya bikin kita jadi malas bergiat, ya malulah. Ya, jangan dilakukan sajalah. Atau, hanya bikin kita menggerutu dan menyesal, ya sebaiknya berhenti saja ziarah ingatannya. Saya tak menyesal atas apa yang sudah terjadi dan menjadi di masa lalu. Masa lalu itu bagai bahan bakar saja. Seperti kayu kering yang ada di tungku dan siap disulut api agar masakan kita bisa matang untuk disantap dengan riang. Kenangan itu bahan bakar untuk hari ini. Bakarlah sesuka kita. Memasaklah dengan hati senang-gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erik membuat saya menulis ini tulisan. Saya terkenang lagi dengan Metro. Ingat dengan teman-teman, musuh-musuh, sekolah-sekolah, mantan-mantan pacar, jalan-jalan di Metro tempat saya menjejak dulu. Dan tentulah pula teringat pada mula dan akhir, pertemuan dan perpisahan, kesukaan dan kedukaan yang membentang di pekuburan masa lalu. Terimakasih Erik, sudah mengajak saya pakansi ke masa lalu di kota Metro. Bikin saya singgah sebentar disana. Segar sekali ada disana. Masa lalu sudah menusuk saya. Saya yakinlah akhirnya, apa yang tertusuk padaku, mungkin saja berdarah padamu. Dengan darah itu, kita coba jadi manusia lagi. Bangkit selalu dari kuburan kenangan. Menghidupi hari ini dengan nafas yang baru bukan yang bau.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember, 26 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Foto digunting dari situs penyelenggara &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://kotametro.go.id/"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Kota Metro&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-2870011141549986881?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/2870011141549986881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=2870011141549986881&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2870011141549986881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2870011141549986881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/02/sebuah-metro-rindu-selalu-datang-dengan.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R8UYjG-arKI/AAAAAAAAAIE/EHU2qZPq9kk/s72-c/metro-inpics5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-9222262126237017776</id><published>2008-02-22T23:37:00.003+07:00</published><updated>2008-03-01T15:37:08.905+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Naskah "Yang Lain" dari Pidi Baiq&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;[sempat bernafas di Harian Media Indonesia edisi Sabtu 23 Februari 2008]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R776i2-arJI/AAAAAAAAAH8/sLB1YjVD1FI/s1600-h/Foto2337.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169844899047713938" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R776i2-arJI/AAAAAAAAAH8/sLB1YjVD1FI/s320/Foto2337.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Saya sengaja memberi tanda kutip pada gabungan kata ‘yang’ dan ‘lain’ dalam judul diatas. Tanda kutip itu menunjuk kepada (setidaknya) dua makna. Penulis buku ini—yang juga dikenal sebagai akademikus, komikus dan musikus—bercerita bahwa ia ditanya oleh Doel Wahab (editor Penerbit Mizan) soal naskah buku berjudul Ayat-Ayat Sompral yang sedang dikerjakannya. Naskah itu ternyata belum selesai. Maka, “Saya tawarkan kepada Bang Doel, bagaimana untuk sementara naskah saya yang lain dulu saja yang diterbitkan?”(hal.15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, buku Drunken Monster bukanlah naskah yang sedari mula telah dinubuatkan untuk diterbitkan oleh Pidi Baiq. Sebabnya yaitu, Drunken Monster merupakan kumpulan tulisan yang kerap ia unggah (upload) di blog pribadinya: http://pidibaiq.multiply.com. Inilah makna denotatif dari “yang lain” tersebut. Kalau begitu, nampakkah keseriusan Pidi dalam buku ini? Pertanyaan itu patut muncul sebab biasanya “yang lain”—pada taraf denotatif—seringkali merujuk pada sesuatu yang sampingan, tidak serius, sekadar tambahan bahkan tiada guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini telah menyebabkan Prof. Bambang Sugiharto (Guru Besar di Universitas Parahyangan dan Institut Teknologi Bandung) menulis dalam taraf ‘tak lazim’ pada bagian Kata Pengantar (hal.11-14). Saya memiliki beberapa buku yang diberi kata pengantar oleh Prof. Bambang Sugiharto. Tulisan beliau biasanya sulit dipahami dalam sekali baca; deretan kalimatnya terlampau berliuk-lekuk. Ditambah lagi penggunaan istilah dalam bahasa asing yang kerap muncul dalam tulisannya. Tapi, melalui kata pengantar berjudul Ini Buku Berbahaya, saya melihat Prof. Bambang Sugiharto ‘yang lain’.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pengantar yang ditulis oleh Prof. Bambang Sugiharto sungguh mengalir dan ringan. Beliau menggunakan corak ‘bahasa gaul’—walau memang masih tetap akademis. Melalui buku ini, kita akan membaca tulisan beliau yang padat, jenaka dan menggoda namun tetap berbalut teori-teori. Kalimat akhir yang ditulisnya dalam kata pengantar tersebut berbunyi: “Selamat membaca! Awas kecanduan...”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sampai disini, kita bisa melihat bahwa Pidi Baiq sungguh serius menyiapkan naskah buku ini. Ia berhasil ‘memaksa’ seorang profesor untuk mengikuti ruh dan hawa dari bukunya. Sebuah buku yang tidak semata-mata berpretensi masuk ke dalam genre humor. Walau, sayangnya, Penerbit Mizan telah menahbiskan Drunken Monster sebagai ‘Buku Humor’—sebagaimana tertera pada sampul belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ikuti saja klasifikasi dari Penerbit Mizan tersebut, siapkanlah hati untuk menuai kecewa. Humor yang dipersembahkan Pidi untuk pembaca Drunken Monster bukanlah jenis lawakan ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin sudah sangat jengah dengan humor yang berseliweran di televisi. Humor yang terlampau kering makna sebab hanya bisa membuat kita tertawa. Kita tidak hanya diajak untuk tertawa saat membaca Drunken Monster. Pidi telah menyiapkan bahan permenungan yang laik kita lakukan paska membaca salah satu kisah dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tak perlu jua kita khawatir apalagi takut jikalau humor Pidi terlampau intelektualis dan akademis—sebab ia adalah mantan Dekan FSRD International University di Bandung. Guyonan Pidi sangat mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ia berkisah tentang diri sendiri, anak dan istrinya, tukang becak dan ojek serta orang-orang yang ada di kompleks perumahannya. Pidi membangun cerita melalui dialog yang ringan namun menyiratkan kedalaman makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, walau diakui sebagai catatan harian, kita tak perlu percaya bahwa kisah yang ditulis Pidi nyata adanya. Drunken Monster tetaplah cerita pendek dalam artian sebenarnya. Kisah yang memaksa kita untuk percaya namun tetaplah cerita itu bohong adanya. Namun, adakah penulis yang tidak berbohong? Peristiwa yang diceritakan oleh seorang penulis boleh saja sebuah kebohongan. Namun pikiran-pikiran yang terkandung dalam suatu cerita (sastra) adalah lukisan kejujuran harapan yang ada di benak seorang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi adalah kunci dari kesuksesan buku ini berdialog dengan pembaca. Pidi berhasil membawa pembaca seolah masuk tanpa kesulitan apapun untuk melongok kehidupan di kampus ITB, jalan-jalan di Kota Bandung dan interaksi antar tetangga di kompleks perumahan tempatnya bermukim. Bahkan Pidi juga mampu membuat pembaca iri dengan kehangatan yang selalu menaungi keluarganya. Ada lima cerita dalam buku ini yang benar-benar menjadikan rumah tangga Pidi sebagai pusat kisah. Pidi yang kini (benar-benar) hidup bersama Rosi (istrinya), Timur Langit Hali dan Bebe Bibe Utara (anak-anaknya) kiranya merupakan contoh keluarga yang menjadikan humor sebagai basis interaksi sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, Pidi Baiq—pria kelahiran Bandung, 8 Agustus 1972—telah memancangkan sebuah khazanah baru dalam pola penulisan cerpen (atau kisah humor) di dunia sastra kita. Inilah makna “yang lain” pada bentuk konotatif dari karya Pidi Baiq. Melalui “catatan harian”-nya, Pidi tak sekadar berhumor, namun ia mampu memperlihatkan seni berinteraksi di tengah modernitas masyarakat yang serba cepat, kalut dan individualis. Boleh dikata, semua gaya bercanda yang dipaparkan Pidi melalui 18 tulisan pada buku ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pembacanya. Ya, dalam pemahaman saya, Pidi mampu melahirkan sebuah genre ‘humor terapan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Pidi nampak tiada berkeinginan menciptakan tokoh yang berpotensi untuk menjadi legendaris melalui kisah-kisah yang dikumpulkan dalam Drunken Monster. Tokoh utama dalam tiap kisahnya adalah Pidi Baiq sendiri. Hal ini agak rawan sebab Pidi terlihat tak memperbolehkan karyanya terbang jauh dari kediriannya. Atau, kita juga bisa memaknai bahwa hal itu terjadi sebab Pidi sudah memproklamirkan bahwa karyanya adalah catatan harian. Bahkan, mungkin saja, ia juga menjadikan karyanya sebagai bahan untuk merenung agar bisa pula diterapkan pada dirinya. Hingga tatkala ada seorang pembaca buku ini bertemu dirinya akan berkata: “Oh, Pidi benar-benar humoris ya...”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dilengkapi pula dengan ilustrasi yang memisahkan halaman tiap cerita. Ilustrasi yang dikerjakan oleh Pidi sendiri. Lengkaplah, Drunken Monster memang catatan harian Pidi Baiq—vokalis band The Panasdalam—yang mampu membuat kita tertawa sarat makna.(*)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Baca ini &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=13611"&gt;juga&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-9222262126237017776?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/9222262126237017776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=9222262126237017776&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/9222262126237017776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/9222262126237017776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/02/naskah-yang-lain-dari-pidi-baiq-sempat.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R776i2-arJI/AAAAAAAAAH8/sLB1YjVD1FI/s72-c/Foto2337.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-865055379531463586</id><published>2008-02-14T17:23:00.003+07:00</published><updated>2008-02-14T17:33:38.216+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;Ya Ampun...&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cecaplah cerita ini:&lt;br /&gt;Ya, dunia ini sempit saja kok. Saya pikir lebar. Saya tahu sebabnya: saya Gaptek. Gagap Teknologi, kata orang-orang. Boleh jadi artinya seperti itu. Tapi saya tambahkan dan luaskan saja perpanjangan kata itu. Gaptek juga dekat maknanya dengan: GAk Pake TEKnologi. Atau khusus untuk saya, bisa juga searti dengan: Gayanya Aja Pake TEKnologi. Aih, agak mirip ya? Ya, memang sengaja saja kok sebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Yasraf Amir Piliang sebenarnya sudah jauh-jauh hari bilang ke saya—tentu saja lewat bukunya yang berjudul Dunia Yang Dilipat—bahwa dunia itu kian kecil adanya. Sebenarnya sih, Pak Yasraf juga mendengar itu dari orang-orang lain—yang mungkin juga hanya ditemuinya dalam buku saja. Buku bacaan wajib waktu awal-awal kuliah itu bikin saya terkejut sekaligus ‘gak begitu percaya. Kenapa? Sebab saya belum jua menerima atau melihat buktinya. Dan saya suka buku itu karena isinya banyak protes saja. Maklum anak muda, kalau tak protes sepi rasanya. Kata orang-orang, itu zaman posmodern. Bukan kata saya, loh. Zaman dimana yang kecil seringkali diutak-atik agar jadi besar. Yang besar sering dibikin kecil saja. Itu teknologi yang jadi penyebabnya. Kata orang-orang kayak gitu. Dari tadi kok kata orang-orang terus, sih? Memang yang bikin ini tulisan, siapa? Tentu saja, saya adanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiap hari ke warnet. Hanya kirim tulisan ke koran-koran awalnya. Lalu berkembang. Cari bahan-bahan untuk nulis jadinya. Itu setelah 2 tahun pura-pura ngelakoni pekerjaan sebagai penulis yang nyambi jadi mahasiswa. Eh, kebalik ya? Ya udah, ‘gak apa-apa ya... Mulai tahun 2007, saya sibuk posting-posting tulisan atau apa saja—yang saya sebut sebagai puisi, artikel, resensi buku, atau sekadar cerita kayak gini—ke blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia makin sempit saja. Padahal, beneran nih, saya pikir tadinya kecil adanya. Bahan nulis saya dapat dari koran yang kadang baca, tapi lebih sering 'gak. Atau dari buku-buku. Atau dari gosip-gosip yang berseliweran di warung tempat cangkrukan. Ketika nulis, saya berpikir dunia itu benar-benar lebar. Ada banyak hal yang saya ‘gak tahu (tahu atau tau, sih? Takut salah ketik). Dengan teknologi, kita tingkatkan produktifitas bangsa....eh salah...maksudnya, produktifitas pengetahuan saya meningkat agak pesat walau memang selalu saja tersendat. Cari bahan buat menulis (Aih, kini tulisannya benar ya?) di jejaring internet saja. Banyak yang bisa dicari disana. Macam-macam koran pun bisa dibaca dengan mudahnya. Wah...senangnya hatiku...Jadi pengin (atau pengen, sih?) ketawa saja kalau ingat masa lalu. Ya, masa lalu membuat kita ingin melongok hati sesekali dan tentu saja mengocok perut kalau lama-lama bersemayam di otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, Wulan Guritno punya blog....", kata Arip (dia bisa marah kalau saya tulis namanya pakai 'p') dikontrakan malam tadi.&lt;br /&gt;"Iya tah?", saya jawab sambil tidur. Maksudnya tidur-tiduran di karpet ruang tengah.&lt;br /&gt;"Ya, ini ada beritanya di koran"&lt;br /&gt;"Halah...wong cuma punya blog kok diberitain?", Upss...saya akhirnya minta maaf sama wartawan yang nulis berita itu, ya... Kalau gak diberitain 'kan kesulitan saja mau cari nasi. Saya lalu ingat diri sendiri. Wong buku saja pakai diresensi segala? Emang orang laen ‘gak bisa bacanya? Emang buku itu pakai bahasa non-Indonesia? Eh, Mas...saya ini menyebut diri penulis. Ya harus nulis saja, apa yang bisa dan memang layak ditulis, saya menggumam di hati. Berarti sama dong dengan para wartawan itu? Ya tentu saja, saya ambil kesimpulan. Juga dalam hati.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;"Wah...ini dia blognya Wulan", kata Arip yang sekarang sudah ada di warnet dan duduk di sebelah saya. Kami ada di depan komputer yang beda, loh. Jadi, wahai... tolonglah, jangan pikirmu macam-macam.&lt;br /&gt;"Mana...Mana, kalo ‘gak mau kasih liat, saya cabut kabel komputermu"&lt;br /&gt;"Ini nih...Tuh 'kan"&lt;br /&gt;"Kok ketemu? Gimana bisa? 'Kan tadi di koran itu dia bilang ngerahasiain alamat blognya", saya heran terus bertanya. Ke siapa? Ya ke Arip lah.&lt;br /&gt;"Ini, cari di Google..."&lt;br /&gt;"Kasian ya, Wulan Guritno kalo gitu...", saya coba berempati—padahal senang bukan kepalang bisa melihat blog artis cantik itu.&lt;br /&gt;"Kenapa, bang?"&lt;br /&gt;"Dia udah melakukan kesia-siaan. Coba dikasih tahu aja sama wartawan itu nama blognya. Mungkin tak seperti ini jadinya."&lt;br /&gt;"Ya...namanya juga artis. Pura-pura rahasiain puri tempatnya menyendiri", Arip berkomentar dengan mata tetap ke layar monitor dan tangan mengendalikan mouse.&lt;br /&gt;"Ya, hiks...hiks..."&lt;br /&gt;"Kok nangis, bang?", tanya Arip sambil menengok ke arah saya.&lt;br /&gt;"Gak, tadi mau bersin gak jadi...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya cari lagi. Cari apa? Tentu saja cari blog para artis lainnya. "Wey, ketemu lagi. Ini Dian Sastro!!!", saya berteriak—tentu dalam hati saja. Khawatir diusir sama yang punya warnet. Dan, saya tidak mau kasih tahu Arip. Pasti dia bakal ancam saya juga untuk tahu alamat blog Dian Sastro. Saya hanya mampu menggumam saja dalam hati:&lt;br /&gt;"Oh, Dian Sastro. Dirimu biasa sekali di blog ini"&lt;br /&gt;"Senang rasanya bisa melihat dirimu biasa saja. Tidak seperti yang saya lihat biasanya di televisi, kau sungguhlah luar biasa"&lt;br /&gt;"Dian...tulisan-tulisanmu, sungguh membuatku seolah menganggapmu sebagai kawan saja."&lt;br /&gt;"Padahal, kau pasti malu berkawan denganku."&lt;br /&gt;"Mengapakah? Karena aku bukanlah kawanmu."&lt;br /&gt;"Baiklah, kulamar kau, Dian. Bukan sebagai istriku. Tapi untuk menjadi kawanku. Oh...maksud saya, temanku. Khawatir salah kira kalau pakai kata kawan. Apalagi ditambah ku dibelakangnya."&lt;br /&gt;"Dian, saya tak tahu-menahu lagi harus apa. Tapi di depan saya, sekarang, sudah ada sepiring tahu tek yang saya pesan sebelum masuk warnet tadi. Saya makan dulu, ya. Janganlah kau mengirikan diriku yang makan ini. Sebab aku sedang ada di sebelah kanan dari meja kasir warnet dan kau tahukah, Dian? Seharian ini, belumlah aku makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya makan dengan hati berbunga-bunga. Saya akan cerita ke teman-teman saya soal penemuan terbaik malam ini. Biarlah Arip tiada tahu blog Dian Sastro. Biar saja dia hanya mengerti kalau saya makan tahu tek, itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larut malam telah menjadi dini hari. Saya mendapat banyak alamat blog para artis. Saya makin yakin akan mematikan televisi. Saya melihat para artis itu biasa saja di blog mereka. Dan dunia memang kecil. Tentu saja, bukan sekecil silet. Itu pasti. Silet tajam, dunia menyenangkan. Wulan Guritno cantik. Dian Sastro pastilah demikian. Demikian apa? Demikian cantik dong. Tapi, saya, mungkin saja baik.(*)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bumi Tawang Alun, 14 Februari 2008 &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-865055379531463586?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/865055379531463586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=865055379531463586&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/865055379531463586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/865055379531463586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/02/ya-ampun_14.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-3867458932490262031</id><published>2008-02-08T15:33:00.000+07:00</published><updated>2008-02-08T15:39:20.022+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R6wUuXRFJzI/AAAAAAAAAHU/5s_0Tdax6_I/s1600-h/Sampul+Buku+Esai-Esai+Nobel+Ekonomi3.jpg"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164525659439310642" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R6wUuXRFJzI/AAAAAAAAAHU/5s_0Tdax6_I/s320/Sampul+Buku+Esai-Esai+Nobel+Ekonomi3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Hallloooo....Nobel Ekonomi Tak Melulu Soal Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampul buku ini biru laut. Pada warna biru laut, galibnya, disematkan makna perdamaian dan kesejahteraan. Hatta melalui sampulnya saja, kita bisa mengetahui bahwa buku ini khusus membahas bidang yang terkait dengan dua hal tersebut. Esai-Esai Nobel Ekonomi yang dieditori oleh Bagus Dharmawan ini adalah kumpulan yang (agak) lengkap dari pemikiran para penerima Hadiah Nobel di Bidang Ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena buku ini adalah kumpulan tulisan, maka kerja keras Bagus Dharmawan sangat nampak dalam mengeditorinya. Tahun kelahiran tulisan diabaikan olehnya ketika menyusun urutan pemuatan dalam buku ini. Namun, tetaplah buku ini memiliki susunan yang teratur. Isi tulisan yang membahas pemikiran tiap tokoh penerima Hadiah Nobel Ekonomi adalah basis penyusunan buku ini. Hanya saja, tidak semua tokoh yang menerima penghargaan itu dikupas dalam buku ini. Maka, laiklah sejatinya jika editor buku ini menyertakan pula daftar nama penerima Hadiah Nobel Ekonomi dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, penghargaan tahunan yang diadakan pertama kali pada 1901 itu hanya memberikan anugerah pada para tokoh yang bergelut di ranah ilmu kimia, fisika, kesusastraan, perdamaian dan kedokteran (fisiologi). Maka dari itu, jika usia penghargaan nobel untuk kelima bidang itu telah melampaui satu abad, maka umur Nobel Ekonomi—sampai tahun 2007—belumlah melewati lima puluh tahun. Namun, sejak diselenggarakan pada tahun 1969, Nobel Ekonomi tidak pernah absen dianugerahkan tiap tahun. Sementara penganugerahan Nobel di kelima bidang yang lain sempat berhenti pada tahun-tahun tertentu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Royal Swedish Academy of Sciences (RSAS) pertama kali memberikan anugerah Nobel Ekonomi kepada Jan Tinbergen (Belanda) dan Ragnar Anton Kittil Frisch (Norwegia). Sayangnya, dalam buku ini yang diulas secara detail hanyalah pemikiran Tinbergen (hal.3-10). Tinbergen adalah salah satu ekonom yang pemikirannya kental dengan nuansa sosialis. Ia turut berandil besar dalam restrukturisasi ekonomi Belanda paska-Perang Dunia II. Sepanjang hayatnya, ia selalu menelurkan pemikiran yang berusaha memperkecil ketimpangan di antara negara maju yang berada di utara dan negara berkembang (miskin) di selatan. Namun, justru karena terobosannya dalam ekonometri, Tinbergen menerima Nobel Ekonomi bersama Frisch. Jan Tinbergen mampu menggunakan angka-angka untuk mengukur perkembangan ekonomi dan dikaitkan dengan tindakan-tindakan politik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain itu, Tinbergen telah meletakkan suatu konsep penting dalam ranah ilmu ekonomi, yaitu teori konvergensi. Melalui teori ini, Tinbergen menunjuk pada dua arah. Pertama, ekonomi bukanlah ilmu yang bisa berdiri sendiri namun harus berdampingan dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya. Bahkan ia mengatakan bahwa keadilan sebagai tujuan sistem ekonomi hanya dapat ditegakkan jika moral juga diikutsertakan dalam pembangunan ekonomi. Kedua, Tinbergen melakukan analisa yang cukup meyakinkan bahwa sejak masa-masa awal keruntuhan komunisme dan bangkitnya kapitalisme yang tersisa adalah gabungan sistem ekonomi dari dua ideologi besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di kemudian hari, dua arah pemikiran Tinbergen ini sama-sama berkembang dengan jalannya sendiri. Para tokoh yang menerima Nobel Ekonomi setelahnya adalah ekonom yang membina keahlian pada salah satu dari dua bidang ilmu ekonomi itu. Untuk itu tepatlah sudah ketika Nobel Ekonomi dianugerahkan pertama kali kepada Tinbergen.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ilmu ekonomi—walau pernah “divonis mati” oleh Paul Ormerod karena terlalu matematis—tetaplah ranah yang menjadi titik tolak keberangkatan suatu masyarakat menuju kejayaan maupun kehancuran. Maka dari itu, tak aneh jika pemikiran macam Douglas C. North dan Robert W Fogel (pemenang Nobel Ekonomi 1993), Amartya Sen (1998), Joseph E Stiglitz (2001) turut pula mewarnai pemahaman kita soal ilmu ekonomi. Ternyata klaim Ormerod bisa kita maknai sebagai palu godam yang menghantam “jantung matematis” ilmu ekonomi yang terlalu kaku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Douglas C. North dan Robert W. Fogel meletakkan pemikiran ekonomi yang diintegrasikan dengan ilmu sejarah. Hal inilah yang dianggap melanggar tradisi pemberian Nobel Ekonomi, karena peraih penghargaan tersebut sebelumnya adalah para ekonom yang berkecimpung di bidang ilmu ekonomi murni (hal.59-60). Pemikiran dua tokoh itu cukup segar dan meyakinkan; perkembangan ekonomi suatu negara akan sangat bergantung pada kondisi pranata sosial (North) dan perubahan-perubahan teknis yang dilakukan oleh suatu organisasi ekonomi (Fogel). Bahkan, Fogel—melalui hasil penelitian bertahun-tahun—dengan tegas menyatakan bahwa nasib pekerja pada masa perbudakan yang terjadi di Amerika tidak lebih jelek ketimbang pada era ‘pekerja bebas’ seperti saat ini (hal.63-64).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kejutan dalam penganugerahan Nobel Ekonomi kembali berlanjut di tahun 1998. Padahal, sepuluh tahun sebelumnya, Amartya Sen pernah diremehkan oleh salah satu panitia penganugerahan Nobel Ekonomi. “Dr. Sen tidak akan pernah mampu meraih Hadiah Nobel. Ia terlalu banyak memasukkan masalah-masalah nilai dalam karya penelitian ekonominya”, demikian alasan si panitia (hal.124). Namun Sen justru meraih Hadiah Nobel karena kesetiaannya mendedahkan fakta-fakta sosial-ekonomi yang dikaitkan dengan moral dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Amartya Sen selalu berpihak pada kaum papa dalam setiap penelitian yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ilmu ekonomi adalah bidang yang tidak saja bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan suatu masyarakat, perangkat analisa ekonomi seharusnya turut pula menciptakan perdamaian. Terpilihnya Joseph E Stiglitz pada tahun 2001 kiranya makin menegaskan bahwa ilmu ekonomi bukanlah sekadar permainan angka dalam kebijakan makro dan mikro ekonomi semata. Stiglitz kita kenal sebagai sosok yang selalu bersuara lantang menentang kebijakan ekonomi-politik yang menafikkan unsur perdamaian—seperti invasi Amerika terhadap Irak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini juga dilengkapi dengan pemikiran beberapa ekonom yang pernah menjadi kandidat Hadiah Nobel, seperti Hernando de Soto (Peru), Constantino Tsallis (Yunani/Brazil), Louis Bachelier (Perancis). Pada bagian Kata Pengantar, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti mampu menutupi kekurangan buku ini, yaitu dengan menelisik ilmu ekonomi sampai ke akar filsafat Hegel dan Marx serta pemikiran revolusi saintifik milik Thomas Khun. Walhasil, buku ini tidak saja cocok dibaca oleh individu atau lembaga yang bergelut di ranah ekonomi saja.(*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-3867458932490262031?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/3867458932490262031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=3867458932490262031&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3867458932490262031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3867458932490262031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/02/hallloooo.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R6wUuXRFJzI/AAAAAAAAAHU/5s_0Tdax6_I/s72-c/Sampul+Buku+Esai-Esai+Nobel+Ekonomi3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-9016606694500885400</id><published>2008-01-28T00:47:00.000+07:00</published><updated>2008-01-28T01:13:06.201+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Selamat Jalan Senyum...&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya akan catat kepergian Bapak Soeharto (Presiden RI Ke-2 [versi umum]). Akan saya ingat senyumnya...&lt;br /&gt;Dan entahlah, ini kebetulan atau bukan. Hari Minggu (27 Januari 2008), beberapa koran memilih tulisan-tulisan bertema Soeharto untuk dimuat, padahal sekarang hari Minggu--dikenal sebagai hari lembar budaya dan buku (he2). Ada Jawa Pos yang memuat &lt;a href="http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&amp;amp;id=323439"&gt;tulisan M Shoim Anwar&lt;/a&gt;. Ada Suara Pembaruan yang mempublikasi &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/News/2008/01/27/Buku/buku01.htm"&gt;resensi buku tentang rezim Soeharto&lt;/a&gt;. Oiya, Koran Tempo juga menurunkan resensi buku soal "Rumah Penyiksaan" di era Soeharto (Orde Baru)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto sakit sudah 24 hari sebelumnya...tapi mengapa, baru pada tanggal 27 Januari 2008, koran-koran itu menurunkan tulisan tentangnya di edisi Minggu? Percaya klenik? Ah, katanya itu syirik...tapi saya membahas soal itu untuk skripsi...Mungkin saja, ini kebetulan, sebuah salam perpisahan dari Pak Harto kepada pembaca koran Minggu...&lt;br /&gt;Saya lalu ingat kata-kata Tagore, yang kira-kira begini bunyinya:&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;Jika kau sudah tiada...Jangan cari nisanmu di pekuburan...Tapi carilah di hati orang-orang yang kamu tinggalkan dan mereka yang hidup setelah kamu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya tidak akan membuat catatan panjang untuk Pak Harto...tiap kita berhak mengenang beliau dalam ragam gaya, cara dan karya...serta tentu saja rasa...&lt;br /&gt;Saya ingat, saya tersenyum sebentar setelah menerima sandek ke telepon seluler saya pada Minggu siang sekira pukul 13.30 yang berisi kabar wafatnya Pak Harto...Saya senyum karena saya ingat ucapan Ibu saya soal orang yang menghadapi penyakit hebat dan berat hingga sulit dibuat sembuh secara cepat..."&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;Lebih baik memang meninggal saja, daripada merepotkan keluarga...Tapi semua terserah Tuhan...Dia yang akan mengambil kita...Kita hanya berusaha semampu mungkin berusaha memperlambat panggilan itu...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woops...masih terlalu panjang...baiklah, habis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;Selamat Jalan Jenderal...Tenang saja, kau pasti kami kenang...&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-9016606694500885400?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/9016606694500885400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=9016606694500885400&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/9016606694500885400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/9016606694500885400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/selamat-jalan-senyum.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5543973971205689567</id><published>2008-01-21T01:08:00.000+07:00</published><updated>2008-01-21T01:22:45.407+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R5OQx_JFIZI/AAAAAAAAAGc/-hlRkltoDoo/s1600-h/IMG1668A.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157625186706858386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R5OQx_JFIZI/AAAAAAAAAGc/-hlRkltoDoo/s320/IMG1668A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Duka Perempuan Afghanistan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;::dipublikasi di Harian Seputar Indonesia (Minggu; 20 Januari 2008)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;A Thousand Splendid Suns&lt;/strong&gt; adalah novel kedua yang ditulis Khaled Hosseini. Internis (dokter ahli penyakit dalam) kelahiran Afghanistan yang kini menetap di Amerika Serikat tersebut pertama kali menerbitkan novel berjudul Kite Runner (2003). Sejumlah prestasi ditorehkan oleh novel pertamanya; terjual lebih dari 8 juta kopi di seluruh dunia, diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dan lebih dari 2 tahun bertengger di daftar New York Times bestseller. Atas alasan itulah kiranya, Penerbit Qanita kembali menerbitkan terjemahan novel kedua karya Hosseini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier menulis Khaled Hosseini benar-benar tak bisa dilepaskan dari Kite Runner. Berkat karya pertamanya itulah, ia menjadi duta besar keliling dari UNHCR (Ruang Baca Koran Tempo; 30 Mei 2007). Ia mengunjungi Afghanistan dan sejumlah negara yang sedang didera konflik. Atas pengalaman itulah, maka A Thousand Splendid Suns ditulis sangat serius oleh Hosseini. Selama di Afghanistan, ia mewawancarai sejumlah perempuan untuk dijadikan bahan dasar dalam mengarang novel keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar mengingat, Kite Runner terbit dalam terjemahan bahasa Indonesia pada tahun 2006 (oleh Penerbit Qanita). Artinya, ada jarak sekira 3 tahun sejak novel itu terbit dalam versi aslinya di Amerika Serikat. Sementara itu, A Thousand Splendid Suns terbit pertama kali pada 22 Mei 2007 di Eropa dan Amerika Serikat. Terjemahan dalam bahasa Indonesia terbit lima bulan kemudian, yaitu pada November 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi, cepatnya novel kedua Hosseini beredar dalam bahasa Indonesia karena terpengaruh prestasi yang direngkuh oleh Kite Runner. Bahkan, pada sampul bagian belakang dari A Thousand Splendid Suns tertera torehan prestasi dari novel pertama Hosseini tersebut. Nampaknya, Penerbit Qanita masih belum terlalu yakin bahwa novel kedua Hosseini akan disambut baik oleh pembaca buku di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat menulis yang dimiliki oleh Hosseini dalam A Thousand Splendid Suns benar-benar terpancar kuat. Ia mampu menghadirkan lukisan Afghanistan dengan nilai-nilai lokalitasnya. Maka dari itu, dalam novel ini, kata-kata khas yang digunakan oleh masyarakat Afghanistan untuk menyebut benda, tempat atau masakan sangat sering nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu fungsi dari penerjemahan karya sastra asing ke bahasa Indonesia adalah sebagai wahana bertukar informasi kebudayaan. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah jika kata-kata khas lokalitas dalam karya sastra terjemahan dibubuhi semacam keterangan oleh penerjemah. Hal ini tidak terdapat dalam A Thousand Splendid Suns versi bahasa Indonesia. Begitu banyak kata dalam bahasa Afghanistan yang tidak diberi keterangan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua kemungkinan terkait hal ini. Pertama, penerjemah sengaja membiarkan hal itu terjadi karena ingin memberikan nuansa asli yang dilukiskan oleh si penulis. Tetapi, alasan ini justru menjadi ganjil jika diajukan oleh penerjemah. Sebab nuansa dari karya sastra justru bisa dirasakan oleh pembaca tatkala ada kesepahaman makna pada tiap kata. Kedua, penerjemah memang malas mencari keterangan mengenai kata-kata berbahasa Afghanistan yang ada di novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu lima bulan untuk menerjemahkan karya Hosseini tersebut, kiranya menunjukkan bahwa penerjemah tidak malas. Namun, terlihat sekali bahwa novel kedua Hosseini yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini hadir dengan semangat yang terlalu tergesa. Hingga penerjemah abai pada hal mendasar terkait karya sastra yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik Indonesia patut membentangkan tangan selebar-lebarnya untuk menyambut novel kedua Khaled Hosseini. Tentu saja bukan sekadar disebabkan bahwa Hosseini adalah lelaki asli Afghanistan, hingga memiliki kesamaan benua dan agama dengan mayoritas penduduk Indonesia. Lebih jauh, Hosseini mampu melukiskan pengorbanan seorang perempuan dengan tamsil yang sama dengan persepsi masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa kasih seorang perempuan (ibu) diibaratkan oleh masyarakat Indonesia? Pada bait lagu kanak-kanak kita temukan jawabannya; “Kasih ibu kepada beta...hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Seperti itu jualah Hosseini melukiskan sosok tokoh utama dalam A Thousand Splendid Suns.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaled Hosseini mampu meracik dengan apik cerita tentang perempuan Afghanistan yang dikungkung oleh kekuasaan pada level masyarakat dan negara. Dengan cukup detail, Hosseini menggambarkan penderitaan kaum perempuan di bawah otoritas adat yang berlaku di Afghanistan. Namun, penggambaran itu jauh sekali dari nada pemberontakan—yang umum kita temui dalam karya sastra bergenre feminis. Hosseini mampu menghadirkan sebuah thick description melalui emosi yang diolah dengan baik pada tiap tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua tokoh perempuan dalam novel ini. Mariam adalah seorang anak yang selalu menerima perbedaan versi sejarah mengenai muasal diri dan ayahnya. Nana (ibu Mariam) adalah seorang pembantu dari keluarga besar Jalil Khan. Ia dihamili oleh Jalil dan kemudian lahirlah Mariam. Namun, karena Nana berasal dari kalangan miskin dan hina, keluarga Jalil tidak mau menerima kehadirannya. Walau adat di Afghanistan memperbolehkan lelaki mengumpulkan istrinya pada satu atap. Nana selalu membicarakan Jalil dalam nada negatif kepada Mariam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, Jalil Khan adalah ayah yang baik bagi Mariam. Ia tetap mengunjungi Mariam seminggu sekali. Kisah hidup Mariam berangsur pilu saat Jalil membawanya ke rumah keluarga besarnya. Mariam dipaksa menikah dengan Rasheed pada usia 15 tahun. Jalil yang selama ini mendapat kesan positif di mata Mariam sontak berubah. Kemudian Mariam harus menerima nasib laiknya kebanyakan perempuan Afghanistan. Rasheed menikah lagi dengan Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Mariam, Laila adalah sosok perempuan terpelajar. Awalnya, Mariam tidak menyambut kehadiran Laila sebagai istri Rasheed. Namun, setelah anak pertama Laila lahir, hubungan mereka kian dekat. Mariam dan Laila dilukiskan oleh Hosseini sebagai dua matahari yang terus bersinar dalam kondisi mendung sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan kaum perempuan Afghanistan menemukan semacam oase pencerahan tatkala rezim komunis Uni Soviet mampu berkuasa di negeri itu. Sekolah-sekolah mulai menerima kaum perempuan. Burqa (penutup tubuh yang tebal dan menyeluruh) tak lagi harus digunakan saat perempuan berada di luar rumah. Namun, rezim komunis memerintah Afghanistan dengan tangan besi. Segi-segi lokalitas Afghanistan dibabat habis. Kaum kaya dimiskinkan dalam drama yang sungguh menyedihkan sebagaimana dituliskan oleh Hosseini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring keruntuhan Uni Soviet, Taliban memenangkan pertarungan dengan rezim komunis di Afghanistan. Namun masyarakat Afghanistan mengalami masa kelam yang sama mencekamnya seperti saat dikuasai oleh rezim komunis. Taliban menerapkan aturan yang sangat ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hosseini dengan sangat rapi merekam harapan-harapan masyarakat Afghanistan ketika masih berada dibawah kuasa rezim komunis dan Taliban berikut kekecewaan yang akhirnya mereka alami. Maka dari itu, novel ini lebih menekankan bahwa kesalahan suatu rezim muncul karena individu yang berada didalamnya bukan karena sumber ajaran yang digunakan oleh rezim itu untuk memerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hosseini dengan cukup melankolik menggambarkan perjuangan yang sederhana dari Mariam dan Laila untuk terus hidup walau badai masalah tak kunjung selesai mendera mereka. Pesan utama dari novel ini yaitu penderitaan yang dirasakan oleh kaum perempuan dibawah kungkungan rezim atau masyarakat yang tertutup adalah pula kejahatan terhadap kemanusiaan. Khaled Hosseini mampu menuliskan kisah Mariam dan Laila dengan gaya yang sangat filmis. Hingga pembaca bisa dipastikan tiada pernah bosan untuk menkmati novel ini dalam satu kali pembacaan tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat alur kisah yang sungguh menawan dalam novel ini, kita bisa melihat bahwa Hosseini telah laik untuk menanggalkan prestasi yang diraihnya melalui Kite Runner. Lebih jauh, saya yakin bahwa karya kedua Hosseini dalam bahasa Indonesia ini akan naik cetak lagi pada tahun-tahun kedepan. Maka dari itu tak ada salahnya jika mulai sekarang, penerjemah novel ini mencari makna kata-kata dalam bahasa Afghanistan yang belum dibubuhkan keterangan sama sekali. Tentu saja agar pembaca dapat makin meresapi pesan kemanusiaan berlatar-kisah Afghanistan yang disampaikan Hosseini dalam buku ini.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5543973971205689567?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5543973971205689567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5543973971205689567&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5543973971205689567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5543973971205689567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/duka-perempuan-afghanistan-thousand.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R5OQx_JFIZI/AAAAAAAAAGc/-hlRkltoDoo/s72-c/IMG1668A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-7990307576453901270</id><published>2008-01-16T15:01:00.000+07:00</published><updated>2008-01-16T15:11:34.351+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bersuara Tidak Untuk Kekerasan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;&lt;em&gt;::dipublikasi di Harian Radar Jember (16/01/2008)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 28 Januari 2007, Jember akan kedatangan seorang tamu yang cukup istimewa. Ia adalah Inu Kencana, sosok kontroversial terkait sejumlah kasus kekerasan yang terjadi di Insitut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)—dulu STPDN. Ketika mayoritas staf pengajar di almamaternya mengunci mulut, Inu justru bersuara lantang soal perilaku kekerasan yang menyeruak di IPDN. Tak sedikit pujian disematkan kepadanya sebagai ‘peniup peluit’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, caci-maki juga kerap menghampiri Inu. Ia dinilai sebagai sosok yang hanya mencari sensasi untuk kepentingan pribadi. Setelah beberapa bukunya yang mengulas tuntas kekerasan di IPDN terbit, keyakinan negatif banyak pihak yang sentimen kepadanya pun makin menjadi-jadi. “Oalah..pengen nulis buku toh rupa-rupanya”, banyak yang berkomentar demikian. Padahal Inu telah menerbitkan sejumlah buku tentang administrasi pemerintahan di masa lampau. Bahkan, Inu pernah dikejar-kejar oleh anak didiknya di IPDN yang berjenis kelamin perempuan setelah ia menyiarkan bahwa di IPDN marak terjadi kasus abortus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan itu, mungkin, bagai cendawan di musim hujan. Bisa tumbuh di pelbagai tempat yang memberinya peluang. Media massa telah memberi kabar kepada kita; ada guru memukul muridnya, suami menyiram air raksa ke tubuh istrinya sampai seorang anak yang tega membunuh ibu kandungnya. Kekerasan mampu menerabas batas status ekonomi, tingkat pendidikan bahkan suku dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, saya sering terkaget-kaget saat mendengarkan cerita beberapa perempuan yang menolak menikah karena takut mengalami KDRT. Kekerasan tidak hanya meninggalkan bekas fisik semata. Gegar pada sisi psikologis ternyata bersifat massal—tidak hanya dialami oleh korban kekerasan semata.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya juga sering mesem-mesem saat beberapa teman di luar negeri—yang saya kenal via online di internet—berkomentar miring tentang Islam dan Indonesia karena maraknya kasus terorisme. Saya tak mampu marah dalam menjawab komentar yang dikirim lewat e-mail itu. Biasanya, saya selalu menyitir aforisma milik penyair asal India Rabindranath Tagore: “Apabila engkau menutup pintumu bagi semua kesalahan, bagaimana kebenaran hendak masuk?”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kekerasan akan bersemi dengan subur pada kelompok yang serba tertutup. ‘Pihak luar’ dan ‘pihak dalam’ tidak bisa dengan mudah mengakses dan memberi informasi tentang segala hal yang berlangsung di dalam kelompok tersebut. Kesetaraan dan kebebasan dalam memperoleh informasi adalah kunci untuk membentuk masyarakat yang minim melakukan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal tersebut tentu saja disebabkan karena kekerasan pun memiliki pelbagai tafsir. Kita masih ingat betul ketika kasus kekerasan di IPDN mulai terdengar oleh publik, ada ‘pihak dalam’ dari kampus tersebut yang berkomentar bahwa hal itu adalah biasa. Alasannya, kekerasan diperlukan untuk melatih fisik dan disiplin para mahasiswa di IPDN. Namun Inu Kencana berada satu jalur dengan nalar publik di luar IPDN. Senior yang menerjang perut yunior adalah kekerasan dan tidak laik terjadi di kampus terhormat seperti IPDN.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi, tidak seluruh mahasiswa IPDN melakukan kekerasan, toh? Demikian juga berlaku pada istri yang mengalami KDRT. Tidak semua laki-laki (baca: suami) berperilaku keras pada perempuan. Dan mayoritas umat Islam (juga rakyat Indonesia) menolak dengan tegas pelbagai bentuk terorisme.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Api tidak akan cepat padam jika dilawan dengan api. Hanya guyuran air yang sanggup menumpaskan nyala api. Kekerasan hanya akan mampu dihilangkan dengan kebebasan menyebarkan dan memperoleh informasi oleh ‘pihak dalam’ dan ‘pihak luar’ dari suatu kelompok. Inu Kencana tidak sendirian melawan praktik kekerasan di IPDN. Ia menulis buku dan berkomentar di media massa hingga publik pun dilibatkan dalam usahanya menghapus kekerasan di kampus terhormat yang ada di Jatinangor itu. Inu melakukan itu bukan karena ingin jadi pahlawan. Tapi karena ia memiliki keberanian untuk mengungkap kebobrokan almamaternya. Lebih jauh, kita bisa melihat perilaku Inu sebagai perwujudan rasa cinta kepada kampusnya. Cinta Inu Kencana bukanlah cinta buta yang membuatnya berdiam diri pada praktik kekerasan di IPDN.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Para istri yang sering disakiti suami—baik lahir maupun batin—jangan menutup mulut dengan alasan cinta kepada suami. Demikian pula para murid yang pernah dipukul oleh gurunya. Contohlah keberanian Inu Kencana menginformasikan perilaku tidak terhormat yang kerap berjalan di IPDN. Konon, kini kampus di Jalan Raya Sumedang-Jatinangor itu tengah berbenah diri. Inu Kencana sang peniup peluit itu nampaknya mampu merangsang perbaikan di IPDN.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhirnya, karena kekerasan tak bisa jauh dari silang tafsir yang beragam, maka masyarakat yang senantiasa berusaha menghapusnya haruslah menjadikan dialog sebagai dasar berinteraksi. Oleh karena itu, usaha menghapus kekerasan harus pula dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan dalam masyarakat. Hal tersebut tentu saja adalah rangka untuk mencapai kesetaraan dalam dialog. Masyarakat yang selalu memperbaiki diri dengan dialog adalah kumpulan individu yang bersuara “tidak” untuk kekerasan.(*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-7990307576453901270?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/7990307576453901270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=7990307576453901270&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7990307576453901270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7990307576453901270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/bersuara-tidak-untuk-kekerasan.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-3345434100475736371</id><published>2008-01-15T14:50:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T15:05:50.633+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Cerita Inspiratif Dari N Mursidi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[&lt;span style="font-size:85%;color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;Saat berjalan-jalan di jejaring internet, saya membaca kisah dibawah ini. Setelah minta ijin kepada penulisnya, saya pasang kisah tersebut di blog ini. Tentu saja, karena kisah yang ditulis oleh &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://n-mursidi.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;N Mursidi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt; ini sangat inspiratif. Judul asli kisah tersebut adalah "Honor Haram Sebuah Tulisan".&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;SEBULAN lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2007 aku mendapatkan kabar mengejutkan dari rumah. Sebuah sms aku terima dari kakakku, yang mengabarkan bahwa aku mendapat kiriman wesel yang dialamatkan ke rumah untuk honor sebuah cerpenku yang telah dimuat --beberapa bulan lalu-- di koran Minggu Republika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sontak, aku terkejut, kaget dan nyaris tidak percaya. Setidaknya, ada tiga alasan yang membuatku tak percaya. Pertama, sejak aku hijrah ke Jakarta tiga tahun yang lalu, aku tak pernah mendapat wesel atau transfer untuk honor cerpenku yang dimuat di Republika. Sebab setiap kali ada cerpenku yang dimuat di Republika, esok harinya atau beberapa hari kemudian aku langsung mengambil ke kantor Republika -karena jika tak diambil langsung, honor lama ditransfer. Jadi, tak mungkin kalau honor untuk cerpenku dikirimkan oleh bagian keuangan Republika ke alamat rumah karena honor cerpen-cerpenku sudah aku ambil semua.Kedua, selama sebelas tahun aku menulis ke beberapa media --entah itu cerpen, resensi buku, opini atau esai sastra-- aku tidak pernah mencantumkan alamat untuk identitasku dengan memakai alamat rumah (Lasem, Rembang, Jateng) melainkan alamat Yogyakarta, karena aku dulu kuliah di Yogyakarta dan setelah aku hijrah ke Jakarta tiga tahun lalu, aku pindahkan ke alamat Jakarta. Jadi, bagaimana mungkin bagian keuangan Republika kemudian mengirimkan wesel untuk honor cerpenku itu ke rumah? Jelas, itu mustahil!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketiga, aku mengira kakakku iseng belaka saat mengirim sms itu, untuk sekadar menyindirku. Karena pada bulan Desember itu aku memang belum mengirim uang buat ibuku di rumah. Padahal, aku sudah berjanji akan mengirim uang satu juta untuk menutupi utang-utang ibuku yang harus aku bayar (yang belum lunas juga meski sudah aku cicil sejak aku kerja di Jakarta tiga tahun lalu) dengan harapan agar utang tersebut bisa segera lunas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi aku segera menepis keraguanku itu. Pasalnya, aku yakin kakakku tak mungkin berbuat jahat untuk sekadar membohongiku. Apalagi, selama ini aku tidak pernah menemui kakakku berani berhohong kepadaku, untuk urusan uang yang kukirim buat ibu ke rumah. Toh, ia (yang sejatinya) sebagai kakak tertua dan punya tanggung jawab besar untuk membantu ibu, justru tak pernah membantu untuk melunasi utang ibuku karena kakakku memang masih menganggur dan terkena penyakit yang membuatnya tak bisa berbuat banyak untuk bisa mencari uang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi bagaimana jika kakakku benar-benar bohong dan iseng menggodaku tentang kiriman wesel dari koran Republika itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Honor Haram&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebersit pertanyaan itulah, yang kemudian menggerakkanku untuk segera memencet nomor hp kakak-ku. Tidak lama kemudian, suara kakakku dari seberang terdengar. Tak perlu basa-basi, aku segera melontarkan pertanyaan, "Apa benar aku telah mendapat wesel dari koran Republika?"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Justru itulah yang ingin kutanyakan padamu! Pasalnya, selama ini kau tak pernah sekali pun mendapatkan wesel untuk honor cerpenmu yang dikirim ke rumah?""Sampai kapan pun hal itu jelas tak akan terjadi. Karena jika dikirim pun pasti akan ditransfer lewat rekeningku, atau kalau diweselkan pasti akan dikirim ke alamat kots-ku di Jakarta," jelasku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tetapi kali ini hal itu benar-benar terjadi. Dan wesel tersebut kini berada dalam genggamanku," bantah kakakku tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bagaimana mungkin honor tersebut bisa dikirim ke rumah?"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku yang seharusnya bertanya padamu bagaimana hal ini bisa terjadi?"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ok! Biar nanti aku hubungi bagian keuangan Republika tetapi sekarang aku butuh keterangan untuk tanggal pemuatan cerpenku itu."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hanya ada keterangan untuk honor cerpenmu 7 Juli 2007."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Telepon kukutup. Sejurus kemudian, aku segera melacak cerpen-cerpenku yang pernah dimuat di harian Republika. Anehnya, setelah aku lacak, ternyata tanggal 7 Juli 2007 itu jatuh hari Sabtu. Jadi tak mungkin honor yang dikirim ke rumah itu adalah honor untuk cerpenku karena pemuatan cerpen hanya di hari Minggu saja. Di sisi lain, honor untuk cerpenku yang dimuat di Republika juga sudah kuambil semua ke kantor redaksi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhirnya, aku berkesimpulan jika honor itu adalah "honor haram" untuk sebuah tulisan(ku).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Ujian dari Tuhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak ingin mendapatkan honor haram, karena honor-honor cerpenku sudah dibayar semua oleh koran Republika, maka aku mengirim sms ke pak Tito (bagian keuangan di Republika yang selalu memberiku surat pengantar pencairan honor). Dalam sms itu, kuceritakan bahwa aku sudah menerima semua honor cerpenku yang dimuat di koran Republika, tapi kenapa tiba-tiba dibayar lagi lewat wesel dan anehnya dikirim ke alamat rumah?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak lama kemudian pak Tito membalas sms-ku bahwa honor untuk cerpenku ternyata dikirim ulang. Jadi aku mendapatkan honor ganda untuk sebuah tulisan cerpen. Dengan meminta maaf, pak Tito memintaku untuk mengembalikan honor itu dan aku tidak keberatan untuk mengembalikannya. Maka, aku segera mengirim sms pada kakakku untuk mengembalikan wesel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sehabis mengirim sms, aku hanya tercenung. Kenapa honor untuk cerpen itu bisa dikirim lagi? Kenapa koran Republika mengirim honor melalui wesel ke alamat rumah bukan ke alamatku Jakarta? Ada apakah di balik kejanggalan wesel yang dikirim ke rumah tersebut?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terus terang, aku tak punya jawaban pasti. Tetapi, aku tak memungkiri kalau honor itu adalah satu ujian dari Allah untuk "menguji" kejujuranku. Dan itu terjadi saat aku sedang tidak punya uang padahal sudah terlanjur berjanji pada ibuku untuk mengirim uang. Tetapi, aku yakin suatu hari nanti Allah akan mengganti honor haram itu dengan honor yang halal. Aku juga yakin, Allah akan mengganti honor cerpenku (yang cuma Rp 400.000) itu dengan "honor halal" yang berlipat dan bahkan bisa jadi datangnya juga tak kusangka-sangka. Karena, aku tak memiliki keraguan bahwa Allah itu Maha Kaya dan Maha Pemurah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seminggu kemudian, apa yang kuyakini ternyata menjadi kenyataan. Aku hanya terhenyak kaget saat menjumpai dua tulisan-ku tiba-tiba muncul di media massa. Lebih aneh lagi, dua tulisanku itu nyaris tidak pernah kuprediksi akan dimuat karena memang sudah lama tidak ada kabar (untuk pemuatan kedua tulisan tersebut). Sungguh, di luar dugaanku!***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Ciputat, 11 Januari 2008&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-3345434100475736371?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/3345434100475736371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=3345434100475736371&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3345434100475736371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3345434100475736371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/cerita-inspiratif-dari-n-mursidi-saat.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-9222678304974745558</id><published>2008-01-10T18:05:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T18:06:31.647+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Selamat Tahun Baru Hijriah (Yang selalu sepi...)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-9222678304974745558?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/9222678304974745558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=9222678304974745558&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/9222678304974745558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/9222678304974745558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/selamat-tahun-baru-hijriah-yang-selalu.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-6150521305147941734</id><published>2008-01-07T22:43:00.000+07:00</published><updated>2008-01-07T23:57:37.558+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152761917928186210" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 194px; CURSOR: hand; HEIGHT: 220px" height="256" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R4JJqfJFIWI/AAAAAAAAAGE/CSCOrpAQLX8/s320/Sampul+Buku+Jendela+Bandungedit.jpg" width="212" border="0" /&gt;&lt;strong&gt;Bandung Dalam Coretan Seorang Jurnalis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau seorang jurnalis media cetak menulis buku, itu bukan hal yang aneh. Sebab, pekerjaan yang dilakoni setiap hari olehnya adalah menulis. Namun, jika seorang ‘kuli tinta’ menulis satu buku yang merangkum tiga babak sejarah dari sebuah kota, barulah istimewa. Kita akan melihat Her Suganda sebagai jurnalis media cetak dalam kadar yang istimewa dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bekerja sebagai seorang jurnalis bagai hidup dibawah todongan pistol bernama deadline. Maka tak jarang jurnalis hanya mengerti suatu peristiwa (secara detail) yang terjadi setelah ia mulai resmi bekerja. Ini adalah hal yang wajar sebab media massa umumnya hanya memberitakan yang hari ini terjadi. Dengan kata lain, sangat sedikit jurnalis yang mau bersusah payah mengorek sejarah di masa lampau pada tiap sudut kota tempat ia memburu berita.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Her Suganda (Hers) terlihat sangat teguh mengorek sejarah yang bersemayam di Kota Bandung. Ia adalah seorang jurnalis yang ‘merangkap’ sejarawan. Melalui kumpulan tulisan dalam buku ini, ia menempatkan diri sebagai jurnalis yang tidak hanya berusaha memberitakan peristiwa kekinian namun sangat setia pula menambah pengetahuan tentang sejarah. Di tangan Hers, sejarah bukanlah benda mati yang diceritakan secara menjemukan. Tepat sekali pilihan gaya tulis model features yang dipakainya untuk menulis tentang Kota Bandung dari masa ke masa dalam buku ini. Sebab tulisannya sangat mengalir dan membuat kita tidak bosan ketika membacanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Clifford Geertz pernah mengutarakan perihal kerja seorang jurnalis yang berhimpitan dengan kegiatan seorang peneliti. Menurutnya, sangat penting bagi seorang jurnalis untuk tidak sekadar memberitakan (atau menceritakan) suatu peristiwa. Tetapi, seorang jurnalis harus mampu menggambarkan secara detail suasana ketika peristiwa itu berlangsung hingga seolah tulisan itu sendiri yang bercerita kepada pembaca (bukan si jurnalis yang menuliskannya). Tulisan Hers tentang Kota Bandung yang berjumlah 59 buah dalam buku ini mampu memenuhi kriteria Geertz tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada tiga babak sejarah dari Kota Bandung yang ditulis oleh Hers dalam buku ini. Pertama, pada masa pra-sejarah yang menonjolkan dongeng Sangkuriang dalam cakupan yang detail dengan bukti-bukti sejarah yang masih ada sampai saat ini. Bagian ini juga mengulas kehidupan zaman batu yang pernah hidup di area Kota Bandung. Kedua, Bandung di era kolonial, pada babak ini, Hers dengan cukup lengkap mengulas evolusi Kota Bandung dengan segala pernak-perniknya ketika dikuasai oleh Belanda. Pada bagian ketiga, Hers mengulas Kota Bandung masa kini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kota Bandung yang eksotis membuat setiap orang yang pernah mengunjunginya selalu ingin kembali lagi. Hers mengungkapkan, bahwa hal seperti ini merupakan perasaan yang telah ada sejak masa lalu. Maka tak salah jika MAW Brouwer berkata; “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Tanah Priangan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;” (hal.53).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada juga cerita tentang Jalan Braga yang ditulis Hers dengan sangat indah. Ia menceritakan secara lengkap nuansa jalan sepanjang satu kilometer itu dari masa ke masa (hal.166-182). Jalan Braga pada mulanya adalah jalan yang digunakan untuk menjadi penghubung gudang kopi milik Andries de Wilde. Hingga jalan itu dijuluki Karrenweg (jalan pedati) sebab hanya dilewati gerobak yang ditarik dengan kerbau dan saat musim hujan akan sangat becek. Jalan Braga juga sempat disebut Jalan Culik karena di pinggirannya terdapat banyak pohon besar yang memberi kesan seram. Dulu, para ibu sering menakut-nakuti anaknya; jika nakal akan dibuang ke jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebuah kota akan selalu berubah. Hingga rentan membuat para penghuninya mengalami amnesia sejarah. Apalagi, Kota Bandung yang selalu menerima ribuan pendatang tiap tahun. Kehidupan modern yang berbalut budaya kosmopolitan bisa mengikis identitas Kota Bandung pada masyarakat sekarang dan yang akan datang. Buku ini adalah suatu usaha yang patut diapresiasi untuk menghindari kondisi amnesia sejarah dan pengikisan identitas khas bagi masyarakat Bandung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain itu, buku ini juga sangat berguna bagi pendatang atau orang yang masih ingin mengunjungi Bandung. Hers memberikan ‘bonus’ berupa informasi tentang tempat-tempat menarik yang bisa kita kunjungi di Kota Kembang. Buku ini—sungguh—adalah sebuah sajian sejarah, wisata dan budaya Kota Bandung dalam bingkai jurnalistik nan rancak. Sangat sayang untuk tidak dibeli jika kita sedang berada di toko buku.(*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-6150521305147941734?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/6150521305147941734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=6150521305147941734&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6150521305147941734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6150521305147941734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/bandung-dalam-coretan-seorang-jurnalis.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R4JJqfJFIWI/AAAAAAAAAGE/CSCOrpAQLX8/s72-c/Sampul+Buku+Jendela+Bandungedit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-7323280935550200777</id><published>2008-01-06T17:38:00.000+07:00</published><updated>2008-01-12T23:07:54.338+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dangdut Kata-Kata Ala Putu Wijaya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;::dipublikasi di Media Indonesia (Sabtu; 12 Januari 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R4Cv8vJFIVI/AAAAAAAAAF8/k_S_ZhZyLds/s1600-h/Sampul+Novel+Nora.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152311431693410642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 241px; CURSOR: hand; HEIGHT: 378px; TEXT-ALIGN: center" height="392" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R4Cv8vJFIVI/AAAAAAAAAF8/k_S_ZhZyLds/s400/Sampul+Novel+Nora.jpg" width="249" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Kalau kehidupan ditamsilkan sebagai lautan, maka yakinlah ombaknya tak akan pernah tuntas menggoyang perahu kita. Tiba-tiba perahu oleng ke kiri atau miring ke arah kanan. Namun tak selamanya kondisi perahu yang mabuk karena ombak itu bikin kita mual dan muak. Perahu yang digoyang ombak itu kadang menghadirkan gelak tawa dan kian menghidupkan nyawa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang irasional tak jarang tumpang-tindih dengan wilayah rasional dalam kehidupan ini. Perilaku yang lumrah kadang hanya berbeda ‘satu milimeter’ dengan kelakuan yang ganjil. Itulah pernak-pernik hidup yang senantiasa tidak berada di jalur serba lurus ini. Putu Wijaya, dalam pandangan saya, adalah sosok yang selalu mengusahakan terangkumnya rupa-rupa tanda kehidupan dalam karyanya. Kewajaran, keanehan, kegembiraan, kemurungan bisa muncul secara bergantian atau bersama-sama dalam tulisan Putu Wijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putu Wijaya menyebut karyanya sebagai teror mental. Pembaca dibuat seolah tidak aman melalui cerita yang tiba-tiba menukik kemudian secepat kilat mendatar kembali. Maka tak salah jika Ignas Kleden (2003:115) mengatakan bahwa Putu Wijaya memperlakukan pembaca sebagai orang dewasa yang harus dibangunkan dari tidur saat membaca karyanya. Putu Wijaya seolah memosisikan kita sebagai seorang korban yang telah lebam di wajahya, namun dengan heran bertanya; “Kapan saya dihantam?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel berjudul Nora ini diselesaikan Putu Wijaya pada 30 Januari 2004 di Indonesia. Sementara ia mulai menuliskannya ketika berada di Shugakuin, Kyoto, tahun 1992. &lt;span class="fullpost"&gt;Melihat rentang masa yang begitu panjang—sejak mulai menuliskan sampai selesai lalu diterbitkan—seharusnya buku ini hadir dengan minim kesalahan teknis. Faktanya, salah huruf atau kurang huruf pada kata masih sering nampak dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, melalui Nora, kiranya kita bisa melihat kesungguhan Putu Wijaya dalam menulis karya berbentuk tetralogi. Pada halaman depan buku ini tertera: Tetralogi Dangdut 1. Putu Wijaya tidak menjadikan karya sebagai industri yang bisa kehilangan nuansa. Penyematan rangkaian tiga kata itu bukan main-main. Artinya, Putu Wijaya telah menubuatkan bahwa Nora adalah sebuah karya yang akan saling sambung dengan beda nuansa di buku-buku berikutnya. Jadi, Putu bukan melempar sebuah karya, kemudian ketika animo pembaca terlihat pesat, barulah ia menyebut karyanya sebagai tetralogi. Oleh karena itu, laiklah jika publik patut menyambut Tetralogi Dangdut Putu Wijaya ini dengan semacam garansi tidak bakal kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca novel ini haruslah siap untuk—pinjam kata dalam bahasa Madura—caremet dengan ulah tiap tokoh didalamnya. Putu berhasil menggoyang pembaca dengan kisah yang berikhwal sepele namun menggemaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya karena tak sengaja melihat Mala sedang buang air kecil di halaman rumah, Nora menjadi pingsan beberapa hari dengan igauan yang aneh. Kemudian orangtua Nora memaksa Mala menikah dengan Nora. Mala tidak menolak secara langsung namun menyimpan gundah yang mendalam atas paksaan orangtua Nora tersebut. Berat hati Mala untuk membangun keluarga dengan Nora. Sebab ia adalah seorang redaktur sebuah media cetak ternama di ibu kota. Sementara Nora hanyalah gadis lugu yang tak terlalu cantik. Akhirnya Mala dan Nora menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang lautan kehidupan bisa merubah sikap seseorang. Pelan-pelan Mala mencintai Nora secara sungguh. Namun saat itu pula, orangtua Nora meminta Mala membiayai pernikahan Nora dengan seseorang bernama Roni—keluarga jauh Nora dari kampung. Mala menolak dengan keras. Namun orangtua Nora seolah tak mengacuhkan penolakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca novel ini pasti caremet sebab susunan cerita yang dibangun oleh Putu Wijaya sungguh tidak masuk akal namun berhasil membangkitkan emosi kita. Secara umum, novel ini menghadirkan sebuah dunia dengan tingkat komunikasi yang minim. Dunia yang hanya diisi dengan prasangka. Hingga persahabatan, kehidupan kantor sampai percintaan bisa luluh-lantak dalam sekejap. Putu tidak bercerita tentang dunia kenyataan dalam novel ini. Ia justru mengusahakan terbangunnya sebuah dunia dengan sumber kisah-kisah dari dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, selaiknya dongeng, kehidupan dalam buku ini membuat kita bisa percaya bahwa benar-benar terjadi di lingkungan keseharian Putu atau kita sendiri. Satu hal lain yang membuat kita wajib membaca buku ini; Putu Wijaya tetap konsisten menaburkan aforisma dalam halaman-halamannya. Kadang aforisma itu muncul dalam kemarahan, keakraban bahkan kegetiran. “Bukan kemerdekaan, tapi tanggung jawablah sebenarnya yang nikmat dan membahagiakan.” (hal.122), kalimat bijak ini justru menyeruak sehabis pertengkaran hebat antara Mala dan Nora di stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini mampu membuat kita sadar bahwa dibalik tiap kejadian dalam hidup ini ada pihak yang berperan sebagai dalang. Dengan lihai, Putu tidak memberi tahu dalang pada tiap adegan dalam novel ini. Pembaca diajak aktif untuk menduga dan memperkirakan sementara Putu hanya memberi petunjuk. Inilah kiranya ciri utama dari karya Putu Wijaya; selalu bersifat terbuka dan belum selesai penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, siapkanlah diri untuk tiba-tiba tertawa, meringis atau bahkan menangis saat membaca novel Nora ini. Ya, Putu mampu menghadirkan gambaran kehidupan yang serba ‘tiba-tiba’ dalam novel ini. Bagai irama musik dangdut yang tiba-tiba mengajak kita bergoyang dengan henti yang bisa kapan saja; terserah kita.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-7323280935550200777?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/7323280935550200777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=7323280935550200777&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7323280935550200777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7323280935550200777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/dunia-yang-tiba-tiba-bertabur-aforisma.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R4Cv8vJFIVI/AAAAAAAAAF8/k_S_ZhZyLds/s72-c/Sampul+Novel+Nora.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-1050300776927304702</id><published>2008-01-06T17:36:00.000+07:00</published><updated>2008-01-06T17:38:39.028+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R4CvbPJFIUI/AAAAAAAAAF0/_KD9LJtPb3g/s1600-h/Sampul+TIAMP.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152310856167792962" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R4CvbPJFIUI/AAAAAAAAAF0/_KD9LJtPb3g/s400/Sampul+TIAMP.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; Ada sajak yang saya tulis untuk buku ini.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-1050300776927304702?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/1050300776927304702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=1050300776927304702&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1050300776927304702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1050300776927304702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/ada-sajak-yang-saya-tulis-untuk-buku.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R4CvbPJFIUI/AAAAAAAAAF0/_KD9LJtPb3g/s72-c/Sampul+TIAMP.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5305718219315496257</id><published>2008-01-05T00:49:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T00:52:05.334+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ada di Suara Karya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada sengaja, ketika jalan-jalan di dunia maya, saya bertemu dengan tulisan di salah satu jariangan situs media cetak: &lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=189711"&gt;Suara Karya&lt;/a&gt;. Alhamdulillah, ada lagi tulisan yang nyangkut di media cetak, setelah lama vakum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5305718219315496257?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5305718219315496257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5305718219315496257&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5305718219315496257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5305718219315496257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/ada-di-suara-karya-tiada-sengaja-ketika.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-3188999456209112295</id><published>2008-01-04T16:31:00.000+07:00</published><updated>2008-01-04T17:09:45.874+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Coba-coba HAIKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mailing-list Apresiasi Sastra mengadakan hajatan unik untuk merayakan 3 tahun usianya. Komunitas pecinta sastra menggelar lomba HAIKU, ESAI/KRITIK SASTRA yang berkaitan dengan Jepang. Berbekal informasi dari Om &lt;a href="http://titiknol.com/"&gt;TS PINANG&lt;/a&gt; tentang HAIKU dalam &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/message/32753"&gt;salah satu postingnya di milist tersebut&lt;/a&gt;, saya ikutan membuat HAIKU...Yah, namanya coba-coba. Inilah yang sebut sebagai HAIKU:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;H(uj)a(n)iku&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            : &lt;em&gt;pasangan negara&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;tanah basah&lt;br /&gt;kumpul remah&lt;br /&gt;resah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rintik lesap&lt;br /&gt;bah merayap&lt;br /&gt;gigir bersayap:&lt;br /&gt;pengap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sendu hujaniku&lt;br /&gt;tergenang sukaku&lt;br /&gt;beku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember; Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Siar Lapar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPAR berlayar&lt;br /&gt;men(y)ebar kabar&lt;br /&gt;MEMAKSA laksa&lt;br /&gt;langkah tergesa&lt;br /&gt;Mendiamkan gumam.&lt;br /&gt;Tak acuhkan igauan.&lt;br /&gt;Membobok tembok&lt;br /&gt;HATI mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Jember; Januari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-3188999456209112295?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/3188999456209112295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=3188999456209112295&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3188999456209112295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3188999456209112295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/coba-coba-haiku-mailing-list-apresiasi.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-4043703552880239784</id><published>2008-01-03T22:30:00.000+07:00</published><updated>2008-01-03T22:31:56.981+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S(el)i(pat)s(ur)a(t)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya simpan saja semua senja disini. Sungguhlah, saya paham&lt;br /&gt;ia tak kunjung usai ditulis dalam puisi. Entahlah, walau saya&lt;br /&gt;sangat mengerti bahwa matahari membawa cahayanya sendiri.&lt;br /&gt;Selalulah, saya dibikin salah arah ketika mengadu resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaburlah mata saya—yang kiri dan kanan—saat melipat surat&lt;br /&gt;sebelum dibaca sampai tamat. Punahlah segala tenang saat gundah&lt;br /&gt;merajai arwah tak lekang. Langkah kian goyah. Patahlah tangan.&lt;br /&gt;Tahniah tumpas. Baiklah, saya kian sulit menarah senja dan sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember; 02/01/08 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-4043703552880239784?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/4043703552880239784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=4043703552880239784&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4043703552880239784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4043703552880239784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/selipatsurat-baiklah-saya-simpan-saja.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-8274769319293978810</id><published>2008-01-03T22:26:00.000+07:00</published><updated>2008-01-03T22:30:50.731+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Saat Sebuah Perayaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;color:#33cc00;"&gt;tumpah-ruah di gigir jalan&lt;br /&gt;lukisan panjang yang kosong.&lt;br /&gt;entah apa yang dirayakan.&lt;br /&gt;kenangan tak pernah berbohong.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan taman-taman adalah puncak setia penantian&lt;br /&gt;tak lelah menunggu tarian lupa ribuan bayangan&lt;br /&gt;bangku-bangku taman saksi pembunuhan kenangan&lt;br /&gt;padahal kita dan dia telah lama saling meninggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat sebuah perayaan, kita sering&lt;br /&gt;                       menawar kafarat&lt;br /&gt;takut dan tergesa ingin lari dari larik kenangan&lt;br /&gt;sarat kalut lalu langkah bertilas kehampaan&lt;br /&gt;saat sebuah perayaan, kita senang&lt;br /&gt;                       menjadi tak ingat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;color:#33cc00;"&gt;tumpah-ruah di gigir jalan&lt;br /&gt;lukisan panjang yang kosong.&lt;br /&gt;entah apa yang dirayakan.&lt;br /&gt;kenangan tak pernah berbohong.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1-2 Januari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-8274769319293978810?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/8274769319293978810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=8274769319293978810&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8274769319293978810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8274769319293978810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/saat-sebuah-perayaan-tumpah-ruah-di.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-4650346402546492773</id><published>2008-01-02T15:39:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T15:44:53.691+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Sajak Sepele Yang Memprovokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya sudah kelelahan membaca sajak-sajak Subagyo Sastrowardoyo dalam &lt;em&gt;Dan Kematian Makin Akrab&lt;/em&gt; (Grasindo;1995). Tentu saja, kelelahan itu adalah akronim dari “kenikmatan yang melelahkan”. Ya, nikmat sekali membaca sajak-sajak Subagyo dalam buku yang memuat kumpulan 100 sajak terbaiknya tersebut. Tiap kali membuka buku itu, mata dan tangan saya selalu tak pernah melewatkan halaman 100. Ada sajak yang sangat saya suka bersemayam di halaman itu. Sajak yang menyepelekan suatu yang besar namun sungguh memprovokasi—membuat emosi memuncak dan nalar berdecak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Kini Tidak Peka, demikian judul sajak itu. Dalam sajak itu, Subagyo membawa misi melarang suatu kegiatan dilakukan oleh individu dengan cara menyepelekan tindakan itu. Kata-kata dalam sajak itu sederhana namun menancap sekali di hati. Subagyo Sastrowardoyo telah berhasi mengajak kita untuk berpikir ‘besar’ dengan sesuatu yang ‘sepele’ melalui sajak itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DUNIA KINI TIDAK PEKA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada gunanya bunuh diri&lt;br /&gt;memang&lt;br /&gt;dunia kini tidak peka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehari lamanya&lt;br /&gt;orang menyayangkan nasibmu&lt;br /&gt;dan melemparkan kesalahan:&lt;br /&gt;kepada binimu&lt;br /&gt;yang selalu bilang kau tak becus cari duit&lt;br /&gt;kepada anakmu&lt;br /&gt;yang malu bapanya hanya buruh kecil&lt;br /&gt;kepada majikanmu&lt;br /&gt;yang tidak menaikkan upah kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi hanya sehari:&lt;br /&gt;lantas binimu mulai menjelekkan kamu lagi&lt;br /&gt;sebagai laki tak bertanggungjawab&lt;br /&gt;lantas anakmu di buku rapor menghapus namamu&lt;br /&gt;yang mencemarkan kehormatan keluarga&lt;br /&gt;lantas majikanmu bernapas lega&lt;br /&gt;tidak perlu membayar gaji kepada satu tenaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuburmu di pinggir kampung&lt;br /&gt;tinggal terlantar&lt;br /&gt;sebab tak ada yang peduli&lt;br /&gt;siapa kamu dulunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bunuh dirimu sia-sia&lt;br /&gt;memang&lt;br /&gt;dunia kini tidak peka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ditulis ulang dengan bentuk sesuai yang tertera di&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dan Kematian Makin Akrab&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (Grasindo:1995) halaman 100]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuh diri adalah perilaku yang tidak sepele. Sejak manusia mulai berhimpun dan kata masyarakat lahir di bumi ini, bunuh diri mulai menjadi salah satu perilaku manusia. Kita bisa melacak dari sejumlah pemikiran ilmu sosial. Emile Durkheim menjadikan fenomena bunuh diri sebagai alat untuk menegakkan tradisi keilmuan Sosiologi. August Comte—yang dimaklumi sebagai pendiri Sosiologi dan wafat dengan cara bunuh diri tahun 1857—dipandang oleh Durkheim hanya memberikan batu pijakan bagi ilmu Sosiologi namun tidak menyediakan alat analisa yang memadai bagi terbangunnnya tradisi keilmuan Sosiologi di masa nanti. Bunuh diri yang terjadi di Eropa merupakan alat bagi Durkheim untuk membangun tradisi metodologi yang sampai saat ini masih tumbuh dan telah melahirkan beragam cabang, yaitu metodologi kuantitatif. Bahkan, melalui analisa tentang perilaku bunuh diri, Durkheim ingin mendongkel kuasa ilmu Psikologi yang lahir lebih awal ketimbang Sosiologi, hingga masyarakat kala itu sangat memuja analisa Psikologi untuk memahami persoalan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, bunuh diri adalah persoalan besar dalam masyarakat manusia. Menurut analisa ilmu Psikologi, bunuh diri lebih menyangkut masalah individual. Seorang pelaku bunuh diri dianggap bermasalah jiwanya, tak ada kaitan yang tegas dengan kondisi masyarakat tempat individu itu bertaut. Durkheim datang dengan analisa yang menarik dalam Suicide. Bunuh diri adalah persoalan masyarakat. Tidak ada individu yang bermasalah dengan tanpa sama bermasalahnya lingkungan yang melingkupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak Subagyo Sastrowardoyo diatas mampu menggambarkan analisa secara sastrawi. Seseorang yang bunuh diri sangat dipengaruhi oleh kondisi tempatnya bermukim. Perilaku bunuh diri adalah ‘paksaan’ yang diberikan oleh masyarakat kepada individu. Dalam suasana modernitas yang menjadikan individualisme sebagai basisnya, perilaku bunuh diri sangat mungkin marak. Tak ada komunikasi antar individu dalam masyarakat. Persoalan yang dihadapi seseorang adalah murni persoalan dia, masyarakat tak ikut campur! Maka, walau tiap agama mendoktrinkan bahwa bunuh diri adalah perilaku yang negatif, individu tak akan mendengarkan itu. “&lt;em&gt;Tuhan adalah masyarakat&lt;/em&gt;”, demikian kalimat yang terkenal dari Durkheim. Untuk konteks bunuh diri, kalimat itu mengena sekali. Masyarakat yang hidup sendiri-sendiri cenderung ‘menyuruh’ individu untuk bertahan dengan caranya sendiri atau mengakhiri hidupnya via bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Kini Tidak Peka sangat memperlihatkan betapa geram ia pada kondisi masyarakat yang individualis. Namun, Subagyo berhasil menyimpan kegeraman itu dalam rangkaian kata sederhana. Hingga setelah kita selesai membaca sajak itu, barulah sadar bahwa Subagyo memang benar-benar geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuh diri sebagai perilaku yang besar dalam masyarakat manusia dilukiskan Subagyo sebagai perilaku yang sepele, tiada guna, bahkan tidak penting sama sekali. Disinilah, Subagyo memprovokasi kita untuk terus hidup dengan rentetan kalimat yang tidak memuja kehidupan sebagai suatu yang perlu dan indah untuk dijalani. Dia menghina pelaku bunuh diri dalam sajak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak Subagyo itu memberi daya hidup dengan cara menyepelekan. Inilah asyiknya mendapatkan nafas untuk terus hidup melalui puisi. Ia tidak menyediakan nafas buatan atau tabung oksigen namun memberikan udara sedikit demi sedikit kepada kita. Hidup memang indah. Bunuh diri pun demikian. Ada sebagian masyarakat yang diteliti oleh Durkheim yang menjadikan bunuh diri sebagai sebentuk perilaku terhormat. Aturan yang ada di masyarakat melalui hukum adat memberikan sebuah sikap kepada individu bahwa bunuh diri merupakan keharusan agar menjadi manusia terhormat. Misalnya saja, masyarakat Jepang dengan harakiri, masyarakat India yang memilki aturan khusus bagi kaum perempuan untuk masuk ke dalam api ketika suaminya meninggal lebih dulu daripada istri. Dalam babad masyarakat kita pun ada perilaku bunuh diri yang menjadi legenda dan tidak dipandang sebagai sikap konyol. Contohnya bunuh diri Dyah Pitaloka ketika terjadi Perang Bubat. Putri kerajaan Pasundan yang cantik itu membunuh diri sebab kecewa dengan perilaku Gadjah Mada dan tidak rela menikah dengan seorang raja yang telah membunuh ayahnya. Itu bunuh diri terhormat. Sebuah moda bunuh diri yang disebut oleh Durkheim sebagai altruistic suicide. Tapi itu dahulu kala, sudah lama sekali hal itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sistem kemasyarakatan masih paguyuban, saat masalah individu adalah pula persoalan masyarakat, bunuh diri mungkin saja sebuah tindak yang terhormat. Tapi, ketika individualisme menguat dan masyarakat tak lebih dari sekadar sekumpulan individu tanpa menjadikan empati sebagai basisnya, maka bunuh diri adalah konyol. Benarlah Subagyo, &lt;em&gt;bunuh dirimu sia-sia&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;memang&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;dunia kini tidak peka&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Kini Tidak Peka juga mengajak kita untuk menerawang tiap persoalan yang datang secara arif, yaitu senantiasa menautkan tiga bagian waktu: kemarin-sekarang-besok. Tentu saja, dari berpikir mendalam dengan tiga batasan waktu yang kait-mengait tersebut, kita mampu mencercap makna bahwa hidup memang indah. Setelah lahir tugas manusia adalah mempertahankan hidup—entah hidup dirinya sendiri atau orang lain. Subagyo telah melakukan hal itu melalui &lt;em&gt;Dunia Kini Tidak Peka&lt;/em&gt;. Sajak itu telah memprovokasi saya untuk terus hidup. Terimakasih, Eyang Bag.(*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-4650346402546492773?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/4650346402546492773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=4650346402546492773&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4650346402546492773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4650346402546492773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2008/01/sajak-sepele-yang-memprovokasi-ya-saya.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-2366782236698344484</id><published>2007-12-31T16:23:00.000+07:00</published><updated>2007-12-31T16:43:55.011+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kado Akhir Tahun&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah e-mail saya baca. Ternyata dari seorang jurnalis di Kalimantan. Kabarnya: Tiga sajak saya dipublikasi di &lt;strong&gt;Borneonews &lt;/strong&gt;Minggu 30 Desember 2007. Terimakasih buat redaktur Kolom Seni Budaya di harian itu. Sebab sudah membantu saya menutup tahun ini dengan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Sajak saya yang dipublikasi itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Selepas Perjalanan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/10/resume-wawancara-dengan-penyair-dan.html"&gt;Resume Wawancara dengan Penyair dan Puisi&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ketika Penyair Pergi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-2366782236698344484?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/2366782236698344484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=2366782236698344484&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2366782236698344484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/2366782236698344484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/kado-akhir-tahun-sebuah-e-mail-saya.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-4741583028774584665</id><published>2007-12-29T02:45:00.000+07:00</published><updated>2007-12-29T02:47:03.890+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tempus Fugit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#ffcccc;"&gt;Ada yang bergerak cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#ffcccc;"&gt;Kadang kita beri nama sebagai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#ffcccc;"&gt;waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#ffcccc;"&gt;Ada yang serak ucapkan dua selamat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#ffcccc;"&gt;Selamat tinggal untuk Yang Lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#ffcccc;"&gt;Selamat datang untuk Yang akan jadi Lama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Selamat Tahun Baru 2008;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Semoga amal ibadah kita di tahun 2007 bisa dilanjutkan&lt;/em&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-4741583028774584665?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/4741583028774584665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=4741583028774584665&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4741583028774584665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4741583028774584665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/tempus-fugit-ada-yang-bergerak-cepat_29.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-6383966637399264655</id><published>2007-12-29T02:32:00.000+07:00</published><updated>2007-12-29T02:40:20.142+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Tahun Baru, Waktu dan Lupa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pergilah ke pasar; adakah disana barang yang tak bisa ditawar? Kalau kita bicara pasar-super (&lt;em&gt;super-market&lt;/em&gt;) atau pasar-berlebih-lebihan (&lt;em&gt;hyper-market&lt;/em&gt;) tentu saja barang yang dijual sudah ditengeri dengan stiker harga. Menawar harga di pasar macam itu sia-sia sungguh. Di Indonesia ini, apa yang gagal untuk bisa ditawar? Hukum, pendidikan, politik, sampai percintaan pun; yakinlah bisa ditawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang minim menikmati kepastian, kecerdasan, kebersamaan sampai kehangatan; hakulyakin akan berpenyakit dua saja: kaget dan lupa. Hidup seolah senantiasa “tiba-tiba”; cepat sekali berlalu bagai kilat yang muncrat dari langit. Tak ada yang bisa dicercap dari hari ini hingga berimbas pada buramnya penerawangan hari esok. Justru yang banyak menyeruak adalah perilaku menawar waktu. Sebagaimana sering muncul dalam kalimat-kalimat berawalan; “&lt;em&gt;Kalau saja...&lt;/em&gt;”, “&lt;em&gt;Coba...&lt;/em&gt;”, hingga “&lt;em&gt;Ingin rasanya kembali...&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditimbang ulang, sebenarnya, &lt;em&gt;super-market&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;hyper-market&lt;/em&gt; itu tidak memasang harga yang tak bisa ditawar. Pasar jenis itu menjual barang dengan harga yang sedikit lebih murah dari toko kelontong. Mereka telah memperkirakan berapa besar harga yang mungkin ditawar oleh konsumen. Dengan hitungan bisnis-ekonomis yang tepat, tentu saja, tiada mereka merugi. Alhasil, waktulah yang benar-benar tak tertawar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga waktu tetap, tak berubah. Kita memberinya nama detik, menit, hari, minggu sampai tahun. Manusia hanya mampu melakukan analisa pra-peristiwa yang disebut proyeksi. Atau analisa ketika suatu kejadian telah terjadi, yaitu evaluasi (kata halus dari penyesalan). Tetapi, dua bentuk perilaku itu tidaklah mampu menawar waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia dan waktu berpacu, tentu saja yang keluar sebagai pemenang adalah waktu. Kata Rendra dalam salah satu sajaknya; “&lt;em&gt;Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak&lt;/em&gt; &lt;em&gt;menjadi koma&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;Kita menjadi goyah dan bongkok&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;karena usia nampaknya lebih kuat dari kita&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;tapi bukan karena kita telah terkalahkan&lt;/em&gt;”. Dus, proyeksi dan evaluasi mungkin adalah senjata manusia menawar waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kini, ketika dunia terbuka luas hingga batas-batas kian mudah diterabas, proyeksi dan evaluasi makin sulit kita temui di masyarakat. Kekuatan manusia tidak lagi diarahkan untuk menawar waktu tapi membunuhnya. Manusia “menolak menjadi koma” bukan dengan proses yang mencoba bersahabat dengan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang adalah kekuatan yang digunakan manusia untuk membunuh, mencincang dan menyekaratkan waktu. Suap, ijazah palsu, politik uang sampai cinta matre sedikit contoh dari proses manusia kini yang ingin membunuh waktu. Tapi, sekali lagi, waktu tak pernah bisa dikalahkan sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan memberi pengajaran dan waktu menyediakan peringatan kepada manusia. Keduanya berkeinginan agar sikap bijak menyembul dalam masyarakat manusia. Masyarakat yang menjauhkan diri dari ilmu pengetahuan akan mudah terserang rasa kaget yang luar biasa. Sementara yang kian bermusuhan dengan waktu niscaya mengidap penyakit lupa kronis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lebih senang merayakan tahun baru. Padahal adanya pergantian tahun dalam kalender masehi berfungsi sebagai peringatan. Ajang melakukan evaluasi dari yang sudah berlangsung pada tahun yang ditinggalkan. Wahana merencanakan yang ingin kita wujudkan dalam tahun mendatang. Momen pergantian tahun seharusnya adalah tempat bagi kita untuk menjauhi sikap kaget dan lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merayakan hadirnya tahun baru, sejatinya kita telah mengaku tersungkur oleh waktu tanpa pernah melakukan usaha untuk bersahabat atau mengalahkannya. Perayaan cenderung bersifat dangkal, seremonial dan mengukuhkan sifat kaget serta lupa dalam diri kita. Kalau kita percaya bahwa kehidupan adalah proses, maka sungguh perayaan tahun baru adalah jenis perilaku yang manusia lakukan untuk membunuh dan meniadakan proses itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu membayangkan, andai tiap malam tahun baru justru identik dengan sepi. Tiap keluarga berkumpul di rumah. Mengukur capaian yang telah dilakukan dan memaparkan rencana yang ingin direngkuh dalam suasana penuh kehangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiap malam tahun baru, mayoritas kita justru senang berpesta di jalanan. Padahal, seperti kata Radhar Panca Dahana, mereka yang sering berpesta memang dekat dengan lupa. Saya tak tahu, malam tahun baru ini berapa orang yang memilih merenung di rumah saja. Tapi, saya tak pernah lupa, bahwa tiap malam pergantian tahun jalan-jalan selalu ramai; disesaki orang-orang yang ingin melupakan dan membunuh waktu.(*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-6383966637399264655?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/6383966637399264655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=6383966637399264655&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6383966637399264655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6383966637399264655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/tahun-baru-waktu-dan-lupa-pergilah-ke.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5639240216102830759</id><published>2007-12-27T22:39:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T22:49:17.471+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;DENGAN TIDAK TENANG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148677953785504018" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R3PHUfJFIRI/AAAAAAAAAFc/RM-LyuGuXbE/s320/153633.jpg" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Penghujung Tahun belum lagi datang. Bhutto sudah pulang ke rumah akheratnya. Dalam dentuman bom, kilatan api, Bhutto pergi dengan tidak tenang. Tuhan, berikanlah damai untuk kami, untuk Pakistan, untuk Dunia dan untuk Bhutto. Tenangkanlah Bhutto, walau Kau telah menjemputnya dengan tidak tenang.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(&lt;strong&gt;Mengenang Wafatnya Benazir Bhutto&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5639240216102830759?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5639240216102830759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5639240216102830759&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5639240216102830759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5639240216102830759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/dengan-tidak-tenang-penghujung-tahun.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R3PHUfJFIRI/AAAAAAAAAFc/RM-LyuGuXbE/s72-c/153633.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-1512661019069158845</id><published>2007-12-22T02:09:00.000+07:00</published><updated>2007-12-22T02:13:03.918+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;CAHAYA PAGI ITU BERHASIL KULIHAT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: rYoDiMaS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: untuk D. A. Sujana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/1/&lt;br /&gt;Kau seperti setan jalanan. Setiap sentinya kau&lt;br /&gt;ukur dengan teliti. Setiap kerikil kau cermati.&lt;br /&gt;Setiap debu kau baui. Setiap batu kau tandai.&lt;br /&gt;Kau punya segala alat ukur dan konversi, dari inchi&lt;br /&gt;ke senti; dari senti ke mili. Kau punya segala&lt;br /&gt;lensa, dari zoom satu kali; dua kali; tiga kali; hingga&lt;br /&gt;lima kali. Kau punya setiap sampel debu bau, dari debu&lt;br /&gt;bekas tapak kaki pejabat; perawan cantik yang gamang&lt;br /&gt;akan keperawanannya; sampai kotoran anjing yang&lt;br /&gt;berhasil dibawa oleh lalat kemana-mana. Kau punya&lt;br /&gt;setiap warna pemberi tanda, dari hitam pekat; merah&lt;br /&gt;marah; biru daun; hijau sungguh; sampai abuabu yang ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;“Bang, saat ini malam. Hari ini aku menanti kelahiran anakku.&lt;br /&gt;Istriku sejak aku kecil dia telah hamil. Tapi sampai aku kehilangan&lt;br /&gt;keperjakaan yang berkali-kali; sampai aku mengawini banyak istri.&lt;br /&gt;Dia belum juga berhasil melahirkan.”&lt;br /&gt;“Bang, tadi siang kau datang. Membawa kabar tentang bidan yang baru&lt;br /&gt;saja lulus dari akademi. Kau beri saran, agar aku mengganti dukun itu,&lt;br /&gt;yang tlah berbelasbelas tahun mengurusi kehamilan istriku.”&lt;br /&gt;“Bang, anakku barusan lahir! Sehat dan ganteng seperti ayahnya. Kuberi nama&lt;br /&gt;Siapa yah dia? Aha, tentu kau lebih tahu nama yang bagus. Jumlah anakmu kan&lt;br /&gt;sudah kepala dua. Kau hebat. Semuda ini sudah punya berlusin istri.”&lt;br /&gt;“Bang, anakku memang sehat dan ganteng seperti aku. Tapi, kok dia lahir&lt;br /&gt;prematur yah? Apa karena ilmu bidan yang kau rekomendasi itu belum hebat,&lt;br /&gt;sehingga dia mengeluarkan anakku sebelum waktunya? Atau memang anakku&lt;br /&gt;ditakdirkan begitu?”&lt;br /&gt;“Bang, sekarang sudah mau Subuh. Dari tadi kau diam saja, belum menjawab&lt;br /&gt;satu pun pertanyaanku. Bang, aku sudah ketemu nama yang bagus untuk anakku&lt;br /&gt;ini. Yaitu: Fajar. Yah, seperti saat ini.”&lt;br /&gt;“Bang sekarang sudah pagi. Terima kasih. Sekarang aku akan menikmati hari&lt;br /&gt;bersama istri dan anakku yang baru lahir. Kapan-kapan kalau anakku yang lain&lt;br /&gt;lahir, Abang yang kasih nama yah.”&lt;br /&gt;“Bang sekarang sudah pagi. Kau malah tidur sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;Sekarang masih pagi. Seperti aku dan anakku.&lt;br /&gt;Kau mungkin ada di puncak siang. Terik. Atau malah malam. Dingin.&lt;br /&gt;Aku ingin belajar menjadi setan jalanan.&lt;br /&gt;Aku sudah punya alat ukur dan konversi; lensa; sampel debu; dan warna.&lt;br /&gt;Tapi aku belum punya satu hal untuk jadi setan jalanan:&lt;br /&gt;NYALI. Mau pinjamkan aku barang beberapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt;“Huh, aku memang nggak berbakat jadi setan. Aku jadi malaikat jalanan aja yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/5/&lt;br /&gt;Cahaya pagi itu berhasil kulihat.&lt;br /&gt;Di sudut pantai tempat kau berlabuh, terlihat perahumu diam mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember, 17 Desember 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-1512661019069158845?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/1512661019069158845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=1512661019069158845&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1512661019069158845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1512661019069158845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/cahaya-pagi-itu-berhasil-kulihat-oleh.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-4952759477873165051</id><published>2007-12-19T03:17:00.000+07:00</published><updated>2007-12-19T03:18:36.550+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Perahu Pendoa /2/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;lalu aku menulis&lt;br /&gt;agar yang kutahu&lt;br /&gt;tak sekadar haluan&lt;br /&gt;dan buritan. supaya&lt;br /&gt;tumbuh pula geladak&lt;br /&gt;disesaki sajak.&lt;br /&gt;hingga Kau tergelak&lt;br /&gt;membaca doa-godaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember; 17/12/2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-4952759477873165051?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/4952759477873165051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=4952759477873165051&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4952759477873165051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4952759477873165051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/perahu-pendoa-2-lalu-aku-menulis-agar.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5726820932121468389</id><published>2007-12-19T03:15:00.000+07:00</published><updated>2007-12-19T03:20:35.522+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Kalawan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     yang sekarang nanti terkatakan lampau&lt;br /&gt;merdu suara yang pasti menjelma parau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     dekap rindu perlahan jadi jemput kematian&lt;br /&gt;hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     tangan yang berjabat kelak dipakai membabat&lt;br /&gt;kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak&lt;br /&gt;cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember; 12/2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5726820932121468389?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5726820932121468389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5726820932121468389&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5726820932121468389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5726820932121468389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/kalawan-yang-sekarang-nanti-terkatakan.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-1965520381948086671</id><published>2007-12-19T03:03:00.000+07:00</published><updated>2007-12-19T15:06:34.837+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Hak Bertanya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;::dipublikasi di Harian Radar Jember 19/12/2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada yang unik. Guru Sosiologi saya saat di SMU memiliki aturan yang harus ditaati oleh seluruh murid. Beliau tidak akan bersuara dan memulai pelajaran jika diantara kami belum ada yang bertanya. Awalnya, kami pikir beliau hanya bercanda.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dua hari setelah aturan itu dimaklumatkan, kami harus belajar Sosiologi lagi. Beliau masuk kelas, duduk kemudian membuka-buka buku; seolah tak ada murid dihadapannya. Kelas hening kira-kira lima menit lamanya. Kami saling bersitatap, seolah sama paham: “Aturan itu bukan gurauan!”. Seorang teman tiba-tiba mengacungkan jari, setelah itu berkata, “Pak, saya mau tanya”. Guru saya langsung mengangkat kepala yang sebelumnya tertunduk; “Silakan”, sambutnya. “Bapak tidur jam berapa tadi malam?”, ucap teman saya dengan suara agak terbata-bata. Tawa kecil kemudian terdengar diantara kami.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada yang aneh. Bukan amarah yang menyeruak dari Guru Sosiologi itu. Beliau menjawab dengan tenang ‘pertanyaan konyol’ tersebut. Sampai kelas 3 SMU, mata pelajaran Sosiologi diasuh oleh beliau. Saat acara kelulusan, saya tanyakan kepada beliau sebab dibuat aturan seperti itu. “Biasakanlah bertanya, sebab perilaku itu yang mengubah dunia”, jawab beliau. “Bertanyalah apa saja kepada siapapun. Kalau kau sebenarnya sudah paham suatu hal, maka pertanyaanmu adalah usaha untuk makin meneguhkan pemahaman itu. Den, kau harus ingat, manusia adalah wadah dari salah dan lupa.”, pesan Guru Sosiologi itu membekas sekali di hati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ucapan beliau tidak klise sama sekali. Beliau sangat konsisten dengan aturan yang dibuatnya. Pelajaran Sosiologi yang menyenangkan itu selalu diawali dengan pertanyaan dari murid kepada sang guru. Mulai dari pertanyaan serius; “Pranata sosial itu apa, Pak?”, “Apakah yang dimaksud dengan masyarakat modern?” sampai pada ‘pertanyaan konyol’; seperti “Bapak makan apa pagi ini”, “Bapak terlihat di pasar kemarin, belanja apa Pak?”. Beliau selalu menjawab dua jenis pertanyaan itu, sungguh, dengan kadar keseriusan yang sama. Hingga kami sangat menyayangi beliau sepenuh hati. Maka tak aneh, ketika pulang kampung pada Oktober tahun ini, saya mendapat kabar bahwa Guru Sosiologi itu terpilih sebagai Guru Terbaik Tingkat Propinsi tahun 2007 dan berhak atas tiket ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya aturan itu, Guru Sosiologi saya tidak pernah berpesan agar kami membaca buku saat di rumah. Sebab kami pasti melakukan hal tersebut agar memiliki pertanyaan sebagai kunci untuk membuka pelajaran. Setelah saya renungkan, pertanyaan yang saya sebut ‘konyol’ sebenarnya tidak demikian. Pertanyaan tersebut sangat manusiawi. Melalui pertanyaan itu, kami tidak menganggap beliau sekadar Guru saja. Tetapi individu yang juga memiliki kegiatan diluar sekolah. Memandang beliau ‘apa adanya’ sebagai manusia. Guru dan murid bukan status yang mencegah hubungan dekat dan hangat berlangsung diantara kami.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah mendengar beliau berkata “Ada pertanyaan?”, seusai menjelaskan. Kami terbiasa berinisiatif mengacungkan jari untuk bertanya ketika beliau terlihat akan berhenti menjelaskan. Semua terjadi karena adanya aturan itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada dua bentuk warisan lisan leluhur yang terkait dengan bertanya. Peribahasa “malu bertanya sesat di jalan” dan pepatah “sudah gaharu cendana pula”. Pada peribahasa tersebut kita temukan unsur positif yaitu bertanya sebagai proses untuk memudahkan urusan. Sementara energi negatif kita rasakan pada pepatah diatas yang sering diartikan sebagai “sudah tahu, bertanya pula”. Pada pepatah ini, bertanya dimaknai sebagai cara mengejek orang lain. Nampaknya, Guru Sosiologi saya itu menganut pemaknaan bertanya pada peribahasa diatas saja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, bertanya adalah perilaku yang mengubah dunia. Sebab segala inovasi yang berjalan di dunia ini, selalu diawali dengan proses tersebut. “Mengapa apel jatuh ke bawah?” adalah pertanyaan Isaac Newton saat akan menemukan teori gravitasi yang terkenal itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya agak aneh, Jepang luluh-lantak beberapa hari sebelum Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi di Jakarta, namun kini Negeri Sakura itu adalah ‘Macan Asia sebenar-benarnya’. Keanehan itu terhapus tatkala saya mengetahui bahwa yang dilakukan Kaisar Jepang setelah Yokohama dan Nagasaki dijatuhi bom atom adalah bertanya, yaitu “Berapa jumlah guru yang tersisa?”. Tak ada yang negatif, akhirnya, dari perilaku bertanya. Maka, hak yang bisa dilakukan setiap individu adalah ‘hak bertanya’.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, saya kecewa. Pada halaman 382 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi III Cetakan keempat tahun 2005 diterakan makna ‘hak bertanya’. Yaitu “hak anggota DPR, baik perseorangan maupun bersama-sama, untuk mengajukan pertanyaan kepada presiden atau pemerintah”. Kamus yang diterbitkan oleh Balai Pustaka—dan dijadikan pegangan wajib dalam institusi pendidikan kita—itu sungguh sempit memberi makna pada ‘hak bertanya’. Jika sudah begini, seolah bertanya bukanlah hak yang menempel langsung kepada manusia sejak lahir ke dunia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bertanya adalah perilaku positif sebab membuka tabir misteri yang menyelubungi dunia ini atau memperbaharui pengetahuan kita atas sesuatu. Kalau ada pertanyaan yang disebut basa-basi itu tetap saja positif. Interaksi antar manusia tanpa basa-basi akan berlangsung hambar bahkan menjauh dari kekariban.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hak bertanya adalah rahmat langsung dari Tuhan kepada seluruh manusia. Dengan bertanya, otak berpikir dan tangan bekerja untuk mencari jawaban. Akhirnya, sudahkah Anda bertanya hari ini? Jikalau saya yang mendapatkan pertanyaan itu, maka jawabannya adalah: “Saya baru saja melakukannya”.(*)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-1965520381948086671?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/1965520381948086671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=1965520381948086671&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1965520381948086671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1965520381948086671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/hak-bertanya-ada-yang-unik.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-8495027871744200698</id><published>2007-12-08T16:54:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T17:40:49.138+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;‘Berkenalan’ Lagi Dengan Chairil Anwar&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;&lt;em&gt;:: dipublikasi di Harian Surya (Minggu; 30/09/2007)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;Judul Buku : Chairil Anwar; Sebuah Pertemuan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, orang Indonesia—yang hanya menempuh pendidikan dasar sekalipun—pernah mendengar nama ini: Chairil Anwar. Hanya mendengar, sebab perkenalan butuh ruang yang lebih luas. Lewat buku ini, Arief Budiman menuturkan Chairil Anwar melampaui sebuah perkenalan dan pertemuan, yaitu penyelaman. Yang istimewa dalam buku ini adalah; Arief Budiman meletakkan Chairil Anwar sebagai pribadi yang tak terlalu istimewa. Memba&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1pzM3ZwkmI/AAAAAAAAAFU/LUyT-GbajSk/s1600-h/Sampul+Buku+Sebuah+Pertemuan.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141548589464457826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1pzM3ZwkmI/AAAAAAAAAFU/LUyT-GbajSk/s200/Sampul+Buku+Sebuah+Pertemuan.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ca buku ini, kita akan tersadar bahwa menulis puisi dan menjadi penyair adalah suratan tangan tiap manusia. Segala hal yang membalut kehidupan Chairil, juga kita temui dalam keseharian hidup ini. Satu hal, Chairil Anwar menjadi sangat terkenal karena usahanya. Dan buku ini—juga pelbagai tulisan lain tentang dirinya—adalah ganjaran yang setimpal atas usahanya tersebut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Chairil berjasa besar dalam memperbaharui seni-kesusastraan kita, utamanya puisi. Melalui sebuah buku tahun 1968, HB Jassin menyebutnya sebagai “Pelopor Angkatan 1945”. Usaha Chairil yang teramat berharga adalah menyiarkan kepada kita bahwa puisi adalah milik semua orang. Puisi tak harus selalu menceritakan “yang besar”, “yang sakral” dan “yang agung”. Jiwa kita dan segala riak-gejolak yang menyerempetnya adalah sumber ide yang hakiki.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini hadir sebagai perwujudan lintas disiplin; didalamnya ada kajian sastra, psikologi dan filsafat. Semua kajian itu saling membahu-bantu untuk menjelaskan beragam sisi kehidupan yang selalu dicari jawabnya oleh manusia. Chairil Anwar dan karyanya adalah representasi kejiwaan kita pula; demikian kira-kira sapaan Arief Budiman kepada pembaca buku ini.&lt;br /&gt;Penyair yang lahir di Medan, 26 Juli 1922, ini ternyata merupakan sosok yang selalu mencari tentang makna kehidupan secara individual.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam sebuah esai berjudul “&lt;em&gt;Membuat Sajak, Melihat Lukisan&lt;/em&gt;”; menurut Arief Budiman, Chairil Anwar seolah memaklumatkan bahwa ia telah siap ditelaah dari pelbagai sisi mengenai sajak yang ditulisnya. Kata Chairil; “&lt;em&gt;Untuk dapat memahami karya seni, utamanya puisi, maka kita harus menangkap ‘pokok’-nya terlebih dahulu, jangan hanya menilai dengan ‘perkakas bahasa’ saja&lt;/em&gt;” (hal:46). Chairil menjadi bernilai, pada akhirnya, karena ia mampu menggambarkan kejiwaan manusia dalam karyanya. Ia tak lagi menyoal pakem puisi sebagaimana ‘diagung-agungkan’ oleh para penyair Pujangga Baru.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Chairil adalah pribadi yang ‘retak’, namun adakah diantara kita yang tidak retak secara kepribadian? Manusia, melalui keretakan dalam pribadinya, berusaha mencari segala kemungkinan yang bisa dilalui dalam hidup ini (hal:57-59). Chairil meretakkan kepribadiannya dengan mula-mula bertanya tentang kematian dalam puisi yang pertamakali ditulisnya, &lt;em&gt;Nisan&lt;/em&gt; (Oktober 1942). Ia mempersoalkan neneknya yang ridha menghadapi kematian (hal:19-20). Dan ia menggugat kematian yang begitu angkuh melaksanakan tugasnya: “&lt;em&gt;Tak kutahu setinggi itu diatas debu&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;dan duka mahatuan bertahta&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Chairil mempersoalkan hidup dan menuliskannya dalam puisi. Hingga ia pun menatap kehidupan sebagai sebuah misteri. Segala yang kita lakukan seolah sia-sia sebab kematian bisa datang menyambar kapan saja—tak tentu tempat dan waktu. Maka pada Desember 1942 ia menuliskan lagi sebuah puisi berjudul &lt;em&gt;Penghidupan&lt;/em&gt; : &lt;em&gt;Lautan maha dalam&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;mukul dentur selama&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;nguji pematang kita&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;hingga hancur remuk redam&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;Kurnia Bahagia&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;kecil&lt;/em&gt; &lt;em&gt;setumpuk&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tahun-tahun awal Chairil menulis puisi adalah momentum pencarian kemerdekaan sebagai pribadi. Maka ia mempersoalkan pula ikatan dalam pelbagai bentuknya—keluarga, agama dan tentu saja: Tuhan. Ia tidak membunuh diri walau begitu pesimis dengan hidup. Ia memilih jadi laiknya &lt;em&gt;Ahasveros&lt;/em&gt;; hidup mengembara. Tentu saja dibarengi dengan makin sulit kehidupan yang dijalaninya. Chairil jatuh miskin ketika memilih pergi dari Medan untuk ikut ibunya karena sang bapak menikah lagi. Ia pun hidup menggelandang di Jakarta setelah ibunya makin sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejumlah puisi yang ditulis pada awal masa kepenyairannya memperlihatkan betapa intens ia mengkhidmati hidup dan dunia sekelilingnya. Jika nada pemberontakan selalu saja nampak dalam puisi Chairil, tentu saja karena pada masa-masa itu (tahun 1942), negeri kita tengah sangat bergejolak. Kedudukan Belanda mulai diujung kehancuran dan Jepang makin mendekat nusantara. Ada kesempatan untuk Indonesia menjadi merdeka. Chairil berada di Batavia dan secara intens pula melihat hal itu. Inilah bentuk pengaruh lingkungan pada diri manusia. Pandangan ini tidak termaktub untuk diulas dengan baik oleh Arief Budiman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Walau begitu, Arief Budiman juga mengajukan data mengenai hidup Chairil yang cukup komprehensif untuk menganalisa karyanya. Ada pengakuan Sjamsulridwan yang cenderung positif bagi penilaian kita atas jatidiri Chairil. Menurut pengakuannya, Chairil adalah sosok yang pemberani, keras, tidak mau mengalah, agak tinggi hati walau tetap saja gaul dan memiliki rasa ingin tahu yang luarbiasa besar. Bahkan, &lt;em&gt;“...kalau ia sudah membaca buku maka buku itu dibacanya dari malam sampai menjelang pagi&lt;/em&gt;.”, sebagaimana dikutip Arief dari pengakuan HB Jassin (hal:119).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sementara sisi negatif Chairil diambil dari pengakuan Soeharto—sahabat Chairil sejak kecil yang kemudian berpisah dan kembali bertemu di Jakarta. Soeharto adalah seorang pelukis. Jika Sjamsulridwan mengatakan bahwa Chairil adalah sosok yang brilian secara prestasi di sekolah, maka Soeharto mengatakan sebaliknya. Chairil Anwar terbilang memiliki otak pas-pasan. Prestasinya tidak terlalu baik, Chairil memang menonjol pengetahuannya tentang sastra. Namun ia, masih menurut Soeharto, tidak pernah menulis karya sastra semasa di bangku sekolah. Soeharto mengakui bahwa dua hari setelah Chairil meninggal di CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta), ada petugas rumah sakit datang kepadanya dan meminta agar “&lt;em&gt;mayat Chairil segera diurus&lt;/em&gt;” (hal:123).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya tidak paham dengan maksud Arief Budiman mengambil data negatif tentang Chairil ini. Apakah sekadar sebagai pembanding, atau memang berniat menelusuri sosok Chairil secara intens? Persoalan mendasar adalah kisah tentang bagian wafatnya Chairil. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ketika Chairil sudah tidak sadar dengan panas yang tinggi, HB Jassin berada di sisinya. Maka saya pun sempat membaca bahwa salah satu kata terakhir yang diucapkan Chairil adalah “&lt;em&gt;Tuhan...Tuhan&lt;/em&gt;”. Bahkan, bagaimana mungkin mayat Chairil baru diurus dua hari setelah ia wafat, sedangkan banyak seniman yang berada di sisinya ketika dijemput sang maut. Lebih jauh, ada beberapa sketsa lukisan—dipublikasi dalam edisi khusus Horison untuk mengenang Chairil Anwar—yang menggambarkan penguburan Chairil di TPU Karet sehari sesudah ia wafat. Chairil wafat sore hari 28 April 1949.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kealpaan—untuk tidak disebut sebagai kesalahan—mengambil data sejarah seseorang, bisa berakibat pada taraf penghayatan sebuah karya sastra. Seperti, misalnya, bagaimanakah peran teman-teman Chairil di Jakarta dalam membentuk kepribadiannya. Hal ini penting untuk melihat sejauh mana pengaruh atensi manusia sekitarnya dalam sejumlah karya Chairil Anwar.&lt;br /&gt;Arief Budiman dengan cukup baik menganalisa sejumlah puisi Chairil bertema agama dan Tuhan (hal:49-54). Menyitir pendapat Paul Tillich mengenai agama dan religiusitas, Arief Budiman nampaknya begitu dalam menyelami pribadi Chairil. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Bagi Paul Tillich, seorang yang religius adalah mereka yang mencoba mengerti hidup ini melampaui batas-batas lahiriah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Chairil Anwar memilih untuk menolak menyerah pada agama. Hal ini tersirat dan tersurat dalam puisi &lt;em&gt;Di Mesjid&lt;/em&gt; (1943).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebuah puisinya bertema agama dan Tuhan yang terkenal tentu saja &lt;em&gt;Doa&lt;/em&gt; (13 November 1943). Melalui puisi ini, Arief Budiman menyatakan bahwa Chairil sudah menyerah; ia tidak lagi menyoalkan agama. Sebab tanpa Tuhan, Chairil akan “&lt;em&gt;remuk dan hilang bentuk&lt;/em&gt;”. ‘Binatang jalang’ itu sudah “&lt;em&gt;mengetuk di pintu Tuhan&lt;/em&gt;” dan “&lt;em&gt;tidak bisa berpaling&lt;/em&gt;”. Tetapi, nampaknya Arief Budiman lupa bahwa ada anotasi pada puisi tersebut, yaitu “&lt;em&gt;kepada pemeluk teguh&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;Anotasi itu, menunjukkan bahwa Chairil belum menyerah untuk terus mempersoalkan agama dan Tuhan. Kita tahu bahwa satu hari sebelumnya (12 November 1943), ia menulis puisi yang menunjukkan kekaguman pada Isa. Puisi Doa bukan ditujukan untuk dirinya. Chairil masih terbawa rasa kagum pada sosok Isa—seorang pemeluk teguh. Ia seolah masih ingin membuat karya yang mendokumentasikan sebuah kekaguman pada semua pemeluk agama yang teguh kepada Tuhan. Itulah makna anotasi dalam puisi &lt;em&gt;Doa&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku Arief Budiman ini adalah bentuk bukti dari tesis Chairil tentang puisi. Chairil pernah berkata bahwa “&lt;em&gt;Sebuah sajak yang menjadi adalah suatu dunia&lt;/em&gt;”. Ia menghasilkan karya yang bisa kita pahami secara beragam laiknya isi dunia. Sebuah kearifan ditunjukkan oleh Arif Budiman di awal buku ini tentang otentisitas pengamatan antara karya dan pembaca. Seribu orang yang membaca karya Chairil Anwar, niscaya akan muncul lebih dari seribu tafsir. Inilah kiranya hakekat kemanusiaan yang ditawarkan oleh Chairil melalui karyanya dan Arief Budiman melalui analisanya. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-8495027871744200698?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/8495027871744200698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=8495027871744200698&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8495027871744200698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8495027871744200698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/berkenalan-lagi-dengan-chairil-anwar.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1pzM3ZwkmI/AAAAAAAAAFU/LUyT-GbajSk/s72-c/Sampul+Buku+Sebuah+Pertemuan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5819323585835589156</id><published>2007-12-08T04:14:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T04:19:07.784+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Press Release:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ruwatan Budaya: untuk korban kekerasan dan ketidakadilan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan pelupaan&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;(Milan Kundera, The Book of laughter and forgetting)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tersisa dari kekejaman dan kekerasan yang dilakukan oleh sang Tiran -- ketika sikap kritis dilarang, kebebasan dibungkam dan kebenaran diputarbalikkan— di masa lalu? Pada kondisi semacam ini sejarah atau historiografi pun menjadi tak lebih sebagai dongeng fiktif yang mendedahkan kepahlawan penguasa dan penghinadinaan bagi para korban. Mereka yang sudah mati masih tetap dihinakan, mereka yang masih hidup tetap dipariakan. Apa yang tersisa dari warisan rejim penguasa di masa lalu? Tak lebih dan tak kurang adalah kuburan massal tanpa nama dan seluruh negeri menjadi kuburan besar bagi kemanusiaan. Jejak sepatu lars penuh tetesan darah, sejarah yang dibengkokkan, dan berjilid-jilid karya sastra, tempat para korban mencatatkan luka derita perlawanan mereka. Ketika rasa sakit dan derita yang telah dipaksa berurat-akar dalam benak bangsa, belum mampu benar dicabut, paling tidak ada ruang untuk menegosiasikan derita dan kebenaran.&lt;br /&gt;Ketika historiografi menjadi monopoli penguasa, maka antara fakta dan fiksi menjadi tidak kentara batasnya. Apa yang dianggap kebenaran oleh para penguasa, di dalam sejarah kekuasaan yang diterakan sebenarnya tak lebih dari fiksi yang dikarang oleh intelektual pendukung mereka, dan didongengkan terus-menerus kepada rakyat agar dipercaya menjadi suatu sejarah dan kebenaran yang sesungguhnya. Ketika penguasa memproduksi fiksi yang disamarkan sedemikian rupa agar dianggap menjadi fakta, maka karya sastra menjadi alternatif pilihan untuk memunculkan semangat pencatatan sejarah dan kebenaran, moralitas dan etika. Sebab, karya sastra sebagai salah satu media ekspresi manusia, dalam skala tertentu mempunyai potensi sebagai teks tandingan bagi jenis fiksi lain, yang dituliskan oleh para penguasa lewat historiografi resmi yang mereka monopoli. Karya sastra yang jelas-jelas dihasilkan sebagai sesuatu yang benar-benar fiksi murni, toh juga mampu mengoplos sedemikian rupa antara fakta dan fiksi, kebenaran dan rekaan, kenyataan dan khayalan, derita dan pengharapan.&lt;br /&gt;Karya sastra di sini dapat disetarakan dengan model transisi untuk penulisan historiografi, yang bukan sekedar mengisahkan rentetan kronologis terjadinya suatu peristiwa sejarah. Melainkan transisi ke arah historiografi yang menjadikan moralitas dan etika sebagai neraca utama untuk menakar kembali kebenaran peristiwa politik di masa lalu dan pengaruhnya terhadap kisah hidup nyata manusia biasa di masyarakat pada kurun waktu tertentu di dalam perjalanan sejarah suatu bangsa. Di sinilah para korban kekerasan sang Tiran dan non korban mampu merebut kembali kedaulatannya untuk menerakan dan membahasakan pemikiran dan ingatannya terhadap apa yang pernah terjadi di masa lalu dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat di masa sekarang dan di masa depan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau sejarah versi resmi tidak memuat kisah tentang kehidupan mereka yang dianiaya dan dinistakan, maka dengan adanya karya sastra, baik yang ditulis survivor maupun non survivor dapat merebut pena keniscayaan sejarah, guna menuliskan kisah pahit getir hidup mereka, pesimis dan optimistik keyakinan mereka akan kebenaran dan harapan, akan keberhasilan ataupun kemungkinan kegagalan perjuangan mereka. Pendek kata, dengan karya sastra, kebenaran yang dinarasikan oleh para penguasa bisa dicurigai, dipertanyakan, dimain-mainkan, dibongkar bahkan disusun ulang. Kita juga bisa mempertimbangkan apa harapan dan sikap para korban maupun non korban terhadap penindasan dan kekerasan yang menimpa mereka dan masyarakat Indonesia di masa lalu. Dengan demikian dihasratkan akan tersedia pijar renungan yang dapat dipetik dan dijadikan modal untuk memformulasikan suatu moralitas dan etika berpolitik yang lebih menjunjung tinggi imperative: Dignity for Humanity!&lt;br /&gt;Berangkat dari renungan semacam itu, Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yayasan Obor Indonesia, Yayasan Umar Kayam, Yayasan Pondok Rakyat, Impulse, Rumah Budaya Tembi, Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda (Karta Pustaka), Syarikat Indonesia, Perguruan Rakyat Merdeka (Simpul Yogyakarta), Penerbit Jalasutra, Penerbit Ombak, Galangpress, Sanggar NUUN, Anjani, Mess56, Kunci, Jaringan Islam Kampus, dan Lembaga Nawakamal berniat mengadakan Ruwatan Budaya: Diskusi Bedah Buku, Orasi Budaya, Pembacaan Puisi &amp;amp; Cerpen dan Musikalisasi Puisi Untuk Korban Kekerasan dan Ketidakadilan. Ruwatan dalam adat Jawa adalah sarana untuk menolak bala, membebaskan kita dari ancaman mara bahaya, berdoa dan meminta pengampunan atas segala dosa dan kesalahan di masa lalu. Ruwatan Budaya kali ini bertujuan membebaskan kita dari kesalahan rejim penguasa di masa lalu yang penuh darah dan kekekerasaan yang telah memakan korban sampai ribuan orang tidak berdosa agar kejadian seperti ini tidak akan terulang di masa datang dan mengenang kembali korban-korban kekerasan yang selama ini terlupakan.&lt;br /&gt;Acara ini telah dimulai dengan Talkshow di radio Eltira FM sepanjang bulan November 2007 setiap Kamis pukul 16.00 – 17.00 WIB (tanggal 1, 8, 15, 22 dan 29 November 2007 dengan pembicara Dr. Budiawan, Bambang Agung, Dr. Baskara T. Wardaya SJ, Landung R. Simatupang, Dr. Katrin Bandel, dan Dr. St. Sunardi.&lt;br /&gt;Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) juga akan menyelenggarakan bedah buku “Menelusuri Akar Otoritarianisme di Indonesia” (Elsam) dan “Tragedi Negara Kesatuan Kleptokratis: Catatan di Senjakala” karya T. Jacob (Obor).&lt;br /&gt;Hari, Tanggal : Sabtu 8 Desember 2007&lt;br /&gt;Jam : 09.000-12.00 WIB&lt;br /&gt;Tempat : Ruang Seminar LPPM, Universitas Sanata Dharma&lt;br /&gt;Jl. Affandi-Gejayan, Mrican, Yogyakarta&lt;br /&gt;Pembicara : Dr. Denny Indrayana&lt;br /&gt;Dr. George J. Aditjondro&lt;br /&gt;Dr. Baskara T. Wardaya S.J.&lt;br /&gt;Moderator : Antariksa&lt;br /&gt;Puncak acara Ruwatan Budaya: Pembacaan Puisi &amp;amp; Cerpen, Orasi Budaya dan Musikalisasi Puisi Untuk Korban Kekerasan dan Ketidakadilan akan digelar pada tanggal 8 Desember 2007 malam (jadwal di bawah). Tema yang akan diusung oleh acara ini adalah kekerasan yang dilakukan oleh rejim Orde Baru selama masa kekuasaannnya, baik melalui karya yang ditulis oleh para korban maupun non korban. Kekerasan yang dimaksud ialah kekerasan negara dalam perpektif HAM, yakni dilanggar atau diabaikannya hak warga negara (tanpa membedakan suku, ras, agama, pilihan ideologi dan gender) dalam hal Hak Sosial, Politik, Ekonomi dan Budaya. Acara ini akan diselenggarakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal : 8 Desember 2007&lt;br /&gt;Waktu : 19.00 – 24.00 WIB&lt;br /&gt;Tempat : Pusat Kebudayaan Indonesia -Belanda Karta Pustaka&lt;br /&gt;Jl. Bintaran Tengah 16, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan peringatan hari Hak Asasi Manusia sedunia ini akan ditradisikan setiap tahun.&lt;br /&gt;Adapun para pengisi acara yang dipersiapakan oleh panitia adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan Puisi dan Cerpen:&lt;br /&gt;Landung R. Simatupang,&lt;br /&gt;Femi Adi Soempeno&lt;br /&gt;Puthut E.A.&lt;br /&gt;Fitri Nganthiwani&lt;br /&gt;Ikun Eska&lt;br /&gt;Naomi Srikandi&lt;br /&gt;Kuswaedy Syafe’i&lt;br /&gt;Hendro&lt;br /&gt;Juliana Rahayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orasi Budaya: Dr. FX Baskara T. Wardaya S.J.&lt;br /&gt;Musikalisasi: Nawakamal&lt;br /&gt;Tommy Simatupang&lt;br /&gt;Sanggar NUUN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat berharap partisipasi dan kerjasamanya dari kalangan perss untuk memberi dukungan atas penyelenggaraan acara ini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian release ini kami buat, atas partisipasi dan dukungannya kami ucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta : 1 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Baskara T. Wardaya. S.J.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penanggung Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Anzieb Monica Maria W.S.&lt;br /&gt;Koordinator Umum Ruwatan Budaya Sekertaris&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5819323585835589156?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5819323585835589156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5819323585835589156&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5819323585835589156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5819323585835589156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/press-release-ruwatan-budaya-untuk.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-307306857889975869</id><published>2007-12-07T02:02:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T02:15:30.919+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ada di Radar Jember&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;***&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya harus pasang tulisan ini di ruang maya. Bukan apa-apa, hanya sebagai ungkapan terimakasih kepada Harian Radar Jember yang telah kembali menggiatkan kerja tulis-menulis di Kota Suwar-Suwir. Dan tentu saja, ini kali pertama, tulisan saya dipublikasi mendapat imbalan sebuah buku. Saya makin yakin, ada keterikatan kuat antara buku, membaca dan menulis&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.***&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jalan Jawa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;  Cak Subar, pemilik salah satu warung cangkruk tertua di daerah Sumber Sari, berkata kepada saya; “Dulu Jalan Jawa itu tidak ada”. “Kalau mau ke Alun-alun, maka harus memutar dulu lewat Mastrip atau Geladak Kembar”, imbuh lelaki yang mewarisi warungnya dari sang ibu (Mak Tika). Anak sulung dari Mak No—pemilik warung di Jalan Bangka--, Cak Kacung, pun berkata serupa kepada saya di waktu yang lain. Kepada para ‘orangtua’ yang saya kenal di Jember ini, saya memang sering bertanya tentang kisah yang tertimbun dalam suatu gedung, seruas jalan sampai sesosok manusia yang menjadi legenda di tanah Tawang Alun ini. Sebab saya adalah perantau. Dan kewajiban perantau adalah menggali akar suatu pohon agar dapat tumbuh sebagai ranting dari batang yang sama.&lt;br /&gt;  Jalan Jawa berada dalam mazhab pembangunan khas Orde Baru—yang konon menganut modernisasi. Sebagaimana diterangkan oleh sejumlah teoritisi, maka modernisasi dianggap sebagai era ketika manusia mampu melahirkan artefak jutaan kali lebih banyak dari era sebelumnya. Artefak itu dalam kamus modernisasi adalah teknologi. Ihwalnya, tentu saja, teknologi berfungsi memudahkan pekerjaan manusia. Seperti Jalan Jawa—mengikuti tuturan Cak Subar diatas—yang membuat masyarakat Sumber Sari tak harus berjalan jauh hanya untuk makan nasi goreng di Alun-alun.&lt;br /&gt;  Tetapi modernisasi—yang merupakan anak kandung dari terbitnya Abad Pencerahan di Eropa—tak henti-henti dikeluhkan oleh banyak pihak. Modernisasi justru membuat masyarakat tercerabut dari pohon asal mereka. Pun demikian dengan teknologi yang beralih dari fungsi awalnya. Manusia kini justru menjadi budak, bukan tuan dari teknologi. Jalan Jawa, sedikit banyak, telah menampakkan hal itu.&lt;br /&gt;Sekira 6 tahun lalu, Jalan Jawa—bagi saya—adalah jalan yang ramping. Sungguh mudah menemui tanah lapang berumput di pinggirannya. Kini Jalan Jawa bagai kelebihan muatan—gemuk oleh sejumlah bangunan baru. Tanah lapang hanya bisa saya kenang, 6 tahun sungguh(kah) cepat (?).&lt;br /&gt;  Jalan bukan sekadar merujuk pada kata yang terkait dengan sarana teknologi-transportasi. Namun ia juga mengandung unsur ekonomis, politis, kultural yang saling berkelindan. Dan bagi saya, Jalan Jawa adalah Jalan Perantau. Di jalan itu, para perantau saling memandang/menyapa dalam bingkai ekonomis dan politis serta bertukar baju kultur secara perlahan.&lt;br /&gt;Bagi PKL, jalan memilki fungsi ekonomis yang luarbiasa pentingnya. Jalanan adalah sumber kebulan asap di dapur. Sebab tak ada sawah untuk digarap atau hewan untuk diternakkan. Jalan adalah tempat bersuara-aspirasi, itu bagi mahasiswa—walau bukti dari hal ini kian tak nampak di Jalan Jawa. Jalan ialah pula pentas bergaya bagi mereka yang memiliki kendaraan bermesin motor.&lt;br /&gt;  Seorang bijak pernah berkata kepada saya; “Kalau mendapat sesuatu dari jalan, maka akan kembali kesana lagi”. Sungguhkah jalan benar-benar keras hingga tak mengenal kompromi seperti tersirat dari pernyataan tersebut? Mungkin benar. Tetapi, ranah ekonomis, politis dan lainnya adalah bentukan manusia. Hingga tak menutup pintu bagi tafsir hati nurani bernama toleransi.&lt;br /&gt;  Kita harus berkompromi pada keberadaan PKL di sekitar Jalan Jawa. Sebab PKL—meminjam judul lagu Iwan Fals—adalah Bunga Trotoar yang kita yakin akan menjaga kebersihan dan keharuman tempatnya mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Para PKL itu pun telah berjasa memperkenalkan budaya cangkruk kepada para perantau yang hilir-mudik di Jalan Jawa.&lt;br /&gt;Pada Jalan Jawa yang kian padat, saya sulit menyeberang dari sisi satu ke tepi lainnya. Kendaraan bermotor itu sungguh menguasai manusia yang menungganginya. Seolah luntur budaya tepa-selira, saling memberi kesempatan pada yang lain dan pemeo “lambat asal selamat” jika sudah di Jalan Jawa.&lt;br /&gt;  Saya tak pernah melihat sebuah kendaraan bermotor berhenti sejenak secara spontan ketika ada seseorang ingin menyeberang di Jalan Jawa. Harus ada instrumen yang menghentikan kendaraan itu—macam zebra-cross. Sayangnya, instrumen untuk menyeberang itu amat jarang kita temui di sesaknya Jalan Jawa—hanya ada satu zebra-cross di jalan sepanjang itu.&lt;br /&gt;Jalan Jawa mengabarkan berita penting kepada kita: keberagaman. Dan Jalan Jawa sejak awal berfungsi memudahkan kegiatan kita bukannya memutus tali kemanusiaan antar-pribadi sebab guliran yang maha-dahsyat dari modernisasi. Pun bukan pula kian mencabut kearifan tradisional yang sejak lama dibentuk oleh leluhur di Tanah Jember ini.&lt;br /&gt;  Sebuah jembatan tertidur tenang pada Jalan Jawa,. Jika direnungi mendalam, jembatan itu adalah simbol dari keharusan membina komunikasi dalam keberagaman lalu-lalang disana. Sayang, jembatan itu juga bisa kita tafsirkan lain. Tak ada titimangsa dari pembuatan atau peresmian yang bisa dilihat oleh para perantau tertera pada jembatan itu. Inikah bukti bahwa modernisasi—sebab cirinya yang melulu fisik—senantiasa memendam dalam-dalam sifat toleransi dan sisi historis dari suatu lokus (daerah)? Saya tak bisa pastikan. Hanya saja—sebab manusia berhati-nurani—saya yakin, kita bisa kembali belajar membina toleransi dalam keberagaman dan mengembangkan nilai-nilai historis warisan leluhur mulai dari Jalan Jawa. Kita berhak dan wajib melakukan semua itu.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Dipublikasi di &lt;strong&gt;Harian Radar Jember&lt;/strong&gt; (06/12/2007) dengan judul &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jalan Jawa dan Warung Cangkrukan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Naga-naganya pengubahan judul yang dilakukan redaksi membuat keseksian tulisan ini jadi berkurang.***&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-307306857889975869?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/307306857889975869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=307306857889975869&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/307306857889975869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/307306857889975869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/ada-di-radar-jember-saya-harus-pasang.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-313644954873807252</id><published>2007-12-05T12:14:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T00:32:55.944+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mawar Diatas Batu (2)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Utuy Tatang Sontani&lt;/strong&gt;, sastrawan yang dituduh sebagai komunis, berbincang dengan saya beberapa malam terakhir. Banyak hal yang kami obrolkan. Percakapan antara kami, tidak akan mungkin kesampaian tanpa bantuan Ajip Rosidi.&lt;br /&gt;Berikut salinan obrolan antara saya (DAS) dan Utuy Tatang Sontani (UTS) pada suatu malam:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Ehhmmhhh.... saya harus memanggil anda apa? Soalnya nama anda banyak&lt;br /&gt;sekali. Tentu saja, saya harus menambahkan kata ‘Bapak’ di depan panggilan untuk anda itu bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Hehehe..kamu mah bisa aja...panggil saya apa saja. Memang, ketika masih &lt;br /&gt;tinggal di Cianjur, ada tetangga yang panggil saya Jun. Dan saat eksodus ke Bandung, saya juga dipanggil Dadang. Terserah kamu mau panggil saya apa. Kamu tentu pernah tahu ‘kan ucapan Shakespeare: “What’s in a name”?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Tapi Pak, nama itu mengandung makna. Dan untuk konteks Anda, bisa sangat &lt;br /&gt;berbahaya. Keterlibatan dengan Lekra dan PKI membuat nama Anda pudar sampai kini. Saya rasa hanya orang-orang tertentu saja yang kenal dengan Anda. Saya hanya ingin bilang, bahwa nama memiliki makna yang tak kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Ya...Ya, mungkin kamu betul. Tapi yang harus ditekankan disini, bukan &lt;br /&gt;hanya nama. Karya adalah yang utama. Manusia dikaruniai akal untuk mencipta atau berkreasi. Nah, apalagi untuk sastrawan, karya adalah hidup-mati bagi dia. Saya disebut sastrawan setelah saya menulis Tambera yang dipublikasi di harian Sipatahoenan. Walau sebelumnya, saya telah pula banyak menulis cerpen sejak kelas 6 Taman Siswa. Ya, Tambera itulah yang mungkin cukup berhasil menyita perhatian orang banyak. Artinya, saya dikenal orang karena saya menulis dan mengarang cerita, naskah drama dan puisi. Soal keterlibatan dengan Lekra/PKI, saya hanya ingin mengatakan, bahwa nama tidak bisa dilihat semata tanpa membaca karya seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Baik...baik Pak Utuy...Sekarang, saya ingin diceritakan kisah awal anda &lt;br /&gt;berkenalan dengan dunia tulis-menulis atau karang-mengarang. Saya tidak ingin terlalu membahas keterlibatan anda dengan PKI/Lekra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Ah, kamu itu bagaimana? Orang-orang seangkatanmu saja selalu mengingat-&lt;br /&gt;ingat kalau saya ini pernah jadi aktifis Lekra. Ini adalah jamanmu. Sebentar, saya jadi ingin bertanya kepadamu, kenapa kamu tak ingin membahas keterlibatan saya dengan Lekra/PKI? Jawablah dulu, baru saya ganti menjawab pertanyaanmu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Tapi, Pak...Yang tanya pertamakali ‘kan saya? Ya Pak Utuy dulu dong yang &lt;br /&gt;harus jawab. Tapi baiklah, saya ingin jelaskan. Begini Pak, generasi saya adalah kelompok yang cenderung dibingungkan oleh sekian banyak hasil penelitian, pendapat atau kesaksian dari peristiwa berdarah sekitar tahun 1965 itu. Saya ingin mengenal Pak Utuy sebagai seorang penulis saja. Di mata saya, Pak Utuy adalah seorang penulis besar yang pernah dilahirkan republik ini. Tentu ini bukan bualan semata. Dasar saya berkata seperti itu adalah karya-karya Pak Utuy banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa negeri lain. Jadi, kalau saya juga tanya kenapa Pak Utuy sampai terlibat dalam PKI/Lekra, ya saya jadi malas membahas. Bagi saya, biarlah itu jadi kenangan pahit kita sebagai bangsa dan negara. Saya ingin memotret Pak Utuy sebagai penulis, itu saja. Soal masa lalu, biarlah Pak Utuy dan pihak-pihak yang waktu itu berkonflik yang menyelesaikannya. Tentu saja, saya juga tidak setuju jika proses penyelesaian itu harus dibarengi dengan mengubur nama atau karya salah satu pihak. Tiap generasi punya konflik dan generasi selanjutnya berhak mengetahui isi konflik dan sisi lain dari konflik itu. Yang saya lakukan adalah sedikit menguak sisi lain dari Pak Utuy yang mantan anggota Lekra/PKI. Ya, Pak Ajip Rosidi juga pernah bercerita bahwa Pak Utuy sangat diragukan keterlibatannya dalam Lekra. Malah Pak Ajip meyakinkan bahwa kalau keterlibatan Pak Utuy semata karena janji-janji indah para aktifis PKI. Dan kalau tak salah, Pak Utuy juga hanya terlibat secara resmi dalam PKI selama 6 bulan sebelum meletus peristiwa Oktober 1965. Pak Utuy, sekali lagi, saya hanya ingin mengenal anda sebagai seorang penulis. Itu saja. Jadi, pertanyaan saya tetap: bagaimana awal keterlibatan anda dengan dunia tulis-menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Hehehe...Kamu kok panjang sekali menjawabnya. Ya, saya memang hanya &lt;br /&gt;enam bulan resmi masuk PKI. Tapi kamu juga harus tahu bahwa jauh sebelumnya, saya telah akrab dengan beberapa aktifis PKI. Misalnya Aidit dan Njoto. Saya menerima telegram dari Lekra pada tahun 1957. Isinya meminta saya untuk duduk sebagai anggota Pengurus Pleno dari Lekra. Telegram itu saya bawa ketika menemui Ajip. Saya minta saran dari dia seputar telegram itu, baiknya saya terima atau tidak tawaran itu. Ya, waktu itu, saya ingin menerima saja ajakan Lekra tersebut tatkala teringat ada Hendra Goenawan dan Boejoeng Saleh Poeradisastra yang juga menjadi anggota Lekra. Tapi, kalau ingat disitu ada juga AS Dharta, saya jadi malas untuk bergabung dengan Lekra. Tapi Ajip bilang, bukan disitu persoalannya. Dia bertanya kepada saya soal sikap pribadi terhadap realisme sosialis yang menjadi pegangan dari Lekra, sepakat atau tidak? Juga dengan komunisme. Akirnya saya tolak itu tawaran Lekra. Tapi, pada tahun 1959, saya menyetujui untuk duduk sebagai anggota Lekra....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Hmm....Pak Utuy, maaf ya....saya potong sebentar. Soalnya Pak Utuy sudah &lt;br /&gt;terlalu jauh dari konteks pertanyaan saya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS  : Ohhh...gitu ya? Tapi ada hubungannya lohh...Ya udah deh, saya kasih aja &lt;br /&gt;jawaban yang kamu mau. Begini, saya mulai menulis sejak kelas 6 Taman Siswa. Waktu itu umur saya kira-kira 15 tahun. Tapi, gara-gara saya mulai menulis agaknya sebuah kecelakaan saja. Ya, patah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Patah hati? Wah, romantis juga Pak Utuy ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Ah, kamu ini senang sekali main potong pembicaraan saya. Mau saya jawab gak &lt;br /&gt;pertanyaanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Ok...Pak Utuy, silakan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Baiklah. Ya, mungkin saja ihwal saya menulis itu romantis. Semuanya bermula &lt;br /&gt;ketika saya kedatangan tetangga baru. Anak perempuan yang tinggal di rumah itu cantik sekali. Sejak bersekolah di Taman Siswa, saya ingin punya pabrik kacang asin. Cita-cita itu terpikirkan sebab ada seorang Tionghoa di kampung saya yang sukses memiliki pabrik kacang asin. Padahal, awalnya dia kemana-mana selalu berjalan kaki dan pakaian yang dikenakannya tidak pernah ganti tiap hari. Tapi lama-kelamaan, orang Tionghoa tadi makin berjaya dengan usaha pembuatan kacang asin hingga memiliki karyawan yang jumlahnya banyak. Tetapi, impian akan pabrik kacang asin itu segera saya tinggalkan sebab kehadiran perempuan cantik yang menjadi tetangga saya itu. Orangtua angkatnya adalah seorang mantan amtenar (pegawai negeri di jaman Belanda), bekas kepala pegadaian. Saya berpikir, kalau mau mendapatkan anak perempuan itu, berarti harus memiliki latar belakang yang tak jauh beda dengan orangtua angkatnya. Ya, akhirnya terpancang di hati, niat untuk menjadi amtenar. Hahahaha...padahal saya pernah menertawakan ibu saya yang menyuruh saya menjadi amtenar suatu kali. Tapi roda kehidupan tak dapat diramal geraknya, bukan? Yahh...saya terlibat sedikit masalah dengan anak perempuan itu, padahal sebelumnya kami sering sekali bertemu pandang lewat jendela di rumah masing-masing, hampir tiap sore seperti itu. Saya tidak suka dengan teman-teman dia yang hampir tiap hari datang ke rumahnya. Mereka tertawa-tawa dan berbincang dalam bahasa Belanda. Maklum saja, anak perempuan itu sekolah di Hollands Inlandse School. Sekolah paling mentereng di jaman saya, hanya anak-anak pribumi yang menjadi amtenar, pedagang kaya atau keturunan ningrat saja yang bisa bersekolah disana. Rasa kesal melihat perilaku teman-teman anak perempuan itu memuncak di hati saya. Hingga suatu hari, saya tunggu dia muncul di jendela seperti biasanya. Lalu ketika dia mulai terlihat oleh mata saya, cepat-cepat saya buang muka dan membelakanginya. Dia membalas dengan membuang ludah. Saya patah hati jadinya. Sedih berhari-hari sebab anak perempuan itu tak lagi memunculkan dirinya di jendela. Ya, itulah awal saya menjadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS  : Hmmm...Pak Utuy...saya belum melihat hubungan antara kejadian yang anda &lt;br /&gt;ceritakan dengan dunia tulis-menulis? Saya malah merasa sedang dicurhati oleh anda tentang kenangan sebuah kisah cinta yang gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Oh iya...Hahahahaha....saya terlampau emosi kalau ingat soal itu. Sebab &lt;br /&gt;harusnya anak perempuan itu tahu bahwa saya membuang muka ketika ada di jendela waktu itu sebab saya benci dengan teman-temannya yang selalu saja cas-cis-cus bahasa Belanda. Ya, saya sekolah di Taman Siswa yang selalu mengajarkan bahwa kemerdekaan adalah keutamaan dari suatu bangsa. Maka di Taman Siswa diutamakan berbicara dalam bahasa Indonesia, walau bahasa Belanda diajarkan pula secara mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Pak Utuy....jawaban anda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Ya, saya lagi mau jawab nih....&lt;br /&gt;Sejak peristiwa itu, saya sangat menyesal dan merindukan momen-momen di jendela dengan anak perempuan itu. Saya mencari cara agar dia tahu saya menyesal dan ingin minta maaf. Beberapa hari merenung, akhirnya Eureka! Saya tahu caranya! Ketika anak perempuan itu baru saja menempati rumah di sebelah saya, seorang lelaki yang merupakan pamannya bertamu ke rumah saya. Lelaki itu mengaku kalau baru mendirikan sebuah penerbitan surat kabar, namanya ehhhmmm....Sinar Pasundan. Dia mengajak ayah saya untuk bekerja sama mengedarkan surat kabar itu di lingkungan saya. Sejak itu, setiap hari datang surat kabar ke rumah saya dan paman anak perempuan itu selalu hadir dengan beragam tulisan. Ada artikel, esai pendek atau cerpen yang ditulisnya. Pikiran saya menemukan ruang yang mungkin untuk menyampaikan permintaan maaf saya ke anak perempuan itu; saya akan mengarang sebuah cerita pendek! Lalu saya tulis sebuah cerita tentang sepasang muda-mudi yang saling menaruh hati, namun tak bisa bertemu sebab pihak si perempuan tak memiliki kebebasan untuk melangkah jauh keluar rumah. Jalan cerita kuberi bumbu dengan imajinasi, bahwa si lelaki akhirnya minta tolong kepada seorang kawannya untuk mengirimkan surat. Tapi akibatnya sangat buruk, si perempuan malah jatuh hati kepada lelaki yang mengirimkan surat itu. Yahhh...mudah saja menulis cerita itu, sebab kamu tahu ‘kan cerita itu muncul dari hati saya yang paling dalam. Hehehehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Setelah itu Pak Utuy? Ah, boleh saya tebak; pasti anak perempuan itu tidak &lt;br /&gt;memberi respon apa-apa sebab ia tidak membaca cerpen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Hahahaha....Dua ratus persen tebakanmu salah!!!! Saya berpikir menempuh jalur &lt;br /&gt;menulis cerpen untuk meminta maaf kepada anak perempuan itu tentu saja karena saya tahu, dia selalu membaca koran Sinar Pasundan itu. Sering kali saya mencuri dengar obrolan antara dia dan ibu saya; selalu saja ia memuji cerita-cerita karangan pamannya yang termaktub di koran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Jadi dia baca cerita itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Sebentar dulu...Setelah cerpen itu selesai saya tulis, saya kebingungan mencari &lt;br /&gt;nama. Ya namanya samaran. Sebab tiap kali mempublikasi tulisan, paman si anak perempuan itu juga menggunakan nama samaran. Saya berpikir, nama apa yang bisa saya pakai, namun si anak perempuan itu bisa tahu kalau yang menulis adalah saya. Aha...saya teringat tentang buku yang diberikan paman anak perempuan itu. Sebelum kami saling menjauh, anak perempuan itu pernah memberikan dua buah buku kepada saya, katanya dari pamannya. Saya yakin dia sudah membaca buku itu sebelum diserahkan kepada saya. Buku itu berjudul Pelarian Dari Digul dua jilid. Ceritanya sangat seru, tentang orang-orang buangan di Digul yang ingin melarikan diri. Saya terkesan dengan tokoh utama dalam buku itu, namanya Sontani, yang kuat dan berani. Ya, saya pakai nama itu untuk cerpen saya itu. Saya langsung kirim cerpen itu ke redaksi Sinar Pasundan di Bandung. Dalam surat pengantarnya, saya terangkan bahwa saya baru belajar menulis, jadi mohon diperbaiki jika ada kesalahan dalam tata bahasa. Berhari-hari kemudian, saya adalah orang yang paling resah ketika menunggu koran datang. Sampai suatu hari, setelah satu minggu menunggu, cerita pendek saya dimuat oleh Sinar Pasundan. Dan kamu tahu, tidak ada perubahan satu kalimat pun dari cerita pendek itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Ya, saya bisa bayangkan betapa bahagia Pak Utuy saat itu. Tapi, saya makin &lt;br /&gt;Tertarik dengan kisah tentang anak perempuan tetangga Pak Utuy itu. apa dia bisa kembali dekat dengan bapak gara-gara membaca cerpen itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Wah...kamu kok jadi kayak wartawan....apa itu nama acara yang isinya melulu &lt;br /&gt;gosip di televisi jaman sekarang? Ohhh...Ehmmhhh...Infotainment! Kamu jadi kayak tukang gosip yang di infotainment itu. Bagi saya, bukan soal apakah anak perempuan itu mau dekat kembali dengan saya. Ya, walau harus saya akui kecewa juga. Tapi, setidaknya, saya mulai tersadarkan bahwa saya punya takdir untuk menjadi seorang penulis karangan. Yang membuat saya makin semangat menulis adalah catatan yang ada di Rubrik Kotak Pos bersamaan dengan pemuatan cerpen itu. Isinya begini: “Sontani, Cianjur. Ada bakat, karenanya supaya diteruskan menulis!”. Sejak itulah, nama Sontani kian sering ada di Sinar Pasundan. Kadang muncul dengan cerita pendek, namun juga sering membawakan sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Wah, gara-gara patah hati, Pak Utuy lantas jadi pengarang besar ya...Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTS : Bukan seperti itu. Saya memang menjadi pengarang karena peristiwa itu. Tapi &lt;br /&gt;siapa yang tahu? Setelah sering dimuat oleh Sinar Pasundan, banyak pihak yang menunjukkan faktor-faktor yang menyebabkan saya menjadi pengarang. Orang-orang tua yang ada di Cianjur bilang bahwa saya menjadi pengarang sebab saya dilahirkan di Cianjur. Lalu mereka mengajukan bukti bahwa tanah Cianjur selalu melahirkan pengarang. Ada surat bupati Cianjur yang ditulis kepada raja Mataram dalam bentuk sajak. Lalu ibu saya bilang, sebab saya menjadi pengarang adalah keturunan dari nenek saya yang dulu sering menulis pahlawan-pahlawan Islam dengan menggunakan huruf Arab. Saya jadi ingat memang ketika masih kecil, sering sekali nenek membacakan sajak-sajak saat kumpul-kumpul dengan tetangga. Teman-teman di Taman Siswa mengatakan bahwa saya menjadi pengarang sebab saya sekolah disana. Dan tentu saja yang paling berkesan adalah pendapat paman anak perempuan tetangga saya itu. Ia bilang bahwa faktor yang paling berjasa dalam menjadikan diri saya sebagai seorang pengarang adalah asmara. Di bilang kalau asmara itu mahasakti. Yah...itulah pendapat orang-orang tentang kepengarangan saya. Setelah berpikir masak-masak, saya simpulkan bahwa saya menjadi pengarang sebab ada emosi dalam diri yang harus dijawab sebagai sebuah tantangan. Karangan saya itulah jawaban atas tantangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS : Baiklah Pak Utuy... Bagi saya, anda menjadi pengarang, penulis, sastrawan atau &lt;br /&gt;apapun namanya, sebab anda mampu mengolah emosi yang mengendap dalam diri dan menyalurkan dalam bentuk karya tulis yang memiliki daya luar biasa. Pak Utuy, demikian dulu obrolan kita. Suatu saat pasti saya mencari anda untuk berbincang soal tulis-menulis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu malam makin mendekat ke benderang fajar. Pak Utuy tersenyum sebentar lalu menganggukkan kepala sebagai tanda pamit. Malam itu adalah malam yang gemerlap karena bincang-bincang dengan Pak Utuy Tatang Sontani—yang masih saya sebut sebagai Mawar Diatas Batu.*** (ada lagi lanjutannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Isi obrolan disarikan (dengan beberapa improvisasi) dari bab Mengapa Mengarang dalam buku Di Bawah Langit Tak Berbintang (Ajip Rosidi (ed.). 2001. Pustaka Jaya: Jakarta)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-313644954873807252?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/313644954873807252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=313644954873807252&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/313644954873807252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/313644954873807252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/mawar-diatas-batu-2-utuy-tatang-sontani.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-4415439254752008506</id><published>2007-12-03T14:22:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T13:07:10.308+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1OvInZwkkI/AAAAAAAAAFE/x9LTFYhYWQ8/s1600-R/12.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1OvInZwkkI/AAAAAAAAAFE/IXXtSDND54I/s320/12.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139644162310705730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perahu Perantau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK pernah berlabuh.&lt;br /&gt;Kita jarang mengunduh.&lt;br /&gt;Orang di kampung&lt;br /&gt;nyebut kita pelasuh.&lt;br /&gt;Rumah di pantai&lt;br /&gt;nuduh kita: “&lt;em&gt;Tak bersauh!&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADAHAL camar, &lt;br /&gt;asin keringat, matahari&lt;br /&gt;dan kita belum tuntas menari.&lt;br /&gt;Dan ikan-ikan, kerang,&lt;br /&gt;karang masih menyeringai.&lt;br /&gt;Selalu minta dilambai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LALU layar belum ingin digulung,&lt;br /&gt;jangkar pun tak siap berkarat garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan bersinar titahkan terus mendayung.&lt;br /&gt;Badan tak sekarat, ini perahu belum karam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WALAU diarak ombak,&lt;br /&gt;dibuai badai.&lt;br /&gt;Kita tak ingin berlabuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jember; 03/12/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Foto oleh Andri Saputra dan Waeti/Borneonews&lt;br /&gt;dicukil dari &lt;a href="http://udozkarzi.blogspot.com/2007/11/lomba-perahu-hias.html"&gt;blog Udo Z Karzi&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-4415439254752008506?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/4415439254752008506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=4415439254752008506&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4415439254752008506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/4415439254752008506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/perahu-perantau-tak-pernah-berlabuh.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1OvInZwkkI/AAAAAAAAAFE/IXXtSDND54I/s72-c/12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-426441176526832768</id><published>2007-12-03T14:09:00.000+07:00</published><updated>2007-12-03T14:21:01.750+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1OuHHZwkjI/AAAAAAAAAE8/TYeRRxBXL4g/s1600-R/10.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1OuHHZwkjI/AAAAAAAAAE8/huiy7pR4BW0/s320/10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139643037029274162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perahu Pendoa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kalau aku telah masuki&lt;br /&gt;muaramu.&lt;br /&gt;  Lalu tak lelah kususuri&lt;br /&gt;sungaimu.&lt;br /&gt;  Walau sulit kutemui&lt;br /&gt;mataairmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah, Kau&lt;br /&gt;juluki aku penggoda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Jember; Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Foto oleh Andri Saputra dan Waeti/Borneonews; dicukil dari &lt;a href="http://udozkarzi.blogspot.com/2007/11/lomba-perahu-hias.html"&gt;blog Udo Z Karzi&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-426441176526832768?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/426441176526832768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=426441176526832768&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/426441176526832768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/426441176526832768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/perahu-pendoa-kalau-aku-telah-masuki.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1OuHHZwkjI/AAAAAAAAAE8/huiy7pR4BW0/s72-c/10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-8677117584734178825</id><published>2007-12-01T14:56:00.000+07:00</published><updated>2007-12-01T14:59:12.046+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1ET0HZwkiI/AAAAAAAAAE0/QMXkdOWRR8w/s1600-R/Foto1881.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1ET0HZwkiI/AAAAAAAAAE0/xXSPD_AC-oo/s320/Foto1881.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138910435867660834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Utuy Tatang Sontani&lt;/span&gt; dan saya bercakap-cakap selama beberapa malam.&lt;br /&gt;Ada saja yang berubah dari percakapan kami. Hingga saya pun kesulitan menuliskan percakapan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-8677117584734178825?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/8677117584734178825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=8677117584734178825&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8677117584734178825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8677117584734178825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/12/utuy-tatang-sontani-dan-saya-bercakap.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R1ET0HZwkiI/AAAAAAAAAE0/xXSPD_AC-oo/s72-c/Foto1881.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-1924911275073790895</id><published>2007-11-26T22:44:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T00:49:04.740+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0rt7MndHaI/AAAAAAAAAEU/OIgRNfz7WgE/s1600-h/utuy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0rt7MndHaI/AAAAAAAAAEU/OIgRNfz7WgE/s400/utuy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137179926224248226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mawar Diatas Batu (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;em&gt;Untuk Mang Awal, Jun, Sontani, Dadang&lt;br /&gt;   Dan Utuy Tatang Sontani&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebuah sore. Tapi terbenamnya matahari tak dapat saya lihat ditengah kepungan tembok itu. Saya sedang berjalan-jalan di Jatinangor Town Square (Jatos)—sebuah tempat perbelanjaan yang menjadi simbol penumpukan modal, elit kelas menengah dan ketertutupan. Jatos bagi saya tak beda dengan pasar tradisional. Hanya saja ia tidak becek, tidak sempit, tidak bau campur-campur dan tidak membuat gerah. Jatos adalah luasnya lantai porselin—yang tiap menit dipel oleh cleaning service—, harum dan segar selalu—berkat pendingin yang sangat besar. Ditengah-tengah kepungan penjual sepatu dan sendal, baju dan celana, keping-keping cd bajakan dan original; saya mengetahui sorenya hari berkat tampilan penunjuk waktu yang ada di telepon genggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hanya ada dua toko buku di bangunan megah itu. Saya masuki keduanya. Yang membuat saya terkesan hanya toko buku yang saya masuki terakhir. Diantara rak-rak buku yang tersusun rapi, saya melihatnya; bersampul merah, tidak berplastik, berukuran kecil dan cukup tipis. Buku itu diletakkan pada saf ‘NOVEL DAN SASTRA’—tanya dalam hati menyeruak tiba-tiba; “adakah NOVEL yang bukan karya SASTRA?”. (Ah, pengatur tata-letak buku-buku pada toko itu ada-ada saja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tangan saya bergerak merengkuhnya. Membuka-buka sekilas buku itu lalu mata saya tertumbuk pada sampul belakangnya. Foto bertekstur lama dari seorang lelaki yang berkacamata dengan bingkai hitam, duduk di semacam sofa kecil, tersenyum, berdasi hitam dan berhem putih yang menyembul malu-malu ditutupi semacam baju penghangat, tangannya disatukan tertangkup di paha yang berbalut celana panjang. Melihat foto itu, Yeye yang berada tepat di samping saya berkata pelan; “Ya ampun, Sunda banget mukanya”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah lama, saya mencari dokumentasi tentang lelaki itu—entah karyanya atau memoar tentang ia. Saya terprovokasi oleh &lt;a href="http://pejalanjauh.blogspot.com/2007/10/indonesia-raya-berkumandang-di-moskwa.html"&gt;salah satu posting Zen R Sugito&lt;/a&gt; di blognya. Sore itu saya merasa beruntung. Buku tipis itu saya beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pustaka Jaya adalah penerbitnya. Sementara penyusun dan pemberi kata pengantar buku itu adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ajip Rosidi&lt;/span&gt;. Namun pada bagian sampul—depan dan belakang—buku itu, kita tidak akan membaca nama Pendiri Yayasan Rancage tersebut. Hanya ada 54 huruf yang tertera pada bagian sampul depan buku itu. Dua puluh enam huruf merangkai judul buku itu: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di Bawah Langit Tak Berbintang&lt;/span&gt; dan sebelas huruf membentuk nama penerbitnya. Pada bagian atas agak ke kanan, berderet rapi 17 huruf membentuk 1 nama: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Utuy Tatang Sontani&lt;/span&gt;. Mata saya melahap huruf-huruf, kata-kata dan kalimat-kalimat pada halaman-halaman buku—yang menggunakan lukisan karya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alit Ambara&lt;/span&gt; sebagai gambar sampul depan—itu dalam satu malam sepulang dari Jatos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bukan salah otak dan hati saya, jika saya sangat penasaran pada tokoh yang satu ini. Nama Utuy Tatang Sontani tidak saya dengar pada bangku sekolah menengah. Baru ketika kuliah, saya membaca namanya berderet-berjajar dengan Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, HR Bandaharo, Agam Wispi, dan sejumlah penulis lainnya yang mengalami pelarangan atas karya-karyanya oleh rejim Orde Baru. Nama Utuy Tatang Sontani hampir hilang jika saja Orde Baru tidak tumbang pada 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kondisi hampir amnesia itulah kiranya yang membuat penerbit buku ini menyediakan satu halaman khusus untuk menorehkan kalimat: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Memoar? Otobiografi? Novel?&lt;/span&gt; / Y&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ang penting mesti dilontarkan,&lt;/span&gt; / &lt;span style="font-style:italic;"&gt;biar gemerlap di gelap malam&lt;/span&gt; di bawah judul yang ditulis dengan seluruhnya huruf kapital. Di Bawah Langit Tak Berbintang adalah buku tentang Utuy Tatang Sontani yang ditulis sendiri olehnya dengan gaya penyampaian khas novel, namun menampilkan sisi dialog berbau sandiwara. Terbit pertama kali pada tahun 2001, walau Utuy telah menuliskannya kira-kira 30 tahun sebelumnya, buku ini adalah langkah untuk tidak melupakan kiprah pengarang sandiwara, novel, cerpen dan puisi tersebut di atas panggung sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya terus berpegang pada satu keyakinan ketika berenang-renang di lautan sastra: “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mempercayai segala bentuk tulisan seorang sastrawan adalah keganjilan. Maka yang diperlukan adalah menyerap maksud baik yang tersimpan dalam tulisan itu&lt;/span&gt;”. Saya terapkan pula hal itu ketika membaca Di Bawah Langit Tak Berbintang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam kemegahan Jatos, saya menemukan Di Bawah Langit Tak Berbintang. Ketika membacanya, saya melongok sisi lain seorang penulis yang disebut oleh beberapa pihak sebagai komunis. Suatu malam di Jatinangor yang kian tidak agraris, saya berbincang panjang dengan Utuy Tatang Sontani. Untuk beberapa sebab, saya juluki ia: Mawar Diatas Batu.***(ada lagi lanjutannya)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-1924911275073790895?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/1924911275073790895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=1924911275073790895&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1924911275073790895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1924911275073790895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/11/mawar-diatas-batu-1-untuk-mang-awal-jun.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0rt7MndHaI/AAAAAAAAAEU/OIgRNfz7WgE/s72-c/utuy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-5765237222848576697</id><published>2007-11-24T19:40:00.000+07:00</published><updated>2007-11-25T04:20:50.160+07:00</updated><title type='text'>Satu Sajak Isbedy Stiawan ZS</title><content type='html'>Saat mondar-mandir di jejaring internet Sabtu (24/11/2007) ini, saya menemukan beberapa sajak Isbedy Stiawan ZS dipublikasi di &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/24/khazanah/sajak.htm"&gt;Suplemen Khazanah Pikiran Rakyat&lt;/a&gt;. Ada satu yang sangat saya suka. Saya taruh dia di dalam blog ini, sebab sajak itu mengena sekali dengan pengalaman dan kenangan saya hidup di Metro, Lampung selama 17 tahun penuh--walau sampai 7 tahun setelah itu, saya masih setia pulang kampung kesana.&lt;br /&gt;---------------------------------------&lt;br /&gt;Sungai Tulangbawang  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;::karya Isbedy Stiawan ZS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika aku sampai di sungai ini&lt;br /&gt;dan aku telah cecap airnya&lt;br /&gt;sambut aku sebagai puari*)&lt;br /&gt;duduk berdepan-depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkisah ihwal darah ibu&lt;br /&gt;saat melahirkanku:&lt;br /&gt;dan kau tahu &lt;br /&gt;bahwa ari-ariku tertanam&lt;br /&gt;disuburi lampu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga lidahku&lt;br /&gt;akrab pada seruit**)&lt;br /&gt;ikan gabus&lt;br /&gt;lalap petai&lt;br /&gt;dan buah terong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"jangan panggil aku&lt;br /&gt;pendatang,&lt;br /&gt;apalagi petualang!"&lt;br /&gt;bisikku, sebab namaku &lt;br /&gt;sejak lama sudah ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku kenal raja&lt;br /&gt;bersama silsilah&lt;br /&gt;walau gelap kuburnya&lt;br /&gt;sekelam istananya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, kata tetua-tetua,&lt;br /&gt;pernah ada raja***)&lt;br /&gt;yang memerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku…&lt;br /&gt;2005/2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) bagi pendatang dan jika orang suku Lampung menerima, bisa diakui saudara (puari)&lt;br /&gt;**) sambal khas Lampung&lt;br /&gt;***) masyarakat Lampung, terutama dari Menggala Kabupaten Tulangbawang, meyakini pernah ada seorang Raja yang memimpin dari istananya di sekitar tepian Sungai Tulangbawang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-5765237222848576697?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/5765237222848576697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=5765237222848576697&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5765237222848576697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/5765237222848576697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/11/satu-sajak-isbedy-stiawan-zs.html' title='Satu Sajak Isbedy Stiawan ZS'/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-1159081641690818531</id><published>2007-11-23T16:07:00.000+07:00</published><updated>2007-11-23T16:18:56.234+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0aau8ndHYI/AAAAAAAAAEE/HQ2udjzlGak/s1600-h/Image089.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0aau8ndHYI/AAAAAAAAAEE/HQ2udjzlGak/s200/Image089.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135962556398902658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0aaTsndHXI/AAAAAAAAAD8/rrdIRdjzQwE/s1600-h/Image087.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0aaTsndHXI/AAAAAAAAAD8/rrdIRdjzQwE/s200/Image087.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135962088247467378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0aZqcndHWI/AAAAAAAAAD0/ij2dHDrW5vA/s1600-h/Image088.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0aZqcndHWI/AAAAAAAAAD0/ij2dHDrW5vA/s200/Image088.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135961379577863522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beberapa foto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada di Metro, dalam rangka mudik, saya meminjam hp Yeye yang dilengkapi kamera digital. "Pinjem hp-nya", pinta saya kepadanya. "Mau foto-foto Taman Kota", lanjut saya setelah Yeye memberikan hp yang baru ia keluarkan dari tas. Yah...buat kenang-kenangan biar ada di blog ini. Sekadar pengobat rindu dengan kampung. Tapi saya jadi tergoda untuk membuat sajak dari beberapa foto amatir yang saya buat itu. Semoga bisa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-1159081641690818531?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/1159081641690818531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=1159081641690818531&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1159081641690818531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1159081641690818531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/11/beberapa-foto-ketika-ada-di-metro-dalam.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/R0aau8ndHYI/AAAAAAAAAEE/HQ2udjzlGak/s72-c/Image089.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-3037266282852915073</id><published>2007-11-10T02:25:00.000+07:00</published><updated>2007-11-10T02:28:02.224+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Selamat Hari, Pahlawan!!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pahlawan&lt;/strong&gt; tidaklah bermakna tunggal. Namun merupakan kumpulan individu dari berbagai masa yang pernah memberi—dalam bentuk apapun—kepada komunitas tempatnya menghirup udara. Kumpulan individu itu tidak pernah memancangkan niat untuk menjadi pahlawan di kemudian hari. Selama masih hidup, para pahlawan hanya melakukan apa yang mereka bisa dengan segala yang mereka punya. Tentu saja agar tujuan yang menjadi kepentingan bersama dalam lingkungan bisa mewujud melalui bentuk terbaiknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-3037266282852915073?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/3037266282852915073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=3037266282852915073&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3037266282852915073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3037266282852915073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/11/selamat-hari-pahlawan-pahlawan-tidaklah.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-6503892425143670748</id><published>2007-11-08T22:15:00.000+07:00</published><updated>2007-11-08T22:33:43.039+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/RzMrZdkvpHI/AAAAAAAAACU/5TzeCAiP5g4/s1600-h/148530.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/RzMrZdkvpHI/AAAAAAAAACU/5TzeCAiP5g4/s320/148530.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130492116940596338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;foto dicukil dari &lt;a href="http://media-indonesia.com"&gt;media indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;krakataukujanganmeledakdulu&lt;br /&gt;jangan meledak dulu&lt;br /&gt;j a n g a n m e l e d a k d u l u&lt;br /&gt;krakatauku&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-6503892425143670748?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/6503892425143670748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=6503892425143670748&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6503892425143670748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/6503892425143670748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/11/foto-dicukil-dari-media-indonesia.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/RzMrZdkvpHI/AAAAAAAAACU/5TzeCAiP5g4/s72-c/148530.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-7338618874753513198</id><published>2007-11-05T14:42:00.000+07:00</published><updated>2007-11-05T14:49:53.576+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Telah Kutitipkan Berkarung-karung Rindu Padamu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://udozkarzi.blogspot.com"&gt;&lt;strong&gt;Udo Z Karzi&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://udozkarzi.blogspot.com/2007/11/puisi-puisi-krakatau-award-2006-antakan.html"&gt;menerjemahkan seluruh puisi yang terpilih dalam Krakatau Award tahun 2006&lt;/a&gt; ke dalam Bahasa Lampung. Salah satu puisi saya masuk nominator saja. Tetapi juga ikut diterjemahkan oleh Udo. Terimakasih Udo. Menurut rencana, seluruh puisi itu akan dibukukan, tetapi "&lt;em&gt;Sayang ni sampai tanno, 1 November 2007 rencaka inji mak jadi. Buku ni mak ticitak-citak&lt;/em&gt;", kata Udo. Dan ini puisi saya itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RADU KUTITIPKO BEKARUNG-KARUNG TIRAM JAMA NIKU&lt;br /&gt;jama ari&lt;br /&gt;-- Deny Ardiansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kik niku jadi mulang&lt;br /&gt;reno tekas jak banten rik&lt;br /&gt;mulai keliakan merak&lt;br /&gt;dan hinok di kersi penumpang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kik radu di tengah kapalmu&lt;br /&gt;kira ni mak jelas lagi tanoh jawa&lt;br /&gt;ingok lehotku:&lt;br /&gt;mit geladak rik ucakko&lt;br /&gt;salam ruwa kali; sai bemu, bareh ni benyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asal niku mak hinok barong jama kapal merapot,&lt;br /&gt;rasako debar ni jantungmu kala&lt;br /&gt;bis nanjak mit jak bakauheni&lt;br /&gt;seno degup ni tiram; debar cinta sai&lt;br /&gt;tepancar ngeliak pemandangan sekeliling&lt;br /&gt;rulah, kayu, tebing tegar nyambut sunyin ni ram sai muloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kik matamu mak mekuat lagi, pedom do&lt;br /&gt;kidang pasang alarm hp-mu nyin&lt;br /&gt;minjak kala bis ngelintasi rangok ni pulau pasir&lt;br /&gt;injuk aku, kanjak lunik nyak gering mit disan&lt;br /&gt;wat sekura di rangok ni sai&lt;br /&gt;jak lucu ni kanjak ribuan sekura di pulau jawa&lt;br /&gt;malahan, amu, unyin ni gering mit disan, maka thr gelar ni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, kala rajabasa niku kuruki, lamon do betasbih&lt;br /&gt;injuk biasa; langsung niku cakak bis jurusan metro&lt;br /&gt;mak perlu ngeliak kanan ngeliak kiri nyin&lt;br /&gt;bekarung-karung tiramku mak kena akuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuruk mit daerah ganjar agung tulung rekam diingokanmu&lt;br /&gt;ceritako liwat sms keaadaan ni sabah disan&lt;br /&gt;tugu pering runcing udi maseh wat kudo&lt;br /&gt;radu kudo salai ni walet nutupi siluet sai ram kegeringi&lt;br /&gt;sesampai ni niku di metro, dang lupa jama karung-karung tiramku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagiko isi karung seno jama ulun tuhaku&lt;br /&gt;ceritako karung seno jama kantek-kantek ram&lt;br /&gt;kik niku kesipak, urau sai bareh cakak gunung luwot&lt;br /&gt;ngedaki jutaan warah sai tiguris di&lt;br /&gt;ngison ni tanggamus&lt;br /&gt;kik mak lagi mekuat cukutmu, mit betung juga kasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;repa kik mit mah item riya&lt;br /&gt;di udi mak perlu mebuya cukutmu&lt;br /&gt;injuk tumbai, tenong ni bingi pulau musti tipecohko&lt;br /&gt;dentuman peledak rik ram pandai seno pakai sang pujuk mi&lt;br /&gt;ah... radu do, nyak musti diingok,&lt;br /&gt;mit dipa cukut ngejimpang di tanoh sai ngelaherko neram&lt;br /&gt;dang lupa karung-karung tiram titipan jak nyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember, Juni 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-7338618874753513198?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/7338618874753513198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=7338618874753513198&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7338618874753513198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7338618874753513198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/11/telah-kutitipkan-berkarung-karung-rindu.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-816791837633165774</id><published>2007-11-01T11:08:00.000+07:00</published><updated>2007-11-01T23:03:57.647+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/Ryn4opTXBqI/AAAAAAAAACE/3DsnpL5Tz_s/s1600-h/files.php.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/Ryn4opTXBqI/AAAAAAAAACE/3DsnpL5Tz_s/s200/files.php.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127903027903530658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Bedah Buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, lama kali saya rasanya tak berangkat juga untuk numpang hidup lagi di Jember. Seorang kawan yang sangat karib mengirim undangan di bawah ini via email ke saya. Duh, senangnya ada bedah buku di Kota Tembakau Jember itu. Tapi apa saya bisa datang?&lt;br /&gt;Padahal asyik sekali perhelatan itu--mengingat kini gempuran acara musik-musik pop sungguh deras di Jember. Semoga bisa datang untuk meyegarkan otak dan hati ini lagi. Apalagi, buku yang dibedah adalah buku karangan &lt;strong&gt;Nurani Soyomukti&lt;/strong&gt;--Pemuda yang baru saja memenangkan Sayembara Menulis Esai Kepemimpinan Pemuda yang dihelat oleh Kantor Menpora dan FLP--dan pembicara yang satunya lagi sangat akrab denga saya; &lt;strong&gt;Agus Trihartono &lt;/strong&gt;(wah kini sudah pake 'Msi', nampaknya kuliah di Jepang itu telah usai dijalankan oleh beliau)--salah satu dosen muda di Jember yang pikirannya renyah dan segar serta cerdas.&lt;br /&gt;Ah, kalaupun tak bisa bertandang ke resepsi tersebut, saya mengucap semoga sukses bedah bukunya. Saya usahakan datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor: 67/B/SEK-HIMAHI/X/2007&lt;br /&gt;Lampiran: -&lt;br /&gt;Perihal: UNDANGAN TERBUKA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepada Bpk/Ibu/Kawan&lt;br /&gt;Dimanapun Anda Berada&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sehubungan dengan akan dilaksanakannya kegiatan HIMAHI FIESTA 2007 oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) FISIP Universitas Jember, maka dengan ini kami juga mengadakan acara “BEDAH BUKU REVOLUSI BOLIVARIAN, HUGO CHAVEZ, DAN POLITIK RADIKAL” yang akan kami selenggarakan pada:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari/Tanggal:&lt;br /&gt;Selasa, 13 Nopember 2007&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Waktu:&lt;br /&gt;08.30 WIB s/d Selesai&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tempat:&lt;br /&gt;Ruang Sidang  FISIP UNEJ Jember, JATIM&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembicara:&lt;br /&gt;Nurani Soyomukti (penulis/aktifis JARINGAN KAUM MUDA UNTUK KEMANDIRIAN NASIONAL—JAMAN),&lt;br /&gt;Agus Tri, MSi (Dosen Hubungan Internasional UNEJ)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh karena itu, kami mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/Kawan untuk hadir dalam acara tersebut.  Atas perhatian nya kami sampaikan terima kasih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jember, 29 Oktober 2007&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENGURUS HIMPUNAN MAHASISWA HUBUNGAN INTERNASIONAL (HIMAHI)&lt;br /&gt;FISIP UNIVERSITAS JEMBER&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketua Umum&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Arif Rahman Budiono&lt;br /&gt;NIM. 040910101010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-816791837633165774?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/816791837633165774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=816791837633165774&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/816791837633165774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/816791837633165774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/11/sebuah-bedah-buku-ah-lama-kali-saya.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_XD7IdX38vhg/Ryn4opTXBqI/AAAAAAAAACE/3DsnpL5Tz_s/s72-c/files.php.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-1680553618628028355</id><published>2007-10-30T21:43:00.000+07:00</published><updated>2007-10-30T21:51:31.770+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Sekeping Pasundan; Serumpun Kisah Cinta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Selamat Datang”, Leuwi Panjang menyambutku&lt;br /&gt;dengan tantangan sejumput gerimis tipis.&lt;br /&gt;“Maaf”, kataku, ”Aku lupa mencatat berapa kali&lt;br /&gt;dua kaki ini mendekam disini”.&lt;br /&gt;“Tak apa”, balasmu, “Terlalu sering, orang alpa&lt;br /&gt;mengingat telah kemana mereka melangkah”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ingatanku membaca lagi lembarnya yang lusuh;&lt;br /&gt;dulu disini ada pemuda durhaka tersebab cinta.&lt;br /&gt;perahu tertangkup di gunung itulah buktinya.&lt;br /&gt;“Benar”, suaramu menggema tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Hei, dilarang menguping”, sahutku, “Aku ingin&lt;br /&gt;bicara dengan hatiku”.&lt;br /&gt;“Ah, dasar penggumam”, cetusmu, “Peduli amat&lt;br /&gt;dengan hatimu. Hati-hatilah dengan hatimu”.&lt;br /&gt;“Kau harus tahu. Aku seperti ini&lt;br /&gt;agar tak durhaka dengan hati sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pernah jua, disini, seorang pemuda&lt;br /&gt;menulis puisi cinta yang sungguh panjangnya&lt;br /&gt;memuji elok dan permai nusantara.&lt;br /&gt;2 hari berikutnya, pemuda itu, turut mengucap&lt;br /&gt;3 butir sumpah beraroma menolak tua.&lt;br /&gt;“Aduh sebenarnya kau ini siapa;&lt;br /&gt;Pencinta, Penyair atau Pencatat Sejarah?”, tanyamu menggebu.&lt;br /&gt;“Huh, bagiku tiap orang adalah penyair&lt;br /&gt;hanya saja, kadang mereka malas membuat hatinya mengalir”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tibatiba, semerbak Cinta Pitaloka mampir juga&lt;br /&gt;di memoriku. Putri itu betapa teguh cintanya.&lt;br /&gt;Jauh sebelum lahir: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;berputih tulang itu lebih baik&lt;br /&gt;daripada mata yang diputihkan&lt;/em&gt;, Sang Putri&lt;br /&gt;dengan bulat keyakinan memberi bukti.&lt;br /&gt;“Sebenarnya sukumu apa?”, tanyamu dengan raut serius.&lt;br /&gt;“Aku hanya searus tubuh yang ingin luruh&lt;br /&gt;menyelami tiap kisah cinta&lt;br /&gt;diseluruh kolam yang menganga”, jawabku lirih.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kini Jatinangor memelukku lagi.&lt;br /&gt;Lalu manis sekali ia bertanya padaku:&lt;br /&gt;“Kisah Cinta apa yang ingin kau dengar&lt;br /&gt;dari harum tanahku ini?”&lt;br /&gt;“Aku ingin mendengar kisah tentang Cinta&lt;br /&gt;yang tetap turun kala lelap menyandera mata”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jatinangor; Oktober 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-1680553618628028355?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/1680553618628028355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=1680553618628028355&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1680553618628028355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/1680553618628028355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/10/sekeping-pasundan-serumpun-kisah-cinta.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-3252833483074001578</id><published>2007-10-30T21:18:00.000+07:00</published><updated>2007-10-30T21:33:54.368+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#ff0000;"&gt;Cemas&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#ff0000;"&gt;kau datang lagi&lt;br /&gt;menarinari tak peduli&lt;br /&gt;di pelupuk mata kanan dan kiri.&lt;br /&gt;pun dendangmu terngiang&lt;br /&gt;memajang riang di hati nan usang.&lt;br /&gt;kau tak pernah sekalipun lekang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#ff0000;"&gt;ombak tak lelah menggoyang perahu&lt;br /&gt;angin ikut pula berhembus tak semilir&lt;br /&gt;kau tampak tak pernah mau tahu&lt;br /&gt;menggotongku tak henti ke hulu dan hilir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#ff0000;"&gt;kapan kau akan angkat kaki?&lt;br /&gt;padahal kini telah kumengerti&lt;br /&gt;cemas, sungguh, tak lebih dari mimpi&lt;br /&gt;yang selalu gagal berkemas menuju pagi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#ff0000;"&gt;Jatinangor; Oktober 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-3252833483074001578?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/3252833483074001578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=3252833483074001578&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3252833483074001578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3252833483074001578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/10/cemas-kau-datang-lagi-menarinari-tak.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-3935553322735867933</id><published>2007-10-30T05:16:00.000+07:00</published><updated>2007-10-30T05:17:23.306+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Resume Wawancara Dengan Penyair dan Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu para penyair itu membuat kereta puisi&lt;br /&gt;untuk berjalan diatas tubuhnya&lt;br /&gt;yang telah menjelma rel dengan ikhlasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terus saja&lt;br /&gt;deretan gerbong lari menderu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku bayangkan tetesan airmata&lt;br /&gt;cucuran keringat, ceceran darah&lt;br /&gt;alirmengalir tak henti di&lt;br /&gt;sekujur molek rel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian dengan pelan dan pasti&lt;br /&gt;kereta puisi melesat tinggi&lt;br /&gt;meninggalkan penyair yang jadi rel&lt;br /&gt;menempel sendirian di tanah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisi pasti pergi&lt;br /&gt;sebab ia tahu&lt;br /&gt;penyair akan ditarik kembali&lt;br /&gt;tanpa menenteng puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Metro, saat mudik 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-3935553322735867933?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/3935553322735867933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=3935553322735867933&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3935553322735867933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/3935553322735867933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/10/resume-wawancara-dengan-penyair-dan.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-7711922421665161743</id><published>2007-10-30T02:38:00.001+07:00</published><updated>2007-10-30T22:14:41.695+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Idul Fitri&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/RydJeZTXBpI/AAAAAAAAAB8/0g4HTp8ZxnU/s1600-h/Ecspose_4_resize.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127147487321589394" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 98px; CURSOR: hand; HEIGHT: 109px; TEXT-ALIGN: center" height="141" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/RydJeZTXBpI/AAAAAAAAAB8/0g4HTp8ZxnU/s200/Ecspose_4_resize.jpg" width="133" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;: Moherirawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu kita tak pernah berhenti&lt;br /&gt;melahirkan anak&lt;br /&gt;melalui kakinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah mampu melangkah&lt;br /&gt;ke kaki ibu tujuan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti hari ini,&lt;br /&gt;sehabis terbang ke bulan&lt;br /&gt;kaki ibu tak bosan&lt;br /&gt;menunggu disimpuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metro; 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-7711922421665161743?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/7711922421665161743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=7711922421665161743&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7711922421665161743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7711922421665161743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/10/idul-fitri-moherirawan-ibu-kita-tak.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_XD7IdX38vhg/RydJeZTXBpI/AAAAAAAAAB8/0g4HTp8ZxnU/s72-c/Ecspose_4_resize.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-8533678983495918667</id><published>2007-10-30T02:34:00.000+07:00</published><updated>2007-10-30T02:36:10.352+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Sebuah Kenangan&lt;br /&gt;Dalam Kereta Ke Selatan Lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; : Paksi Marga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita belum kalah&lt;br /&gt;kita belum kalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin belum menjelma badai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;badan ini hanya butuh&lt;br /&gt;membungkuk sejenak&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;kepala kita hanya perlu&lt;br /&gt;merunduk sebentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita tidak memutar arah&lt;br /&gt;karena kita belum kalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alir sungai belum lagi beku&lt;br /&gt;deru udara pun tak jua kaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selama pandang masih setajam panah&lt;br /&gt;yakinlah; kita tak pernah bisa kalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember-Jatinangor-Metro; Oktober 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-8533678983495918667?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/8533678983495918667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=8533678983495918667&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8533678983495918667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/8533678983495918667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/10/sebuah-kenangan-dalam-kereta-ke-selatan.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6560032170040308661.post-7490074173612714157</id><published>2007-10-30T02:22:00.000+07:00</published><updated>2007-10-30T03:49:01.350+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Dalam Perjalanan Pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Oktober lalu, saya dengan gigih...sebagaimana banyak orang lainnya...bersusah payah pulang kampung alias mudik. Dari Jember...dengan kereta yang berganti dua kali di Surabaya...ke Jatinangor lalu menembus Jakarta...lagi-lagi dengan kereta. Kemudian bermukim sebentar di Gambir...menunggu bis Damri...akhirnya perjalanan panjang lagi ke Metro. Sedikit puisi saya tulis ketika itu. "Anak-anak" saya yang lahir di jalan p(ul)(anj)ang awal Oktober 2007 itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka pikirkanlah berapa berat uang,&lt;br /&gt;kalau tubuh ini bisa kembali ke ranjang.&lt;br /&gt;dan hitunglah—kalau kau bisa—&lt;br /&gt;sejauh mana kuat melangkah,&lt;br /&gt;jika angan mampu berlari pergi tak sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu kereta terus berdenyut&lt;br /&gt;sampaikan pesan yang kalahkan&lt;br /&gt;kemeroncong dalam perut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian peron kembali berdesak&lt;br /&gt;kabarkan kisah yang lagukan&lt;br /&gt;rindu rumah hati sesak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;para penyair itu&lt;br /&gt;—beruntunglah—&lt;br /&gt;hati mereka&lt;br /&gt;tak pernah henti&lt;br /&gt;diajak kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun Gubeng; primo Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat Siwalan Zawawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan, penyair?”&lt;br /&gt;“Bukan. Saya cuma penjual siwalan&lt;br /&gt;yang airnya tak ‘kan membasuh&lt;br /&gt;dahaga kerongkongmu.&lt;br /&gt;Air siwalan saya&lt;br /&gt;hanya mampu mengguyur hatimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, sekarang, saya haus Tuan”&lt;br /&gt;“Maka bermohonlah pada pencipta&lt;br /&gt;siwalan itu; &lt;br /&gt;Tuhanku,&lt;br /&gt;Muhammadkanlah kerongkongku.&lt;br /&gt;Puisikanlah hausku ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun Gubeng; Ramadhan 1428 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6560032170040308661-7490074173612714157?l=hidupdarihidupku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/feeds/7490074173612714157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6560032170040308661&amp;postID=7490074173612714157&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7490074173612714157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6560032170040308661/posts/default/7490074173612714157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hidupdarihidupku.blogspot.com/2007/10/dalam-perjalanan-pulang-awal-oktober.html' title=''/><author><name>dhe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11430332341522224423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
