Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.


Membongkar Militer(isasi) Amerika

(dipublikasi di Koran Tempo edisi Minggu, 4 Januari 2009)

Kalau ada negara yang terkenal dengan perang, ia adalah Amerika Serikat. Perang telah melabur sejarah internal negeri itu sejak didirikan oleh para eksil dari Eropa sekitar tiga abad lalu. Amerika Serikat juga aktif dalam tiap edisi Perang Dunia. Bahkan, hingga kini, tampuk panglima perang internasional kian kukuh dipegang negeri itu.

Mengapa negara yang akan dipimpin Barack Husein Obama hingga 2013 itu terkenal doyan perang? Nick Turse memiliki jawaban mengejutkan dalam buku setebal 304 halaman ini.

Setelah berada di kelompok pemenang pasca-Perang Dunia II, industri militer yang merujuk pada pengembangan teknologi persenjataan di Amerika luar biasa meningkat. Saat itulah istilah complex mulai mengemuka sebagai sebutan untuk industri militer. Tapi Presiden Amerika ke-34, Dwight D. Eisenhower, sempat meluapkan kekhawatiran terkait dengan eksistensi complex ketika menyampaikan pidato perpisahan di akhir masa jabatannya pada 1961.

Ike--panggilan akrab Eisenhower--memberi peringatan kepada publik Amerika bahwa complex akan berkembang hingga level yang mengerikan. Maka ia mengharapkan kecerdasan publik untuk meminimalisasi dampak negatif dari complex.

Itu semata-mata bertujuan agar keamanan dapat tumbuh subur bersama kebebasan. Sebelumnya, pada 1957, C. Wright Mills, seorang sosiolog terkemuka di Amerika, telah pula meramalkan tumbuhnya sebuah aliansi ekonomi-militer yang mampu merasuk ke ruang-ruang politik dan pendidikan (halaman 14-15).

Tapi, pada kurun berikutnya, complex tak sekadar dapat dikaitkan dengan industri senjata untuk militer. Entitas tersebut, sebagaimana dikatakan Turse, telah bermetamorfosis menjadi gurita dengan tentakel sangat banyak hingga mudah merengkuh apa saja.

Pihak militer Amerika kini telah membina hubungan yang sangat erat dari kaum akademisi, peneliti independen, media massa, kreator video game, produser film, produsen minuman-makanan, pabrik pakaian, hingga perusahaan pembuat peralatan dapur. Koalisi itu semata-mata bertujuan untuk melanggengkan militer sebagai identitas kenegaraan AS. Lebih jauh, complex yang kian menggurita dipandang oleh Turse sebagai usaha militerisasi masyarakat sipil Amerika.

Di negara-negara Barat, tak terkecuali Amerika, berlaku sebuah aturan yang disebut Posse Comitatus Act. Aturan tersebut melarang militer terlibat dalam usaha penegakan hukum di dalam negeri hingga berdampak pada minimnya anggaran dana yang disediakan untuk militer.

Tapi Turse berhasil mengungkap fakta betapa kaya militer Amerika. Pentagon dan Departemen Pertahanan Amerika bagai selang yang mengalirkan dana wajib pajak untuk kepentingan militer. Lalu dana tersebut disalurkan secara rutin kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi rekanan militer Amerika.

Sepuluh tahun sejak pidato peringatan dari Eisenhower, tercatat 22 ribu perusahaan yang mengerjakan pelbagai proyek untuk mendukung militer. Kini jumlah itu membengkak menjadi 47 ribu perusahaan (halaman 3).

Tentakel complex kian menjulur ke mana-mana setelah peristiwa 11 September 2001. Anggaran untuk keamanan dan militer makin membludak, yakni mendekati jumlah US$ 1 triliun per tahun. Turse menyindir sikap berlebihan pemerintah Amerika dalam menangani keamanan dengan kalimat "bringing the war home". Padahal, menurut Turse, tingkah Amerika di dunia internasional yang membuat negeri itu menjadi incaran banyak musuh.

Turse juga memaparkan data yang sangat mencengangkan terkait dengan perilaku militer Amerika dalam buku ini. Agen-agen CIA telah menghabiskan jutaan dolar untuk bersenang-senang sembari menjalankan tugas di luar negeri.

Pentagon pernah melaporkan bahwa konsumsi bahan bakar selama satu hari untuk berperang di Irak dan Afganistan sekitar 365 ribu barel, setara dengan konsumsi harian warga Swedia. Tapi Sohbet Karbuz, seorang ahli perminyakan internasional, memperkirakan bahwa jumlah itu sebenarnya mendekati angka 500 ribu barel (halaman 41-42). Tentu saja kebutuhan tersebut akan dengan mudah direngkuh oleh militer Amerika karena sejumlah perusahaan minyak berskala internasional telah menjadi kontraktor tetap dari Departemen Pertahanan.

Pemborosan yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan Amerika bukan berjalan tanpa kritik. Sejak 1940-an hingga saat sedang menjabat Presiden Amerika, Ike telah mengkritik pengeluaran Departemen yang tak terkendali. Ia mengungkapkan borosnya Departemen bagai jalan kecil menuju negara garnisun di mana militer akan memegang kekuasaan yang luar biasa di seluruh negeri (halaman 270).

Militerisasi di Amerika yang berjalan dengan memanfaatkan teknologi tinggi itu membuat gundah Turse. Tentu saja disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat Amerika bahwa mereka secara diam-diam telah mendukung pengiriman dan penyerbuan yang dilakukan militer Amerika ke pelbagai belahan dunia. Dukungan itu dilakukan ketika warga Amerika mengkonsumsi produk dari perusahaan yang menjadi kontraktor Pentagon dan Departemen Pertahanan.

Sayangnya, hampir tak ada perusahaan yang bukan rekanan Pentagon dan Departemen Pertahanan. Sebab, perusahaan yang tak bersedia membantu militer Amerika malah akan dipandang sangat "tak Amerika". Salah satu kampanye Barack Obama ialah "memulangkan semua tentara ke rumah mereka". Itu memang sebuah sinyal bagus bagi penciptaan perdamaian di muka bumi yang bisa disponsori oleh Amerika.

Salah satu indikator pembuktian, menurut hemat saya, ialah keberanian dia memotong tentakel complex. Kalau Obama tak kuasa memangkas anggaran untuk Departemen Pertahanan, apa boleh buat, kita akan selalu mengenal Amerika sebagai negara yang gemar bertempur.

Seterusnya..



"Elizabeth Pisani memberi dua tawaran kontroversial, keharusan menggunakan kondom di tempat pelacuran dan pemberian jarum steril bagi pengguna narkoba suntik."

AIDS mungkin bagai belusuk (ular laut berbisa). Siapa pun yang sering 'berbasah-basah di laut' bisa tergigit. Lantas apakah cukup melarang individu mandi di laut hanya karena keberadaan belusuk?
Sejak Luc Montagnier dan Francoise Barre-Sinoussi (keduanya meraih Hadian Nobel bidang Kesehatan 2008) menemukan HIV pada 1982, AIDS telah membunuh 25 juta orang. Bahkan hingga kini 33 juta orang di dunia telah terinfeksi HIV. Elizabeth Pisani menuturkan pengalamannya selama berkecimpung dalam kegiatan penanggulangan HIV/AIDS melalui buku setebal 589 halaman ini.
Pada 1993, Pisani memutuskan berhenti sebagai wartawan Reuters. Ia memilih mengikuti program master dalam bidang demografi medis. Tak dinyana, jalur itu justru mengantarkannya ke dalam pusaran penanggulangan HIV/AIDS. Noni asal Inggris itu kian sibuk setelah masuk ke UNAIDS pada 1996.
Pisani sadar bahwa menjadi aktivis penanggulangan HIV/AIDS justru meminta kerja ekstrakeras ketimbang saat ia masih berprofesi sebagai kuli tinta. Maka, buku ini pun bercerita tentang ketegaran seorang anak manusia bergelut dengan pilihan profesinya.
Jean Baudrillard (dalam Piliang, 2004:171-172) sempat mengupas persoalan AIDS melalui karyanya berjudul Seduction. Penyakit itu, menurut Baudrillard, muncul sebagai dampak dari sistem tak terkendali yang sebenarnya merupakan kreasi kita sendiri. Sistem itu ialah transparansi dan promiskuitas (jaringan seksual dengan siapa saja) dalam orbit global. Alih-alih meluapkan kenyamanan, analisa Baudrillard malah seperti manusia yang merutuki nasib tanpa berbuat apa-apa.
Pisani melangkah jauh dari sekadar bermuram durja ketika melihat persoalan AIDS. Penyakit itu, menurut Pisani, hanya menular lewat dua bentuk kegiatan, yaitu seks dan narkoba suntik. Globalisasi, kemiskinan dan tinggi rendahnya tingkat pendidikan bukanlah faktor utama yang menjadi tunggangan HIV untuk menyebar ke seluruh dunia.
Maka, solusi konkret dari Pisani ialah penggunaan kondom bagi kalangan yang melakukan seks berisiko tinggi dan pemberian jarum steril untuk pengguna narkoba suntik. Tentu solusinya mengundang kontroversi. Ia seperti mengamini berlangsungnya praktik gelap yang ada di belahan dunia.

Realitas Kondom
Pisani memang mengajak kita untuk menjejak di bumi realitas, bukan terus-menerus terbang mengawang di langit idealitas. Misalnya, mampukah menghapus prostitusi (salah satu pekerjaan tertua di muka bumi)? Pisani beranggapan, gerakan penutupan bordil hanya akan mempersulit proses pencegahan AIDS karena para penjaja seks komersial (PSK) tak lagi berada di satu tempat.
Noni dari Inggris ini tak segan masuk ke gerai seks, mulai dari lokalisasi Rawa Malang (Jakarta), bar-bar di Dili (Timor Leste), hingga sejumlah bordil di Dongxing (Tiongkok). Dia menemukan minimnya penggunaan kondom di kalangan pembeli seks dari PSK. Padahal, itulah wahana yang tepat bagi penularan HIV. Maka, aturan ketat penggunaan kondom di lokalisasi, menurut Pisani, mutlak diperlukan untuk mencegah penyebaran AIDS.
Sering berganti pasangan dalam hubungan seksual-—tanpa menggunakan kondom-—dipastikan menjadi penyebab seseorang tertular HIV. Namun, polanya bergantung pada geografis dan kultural suatu daerah. Pada kebanyakan negara di benua Afrika, tak perlu keberadaan prostitusi untuk menularkan HIV.
Demikian pula pola penyebaran HIV melalui jarum suntik yang dipakai bergantian di kalangan pengguna heroin. Walau seluruh dunia mengamini bahwa heroin adalah barang ilegal, tapi pengguna barang itu tak jua susut. Penjara menjadi lumbung penularan HIV melalui jarum suntik (hal.448).
Narkoba yang tidak dikonsumsi secara suntik pun turut berkontribusi pada penyebaran AIDS. Pengguna narkoba yang sedang high memiliki kecenderungan tinggi untuk melakukan hubungan seks tanpa kondom. Pisani mengakui bahwa di Indonesia dan sebagian besar negara di Asia, konsumsi narkoba memang saling tumpang tindih dengan perilaku seks berisiko tinggi dalam pola penularan HIV (hal.169).

Pertaruhan dana
Berbicara tentang upaya penanggulangan, Pisani melihat adanya beberapa kendala. Pertama, birokrat di negara berkembang masih enggan mengucurkan dana bagi pencegahan epidemi AIDS. Hal itu bertolak belakang dengan pejabat di negara maju yang mulai aktif menggelontorkan dolar bagi program penanggulangan HIV/AIDS, walau tentu saja, sebelumnya birokrat di negara maju juga malas melakukan hal itu.
Kedua, datang dari kultur suatu daerah. AIDS masih dipahami sebagai 'penyakit hukuman' bagi kelompok yang berperilaku di luar norma masyarakat. Akibatnya, orang-orang yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS enggan memeriksakan kesehatan mereka karena takut distigma negatif oleh masyarakat.
Ketiga, Pisani mengungkapkan adanya pertarungan antarlembaga yang berkecimpung di dunia narkoba dan AIDS juga sering memecahkan konsentrasi dari kegiatan pencegahan menyebarnya epidemi AIDS. Patut diketahui, kini lembaga internasional yang menangani AIDS bukan hanya UNAIDS. Pertarungan antarlembaga itu terjadi karena perbedaan ideologi yang diusung, hingga berakibat pada cara pandang dan penanganan terhadap AIDS.
Melalui buku ini kita bisa mengetahui bahwa AIDS telah menjadi komoditi yang bisa dijual, dan pengaruhnya mampu merasuk ke relung politik. Bahkan, 'belusuk' itu tak lagi hanya menyebarkan bisanya kepada mereka yang sering 'berbasah-basah di laut'. Para istri setia dan jabang bayi pun memiliki peluang mengidap AIDS karena tertular HIV dari seorang suami yang sering 'jajan' di luar rumah.
Akhirnya, buku ini memang menawarkan sikap bijak kepada kita dalam memahami penyakit AIDS.

Catatan: Judul resensi ini telah diganti oleh redaktur Media Indonesia menjadi: "Kondom dan Jarum Suntik Noni Inggris"

Seterusnya..

Selamat Hari Ibu

Sayang, selamat Hari Ibu. Engkau--tak peduli perempuan atau lelaki--kelak jadi Ibu. Sayang, ini saya kasih sedikit pengumuman tentang seorang ibu yang sedang duduk di tepi senja:

Dear allz,...

Saya baru dengar kabar soal NH Dini, salah satu novelis perempuan di era 70-an. saya pikir ini langkah bagus utk memulai CSR ala FPK.
Di usia senja, beliau kini tinggal di Wisma Langen Werdhasih, Ungaran (Rumah Lansia) dan sedang mengalami kesulitan dana untuk membiayai kesehatannya. Oleh karena itu, beliau hendak menjual lukisannya yang bergaya dekoratif Tionghoa seharga 3-7 juta.

Nah, jika ada yang berminat, silakan hubungi Ariany Isnamurti di 08179883592. Jika belum berminat, tolong bantu sebarkan informasi ini saja. T

Nomor telepon yang ada dibawah ini saya peroleh melalui email yg dikirim pada saya.

Cepat semnuh, bu ;-)

Terima kasih.

Catatan:
Saya mendapatkan pengumuman ini dari mailing-list Forum-Pembaca-Kompas. Tidak ada pengeditan sedikit pun juga, dikopi sesuai aslinya.

Seterusnya..

'Energi Mabuk' Musik Masa Kini

(dipublikasi di Lampung Post edisi Minggu, 30 November 2008)


TULISAN Susan S. di Lampung Post (16-11) membikin perasaan saya naik-turun. Bukan saja karena Susan menulis "Mungkin nadanya (maksud: suasana tulisan Susan) marah, kesal, dan gimana gitu." Namun disebabkan pula oleh "sesuatu" yang telah lama mengendap di hati. Maka, saya tergoda untuk balah soal "energi" yang ditawarkan belantika musik Indonesia masa kini.

Persoalan musik memang selalu bikin berisik sepanjang zaman. Dahulu, Bung Karno pernah melarang Koes Plus dengan alasan band tersebut menyebarkan energi asing (kebarat-baratan). Pendek kata, karya-karya Koes Plus tergolong lagu ngak ngik ngok yang kontrarevolusi.

Zaman Orde Baru, Betharia Sonata sempat juga mengelus dada saat lagu berjudul Hati Yang Luka dikecam pemerintah karena "melemahkan derajat kaum perempuan".

Kalau mau dirunut hingga masa sebelum Indonesia merdeka, kita juga akan beroleh fakta bahwa musik benar-benar bikin berisik. Lagu Indonesia Raya pernah menjadi momok menakutkan pemerintah kolonial Belanda. Lagu gubahan W.R. Supratman itu dilarang dikonsumsi publik karena penjajah Belanda takut semangat antikolonialisme menguat di khalayak.

Lagu, mau tidak mau, memang terikat dan terkait pada ruang dan waktu tempat ia digubah. Namun itu tidak mencerminkan "masa berlaku" lagu tersebut. Misal, pada abad XXI, kita masih senang menyanyikan lagu-lagu yang lahir di zaman revolusi fisik? Atau, kita juga masih asyik saja tatkala mendengar lagu-lagu gubahan Pance Pondaag dan Obbi Mesakh, bukan?

Lantas, apakah lagu-lagu yang menembus zaman dapat dikatakan sebagai karya "adiluhung"? Ah, terlalu sumpek rasanya membaca kata yang saya beri tanda kutip itu. Tapi, mari kita bahas saja biar fresh, gitu.

Musik juga merupakan refleksi kondisi batin masyarakat tempat ia bermukim. Wajar toh jika lagu-lagu yang diciptakan sekitar era revolusi fisik bernada persatuan, ketegaran seorang pejuang hingga keikhlasan seseorang yang ditinggal mati sosok tersayang.

Kalau tekanan dari struktur politik (baca; penguasa) pernah melabur sejarah musik Indonesia, itu hanyalah rangkaian proses yang memang sudah "seharusnya". Bukankah hambat-menghambat merupakan proses alamiah dalam tiap sistem pada tubuh masyarakat? Untuk soal larang-melarang ini, alasan bisa dipilih sesuai dengan kesukaan.

Lagu pun membentuk pola pengaruh-memengaruhi dengan masyarakat. Jadi, kondisi masyarakat merupakan lautan ide yang mahaluas untuk direguk orang-orang yang terlibat dalam sebuah lagu--penggubah lirik, penyanyi, dan pemain musik. Sebab itu, agak janggal kalau harus menyematkan istilah adiluhung untuk sebuah lagu di era teknologi canggih sekarang.

Istilah adiluhung dan massal mengemuka tatkala produk hasil kesenian dinikmati dua kelas berbeda: Kelas atas-terpelajar dan kelas bawah-tidak sekolah. Maaf saja, bagi saya, dua istilah itu jelas-jelas bersemangat "tidak memandang manusia sebagai manusia". Maka, istilah adiluhung dan massal tidak lagi relevan untuk membincangkan dunia musik masa kini.

Saya kok lebih sreg kalau memakai istilah populer. Lagu masa kini merupakan produk kebudayaan populer yang tujuan pembuatannya mencakup semua golongan. Dampaknya juga bermata dua; bisa mencerahkan atau membodohkan. Untuk urusan apresiasi, produk kebudayaan populer memang diserahkan secara individual.

Belantika musik Indonesia sekarang, dalam pandangan saya, bagai seorang pemabuk yang sedang sempoyongan. Ia terlalu banyak menenggak pelbagai jenis minuman beralkohol--mulai produksi luar negeri sampai home industry. Tidak hanya pikiran yang ke sana-sini, gerak badannya pun mondar-mandir; gak jelas sama sekali.

Ada penyanyi yang muncul dengan mengandalkan tubuh seksi semata dan suara pas-pasan. Ada yang gemar jingkrak-jingkrak di panggung sambil mengibarkan bendera Merah Putih. Ada pula yang sangat kemaruk; sudah jadi bintang iklan dan pemain sinetron masih juga ngotot mengejar status penyanyi.

Dari segi lirik--baik isi lagu maupun penggunaan bahasa--macam-macam pula. Ada yang menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan EYD. Banyak pula yang memakai gaya ucapan sehari-hari. Bahkan, ada yang bingung; lagunya menggunakan bahasa Inggris sekaligus bahasa Indonesia.

Kebudayaan populer dalam lagu masa kini menempatkan pesona polesan dan kekuatan modal sebagai dasarnya. Ada yang memoles pada liriknya, kehidupan para pemusiknya hingga aliran musik yang digeluti.

Kelompok musik macam Peterpan, Nidji, Dewa, Kangen Band, dan ST12 mampu memenuhi tiga unsur polesan di atas. Tentu saja, tidak kalah penting, mereka ditopang penyedia modal yang luar biasa kaya.

Maka, saya terus-terang bingung, sejak kemunculan Kangen Band, kenapa ramai-ramai mencerca mereka? Aha, tampaknya inilah proses alamiah hambat-menghambat itu.

Semua kelompok musik, bagi saya, sama saja. Lagu-lagu mereka pun sama lengkapnya; banyak yang cemen, tidak sedikit pula yang yahud. Tidak perlu rasanya meninggikan sebuah kelompok musik sambil merendahkan yang lain. Nyantai aja, toh mereka juga memiliki peluang yang sama: Meracuni atau mencerdaskan pikiran masyarakat. Keputusan menyukai atau membenci terletak pada apresiator (mereka yang kupingnya pernah mendengar lagu-lagu Indonesia masa kini).

Ambil contoh Kangen Band. Platinum berhasil diraih kelompok musik itu. Tapi pihak yang mengaku "kupingnya berdarah-darah" mendengar lagu-lagu mereka sama banyaknya dengan orang-orang yang sering mendendangkan lagunya.

Mudah saja, kalau tidak suka dengan lagu-lagu sebuah kelompok musik: Jangan didengar. Daripada koar-koar, malah kontraproduktif. Itulah konsekuensi kebudayaan populer. Seharusnya memang seperti itu kebudayaan populer. Khalayak memiliki kuasa penuh.

Sembari menyusun tulisan ini, saya mengirim pesan pendek via telepon seluler. Saya tanyakan pada beberapa orang: Coba beri dua kata yang terbersit di benak ketika mendengar Kangen Band.

Mereka yang saya kirim pesan itu ialah orang-orang yang punya kaitan dengan Lampung--yang masih berdomisili di sana atau sedang merantau di tanah seberang.

Hasilnya variatif. Dua jawaban paling kasar: Gua gak butuh dua kata, Den. Cukup satu aja: Norak dan kampungan banget! Ada juga yang menjawab begini: Kembali pulang atau "kerja keras".

Inilah sedikit bukti bahwa apresiasi terhadap satu kelompok musik memang bermacam adanya. Nilai positif dari sesuatu yang kita sangka buruk bisa saja muncul. Demikian pula, sisi negatif bisa saja melekat pada entitas yang kita anggap bagus.

Energi yang ditawarkan dunia musik Indonesia masa kini hanyalah "energi mabuk". Entah itu mabuk cinta, mabuk materi, mabuk tangisan, mabuk segalanya.

Namun, jentera musik Indonesia terus berjalan, bukan? Kreativitas tidak hanya harus dikembangkan oleh mereka yang terlibat aktif dalam dunia musik, tapi juga oleh orang-orang yang menjadi tujuan (baca; pasar) karya musik.

Kebudayaan populer memang memabukkan bagi mereka yang tidak hati-hati larut di dalamnya.

Seterusnya..


Penghargaan Bagi "Si Toekang Kritik"
(dimuat Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 10 November 2008)
Khalayak awam setidaknya pernah membaca ada empat "Bung" dalam buku sejarah. Yakni, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo. Namun, agaknya sangat sedikit yang mengetahui bahwa nama yang disebut terakhir baru saja diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

Antara (03/03/08) memberitakan, pada 28 Februari 2008 diselenggarakan bedah buku Bung Tomo Menggugat (terbitan Visi Media; Januari 2008). Kegiatan yang paling akhir tentu saja diadakannya pengumpulan sejuta tanda tangan untuk Bung Tomo. Sejumlah kegiatan itu tak sia-sia. Setelah menunggu waktu bertahun-tahun, akhirnya tokoh perjuangan ’45 tersebut diangkat menjadi Pahlawan Nasional sejak 7 November 2008. Polemik berkepanjangan soal pengangkatan Bung Tomo menjadi Pahlawan Nasional tuntas sudah.

Sebagai seorang tokoh, Bung Tomo memang bukan ’pribadi yang biasa’. Ia merasakan riuh-rendah gelombang pergolakan politik di Indonesia pada tiga zaman: awal Indonesia merdeka, Orde Lama, dan Orde Baru.

Ketokohan Bung Tomo selama ini hanya nampak pada era revolusi fisik, yakni ketika ia membakar semangat masyarakat Surabaya untuk melawan tentara Inggris. Ia merupakan salah seorang orator ulung yang lahir dari medan peperangan.

Tanpa menunggu perintah dari Jakarta, Bung Tomo berpidato dengan semangat berapi-api. "Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda rakyat Indonesia disuruh datang membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah dan takluk kepada Inggris. Inilah jawaban kita, jawaban pemuda-pemuda rakyat Indonesia, ’Hai Inggris, selama banteng-banteng, pemuda-pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan menyerah.’ Teman-temanku seperjuangan, terutama pemuda-pemuda Indonesia, kita terus berjuang, kita usir kaum penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai ini. Sudah lama kita menderita, diperas, diinjak-injak."

Maka tak aneh jika pertempuran 10 November 1945 menjadi perang yang dahsyat. Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran tersebut. Inggris benar-benar—pinjam istilah dari Bung Karno—"dilinggis" saat itu. Penjajahan memang tak hanya melahirkan penderitaan, namun juga menumbuhkan perlawanan yang sulit dimatikan.

Seorang orator sejati tak akan pernah bisa diam. Tipikal manusia seperti ini selalu menggali alam bawah sadar masyarakat—mencakup kegelisahan, penderitaan dan ketimpangan—tempat ia bernapas. Inilah pula ciri kritikus andal, yakni orang-orang yang tak pernah merasa dalam kondisi mapan. Kritik diungkapkan demi berjalannya perbaikan dalam tubuh masyarakat.

Bung Tomo memang laik disebut sebagai orator sejati. Ketika ia menjadi menteri sekaligus anggota legislatif pada tahun 1950-an, Bung Tomo tak pernah diam. Ia mengritik—melalui surat dan artikel—dekadensi moral yang menggejala di kalangan pejabat kala itu. Nalar kritis Bung Tomo tak luntur walau ia merupakan ’kelompok dalam’ dari elit penguasa di awal Indonesia merdeka.

"Bung Karno, betapa saya tidak gelisah, mengingat bahwa kepala pemerintahan dewasa ini adalah penggali Pancasila, sedangkan rakyat jelata rata-rata belum merasakan kemanfaatan dan kemaslahatan Pancasila. Kedaulatan rakyat telah lama diinjak-injak oleh pembantu-pembantu Bapak Presiden yang terdekat pada masa lampau, keadaan sosial tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Pada saat rakyat jelata hidup menderita merana, orang-orang yang terdekat dengan Bapak Presiden menyusun mahligai kemewahan. Yang lebih seram lagi adalah istri-istri para penguasa tertinggi yang secara sendiri menguras kekayaan negara untuk memuaskan nafsu pribadinya, berfoya-foya di luar negeri, menimbun kekayaan di dalam negeri! Sedangkan para penguasa berbuat seolah-olah tidak tahu semuanya itu." Demikian petikan surat terbuka Bung Tomo yang ditujukan kepada Bung Karno.

Bung Tomo bukanlah sosok yang membuktikan tesis Emile Durkheim tentang kondisi pascaperang. Seusai perang, kata Durkheim, masyarakat justru mengalami gejolak yang kian berat, sekelompok individu mengalami stres karena tak bisa melakukan pekerjaan selain mengangkat senjata. Selain itu, solidaritas masyarakat kian menipis hingga bermunculan kelompok-kelompok di dalam tubuh masyarakat yang berebut kekuasaan. Bung Tomo menganggap bahwa rakyat harus dimuliakan melalui kerja para pemimpin. Perjuangan setelah perang ialah bersatu membangun masyarakat.

Ketika Soeharto dan gerbong Orde Baru-nya berkuasa di Indonesia, Bung Tomo pun belum mau berhenti melancarkan kritik. Ia menyesalkan kedekatan penguasa Cendana dengan sejumlah pengusaha yang, menurut dia, "membikin buyar harapan Orde Baru dan menggerogoti kewibawaan Presiden". Bung Tomo merekam kondisi rakyat yang melihat bersatunya penguasa dan pengusaha tersebut, "Secara diam-diam, rakyat mulai tidak senang pada kepemimpinan kawan kami Soeharto, tetapi tidak berani."

Maka tak aneh kalau Bung Tomo "Sang Toekang Kritik" pernah menjadi tahanan di Penjara Kramatjati antara 1978-1979. Seumur hidup negara ini, memang kritik seolah menjadi tabu. Padahal, kritik ialah unsur pembentuk terpenting dalam masyarakat yang sedang memperbaiki diri. Kritik menjadi penjaga perangai elite penguasa yang sering kali keluar dari jalur "mewujudkan kesejahteraan masyarakat". Selain itu, menurut C. Wright Mills, kritik adalah pembuka selubung tidak rasional dan kepercayaan pada simbol yang menggejala sepanjang tumbuh-kembang masyarakat.

Nyala api semangat Bung Tomo harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia. Kritik bukanlah sesuatu yang membunuh. Perdebatan justru menjadikan masyarakat tak pernah sepi dari inovasi dalam memperbaiki diri. Peningkatan kualitas pendidikan ialah kunci untuk mewujudkan masyarakat yang menganggap kritik sebagai dialog.

Dulu sesudah Bung Tomo mengakhiri pidato dengan teriakan, "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!" rakyat maju ke medan laga melawan penjajah. Saat ini, sangat sayang kalau kita berteriak hanya untuk bertarung dengan saudara setanah air di jalanan. Kalau dulu Bung Tomo berteriak, "Semboyan kita tetap. Merdeka atau mati". Maka kini slogan bangsa Indonesia seharusnya ialah, dialog dan damai.***

Klik ini Saya mendengarkannya di warnet yang pasang musik pakai bahasa Inggris dengan bunyi keras sekali. Tapi saya dengarkan suara Bung Tomo itu tiga kali. Air mata saya jebol. Saya bukan romantis dan cengeng, tapi saya tak mau bohong kalau suara Bung Tomo merdu sekali. Ya Tuhan, limpahkan rahmat kepadanya...

Seterusnya..


Menangkap U(d)ang Dibalik Cinta

Saya selalu merasa terdapat permusuhan antara nenek-moyang kita dengan hewan udang. Jika tak percaya, coba tengok penggunaan kata udang pada peribahasa yang diwariskan oleh leluhur kita. Misalnya; udang dulu tangguk (dalam keadaan sangat gelisah) dan ada udang dibalik batu (memiliki maksud tersembunyi). Atau udang hendak mengatai ikan yang memiliki arti searah dengan udang tak tahu dibungkuknya, yaitu tak tahu aib yang ada pada diri sendiri.

Ditambah lagi dengan otak udang (bodoh) maka lengkaplah, kata udang senantiasa menempel pada peribahasa yang bermakna negatif. Padahal, hewan yang bernama-latin Crustacea itu sangatlah bergizi dan mahal harganya. Hampir tiap pulau di Indonesia memiliki daerah budidaya udang dalam tambak dengan orientasi pasar ekspor.

Seperti halnya udang, demikian pula cinta. Sama-sama kerap dimaknai secara keliru oleh masyarakat. Cinta sering dituduh sebagai faktor yang mengotak-udangkan seseorang. Sepintar apapun individu, kalau sudah terkena cinta maka pupus semua kejeniusannya. Hingga mau saja disuruh melakukan kegiatan yang dianggap ‘tak lumrah’ oleh publik.

Cinta pun tak jarang dijadikan perangkap oleh pihak tertentu untuk sekadar menangguk keuntungan. Lewat buku ini, Nurani memberi contoh dengan kerja aparat kapitalis yang mendengungkan cinta lewat iklan, lagu-lagu romantis dan film. Tentu saja, hal itu bertujuan untuk memompa aliran modal yang bersumber dari masyarakat dalam suatu proses konsumsi massal.

Saya jadi ingat penjualan nama cinta pada suatu iklan produk berlian yang berslogan “Say it with diamond”. Ini senilai-arti dengan ada udang dibalik batu; jika ingin mengatakan cinta maka harus membeli perhiasan yang mahal dahulu. Harga berlian yang tinggi tentu saja hanya menguntungkan pengusaha—masyarakat di sekitar daerah pertambangan batu mulia tak pernah ada yang sejahtera.

Nurani Soyomukti juga melihat adanya proses untuk menjadikan cinta sebagai barang ekslusif. Tayangan film dan sinteron yang memenuhi layar kaca setiap hari adalah medium dari kampanye eklusifitas cinta. Proses memaknai cinta tak lagi universal, tapi sebatas hubungan antar individu saja, misalnya pacaran dan pernikahan.

Cinta ialah hasrat sekaligus entitas yang selalu mengiringi peradaban manusia. Kita bisa melongok buktinya pada karya sastra macam Laila Majnun, Romeo and Juliet hingga Siti Nurbaya. Karya sastra sebagai produk masyarakat tak pernah menjadikan cinta hanya memiliki satu wajah. Romeo and Juliet misalnya, bukan mengisahkan hubungan dua kekasih yang gelap mata karena cinta. Namun kisah itu merupakan cita-cita pendongkelan terhadap sikap membedakan manusia berdasarkan status—miskin-kaya, hitam-putih, keluarga kerajaan-rakyat jelata.

Buku yang ditulis oleh Nurani ini melakukan pencarian makna cinta pada lorong filsafat Karl Marx, analisa seksualitas dari Sigmund Freud dan petuah-petuah Kahlil Gibran.
Hal menarik dari Karl Marx ialah bahwa filsuf yang sering dituduh sebagai bapak komunisme itu juga membincangkan cinta pada beberapa karyanya. Marx mendefinisikan cinta sebagai ungkapan manusia terhadap orang lain dan alam. Dalam masyarakat yang mengagungkan kepemilikan pribadi tidak terdapat cinta. Sebab masyarakat macam itu tak mampu mewujudkan keadilan ekonomi-politik dan pemerataan akses untuk memenuhi kebutuhan hidup yang senilai dengan substansi cinta (hlm.32).

Cinta yang melulu menempel pada materi tak akan pernah mencapai kesejatian. Bahkan, justru cinta seperti itu yang membelenggu umat manusia. Hal demikian tengah berlangsung luas di masyarakat. Materi seolah menjadi tujuan seluruh hidup manusia.

Masa kini, lembaga percintaan sakral bernama pernikahan pun telah dirasuki oleh belenggu materi. “...Tak jarang mempelai merasa lebih aman setelah pasangannya membacakan janji-janji: hendak memberikan nafkah lahir dan batin...” ungkap Bonari Nabonenar dalam Pengantar buku ini (hlm.viii). Bahkan ada pula perjanjian pra-nikah yang pasti diisi oleh hal terkait materi (harta). Maka, cinta tak lagi dianggap sebagai pondasi dalam rumah tangga namun hanya salah satu elemen yang nilainya bisa jadi kurang begitu penting.

Manipulasi konon merupakan elemen penting di abad super-canggih ini. Selain seringkali dimanipulasi dalam bentuk materi, cinta kerap pula ditonjolkan untuk sekadar memenuhi libido manusia. Pemahaman ini bukan hanya menyeruak dalam bentuk sex for fun yang dilakukan oleh kaum berduit. Tapi juga muncul dalam bentuk penguasaan manusia terhadap alam (hlm.87-104). Kerusakan lingkungan yang luarbiasa di abad 21 merupakan wujud nyata nafsu manusia yang dijalankan tanpa kendali untuk meraup keuntungan dari alam. Alasannya tentu saja karena kecintaan manusia kepada materi yang sungguh berlebihan.

“Esensi cinta adalah kesadaran”, demikian ungkapan legendaris dari Marx. Oleh karena itu, bohong jika cinta dianggap mampu membuat kita buta. Cinta justru berfungsi membakar semangat diri untuk terus melakukan perubahan. Bahkan cinta pun menyediakan kekuatan tanpa batas bagi manusia dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran. Tentu saja, pemahaman cinta seperti itu akan muncul tatkala sikap kritis telah bersemayam dalam diri kita.

Sikap kritis akan membuat manusia terhindar dari segala bentuk manipulasi yang mengatasnamakan cinta. Sebagaimana peradaban manusia yang berproses tanpa henti, demikian pula cinta. Setiap zaman memiliki perbedaan tafsir cinta sebab manusia akan terus-menerus mencari Cinta Sejati seumur hidup bumi. Sikap kritis menjadikan kita siap untuk merevisi pandangan hidup—termasuk soal cinta—setiap saat.

Alhasil, buku ini mengajak kita untuk ‘menangkap udang dibalik cinta’. Sayang memang, penulis buku ini sudah berkata: “Tulisan ini tidak layak dibaca oleh orang yang tidak percaya cinta” (hlm.ix). Padahal, melihat kekayaan isi buku ini, seharusnya Nurani menulis: “Mereka yang ingin menjelajahi ceruk-lekuk cinta seharusnya membaca buku ini”.(*)

Seterusnya..

Catatan Terbuka Untuk Pidi Baiq

Tuan Pidi Baiq, semoga Tuhan memberkati kita semua. Awalnya, paska membaca buku Drunken Molen, saya ingin membuat tinjauan yang normal saja atas buku itu; sama seperti buku-buku lain yang pernah saya baca sebelumnya. Namun, buku setebal 212 halaman itu memberikan sejenis pemahaman baru kepada saya. Yaitu, tiap buku memiliki nafasnya sendiri hingga sesungguhnya tiap buku berhak mendapatkan gaya tinjauan sesuai isinya.


Kini, saya pun kian memahami bahwa buku layaknya manusia. Dunia buku sama majemuknya dengan bumi manusia. Bisa jadi, dua buah buku memiliki kesamaaan fisik—mulai dari jumlah halaman sampai tata perwajahan sampul—tetapi dua entitas itu berbeda. Bukan saja karena ditulis oleh dua orang yang tak sama, namun karena isi dua buah buku itu pun berbeda.


Dalam konteks dua buku karya Anda, Tuan Pidi, yaitu Drunken Monster (DAR! Mizan, Januari 2008) dan Drunken Molen; saya merasakan hawa yang benar-benar berbeda. Maka dari itu, tak wajar kiranya jikalau saya menuliskan tinjauan atas Drunken Molen dalam gaya yang sama seperti ketika saya meresensi Drunken Monster (dimuat Media Indonesia, 23/02/2008). Walau Anda sendiri—dalam paragraf pembuka Pengantar buku ini—mengatakan bahwa Drunken Molen adalah “Buku yang sama dengan Drunken Monster, kakaknya, karena masih berisi kumpulan catatan harian saya juga” (hal:17).


Drunken Molen, Tuan Pidi, sangat berbeda dengan Drunken Monster. Walau pembaca tetap saja akan dibuat ‘mabuk’ oleh cerita didalamnya. Sebab kreatifitas Anda seolah tak ada habisnya.


‘Anak rohani’ kedua yang Anda lahirkan ini kian memperkuat dugaan saya bahwa seorang Pidi Baiq berkarya dengan ‘semangat membobol kebakuan’. Pertama, tentu saja kebakuan berbahasa tulis. Para ahli bahasa sudah merumuskan bahwa bahasa memiliki perbedaan pada bentuk tulis dan ucap. Padahal, sebelum ditemukan tulisan, komunikasi manusia menggunakan suara yang bersumber dari mulut pemberian Tuhan. Cerita-cerita yang Anda tulis seolah ingin bertanya, haruskah ada pembedaan antara yang tertulis dan terucap?


Kedua, dalam sebuah cerita sastra, khalayak memahami bahwa harus tersedia tema, plot dan alur yang jelas. Namun, hal seperti itu tidak akan ditemukan dalam cerita besutan seorang Pidi Baiq. Anda, Tuan Pidi Baiq, seperti tengah melakukan penjebolan terhadap dinding sastra yang beku dan baku itu. Teknik bercerita tak sesuai pakem sastra inilah yang kiranya membuat Jaya Suprana berujar: “Gaya tulisan Pidi Baiq tergolong supersonik...Juga pilihan (atau mungkin tidak dipilih?) tema-tema tulisannya benar-benar lincah tak terbelenggu oleh apapun” (hal:15).

Kreatifitas seorang Pidi Baiq dalam menjalin cerita humor memang patut diacungi jempol. Tak ada satu pun cerita dalam Drunken Molen yang memiliki ‘kesamaan nada’ dengan kisah-kisah yang telah dibukukan dalam Drunken Monster. Hanya saja, renungan filosofis berbalut kisah lucu kiranya lebih banyak bertebaran di sekujur Drunken Molen.

Tuan Pidi Baiq, kalau hari ini rakyat Indonesia lebih karib dengan kata jebakan, saya merasa itu terjadi karena kinerja KPK. Ya, lembaga negara yang super body itu sering sekali menjebak pejabat pemerintah yang dikategorikan ‘busuk’. Cerita-cerita yang Anda tuliskan, Tuan Pidi, mungkin semacam antidot dari begitu negatifnya makna jebakan di masyarakat kita.

Jebakan tak harus bermakna negatif. Kegiatan ‘menjebak’ hanya akan membawa kita mengetahui sifat asali manusia. Jika manusia itu baik, maka saat dijebak pun tak akan terjadi apa-apa. Lain halnya jika manusia yang dijebak ialah tipikal “si manusia bersifat buruk”, maka ruang pengadilan akan menantinya. Jadi yang baik atau buruk adalah manusia, bukan jebakan.
Kreatifitas cerita-cerita Pidi Baiq, menurut saya, ialah kelincahan dan kejelian memproses suatu jebakan (jelek baik ditertawakan). Tapi jebakan itu tak berakhir dengan kerugian si manusia yang terjebak. Seperti yang Anda ceritakan di Tangga Studio Foto (hal:107-115) dan The Nazar (hal:177-185).

Tema ‘Jebakan’ ini benar-benar menuntun saya untuk memahami seluruh cerita Anda, Tuan Pidi. Sebab kata ‘jebakan’ itu juga bisa dipanjangkan menjadi ‘jelek baik diceritakan’, ‘jelek baik direnungkan’ atau apa saja; bebas seperti nafas yang menghembus dari tiap kisah karangan Anda.

Jebakan yang Anda buat dalam cerita-cerita itu pun bisa menjadi satu bangunan interaksi dengan pembaca. Maksudnya, Anda seperti selalu menjebak pembaca saat menikmati satu kisah dalam Drunken Molen. Pembaca seolah mengetahui bahwa yang berkata “Iya” dalam suatu dialog adalah Tuan Pidi sendiri tapi nyatanya tidak (hal:145-147).

Lebih jauh, jebakan yang paling hakiki dalam seluruh cerita Anda kepada pembaca yaitu kenyataan bahwa suatu kisah tidak akan bisa kita tebak bagian akhirnya. Jadi, Anda bagaikan memaksa pembaca untuk terus membuka mata dan mengeja kalimat yang sudah dirangkai tanpa rasa malas.

Soal kreatifitas ini, saya teringat pada kata-kata Nawal el Saadawi, sastrawan terkemuka dari Mesir. Baginya, kreatifitas ialah penyingkapan dan pengungkapan kembali tentang suatu hal dalam cara pandang baru. Melalui penulisan cerita dengan gaya tutur ini, Tuan Pidi telah membuka kembali tafsir-tafsir yang penting tentang suatu hal namun sering dipandang remeh oleh masyarakat kita.

Cerita-cerita karangan Pidi Baiq, wahai pembaca, akan membawa kita pada suatu ruang untuk memahami bahwa manusia harus berdaulat atas dirinya sendiri. Tapi bukan berarti manusia macam itu sah untuk menikmati hidupnya sendiri jauh dari orang lain. Manusia yang berdaulat itu justru harus membantu sesama agar mencapai kedaulatan yang sama dengan dirinya. Maka manusia harus berinteraksi, bermain dan saling membantu. Sebab Tuhan tak menempatkan manusia sebagai satu-satunya makhluk di bumi ini. Terakhir, manusia tak boleh lupa bahwa canda dan tawa ialah bunga-bunga kehidupan.(*)


Versi lain tulisan ini ada di Ruang Baca Koran Tempo Edisi 31 Agustus 2008

Seterusnya..


Melongok Kedigdayaan Waktu Senggang

“Pada akhirnya manusia yang menentukan”
(Soekarno)

Waktu senggang saat ini identik dengan masa liburan. Momen yang dinanti sekaligus kerap ditolak oleh masyarakat modern. Waktu senggang memberi peluang bagi individu untuk bebas dari rutinitas kerja. Namun, pemaknaan waktu senggang juga bisa terlampau peyoratif sebab sering didekatkan pada sikap malas.


Buku yang ditulis oleh Fransiskus Simon ini membentangkan ceruk-lekuk kekuatan waktu senggang dalam memengaruhi, membangun dan mengkritisi kebudayaan masyarakat manusia. Umumnya, buku bergenre filsafat memiliki sifat—pinjam istilah dari Jody Pojoh—buku kubik. Maksudnya, buku yang cenderung tebal dan sulit dimengerti bahasannya—hingga terlampau ‘tinggi’ bagi pembaca awam. Kebudayaan dan Waktu Senggang ialah buku bergenre filsafat yang ‘ramah’—tebalnya cuma 134 halaman, untaian kalimatnya mudah dipahami dan isinya sungguh inspiratif.


Setiap usaha manusia untuk merumuskan kebudayaan pada akhirnya adalah representasi pluralitas dari masyarakat. Tiap ahli dari pelbagai bidang keilmuan—sosiologi, antropologi, ilmu komunikasi dan sebagainya—memiliki rumusan sendiri. Oleh karena itu, Simon mengambil posisi sebagai pemeriah perbendaharaan ide dan usul yang memungkinkan suatu diskusi baru melalui buku ini. Dengan menghadirkan pemikiran strategi kebudayaan dari CA van Peursen yang diintegrasikan bersama analisa filosofis Josef Pieper tentang waktu senggang, buku ini merupakan sebuah kolase yang indah.


Manusia modern hidup dalam kepungan segala sesuatu yang banal, bersifat anti-ritual dan seremonial hingga memunculkan krisis eksistensial. Manusia modern tak lagi punya prioritas hidup, tanpa harapan dan tak berani menyelami makna terdalam. Sebabnya ialah kecenderungan untuk mengagungkan kerja yang membuat waktu senggang terbunuh. Manusia modern tak lagi memberi ruang bagi dirinya untuk berfilsafat melalui kontemplasi dan refleksi.


Padahal, waktu senggang memiliki ‘daya ledak’ yang luarbiasa bagi kebudayaan manusia. Masyarakat Yunani Kuno telah mengenal waktu senggang yang direpresentasikan oleh kata skole. Momen itu digunakan untuk berdiskusi tentang kebenaran, merefleksikan peristiwa kehidupan dan kegiatan kontemplatif lainnya yang mengandung spiritualitas. Bahkan, karya-karya besar filsuf Yunani Kuno dikerjakan saat waktu senggang (hal.60).


Dengan pemahaman kebudayaan sebagaimana pernah dirumuskan oleh van Peursen, yakni “kebudayaan dilihat sebagai kata kerja; proses manusia membuat, melakukan transaksi-transformasi dan berubah tanpa titik akhir”, Simon mengajak pembaca untuk melihat kekuatan waktu senggang. Jadi waktu senggang tak laik jika dimaknai dan diisi dengan kemalasan. Sebaliknya, waktu senggang ialah momen untuk menyusun ‘strategi’ agar hidup manusia tak tersedot ke dalam kebudayaan yang hanya merayu dan memuaskan nafsu tapi hampa makna.


Waktu senggang bukanlah sikap dan tindakan yang terjadi karena pengaruh kekuasaan atau tekanan dari luar. Jika waktu senggang tetap dimaknai sebagai pemberian dari manajemen, maka ia tetaplah bagian dari rutinitas kerja. Padahal, kerja bagi masyarakat modern telah masuk dalam pemahaman satu dimensi; ‘kerja untuk kerja’. Begitu meruah kehilangan yang dialami oleh manusia modern akibat pendewaan pada pekerjaan. Kesempatan untuk berbagi dengan sesama, merenungkan kehidupan sampai memenuhi kebutuhan spiritual telah tereliminir secara tragis oleh totalitas pekerjaan.


Waktu senggang seharusnya merupakan momen yang tumbuh secara alamiah; bagai kebutuhan manusia untuk makan. Ia hadir sebagai perayaan yang merupakan perpaduan dari ketentraman (transquility), kontemplasi (contemplation) dan kesungguhan hidup (intensity of life). Artinya, waktu senggang adalah kesempatan bagi manusia untuk masuk-meninjau-memperbaiki ke dalam diri sendiri dan lingkungan. Sayangnya, hari ini, waktu senggang lebih dianggap manusia sebagai momen untuk lari menuju jebakan-jebakan nafsu belaka. Hingga sikap konsumerisme, hedonisme dan festival hampa makna kian karib di sekitar kita terkait waktu senggang.


Manusia memiliki akal-pikir hingga mampu merenungkan-melaksanakan yang terbaik menurutnya dalam pusaran perubahan kebudayaan yang tanpa henti. Maka, manusia bisa menjadi sandera atau agen kebudayaan secara aktif. Waktu senggang memungkinkan berjalannya proses seleksi dan kritisisasi ketika melakukan transaksi-transformasi kultural dengan kebudayaan diluar lingkungan kita. Lebih dari itu, waktu senggang juga merupakan momen yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi kreatifitas dan imajinasi. Tentu saja, hal tersebut akan berlangsung jika waktu senggang dihidupkan dengan perilaku kontemplatif dan reflektif ke dalam dan ke luar diri manusia.


Sekilas, pemikiran Simon ini memang utopis. Namun, jika manusia memiliki kecenderungan untuk bersikap destruktif hingga terbangun kebudayaan nekrofilia. Maka ia pun berkesempatan untuk menghidupkan kebudayaan biofilia, yakni kebudayaan yang senantiasa bertujuan menjaga kelangsungan hidup manusia dan dunia. Itulah sebabnya, saya kutipkan pernyataan Bung Karno di awal tulisan ini.


Kekuatan waktu senggang dalam hubungannya dengan kebudayaan memang tak bisa diremehkan. Inilah solusi sekaligus tantangan bagi masyarakat modern dalam membangun-hidupkan kebudayaan. Konflik, penggunaan narkotika, kerusakan lingkungan sampai melunturnya spiritualitas yang menubuh pada masyarakat modern sangat mungkin disebabkan oleh kebudayaan yang dibangun tanpa kematangan strategi. Manusia modern yang cenderung workaholic telah meremehkan kekuatan waktu senggang.


Proyek masyarakat-manusia modern akhirnya adalah menanggulangi proses dehumanisasi menjadi rehumanisasi, perilaku konsumer menjadi penghematan-produktif dan—yang terpenting:—seleksi kebudayaan. Jalan untuk melakukan itu semua telah dilapangkan dengan apik oleh Fransiskus Simon dalam buku ini. Sayang memang, intelektual kita ini harus pulang ke rumah Tuhan saat berusia 23 tahun.(*)

Seterusnya..




Jalan Bapak

(dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi Minggu, 20 Juli 2008)

Rokok ketujuh yang saya isap belum habis. Obrolan tetap hangat, tidak dingin seperti kopi yang ada di hadapan saya. Itulah nikmatnya melakukan ”ritual” cangkruk.

Berbincang dengan tema dan waktu tanpa batas di sebuah warung kopi adalah suatu kebiasaan yang tak mungkin lewat dalam keseharianku. Ya, ada yang bilang cangkruk hanya membuang waktu.Bahkan, seorang dosen mengatakan bahwa cangkruk itu hanya dilakukan mereka yang malas dan masih bermental budak. ”O iya...juga mereka yang hidup tanpa tujuan,” lanjut dosen itu dalam sebuah kelas pada masa awal saya kuliah.

”Apa yang salah dengan cangkruk?” pikirku bertahun-tahun setelahnya. Aku dan teman-teman menjadi konsumen warung kecil yang pemiliknya adalah kaum papa. Kami tidak cangkrukdi kafe-kafe atau di gerai kopi asal luar negeri. Ketika cangkruk pun, obrolan kami seputar berita-berita di televisi yang kerap diisi keganjilan ulah para pemimpin di negeri ini.Saya sendiri kerap menjadikan cangkruk sebagai wahana mendengarkan curhat seorang teman yang sedang bermasalah.

Cangkruk kami tidak biasa dan sangat jauh dari hura-hura. Ya, cangkruk yang bertahun-tahun saya nikmati adalah bukti bahwa masyarakat kita masih belum sepenuhnya individual.Masih ada wahana untuk berbagi kisah.Yang paling tak terlupakan, cangkruk merupakan ajang untuk berdebat,mengasah,dan menambah ilmu. ”Lewat cangkruk, ide-ide besar sering bermula,” kata seorang temanku suatu ketika. Bahkan, di era Pak Harto dulu,kata temanku lagi, para aktivis berbagi ide dan merancang gerakan dari warung kopi.

***

Tiba-tiba mata saya menjadi dingin. Perlahan,ada yang mengalir berangsur beku dalam hati.Padahal,obrolan saat itu sedang panas-panasnya.Rokok saya yang ketujuh sekejap lepas dari jepitan telunjuk dan jari tengah.Dari arah barat warung tempat saya cangkruk, sebuah gerobak datang. Saya membaca tulisan Mi Ayam berwarna kuning Golkar. Setelah memarkir gerobak itu,pendorongnya lalu masuk warung, melepaskan topi dan tersenyum ramah pada hadirin yang ada di sana.

”Ya ampun,penjual mi ayam itu lagi,” batin saya berdesir. Ya, saya sangat sering melihat penjual mi ayam yang satu ini.Namun,saya tak pernah membeli dagangannya. Saya kurang begitu suka mi.Tidak mengenyangkan. Penjual mi ayam itu beredar di sekitar Jalan Jawa. Saat siang, dia sering mangkal di samping Warnet Maxima. Kalau sedang ada duit agak banyak, saya ke Maxima siang hari.

Tiap itu pula, saya pasti melihat penjual mi ayam dan gerobaknya. Entahlah, tiap kali melihatnya seolah ada yang mengiris-iris hati dengan es batu yang tipis dan tajam.Maka itu, kadang saya memutar arah saat pulang dari kampus untuk tidak bertemu dengannya. Padahal, Jalan Jawa adalah penghubung yang sangat dekat antara tempat indekos dan kampus.

Siang itu,sang penjual mi ayam ada di hadapan saya. Ingin rasanya keluar warung.Tapi posisi badan tidak memungkinkan– saya diapit dua teman yang sedang asyik berbicara. Selain itu,tak nyaman rasanya jika keluar warung saat ada orang yang baru datang. Saya putuskan untuk bertahan sekitar 10 menit lagi.Namun,putusan saya itu tak mewujud sama sekali.

Mata saya menatap lekat–walau tetap saya usahakan agar tidak kentara–ke wajah penjual mi ayam itu. Bibirnya yang agak tebal berada di bawah kumis yang sangat rimbun, tetapi tidak tertata rapi.Kulit yang cokelat tua sisa bakaran matahari,menjadi alas bagi garis-garis wajah yang kian tampak karena keriput. Dan satu lagi, matanya.Mata itu tak merekah,tanda deraan lelah yang seolah tanpa henti.

Lengkap sudah.Penjual mi ayam itu mirip sekali dengan bapak saya.Hanya, tubuhnya tidak gemuk dan rambutnya belum putih seluruhnya. Sejak pertama bertemu dengannya, saya makin percaya dengan teori–yang tak jelas sumbernya– bahwa ada 10 orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah.

***

Jalan hidup bapak adalah lereng bukit batu yang terjal. Saya ingat betul, ketika itu saya masih duduk di kelas enam SD. Mama meminta saya untuk berangkat ke Jakarta seorang diri. ”Bapak kamu sakit,”kata ibu kepadaku waktu itu.

Setelah gonta-ganti bus dan satu kali naik feri di penyeberangan Bakauheni–Merak, saya tiba di RSCM.Di tempat itulah bapak terbaring lemah setelah dua hari sebelumnya jatuh dari sepeda motor, sebab ojek yang ditumpanginya tak berdaya menampung beban dari tubuh bapak ketika hendak menyeberangi rel.

Tak bisa lekang dari ingatan, saat itu adalah masa di mana saya mengetahui dengan pasti kalau bapak memiliki istri bukan hanya mama. Bapak membangun keluarga pula bersama tiga perempuan. Untuk pertama kalinya, saya bertatap muka dengan beberapa anak bapak. Hati siapa yang tak remuk redam kala itu?

Saya–yang saat itu masih bocah berusia 12 tahun– hanya mampu berair mata dalam hati. ”Itulah sebabnya, saya tidak pernah bisa langsung memperlihatkan rapor setelah dibagikan wali kelas.Dan ...ini juga yang menyebabkan bapak hanya pulang ke Metro dua pekan sekali,” renung saya tak pecah di mulut.

***

Entahlah, sekitar tiga tahun dari kejadian di RSCM itu, saya sempat benci dengan bapak. Namun ketika menimbang ulang, rasa bangga kepada bapak malah muncul di hati saya. ”Walau bapak punya empat istri,semua anaknya tidak ada yang tidak lulus SMU”,kata salah satu anak bapak saat saya berkunjung ke Jakarta di masa SMU.

Ia juga mengakui bahwa anakanak bapak yang berada di Tangerang, Depok, dan Rawasari sering bertemu jikaadaacarakhusus.”KeluargaDepok tuh yang paling sombong. Mentangmentang anaknya ada yang kerja di Garuda,”cibirnya kemudian. Terus saja saya merenung.Kenapa saya harus membenci bapak? Saya tidak pernah satu kali pun melihat bapak memukul mama. Bahkan berkata dengan kalimat kasar pun tidak.

Satu hal lagi, sebelas ”saudara kandung” saya memiliki panggilan yang sama untuk lelaki itu: Bapak.Sementara untuk istri bapak, tiap anak memiliki panggilan beragam. Saya panggil Mama, keluarga di Tangerang panggil Mami, keluarga di Depok panggil Bunda, sedangkan keluarga Rawasari panggil Ibu.

Seluruh anak bapak mengetahui bahwa istri bapak ada empat.Bapak tidak seperti para lelaki yang hobi ‘menyimpan’ perempuan, hingga saat sudah bosan maka ditinggalkan.Apa alasan saya,akhirnya,membenci bapak? Ketika merantau jauh dari mama dan bapak, saya makin tersadarkan bahwa saya memang harus bangga dengan bapak. Saya sering membayangkan betapa sulit kehidupan bapak dengan empat istrinya.

Kesulitan itu tentu saja dalam hal membagi keadilan, sesuatu yang saya pahami hanyalah milik Tuhan.Namun,saya juga percaya bahwa manusia hanya mampu sebatas mengusahakannya terwujud. Bohong jika saya mengatakan bahwa bapak telah adil kepada istri dan anak-anaknya. Namun, saya juga tahu bahwa bapak selalu berusaha memberi keadilan kepada kami.

Saya mengetahui bahwa semua istri bapak adalah perempuan yang bekerja di luar rumah.Jadi,penghasilan tiap keluarga berasal dari suami dan istri.Walau tentu saja, penghasilan yang berasal dari suami tak dapat diberikan utuh kepada satu keluarga. Tetap saja ada yang mengkhawatirkan saya dengan kondisi bapak. Seorang teman pernah bercerita bahwa lelaki yang bapaknya memiliki istri banyak, biasanya akan turut pula seperti itu.

”Yahh...Buah pasti jatuh tak jauh dari pohonnya, toh?”, kesimpulannya saat itu. Fakta-fakta yang menunjukkan bahwa kenakalan anak muda selalu didominasi mereka yang berasal dari keluarga broken home, yang penyebabnya tentu identik dengan ‘kenakalan’ suami. Jalan bapak berbeda dengan kebanyakan lelaki yang memiliki banyak istri.Ada tanggung jawab yang dengan keras coba diperlihatkan pada anakanaknya. Keterbukaan dan kepedulian adalah ciri yang berusaha dibangun bapak di hadapan anak-anaknya.

Setelah peristiwa di RSCM itu, bapak pernah mengajak saya berbincang soal kondisi dirinya. Ya,waktu itu saya masih marah dengan kenyataan hingga omongan bapak hanya masuk kuping tanpa menyangkut di otak. Untungnya, saya mampu berpikir agak jernih.Itulah sebabnya saya tidak terjerumus ke barang terlarang sebagai pelepasan emosi. Kenapa harus memakai narkoba karena mengetahui bapak punya istri selain ibu kita? Kenyataan tak bisa diubah.

Tiada yang harus disesali.Lagi pula, bapaklah yang melakukan poligami, bukan saya.Namun, harus ada yang diperbaiki.Saya tidak mau mengikuti jalan bapak. Jalan terjal itu hanya bisa ditempuh bapak. Saya tidak membencinya.Hanya,saya sudah berpikir serius bahwa saya tak akan bisa memiliki istri lebih dari satu.

Bapak mampu menghadirkan contoh yang baik melalui sesuatu yang dipandang miring oleh orang lain. Dan jika ada tiga amalan dari seorang manusia yang tak akan putus walau telah meninggal, saya akan menyambung amalan bapak pada dua bentuk saja.

Dengan beristri satu, saya akan menumpahkan seluruh perhatian kepada anak yang lahir dari istri saya, satu hal yang tak bisa dilakukan bapak. Saya mendapatkan ilmu memberi perhatian pada anak dari bapak.Dan saya,pasti punya cukup banyak waktu untuk mendoakan bapak dan mama.

***

”Sudah muter ke mana aja, Pak?” akhirnya saya bertanya kepada penjual mi ayam itu. ”Ah,sekitar sini aja,Dik.”
”Wah,kayanya sudah laris,Pak”
”Ah,belum...”
”Rumah sampean di mana,Pak?”
”Ini,di Jalan Sumatera Gang tiga”
”Oh..deket sini ya, Pak. Anaknya berapa,Pak?”
”Tiga...”

Mulut penjual mi ayam itu terlihat akan mengeluarkan kata-kata lagi.Saya buru-buru bertanya kembali, ”Kalau istri ada berapa,Pak?””Apa,Dik? Hahaha...Ya cuma satu.”

Obrolan kami terus berpacu dengan silang suara orang lain di warung itu. Ia bercerita tentang kampung asal sampai kisahnya datang ke kota ini pertama kali. Saya akhirnya memesan mi yang ada di gerobaknya. Selepas kejadian siang itu, saya selalu makan mi ayam kalau dompet agak tebal. Saya melahap mi sambil menatap penjualnya.Membayangkan wajah bapak dan jalan berliku yang telah dipilihnya untuk menapaki kehidupan.(*)

Seterusnya..

Buku Baru

Seterusnya..

Pulang Perang

—Seharusnya kau tak perlu pulang. Lebih baik disana. Ada yang lebih patut kau kerjakan.
+Awalnya aku pun berpikiran demikian. Tapi, aku tak kuasa lagi untuk bertahan disana. Pulang ke kampung walau nyawa taruhannya, tak masalah.
—Tengoklah, kau sendiri sudah paham soal buah yang sangat mungkin kau petik dari ulahmu. Untung saja kau sudah disini mengobrol dengan saya. Cobalah, sesekali kau ini berpikir pakai otak. Jangan hati saja kau ikuti terus!
+Kau tetap saja seperti dulu. Sok ceramah tapi tak berisi! Kalau tak pakai otak, mana mungkin aku bisa sampai dengan utuh! Kau urus saja....
—Apa? Urus apa? Kamu yang dari dulu susah diurus! Semakin tua, semakin tumpul otakmu untuk mengingat pesan bapak. Jangan mundur sebelum terdengar perintah untuk menarik serdadu! Begitu ‘kan kata bapak?! Kau ini selalu saja pekak badak! Kau paham ‘kan kalau pulang itu sama dengan mundur!
+Kau ini bodoh atau apa? Disana aku tak berperang! Aku tak tahan dengan kondisi disana. Terlalu banyak yang dikorbankan. Mataku sendiri yang melihat banyak orang menjadi budak apa saja sampai mengorbankan orang lain bukanlah persoalan besar. Mulutku tak bisa bicara. Kupendam semua dalam hati. Kau tahu, kini hatiku pun menjadi korban, sakit sekali rasanya.
—Ah, selama kerugian tak menghampirimu, maka kau bukan korban. Tak salah, akhirnya, kalau kau terus bertahan disana. Jawablah, kau bisa mencangkul? Menanam dan mengurus padi sampai panen? Kau sudi berkubang di lumpur saat matahari sedang terik? Hanya itu yang bisa dikerjakan disini. Siap kau? Sudahlah kembali saja kesana, mumpung baru sehari kau disini. Kau bisa pakai alasan urusan keluarga yang mendesak agar bisa hidup disana lagi. Berjuang menggapai mimpi keluargamu.
+Aku bisa belajar untuk turun ke sawah lagi. Lebih baik bergumul dengan tanah, air dan wereng di sawah ketimbang bergulat dengan orang-orang tak berperasaan disana. Kalau kita baik kepada alam, balasan serupa kita peroleh. Tapi, manusia tak demikian. Mataku berulang kali melihat buktinya. Semakin kau baik kepada orang lain, alih-alih dapat kebaikan pula malah kau ditendang oleh orang itu.
—Ya sudah! Kau bisa tendang balik orang itu. Bahkan kalau perlu bikin dia jatuh sampai tak bisa bangun. Mengapa itu kau ributkan?! Selama kau masih pakai otak, orang yang sangat licik bisa kau cekik. Hidup memang begitu adanya. Siapapun yang kuat, jadilah ia juara. Tanah tak akan melawan saat kau cangkuli kemudian kau tanami padi. Tanah itu benda mati! Dan hidupmu tak akan lebih baik jika kau terus-menerus bergaul dengan benda mati!
+Jika tak kau ijinkan aku menggarap sawah lagi, baiklah. Aku bawa uang untuk modal usaha disini. Aku bisa buka warung atau....
—Haa?! Hahaha...Kau tahu, sejak kita kecil sampai sekarang hanya ada satu warung di kampung ini. Ya milik Pak Warso itu. Lihatlah, tak kunjung kaya dia. Uangmu akan terbuang percuma jika usaha di disini. Buka warung makan atau toko apa saja, siapa yang mau beli? Orang-orang lebih senang belanja ke kecamatan. Itu pun sehabis panen saja saat mereka agak tebal dompet.
+Aku hanya ingin hidup tenang. Makan cukup setiap hari. Bisa bekerja walau uang yang kudapat sedikit. Aku sudah senang hidup seperti itu. Aku yakin bisa menunaikan inginku di kampung ini.
—Aku paham sekarang. Ini bukan masalah kau hidup disana atau disini. Tapi caramu menjalani keseharian saja. Selama kau tak ikut kotor di tempat yang buruk, bisalah kau tenang hidup disana atau disini. Jalani saja tugasmu. Kenyangkan perutmu. Kirimkan uang untuk anak-istri di kampung. Masa kau tetap tak bahagia hidup macam itu? Sawah warisan bapak hanya cukup untuk menghidupi keluargaku saja. Kalau kau menggarapnya pula, itu sama saja menyulitkan aku dan keluargamu sendiri. Kita bisa makin kekurangan.
+Ya sudah, kau saja yang hidup disana menggantikan aku. Sepertinya otakmu pas dengan cara hidup orang-orang disana. Kesana saja, buktikan sendiri semua ucapanku. Kau terapkan saja sendiri seluruh pemikiranmu itu.
—Bukan begitu. Aku sudah cukup hidup di kampung ini. Mengapa pula aku harus hidup disana? Maksud semua omonganku tadi agar kau bertahan disana. Kau terlalu sering memikirkan hal sepele hingga kebahagiaan tak bertandang kepadamu. Aku yakin sebentar lagi kau kian mapan. Anak-istrimu bolehlah diajak ikut hidup disana. Kemudian sekolahkan anak-anakmu agar mereka tak bernasib seperti kita. Engkau yang diminta bapak untuk kerja disana. Aku hanya ditugaskan menggarap sawah milik bapak. Masa itu belum adil bagimu?
+Ah, pintar sekali kau menyilatkan lidahmu sendiri untuk menghalangi niatku hidup tenang di kampung ini. Kau dengar ini; aku sudah putuskan untuk....
“Mas, ongkosnya”. Lamunan itu pecah. Ia keluarkan dua lembar lima puluh ribu dan diberikan ke kondektur bis. Melanjutkan atau menghentikan perjalanan, hanya dia yang mengerti.(*)
Seputaran Gumuk Kerang/0508

Seterusnya..


Bukan Dongeng Dari Tiongkok

(dipublikasi di Harian Jawa Pos edisi Minggu, 29 Juni 2008)

Berbicara Tiongkok, bagi kita yang awam, mungkin akan teringat pada film. Lumrah saja karena salah satu ‘suguhan asing’ di kancah perfilman negeri ini adalah film Tiongkok. Atau bisa jadi, pikiran kita akan melayang pada tragedi 1965 yang terjadi di Indonesia. Nama Republik Rakyat Cina sering dikaitkan dengan peristiwa itu. Namun, siapkanlah diri dengan pikiran terbuka saat membaca 76 catatan Dahlan Iskan mengenai Tiongkok dalam buku ini.

Dahlan Iskan, harus diakui, bukanlah sosok yang menjadi ‘pemerhati’ Tiongkok karena keberhasilan negara tersebut akhir-akhir ini. Hal itu terlihat pada sikap dia dalam menyikapi perjanjian normalisasi hubungan Indonesia-Tiongkok yang ditandatangani pada 1989. Peristiwa itu berlangsung di salah satu ruang hotel Imperial di Tokyo; disela-sela acara pemakaman Kaisar Hirohito.

“Sejak saat itu saya merasa terdorong untuk ikut mengisi dan memberi warna agar perjanjian tersebut tidak menjadi sekedar perjanjian kosong”, tulis Dahlan.

Benar saja, bersama harian Jawa Pos yang dipimpinnya, Dahlan mulai menggelar acara kesenian dari Tiongkok. Aral yang menghadang bukan kepalang. Maklumlah, menggelar kesenian bernuansa Tionghoa pada era Orde Baru bisa menimbulkan persoalan pelik bagi penyelenggara.

Tapi, keberanian Jawa Pos Grup meng-umum-kan kesenian masyarakat Tionghoa—yang sebelumnya hanya boleh digelar khusus dalam klenteng—merupakan langkah untuk mewujudkan normalisasi hubungan dalam skala lebih luas, yaitu antar masyarakat, bukan sekadar negara.

‘Kisah cinta’ Dahlan Iskan dengan Tiongkok tidak berhenti begitu saja ketika roh reformasi mulai menyelubungi negeri ini. Saat barongsai sudah sangat umum ditengah masyarakat (bahkan lazim dipertontonkan oleh stasiun televisi), Dahlan Iskan tak lagi sekadar menjadi ‘pemerhati’. Namun, dia pelan-pelan ‘menjalankan laku’ untuk menjadi—yang saya sebut sebagai—‘ahli Tiongkok’. Dia, tampaknya, tahu betul bahwa rekonsialiasi dengan Tiongkok seharusnya tidak hanya dalam bidang kebudayaan, tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan.

Pada 8 catatan yang mengawali buku ini, Dahlan Iskan menceritakan pengalaman belajar Putonghua di Jiang Xi Shi Fan Da Xue (Jiang Xi Normal University), Nanchang. Walau telah berusia setengah abad saat memulai belajar Putonghua (‘bahasa nasional’ Tiongkok), dia tidak menyerah. Rumitnya belajar bahasa tersebut—orang Tiongkok sendiri pun kesulitan—membuat Dahlan Iskan memaknai agak berbeda hadist nabi: “Tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina”.

Dia menafsirkan bukan saja terkait dengan jarak; ilmu harus direngkuh meskipun jauh. Namun, “Tuntulah ilmu meski sulitnya amat sangat—seperti belajar bahasa Mandarin itu!” (hal:27). Bagi saya, tafsiran itu menujukkan totalitas Dahlan untuk menjadi “ahli Tiongkok”.

Membaca buku ini, kita akan diperlihatkan sebuah pemandangan Tiongkok yang berhias pertumbuhan dan perkembangan. Dan itu bukan dongeng.

Dahlan sudah bolak-balik ke Tiongkok dalam sepuluh tahun terakhir ini. Mekarnya ekonomi Tiongkok dia amati dari sangat dekat. Dia sampai paham betul suasana jalan tol yang kian tahun makin bertambah panjang menjulur hingga ke desa-desa.

Pembangunan jalan tol dimulai pada 1988 untuk menghubungkan Kota Senyang dengan Dalian sepanjang 400 km. Pada 2003, jalan tol di Tiongkok mencapai 30.000 km (hal:84-85). Pembangunan jalan tol yang ‘gila-gilaan’ itu dilakukan agar pemerataan ekonomi bisa tercapai.

Maka, benarlah, sejumlah ‘kesaksian’ dituturkan Dahlan terkait ampuhnya jalan tol dalam menopang peningkatan ekonomi Tiongkok. Begitu banyak daerah yang awalnya adalah desa terpencil, kini telah menjadi sentra rupa-rupa industri.

Selain itu, terowongan di bawah laut dan jembatan yang melintasi birunya air laut dibuat pula untuk mempermudah hubungan dengan Hongkong, Taiwan dan Makau. Jalur transportasi yang mewujud itu bukan bermodalkan ‘simsalabim’ tapi lewat matangnya rencana dan usaha yang perlahan tapi pasti.

Ketika tuntas memereteli catatan jurnalistik Dahlan Iskan dalam buku ini, saya berkesimpulan bahwa mempelajari Tiongkok adalah bergumul dengan keunikan. Walau telah mempercantik diri dengan modernisasi disana-sini, masyarakat Tiongkok tidak serta-merta menanggalkan baju leluhur mereka.

Perayaan Imlek tetap menjadi perhelatan yang luarbiasa meriah di negeri itu. Bahkan, pengobatan tradisional pun dikaji dan dikembangkan sama seriusnya dengan teknik modern di fakultas kedokteran.

Kedua, menatap Tiongkok bagai melihat sesosok raksasa yang seolah tidur, namun kini tengah bergeliat bangun. Kalau dulu Tiongkok menutupi diri dengan bambu komunisme, kini bambu itu tetap ada, tapi sebatas identitas saja.

Deng Xiaoping yang mulai membuka tirai bambu penutup Tiongkok. Perekonomian perlahan bangkit setelah pusat memberi ‘kekuasaan’ pada pemerintah daerah untuk menata diri masing-masing. Deng Xiaoping kabarnya sering memuji kota yang mampu mengembangkan perekonomian hingga persaingan antar kota pun tak terelakkan.

Saat raksasa bernama Tiongkok itu mulai semakin tegak, pemerintah pusat gencar melakukan pemerataan ekonomi ke daerah yang masih tertinggal. Melihat pertumbuhan ekonomi yang terus naik selama 25 tahun terakhir, pemerataan ekonomi kiranya bukan hal yang sulit untuk ditangani.

Pada tahun 2020, ada yang memprediksi bahwa raksasa Tiongkok itu tidak hanya tegak berdiri namun juga mengembangkan tangannya dengan gagah (hal:52). Maka, wajar jika Amerika Serikat mulai sedikit ketar-ketir. Hingga mayoritas masyarakat Tiongkok percaya bahwa kerjaan AS di Timur Tengah saat ini adalah usaha untuk menghambat kemajuan Tiongkok dari sisi energi (hal:55).

Akhirnya, buku ini bagai makanan yang bisa dikunyah semua orang. Untuk penyuka jalan-jalan, Dahlan menuliskan cara sukses berwisata di Tiongkok. Para pebisnis bisa melongok peluang membuka usaha di negeri itu. Para penulis akan mendapatkan teknik menulis agar enak dibaca. Aparat pemerintah pun rasanya rugi kalau tak memamah buku setebal 268 ini karena kesejahteran masyarakat Tiongkok masa kini, seperti ditulis Dahlan Iskan, sekali lagi, bukan sebuah dongeng.(*)

Seterusnya..


‘Kisah Baru’ Sherlock Holmes dan ‘Kekuasaan’ Pengarang

(dipublikasi di Jurnal Nasional edisi Minggu, 15 Juni 2008)
Sir Arthur Conan Doyle (1859-1930) boleh saja telah tiada. Namun tokoh rekaannya, Sherlock Holmes, melegenda hingga kini. Detektif yang akrab dengan cangklong dan kaca pembesar serta beralamat di 221B Baker Street, London, itu tetap menjadi ikon penting di jagat buku-buku aliran misteri kriminal. Kisah Holmes ternyata masih bisa dikulik lagi hingga belum khatam dalam 56 cerita pendek dan 4 novel yang telah dibesut oleh Conan Doyle.

Tracy Mack dan Michael Citrin membangkitkan kembali petualangan Holmes dalam buku setebal 316 halaman ini. Sebagai sebuah karya lanjutan, nampaknya Mack dan Citrin paham bahwa mereka harus hadir dengan ‘sesuatu yang baru’. Tentu saja agar tak dikira hanya mendompleng sisi legendaris sang detektif—yang sejatinya telah divonis oleh Conan Doyle hanya hidup antara tahun 1881-1904.

Bagi yang menyukai Dr. John Watson—sosok yang setia mengiringi Holmes saat menyelidiki suatu kasus—agaknya harus kecewa sebab ia bukan salah satu tokoh utama kisah Holmes di buku ini. Watson dilengserkan dari perannya sebagai pencatat kiprah Holmes dalam jagat detektif kriminal. Ia sekadar teman serumah Holmes—sederajat dengan Mrs. Hudson si pengurus rumah dan Billy si penyampai pesan.

Adalah Laskar Jalanan Baker Street—saya singkat Lajabas—yang menggantikan peran Watson dalam membantu secara penuh Holmes ketika menyelidiki kasus. Mereka merupakan sekelompok anak berumur dibawah lima belas tahun yang dipertemukan oleh kesamaan nasib: miskin. Hidup mereka bergantung dari mengemis, mengamen dan pekerjaan jalanan lainnya. Geng rekaan ini pernah disebut oleh Conan Doyle pada dua cerita pendek dan dua novel sebagai pihak yang juga menjadi ‘telinga dan mata Holmes’ saat menunaikan tugas sebagai detektif.

Patut diingat kembali bahwa Conan Doyle memosisikan Watson sebagai pihak yang seolah menulis petualangan Holmes. Hal inilah yang memantik ide awal bagi Mack dan Citrin untuk membangkitkan lagi Sherlock Holmes. Watson ‘dituduh’ telah sengaja melupakan kerja Lajabas dalam membantu Holmes saat penyelidikan. Tertulis dibagian Pendahulan: “Nah, kita tidak pernah tahu apakah Watson bermaksud mengangkat nama Holmes sendirian (dan menyebabkan namanya sendiri ikut terangkat)”. Maka “Semua sejarah membutuhkan koreksi, dan inilah saatnya Laskar Jalanan Baker Street tampil ke permukaan” (hal:21).

Watson—dalam buku ini—selalu digambarkan sebagai sosok yang penuh kekagetan, sinis terhadap keberadaan Lajabas dan nalar detektifnya tidak tajam walau telah bertahun-tahun mendampingi Holmes. Sementara Lajabas merupakan kelompok yang selalu bersemangat membantu Holmes. Apalagi, Holmes begitu percaya kepada Wiggins yang merupakan pemimpin Lajabas. Ditambah lagi dengan sosok Ozzie yang sangat paham soal penarikan kesimpulan secara deduktif ala Holmes. Buku ini bagai langkah pasti Lajabas dalam melibas peran Watson sebagai pendamping Holmes.

‘Sesuatu yang baru’ sebagaimana ditawarkan Mack dan Citrin dalam buku ini, menurut saya, hanya terkait dengan ‘kekuasaan si pengarang’. Conan Doyle mengutamakan Watson dan buku ini memberi porsi lebih pada Lajabas. Sementara latar kisah buku ini tetap pada era Victoria di Inggris. Hal ini berpotensial menenggelamkan kesohoran Holmes terkait lekuk teknik yang digunakannya ketika menelusuri lorong misteri suatu kasus.

Dalam buku yang diniatkan sebagai seri perdana dari petualangan Holmes versi Mack dan Citrin ini terdapat dua kasus kriminal yang saling terkait. Sebuah buku—bernama The Stuart Chronicle—milik kerajaan Inggris yang berabad umurnya telah raib. Holmes dijemput oleh Pangeran Wales untuk meninjau lokasi hilangnya buku itu sebagai langkah awal investigasi. Beberapa hari kemudian, sebuah pertunjukan sirkus kehilangan salah satu bintangnya. Walenda Bersaudara yang mempertontonkan kebolehan mereka dalam atraksi meniti tali terjatuh hingga wafat di tempat.

Holmes masih tetap jeli dalam menghubungkan fakta dari dua kejadian tersebut. Namun, lembaran buku ini lebih banyak bercerita tentang langkah Lajabas dalam memenuhi perintah Holmes untuk ikut serta menangani kasus. Mereka tunggang-langgang mencari informasi soal Walenda Bersaudara di lokasi sirkus Grand Barboza. Usaha keras Lajabas akhirnya berbuah petunjuk penting bagi Holmes. Sosok Orlando Vile muncul sebagai pihak yang mengajak Walenda Bersaudara untuk menggunakan keahlian mereka dalam pencurian The Stuart Chronicle.

Sebagaimana standar kisah Holmes, dua kasus tersebut berhasil diungkap. Penyergapan yang dilakukan Holmes dan Lajabas di dermaga saat Vile hendak menjual buku curiannya kepada Prof. Moriarty adalah ‘pintu pembuka’ akhir kisah buku ini. Vile tertangkap, namun Moriarty lolos membawa buku tersebut. Kemudian Moriarty memberikan buku itu kepada jasa pendokumentasian yang ada di daerah Oxford untuk digandakan.

Lagi-lagi Lajabas menjadi ‘penolong’ Holmes dalam menemukan The Stuart Chronicle. Kantor jasa penggandaan dokumen itu merupakan tempat kerja Ozzie saat tidak berkumpul dengan Lajabas. Buku itu berhasil direbut Holmes setelah melewati pertarungan yang menegangkan di kantor tersebut. Saya hanya membayangkan, kalau saja Moriarty tidak memberikan buku itu ke tempat Ozzie bekerja, mungkin benda berlapis emas dan permata itu tetap raib. Mack dan Citrin masih ‘kurang halus’ meramu hubungan tiap adegan dalam kisah Holmes di buku ini jadi tidak memberi kejutan yang menghentak bagi pembaca.

Walau demikian, buku ini tetap laik dibaca sebagai tombo kangen pada petualangan Holmes. Hanya saja, ‘teknik kerja’ Holmes sekadar diketahui saat ia bercerita bukan ketika ia bergerak hingga kurang dari lekuk yang memukau. Maklumlah, sebab yang bekerja ialah Lajabas. Terakhir—ini yang paling saya sesali—berulang kali dituturkan bahwa kerja Lajabas hanya sebatas mengharap upah dan merasa bangga karena membantu The Famous Sherlock Holmes.(*)

Seterusnya..


Menjangkau Universalitas Islam Via Rap
(dipublikasi di Jurnal Nasional edisi Minggu, 8 Juni 2008)
Jika Prancis selama ini dikenal sebagai “jantung kebudayaan Eropa” maka buku ini menelisik sisi lain dari negeri tempat bermulanya revolusi sosial itu. Régis Fayette Mikano tak sekadar mendedahkan kisah hidupnya dalam buku setebal 240 halaman ini. Namun, ia pun bicara soal kemiskinan, diskriminasi, kekerasan, kriminalitas dan tentu saja spiritualitas.

Régis berangkat ke Prancis sebab ikut ayahnya yang mendapatkan beasiswa kuliah dari pemerintah Kongo. Apa lacur, sang ayah kemudian malah pergi dengan wanita lain beberapa tahun setelah mereka bermukim di Prancis. Ibu Régis harus membesarkan empat orang anak dan menanggung hutang sebesar 50 ribu franc. Ditambah lagi, mereka harus hidup dalam lingkungan imigran yang penuh dengan kekerasan di selatan kota Strasbourg.

Cité, begitulah sebutan untuk pemukiman yang dibangun oleh pemerintah Prancis bagi para imigran—kebanyakan dari Afrika. Régis bermukim di distrik Neuhof; sebuah distrik dengan jumlah imigran terbesar di Strasbourg. Ia pun tak kuasa menolak pengaruh berupa perilaku buruk yang lazim berlangsung di cité. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, Régis telah mencuri jemuran atau permen di sebuah toko dan memalak uang dari anak kecil yang berkulit putih.


Namun Régis adalah anak yang cerdas hingga ia mendapatkan keringanan biaya untuk mengenyam pendidikan di salah satu sekolah menengah ternama di Strasbourg. Tapi, kehidupan buruk yang telah lekat padanya sejak kecil tak mampu dilepaskan dengan mudah. Perilaku kriminal Régis makin meningkat pada masa ini; ia mulai menjual ganja dan menjadi pencopet di pusat kota Strasbourg dengan sasaran para wisatawan.

Hal ini dilakukan Régis sebab ekonomi keluarga terbelit kemiskinan. Pemerintah Prancis memang memberikan subsidi kepada para imigran, hanya saja jumlahnya cukup kecil. Sementara itu, bantuan dari lembaga kemasyarakatan tidak bisa diandalkan untuk bertahan hidup secara permanen. Menjual ganja dan mencopet adalah langkah yang dipilih oleh Régis agar tak meminta uang jajan kepada ibunya.

Kriminalitas yang diperbuat Régis kian meningkat setara dengan prestasi yang diraihnya di sekolah. Ia menjalani semacam ‘kehidupan ganda’. Yaitu menjadi penjual ganja dan pencopet yang sukses menjalankan aksi-aksinya sedangkan pada sisi lain Régis selalu menjadi murid terpintar di tiap tingkatan sekolah.

Hari demi hari, peta kriminalitas di cité kian rumit karena peredaran narkotika jenis heroin. Perebutan daerah kekuasaan setiap hari terjadi di cité dan ‘perilaku jantan’—seperti berkelahi satu lawan satu—telah luntur. Cité kian suram karena himpitan kemiskinan dan maraknya ketergantungan pada heroin. Melihat hal ini Régis kian terombang-ambing. Nalar intelektual yang kuat telah menyelematkannya dari pengaruh heroin, ia tak pernah mencoba barang itu. Tapi, ia pun memendam rasa prihatin akan nasib mayoritas temannya yang telah adiktif pada heroin.

Kehidupan cité juga memperkenalkan Régis pada musik yang diciptakan oleh kaum kulit hitam. Ia sering mendengar lantunan jazz dan musik tradisional Afrika. Namun, musik rap yang diperkenalkan oleh sepupunya justru memikat hati Régis.

Rap masuk ke Prancis berbarengan dengan musik aliran hip-hop. Régis bukanlah tipikal individu yang mudah terasuki ‘sesuatu’. Ia menelusuri musik rap sampai ke akar. Hingga ia pun menyadari bahwa musik yang lahir di ghetto (wilayah kulit hitam di Amerika Serikat) itu mengusung perlawanan atas sikap diskriminatif yang dilancarkan kaum kulit putih. Hal ini bertolak-belakang dengan mayoritas kaum muda di Prancis yang menyukai musik rap dan hip-hop hanya untuk ‘sekadar gaya’ (ikut-ikutan).

Tak dinyana, pergulatan dengan musik rap membawa Régis pada perjumpaan dengan Islam. Hal ini terjadi saat ia membaca sejarah kelompok rap awal yang lahir di AS. Kelompok rap di Negeri Paman Sam itu rata-rata didirikan oleh orang kulit hitam yang memeluk agama Islam.

Ia makin menyadari bahwa Islam ialah agama yang telah dianut oleh mayoritas penghuni cité. Namun, karena modernitas berbalut kriminalitas telah menyelubungi cité yang miskin, Islam lebih identik dengan generasi tua berikut sejarah dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya (hal.71). Maka, cahaya Islam tidak terlalu menampakkan diri dalam cité.

Setelah memeluk agama Islam, Régis berubah total. Tak hanya dunia narkotika yang ditinggalkannya, namun ia pun berhenti menyanyikan rap. Ia rajin mendakwahkan Islam ke seantero Prancis bersama sebuah kelompok tarekat. Akhirnya Régis menyadari bahwa tarekat yang diikutinya telah menjadikan Islam sebagai agama yang ofensif dan isolatif. Hal ini membuat hatinya gundah. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa mayoritas pengikut tarekat tersebut memeluk Islam hanya sebagai pelarian dari kekecewaan yang mereka cecap dalam alam modern. Jadi bukan suatu sikap pasrah setelah melakukan pencarian secara benar.

Alhasil, hidup Régis kian karut-marut; terpontang-panting pada dualisme. Antara memenuhi kebutuhan duniawi dan ibadah kepada Tuhan, aturan halal dan haram sampai berhenti atau meneruskan bermain musik rap. Pada suatu masa, ia pernah menjalani tiga kegiatan sekaligus: bermain musik rap, berdakwah dan menjual narkotika.

Tipikal Régis yang selalu mencari makna hidup tanpa lelah membuatnya dekat dengan ajaran Sidi Hamzah al-Qadiri al-Boutchichi. Ulama yang hidup di Maroko tersebut telah membuka mata Régis tentang Islam yang humanis dan berlandaskan pada cinta kasih nan universal. Jalan hidup dipilih Régis; mendakwahkan ajaran Islam lewat lagu-lagu rap gubahannya. Bahkan, ia pun menjadikan karyanya sebagai medium untuk menyuarakan kondisi cité kepada masyarakat lain. Melalui rap, Régis ingin mengusahakan terciptanya dunia yang memandang seseorang tanpa sikap diskriminatif.

Régis Fayette Mikano—yang telah mengubah namanya menjadi Abd al Malik—merupakan sosok pencari makna kehidupan yang tangguh. Ia menolak terjebak dalam suatu lingkaran yang hanya ingin menggelapkan dunia.(*)

Seterusnya..


Merajut Dialog Tanpa Amarah


(dipublikasi di Harian Seputar Indonesia, Minggu 25 Mei 2008)


Kita mungkin tak menyadari bahwa marah merupakan perilaku yang searti dengan peribahasa “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Bahkan, bisa jadi kita tak mahfum bahwa marah laiknya sebuah wabah penyakit yang bisa menyebar dengan cepat. Setidaknya, itulah dua persoalan yang dikemukakan oleh Carl Semmelroth dalam lembar-lembar awal buku ini.


Marah akan terjadi manakala perilaku orang lain tak sesuai dengan harapan kita. Awalnya, mungkin sekadar meluap dalam bentuk ucapan. Namun lambat-laun kemarahan kita akan mewujud melalui tindakan dengan alasan ‘memberi pelajaran’. Semmelroth mengatakan bahwa kemarahan—sejak pertama kali muncul dalam rasio kita—kepada orang lain memang bertujuan pada tindakan. Marah yang direfleksikan dalam bentuk selain tindakan bagai ‘tabungan’ untuk kemarahan yang lebih besar.


Buku ini sejatinya hanya membahas hubungan orangtua dan anak dalam keluarga. Semmelroth melihat bahwa perilaku marah akan diperkenalkan kepada individu pertama kali oleh anggota keluarga. Hal ini senada dengan analisa Emile Durkheim, yaitu keluarga merupakan media sosialisasi perdana bagi individu. Saat seorang anak sering dimarahi oleh orangtua, sesungguhnya si anak sedang ditularkan ‘penyakit akut’ yang akan membuatnya mudah marah kepada orang lain.


Keluarga memegang peran penting dalam membentuk anggota masyarakat yang sabar dan menjunjung tinggi jalur nir-kekerasan. Oleh karena itu, buku ini juga membawa pesan sosial yang lebih luas cakupannya.


Semmelroth menekankan perlunya pembiasaan diri bagi individu—yang dimulai dari keluarga—untuk melakukan konsensus secara bersama. Hal ini penting untuk menghindari kemarahan orangtua kepada anak. Aturan dalam keluarga haruslah dibentuk dengan jalan urun-rembug antara orangtua dan anak pada ‘satu meja’. Keluhan dan keinginan tiap pihak bisa diutarakan secara bebas dalam momen tersebut.


Lebih jauh, konsensus yang bersemangat egaliter dilakukan agar terbentuk interaksi yang harmonis. Keluarga seharusnya mengajarkan bahwa orangtua bukanlah penguasa bagi anak-anaknya. Interaksi nan egaliter dan terbuka niscaya memberi pengetahuan kepada anak-anak bahwa orangtua pun bisa salah. Kemudian, orangtua bisa memberi contoh kepada anak-anaknya dalam menghadapi kesalahan secara ‘ksatria’.


Orangtua yang pemarah akan membangun kesan ‘angker’ bagi anak-anaknya. Hingga komunikasi antara keduanya bisa terputus. Anak-anak pun tak nyaman dan mudah terjerumus ke dalam perilaku negatif di luar rumah.


Buku ini dilengkapi dengan halaman-halaman yang bisa kita tuliskan untuk mengukur perilaku kemarahan. Semmelroth benar-benar membuat buku terapi dimana pembaca adalah seorang terapis sekaligus pasien. Kemarahan hanya bisa dikurangi bahkan dihilangkan oleh individu yang secara sungguh-sungguh menjauhi perilaku negatif itu.


Semmelroth juga mengungkapkan bahwa ada pula marah yang bermuatan positif. Yaitu ketika seorang anak tidak mematuhi aturan yang dibuat bersama orangtua. Dalam buku ini, Semmelroth mengajari kita teknik memarahi anak yang tidak melukai jiwa dan raga. Malah, menurut saya, tips unik dari Semmelroth tersebut bisa membuat si anak tidak sadar jika sedang dimarahi. Sebuah langkah untuk marah yang menggelitik dan mendidik.


Melalui buku ini, Semmelroth seolah ingin menegaskan bahwa tiap manusia memiliki aura positif yang sebanding dengan aura negatif. Kemarahan yang terlampau sering diterima oleh individu hanya akan membangkitkan aura negatif dan membunuh aura positif dalam dirinya. Lebih jauh, saya melihat bahwa Semmleroth ingin menghadirkan kembali fungsi-fungsi utama dalam keluarga yang saat ini mulai meluntur sebagai akibat dari ‘sapuan badai modernisme’.


Jamak paham, kini orangtua juga sibuk diluar rumah karena harus memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun, tak selaiknya masalah pelik dalam pekerjaan dibawa orangtua saat berinteraksi dengan anak hingga marah seringkali menyeruak. Melalui buku ini pula, kita diperlihatkan cara menjadikan rumah sebagai wahana yang menyenangkan bagi orangtua dan anak.***

Seterusnya..

Dibalik Kasus Ibu Bunuh Lima Anaknya
[dipublikasi di Kolom Bedah Pustaka Harian Media Indonesia edisi Sabtu, 19 April 2008]

Siapa yang tak terenyuh saat diberitakan adanya pembunuhan anak oleh ibu kandung? Referensi pengetahuan kita yang bermuasal dari dongeng—misal kisah Malin Kundang—hanya menceritakan seorang ibu yang mengutuk anaknya. Itu pun karena si anak telah mendurhakai sang ibu. Maka, wajar jika Prof. Sartono Mukadis menulis pada bagian Pengantar buku ini (hal.16): “Rasanya kalau ada penulis datang menawarkan skenario mirip kasus Andrea Yates—tentu sebelum kasus ini terungkap—hampir pasti akan ditolak produser paling kaya sekalipun. Terlalu berlebihan...”

Buku ini adalah fakta dari kisah Andrea Yates yang membunuh kelima anaknya pada 20 Juni 2001 dalam waktu tak lebih dari satu jam. Kasus ini sempat menghebohkan seluruh pelosok Amerika Serikat. Suzanne O’Malley mendedahkan cerita seputar kasus Andrea dengan alur yang tidak monoton dan kalimat nun memikat dalam buku bertebal 432 halaman ini.

Banyak pihak, awalnya, menduga bahwa salah satu pendorong Andrea ‘menginterupsi’ hak hidup kelima buah hatinya—yang tertua berusia 7 tahun dan paling kecil baru genap 6 bulan—adalah penyakit kejiwaan (psikosis) bernama post-partum depression. Psikosis macam ini lazim diderita ibu yang baru melahirkan anaknya. Sejak tahun 400 SM, Hippocrates telah menyatakan bahwa kasus kriminal karena dorongan post-partum depression tak laik diberi hukuman oleh pengadilan (hal.414).

Namun, persoalan pelik membelit kasus Andrea. Galibnya, seorang ibu yang membunuh anak karena alasan post-partum depression akan mengungkapkan penyesalan yang mendalam sebab saat peristiwa berlangsung ia dalam keadaan tak sadar. Andrea justru mengakui secara sadar bahwa tindakannya adalah suatu kebenaran namun salah di mata hukum. Hal ini yang menjadikan Kejaksaan Harris County di Texas berkeyakinan bahwa Andrea tidak gila. Hingga laiklah digelar sebuah sidang untuk menentukan vonis bagi Andrea. Drama persidangan Andrea adalah kisah tentang pembelaan bagi ‘ketaksadaran’ dan tuntutan atas ‘kesadaran’ Andrea.

Persidangan kasus Andrea Yates dimulai pada 18 Februari 2002—bersamaan dengan keluarnya maklumat keras dari George W Bush untuk memerangi ‘Poros Setan’ (hal.223). Perlu diketahui, kasus Andrea disebut banyak pihak sebagai salah satu tragedi sosial terbesar yang terjadi di Amerika Serikat pada awal abad XXI. Peristiwa ‘penyerangan Menara Kembar WTC dan Pentagon’ pada 11/09/2001 sempat membuat proses penyidikan kasus Andrea tertunda (hal:190). Vonis hukuman mati adalah mosi yang diajukan Kejaksaan Harris County kepada Andrea. Sebelumnya, pada 30 Juli 2001, tim pengacara Andrea menyatakan pembelaan atas dasar kegilaan.

Judul asli buku ini: The Unspeakable Crime of Andrea Yates: “Are You There Alone?” sangatlah cocok menggambarkan isinya. Yakni cerita dari pelbagai sisi nan tak terlacak oleh banyak pihak terkait kasus Andrea. O’Malley telah menggumpalkan hasil investigasinya ke dalam sebuah kalimat “Are You There Alone?”. Kalimat tanya itu menunjukkan bahwa ada keluasan bahasan—bukan sekadar kasus psikologi—yang terkandung dalam analisa O’Malley.

Bahkan, penggunaan kalimat tanya itu bagai menunjukkan bahwa O’Malley secara radikal tidak percaya kalau Andrea melakukan pembunuhan itu 'seorang diri'. Inilah keunikan laporan investigasi yang dituliskan dengan kaidah jurnalisme sastrawi. Kandungan data dan fakta jelas menopang isi cerita, namun sisi estetika sastra turut menampakkan diri. Penerjemah buku ini, sangat disayangkan, telah mengubah ‘umbul orisinil’ buku ini menjadi sangat formal-akademis—bagai judul tugas akhir seorang mahasiswa fakultas psikologi. Walau harus diakui pula bahwa secara keseluruhan kualitas terjemahan isi buku ini sangatlah baik.

Andrea memang tak 'sendiri' melakukan pembunuhan itu. O’Malley menelisik sejarah kehidupan Andrea melalui wawancara dengan seratus orang lebih yang dibagi kedalam 20 area investigasi (hal.21-22). Catatan kehidupan Andrea merupakan kisah seorang penderita psikosis akut yang mudah berhalusinasi. Ia kurang mendapatkan perhatian—terutama pujian usai menyelesaikan suatu kegiatan—dari orangtua. Andrea tumbuh menjadi perempuan yang diduga kuat menderita skizofrenia.

17 Juni 1999 ialah awal malapetaka bagi kejiwaan Andrea ketika ia mencoba bunuh diri dengan menenggak lebih dari 40 butir Trazodone 50 miligram—obat penenang dosis tinggi. Ketika itu, Luke—anak ketiga Andrea—baru berusia 4 bulan (hal:77-78). Ia melakukan percobaan bunuh diri lagi pada 20 Juli 1999. Pendorongnya ialah keinginan untuk lepas dari penderitaan.
Andrea kemudian menjalani rehabilitasi mental dengan sejumlah psikiater berbeda yang selalu meresepkan beragam obat untuk kesembuhannya. Kondisi kejiwaan Andrea yang mudah berhalusinasi kian diperumit oleh isi khotbah dari Michael Woroniecki.

Penebusan manusia kepada Tuhan agar kelak di akherat mendapatkan surga adalah inti doktrin Woroniecki. Namun, “doktrin Woroniecki kacau-balau. Entah itu bagi pengamat awam maupun bagi orang-orang yang berusaha mengikuti Woroniecki selama bertahun-tahun”. Lebih jauh, “Walaupun tebusan diberikan kepada seluruh umat manusia sepanjang masa, jumlah orang yang selamat sepertinya hanya ada delapan orang: Woroniecki beserta istri dan anak-anaknya” (hal:181). Woroniecki sempat dikecam sebagai pihak yang menyebabkan kasus Andrea terjadi. Hanya saja, ia mengelak dengan mengatakan bahwa ia hanyalah penyampai pesan Tuhan dan keluarga Yates salah menginterpretasikannya.

Dengan menenggelamkan kelima anaknya sampai tak bernyawa ke dalam bath-up, Andrea berharap mereka tak tercemar dosa dunia hingga pasti masuk surga. Pengacara Andrea mengatakan ini adalah bagian dari halusinasi Andrea. Sementara Penuntut Umum berkeyakinan hal tersebut merupakan pembunuhan tingkat tinggi. O’Malley juga merekam terbelahnya opini publik AS dengan menyertakan pemberitaan media soal kasus Andrea dalam buku ini.

Melalui persidangan yang dramatis, Andrea akhirnya hanya dihukum penjara seumur hidup. Kematian tetaplah tragedi, namun yang terpenting adalah mengetahui sebab kematian itu terjadi. Buku yang ditulis O’Malley ini (dan kasus Andrea itu sendiri) mampu memancangkan pelbagai perubahan di AS, terutama pada ranah hukum, ilmu psikologi dan hak-hak kaum ibu.(*)

Seterusnya..