Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.

Sebuah Foto-Berita ...

Fotonya:

Dan beritanya:

Tujuh Penumpang. Model menunjukkan mobil Chevrolet Captiva Diesel 2.0L-VCDi saat peluncurannya, di Jakarta, Rabu (17/4). Kendaraan berkapasitas tujuh orang dan berbahan bakar diesel ini diluncurkan PT.General Motors Autoworld Indonesia dengan harga Rp289.500.000 untuk wilayah DKI Jakarta.
Fotografer: WIENDA PARWITASARI




Dari saya...
Tentu saja, saya bukan fotografer atau ahli terkait foto--apapun namanya itu. Saya cuma sedang jalan-jalan di dunia maya saja. Lantas bertemu dengan foto diatas. Lihatlah, betapa sebuah tulisan dan gambar bisa bertemu dengan dampak tafsir tertentu. Perhatikanlah dengan seksama dan sangat teliti. Adakah yang aneh dengan foto diatas--tentu saja setelah dikaitkan dengan beritanya? Simaklah dengan sangat dalam. Buatlah kesimpulan menurut pengalaman Anda dalam mencampur info dari gambar dan tulisan. Kemudian, mungkin, kesimpulan tafsir kita atas foto-berita itu bisa ketemu--entah dimana.


Catatan: Percayalah, foto dan tulisan diatas saya kutip utuh. Tak ada pemotongan atau gubahan sedikit pun dengan aslinya. Sebab saya bukan editor.

Seterusnya..

Sebuah Cerita Tentang...

[Entah dari siapa saya dengar cerita ini. Saya telah berusaha keras untuk mengingat sumbernya. Tapi nihil hasilnya. Jangan-jangan cerita ini bermuasal dari hati saya sendiri?]

Syahdan...
Seorang turis bernama Kuciumi Matamu berkunjung ke Indonesia. Ia melawat ke sebuah daerah. Ditemani seorang pemandu yang sangat licik, ia berkeliling di daerah itu. Pemandu itu licik? Ya, sebab namanya Licik Niandikau. Ia hanya mengajak si turis berkeliling ke tempat-tempat yang mudah dijangkau dan banyak makanan. Licik Niandikau selalu berkata bahwa tempat yang mereka kunjungi adalah tempat wisata yang mashyur di daerah tersebut, walau mereka hanya bertandang ke sebuah sawah. Sebab Kuciumi bukanlah penduduk asli daerah tersebut, maka percaya sajalah dia (seperti percayanya pembaca kisah ini kepada saya).

Maka ketika mereka rehat di sebuah rumah makan, Kuciumi sedang melihat-lihat brosur perjalanan wisata.
"Oooo...Ini nama apakah ini?", tanya Kuciumi sambil menunjuk kata 'Rafflesia Arnoldi' yang tertera di brousr.
"Ohhh...itu nama bunga langka, Nona Kuciumi", sahut Licik sambil menyeka makanan yang masih ada di sekitar mulutnya.
"Aaaa...saya mau lihat itu bunga. Gimana bisa caranya?"
"Wahhh, gampang saja...Usai makan ini, saya ajak Nona kesana", Licik menjawab setelah bersendawa dan menyeruput es alpukat. Ia telah kenyang bukan kepalang.
"Dari namanya saja sudah indah sekali. Pasti demikian bentuknya. Juga sangat harum ya?"
"Oh, iya tentu saja. Nanti Nona Kuciumi lihat sendiri. Bunga yang luar biasa"

Lalu mereka sampai jua di lokasi penangkaran bunga Rafflesia Arnoldi. Jarak antara rumah makan ke tempat itu, sebenarnya dekat saja. Tetapi Licik melewati jalan yang tak seharusnya. Ia berputar agar sampai disana satu jam setelah pergi dari rumah makan.
"Ohhh...Licik bau apa ini? Mana bunga yang harum dan langka itu?", Kuciumi berkata sambil menutup hidung.
"Wah, Nona...kita telah salah ambil waktu untuk melihat bunga itu", ucap Licik "Sekarang, bunga itu sedang sensitif. Jadi menyemprotkan bau tak sedap ini. Kapan-kapan kita kesini lagi. Yang penting, Nona Kuciumi pernah ke tempat bunga Rafflesia Arnoldi."

Akhirnya...
Janganlah kamu, wahai manusia, menjadi makhluk yang mudah terpesona hanya karena nama.

PS: Buat warga negara yang sedang sibuk oleh Pemilihan Gubernur di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan lainnya di seluruh kepulauan Nusantara.
"Memilih atau Tidak Memilih saat Pemilu tak pernah bisa dijadikan ukuran nasionalisme"

Seterusnya..

Kotakarjaket
“Setiap orang harus pergi agar mengerti arti pulang”. Aku ucapkan kembali larik dari salah satu puisi milik Isbedy Stiawan ZS saat kita sedang melewati jalan yang sepi. Seolah jalan itu tidur tadi malam. Ada kesegaran yang baru menggeliat bangkit di situ.
“Kamu ngomong apa tadi?”, tanyamu sambil memperlahankan laju sepeda motor.
“Ah, gak apa-apa. Cuma sedikit nyanyi aja, biar gak dingin.”
“Pasti puisi itu lagi. Ya, kita memang harus pergi. Tak baik berlama-lama disini.”
“Ya, mungkin saja. Tapi yakinlah, kepergian juga membuat kita kedatangan rindu.”

Aku sudah di dalam kendaraan besar yang berlari kencang saat pesan pendekmu masuk ke ponsel.
“Hati-hati di jalan. Ingat titipanku: Jaket!”
“Terimakasih tadi sudah mengantarku. Disebelahku ada gadis berjaket. Mau aku mintakan jaketnya untukmu?”, kuketik kata-kata itu dan segera kukirim kepadamu. Tidak kau balas. Padahal aku masih bertanya-tanya, jaket seperti apa yang kau idam-idamkan? Pembicaraan kita pada malam kemarin tak menuntaskan soal itu. “Pokoknya jaket yang nyaman, jangan terlalu tebal. Terserah warna apa.”, ucapmu saat itu. Adakah kenyamanan tiap orang sama? Atau seragamkah pemahaman per kepala tentang tebal dan tipis?
***
Aku tiba di kota yang menabukan keterkejutan, Takarja. Pongky menjemputku.
“Tadi baca tulisan di pintu terminal?”, ia bertanya sambil tetap konsentrasi pada kemudi mobil.
Mataku yang lekat melihat ramai jalanan segera menoleh kepadanya,
“Ora...Ada tulisan apa?”
“Selamat Datang Di Takarja. Jangan Gampang Kaget”, jawab Pongky kemudian tertawa. Bagiku, ia tetaplah pandai berpesan.

Berapa banyak orang yang telah mengutuk kota ini? Aku tak tahu. Kau pernah bersumpah tak akan sudi hidup di Takarja. Aku pun demikian. Seluruh suara seolah saling berebut minta didengar di sini. Kau dan aku sama tak menyukai kehidupan yang senantiasa hingar-bingar. Tapi kini, jalanan Takarja bagai membalikkan anggapan kita tentang kota ini menjadi sekadar tuduhan yang tak berbukti.

Jalanan yang kulewati bersama mobil Pongky seperti tak pernah lelah mengalirkan orang-orang dan benda mati yang nampak hidup. Suara-suara yang menghentak itu terasa nyaman bagi mereka. Aku coba menyelaminya; kalau ada kelelahan di kota ini, maka itu adalah milik seluruh manusia di jalanan Takarja yang pernah mampir di mataku. Tapi, toh mereka mampu menutupinya. Mereka seperti sudah lama berdamai dengan Takarja yang melelahkan. Baiklah, mungkin lebih tepatnya, mereka dipaksa untuk menerima kondisi Takarja. Dan mereka menikmati paksaan itu.
***
Radi telah keluar kamar sejak pukul empat, ketika aku mulai beranjak tidur karena semalam suntuk bincang dengannya. Tetap bertubuh ceking, Radi masih nampak seperti dulu; tak pernah lelah.
“Tidur dulu lah, Rad. Masa sih sudah mau kerja. Awakmu ora kesel tah?”, tanyaku saat Radi selesai mandi.
“Nang kene, sing ora kuwat, yo monggo minggir wae”
Pongky pun bekerja hari itu. Maka kuputuskan untuk putar-putar kota seorang diri. Pongky merekomendasikan angkutan yang cukup baru di Takarja. Namanya bus berjalur.
“Kalau naik itu aman, tenang aja”, ujar Pongky sebelum menutup pembicaraan kami via telepon.
“Weeyyy...”, aku berteriak kaget karena suara itu. Rekaman suara perempuan yang dibunyikan untuk memberitahu nama halte bus berjalur kepada penumpang. Kulihat beberapa orang tertawa kecil. Aha, aku telah lupa dengan pesan Pongky ketika menjemputku di terminal. Tapi apa salahnya dengan kekagetanku? Sejak tadi, di dalam kendaraan itu tiada suara manusia. Seluruh penumpang seolah merenungkan persoalan hidupnya sendiri. Mereka bagai lupa bahwa orang lain disampingnya bukanlah benda mati. Kata siapa tertawa itu lebih sulit daripada bercakap basa-basi? Baiklah, tertawa memang tetap sulit. Yang mudah ialah menertawakan orang lain.

Aku turun di Passer Bahroe, lokasi perbelanjaan yang sudah berdiri sejak Belanda memerintah di negeri ini. Passer Bahroe sudah milik Indonesia kini, pikirku sambil berkeliling disana. Oh, mataku menatap toko yang menjual macam-macam pakaian, kemudian masuk kesana.
“Mbak, saya orang baru di Takarja. Bisa kasih liat jaket yang cocok dipakai disini?”
“Oh, yang gimana ya, Mas...”, pegawai toko itu nampak bingung menatapku.
“Terserah. Yang penting cocok untuk pendatang seperti saya.”
“Aduh, yang lebih jelas gitu, Mas. Modelnya? Coraknya?”,
Terserah bukan kata yang tepat untuk dilafalkan, kini kau paham?
“Kata teman saya, di Takarja banyak yang jualan jaket yang cuma dipakai lima tahun sekali? Disini jual jaket macam itu?”
“Gak ada, Mas...”
Lalu aku tanyakan soal jaket yang bertuliskan “Jaket Ini Tak Akan Menghangatkanmu Kalau Kau Tak Berbicara Dengan Orang Disampingmu”. Pegawai toko itu menggelengkan kepalanya.

Ada jaket berwarna hitam. “Dunia = Bekerja” tertulis dengan tinta putih di bagian belakangnya. Aku pilih jaket itu sebagai tafsiran atas ‘terserah’-mu.

Hari telah menuju petang ketika aku keluar dari Passer Bahroe. Dari dalam bus yang kutumpangi, aku lihat antrian mobil kian panjang di jalanan Takarja.(*)
Bumi Parahyangan,
Sehari Paska-Ultah Yeye 2008

Seterusnya..

Villa Merah, Sampai Petang



Di Jawa Barat lagi, Jatinangor tepatnya. Maka saya berkirim pesan pendek via telepon seluler ke orang itu, Pidi Baiq. Saya pikir, pesan teks akan berbalas serupa, nyata tidak. Pidi langsung menelpon.
“Deni, kamu langsung aja kemari, ke tempat saya. Tahu Gedung Sate ‘kan?”
“Aduh gak tahu, Pak Haji”
“Kamu sekarang dimana ini?”
“Di Jatinangor, di depan Jatos”
“Oh, itu sih punya temen saya... Udah, kamu ke Gedung Sate aja.”
“Saya gak tahu jalannya, Pak Haji”
“Tanya aja sama orang-orang...Semua pada tahu itu Gedung Sate”
“Iyalah kalo gitu...”
“Kamu ke Gedung Sate ya, udah ke situ aja. Tunggu disitu. Ntar kontak saya lagi...Tenang aja, di situ daerah kekuasaan saya.”
“Hehehe...Oke, ntar saya hubungi lagi, Pak Haji.”
Karena hari sudah berangsur sore, maka saya batalkan bertemu dengan Pidi. Kebetulan, Yeye ingin melihat hasil tes yang dilakukannya di Jakarta untuk jadi karyawan Bank Mandiri. Jadi pada keesokan harinya, kami sama-sama punya kegiatan untuk keluar dari Jatinangor.

Yeye sedang siap-siap rupanya. Hari sudah masuk siang sekali, kira-kira pukul 13.00. Salat Jumat telah usai sedari tadi.
“Ntar sendiri aja ya ketemu Pidi”, kata Yeye sambil masukin buku Drunken Monster ke dalam tasnya.
“Loh, mendingan bareng aja. Paling juga gak terlalu jauh ke Bank Mandiri. Liat aja deh di peta.”
Yeye punya peta Kota Bandung yang alangkah lengkapnya. Sampai nama-nama jalan juga tersedia.
“Berdua ajalah...’kan pengumuman juga jam lima sore gitu.”, saya berucap sambil kunci pintu.
“Iya juga sih. Ini ntar nyampe Bandung paling jam setengah 3 gitu.”
“Makanya ikut aja ketemu Pidi. Emang kenapa gitu gak mau ketemu dia?”
“Takut dikerjain. Baca aja bukunya. Ceritanya waktu ngerjain orang aja sampe gitu banget.”
“Hehehehe, Gak mungkin lah, tenang aja.”, saya berkata demikian dengan muncul suatu perasaan yang sama dengan Yeye. Bagaimana kalau kami dikerjain? Saya ingat cerita Pidi yang menyiramkan air minum ke celana Noor Awaludin Gani saat orang Malaysia itu sedang tertidur, menginap di rumah Pidi (Drunken Monster, hal. 157).

Di dalam bis Damri yang membawa kami ke Bandung, pikiran saya masih ragu untuk bertemu Pidi. Saya berharap dia sibuk. Jadi dia tak bisa menemui kami. Jadi pertemuan itu akan singkat saja. Yaitu sekadar tegur sapa semata dan pemenuhan janji saja. Pidi berjanji memberikan kaos C59 yang bertema buku Drunken Monster kepada saya. Ia telah pula menyanggupi untuk membawakan empat kaos yang sama karena empat teman saya di Jember memesan pula. Ditambah lagi dengan tanda tangan pada buku Drunken Monster milik Yeye dan saya. Saya berharap pertemuan kami akan seperti itu saja. Karena apa? Karena saya mulai terpengaruh ketakutan yang sama dengan Yeye.


Saya menatap ke bangunan di sepanjang jalan yang menyalurkan bis ke Kota Bandung. Bis Damri telah selesai melewati Jalan Tol yang saya selalu lupa namanya. Saya coba ingat-ingat, apa saja yang berubah. Terakhir ke kota ini sekitar bulan November 2007.
“Loh, ini dulu gak ada ‘kan?”, saya bertanya ke Yeye sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan besar berwarna merah marun pada bagian dinding. Semacam mall untuk barang elektronik agaknya.
“Gak ah, dari dulu juga ada. Tapi bukan itu namanya. Namanya apa gitu. Pertokoan biasa gitu lah.”, Yeye menjawab sambil lanjut bertanya ke kondektur bis yang berjalan di samping tempat duduk kami; “Pak, ini lewat Jalan Ciliwung?”. “Ya, Neng. Bentar lagi juga lewat Jalan Ciliwung.”
Oh, semakin dekat saja rupanya dengan tempat yang dijanjikan Pidi sebagai lokasi kami bertemu.
“Oke. Sy lg di ciliwung 23 Bdg. Daerah cilaki. Daerah PUSDAI. Daerah gedungsate”, tulis Pidi dalam pesan pendek. Sebelumnya saya menyampaikan bahwa saya sedang di dalam bis Damri mau ke Bandung.

Akhirnya saya dan Yeye turun bis. Bergandengan tangan berdua menyusuri Jalan Ciliwung.
“Ih, itu nomer 27...”, saya berkata sambil tunjuk sebuah rumah.
“Ya, berarti sekitar sini aja dong”
Mata Yeye dan saya tengok-longok kanan dan kiri. Selepas suatu tikungan, mata saya tertumbuk pada sebuah bangunan agak tua namun ramai orang di halamannya. Merah tua pula warna dinding pada bangunan itu. Pohon-pohon berdiri gagah di halaman bangunan itu. Ada beberapa tempat untuk duduk yang memiliki payung besar, galib kita jumpai pada rumah makan yang menyediakan meja di luar ruangan. Itulah Villa Merah. Sebuah tempat yang pernah disebut oleh Pidi saat saya chatting bersamanya sekira bulan Februari 2008.

“Permisi, Pak Pidi Baiq ada?”, saya sudah melewati pagar dan berjalan ke arah pintu kemudian bersuara kalimat tanya tersebut kepada tiga orang yang sedang duduk ngobrol di pelataran rumah itu. Tiga orang itu nampaknya masih SMU; dua lelaki dan satu perempuan. “Oh, gak tau ya...Coba tanya sama yang disitu aja. Itu kawan-kawannya Pidi”, si perempuan menjawab sambil tunjuk kumpulan lelaki yang sedang ngobrol di tempat duduk dengan payung besar. Saya ambil langkah menuju kesana. Kumpulan lelaki yang agaknya telah kuliah itu pun tak tahu pasti keadaan Pidi dimana, hanya saja saya diminta untuk menunggu. Saya kembali ke pelataran rumah itu dan duduk bersama Yeye di bagian agak depan dari pintu. Saya ambil telepon seluler dari kantong celana, kemudian pencet-pencet keypad-nya agar bisa mengirim text massage ke nomor telepon seluler milik Pidi. Ia membalas dengan cepatnya, saya kembali diminta menunggu, kali ini oleh Pidi sendiri. Ia sedang di bengkel mobil katanya.

Saya mencuri pandang ke dalam rumah yang jendelanya besar itu. Ada semacam meja resepsionis yang dijaga oleh dua orang perempuan—kalau tak keliru, salah satunya berjilbab. Dua lelaki dan satu perempuan yang nampaknya masih SMU itu ada disamping kami. Mereka berbincang dalam suasana senang. Saya coba curi-curi dengar yang mereka obrolkan. Namun sulit juga. Logat mereka agak susah saya cerna. Mungkin karena mereka mencampur-adukkan bahasa Indonesia dan Sunda dalam logat yang sangat Sunda. Aha, itu ada orang naik sepeda motor berboncengan. Mata saya memang kadang mengarah ke jalan yang ada didepan rumah. Dua orang yang bersepeda motor itu hampir melewati pagar, saya sudah mengira dengan sangat yakin bahwa yang berada di belakang pastilah Pidi Baiq. Saya pernah menonton rekaman launching buku Drunken Monster di blog multiply milik Tita. Sepeda motor terus berjalan pelan dan parkir di bagian samping rumah. Saya melihat Pidi memperhatikan kami. Dia senyum dengan girang kemudian melangkah ke tempat kami berdiri, sementara orang yang memboncengnya telah pergi dengan sepeda motor seorang diri.

“Hai...Hai...”, Pidi bersuara setengah teriak kepada kami.
“Deni, Pak Haji”, saya menyodorkan tangan untuk salaman dengan dia.
Saya memperkenalkan Yeye hampir berbarengan dengan Pidi yang berkata “Ini?” sambil mengarahkan tangan dan pandangan ke arah Yeye.
“Oh gitu...Aduh, kita ngobrol dimana ya, Den”, kata Pidi yang menenteng plastik besar berwarna abu-abu sambil jalan mondar-mandir mengarah ke halaman.
“Rame nih...disini”, lanjutnya
“Terserah Pak Haji ajalah”, saya berkata sambil mengikutinya. Tentu saja tidak mondar-mandir seperti dia. Saya dan Yeye agak diam sejenak sambil mengikuti perintahnya saja, namanya juga tamu; biarlah tuan rumah yang repot ;).
Pidi berjalan ke arah kumpulan lelaki yang nampak telah kuliah tadi, dia berkata; “Ini temen-temen saya. Tapi kamu gak usah kenal lah...”. Kumpulan lelaki itu tertawa saja. Saya pun demikian. Yeye menganggukkan kepala kepada teman-teman Pidi hampir berbarengan dengan saya. Kami mengikuti Pidi yang berjalan ke belakang rumah. Ada semacam kantin kecil sekali berdiam disitu.
“Nah disini aja”, Pidi bersuara setelah berhenti di depan pintu kantin itu.
“Deni, kamu pesen apa? Pesen aja...Disini mah bebas”
“Ya, Pak Haji. Terserah aja.”
“Hmm...apa ya...Kamu merokok ya Deni, berarti pesen kopi aja, mau ya?”
“Ya lah, Pak Haji”
“Si itu, siapa namanya...pesen apa?”
Suasana kantin yang saya tak tahu sebelumnya mendadak heboh oleh Pidi. Dia hingar-bingar sekali. Ia menyapa orang-orang yang nampaknya sebagai pegawai kantin disitu.
“Duh, euy banyak duitnya...Ini Den yang banyak duitnya...Saya mah ‘gak”, ucapan Pidi disambut senyum-senyum kecil orang yang sedang menghitung uang di meja kantin.
“Katanya baru muncul di Empat Mata, Pak Haji”, saya memulai percakapan setelah duduk di kursi kantin itu. Pidi seolah tak mau menjawab dengan lugas. Dia senyum-senyum saja.
“Iya, disuruh nyanyi...”, jawab Pidi akhirnya.
Lalu beberapa orang pegawai kantin itu bersuara dalam bahasa Sunda. Dan saya lagi-lagi tak paham dengan ucapan mereka yang dibarengi tawa renyah itu. Saya hanya menangkap bahwa Pidi dan beberapa pegawai kantin itu akrabnya sangat. Kami tak lama duduk di kantin itu.
“Ayo kesitu aja. Kayaknya udah kosong”, Pidi mengajak kami keluar kantin menuju tempat dengan meja melingkar yang berpayung besar. Posisinya ada di samping rumah dekat semacam lahan parkir dengan beberapa motor berjejer tidak rapi.

Kami duduk disana. Pidi mengeluarkan keahliannya: bicara kesana-sini. Orang Jawa bilang ngobrol ngalor-ngidul. Namun bagi Orang Madura, itu dinamakan acaca kedejeh-kalaok.
“Ada pengajian disini, Den. Tiap malem Kamis”, Pidi berucap.
“Iya gitu, Pak Haji?”, saya seolah tak percaya.
“Iya, biasalah pengajian yang tak bermanfaat. Yang dateng banyak. Suka-suka aja. Tukang becak juga biasa dateng. Yang ngisi saya.”
“Hehehehe”
“Eh beneran. Temanya macem-macem. Yaa...yang tak berguna gitulah. Kayak...misalnya Panas Bumi dan Nasehat-Nasehat Pidi Baiq”
“Hahahahaha....Terus...”
“Ya, orang-orang pada ngumpul semua. Kadang saya gak dateng. Hahahahaha...bebaslah pokoknya”
Pidi pun berkisah tentang beberapa pemikiran yang dia tuliskan saat di Belanda. Pemikiran yang coba menghubungkan filsafat barat dan filsafat timur (kepercayaan berbasis religi dan kebudayaan). “Kalau kita merenung secara dalam, maka tak sulit juga memahami pemikiran Sunan Kalijaga”, Pidi mulai berteori tentang sebuah karya. Baginya, yang terpenting adalah seseorang harus benar-benar menyatu dengan karya yang dibuatnya. Saya ingat, saat chatting, Pidi pernah bilang bahwa dia selalu berpedoman untuk Manunggaling Kawulo Karya. Mungkin inilah yang dipahaminya sebagai ‘menyatu dengan karya’.
“Maka setiap orang harus serius untuk apa saja yang dikerjakannya”, kata Pidi sambil dilanjutkan;
“Saya tuh kasian ya, orang-orang selalu ingin bekerja, maka mereka seolah sengsara. Kenapa sih ‘gak bersenang-senang saja. Ya, bersenang-senang dengan sesuatu yang mereka kerjakan. Agar tidak tersiksa. Bayangin kalo kita ngeliat orang-orang waktu pulang kerja. Mereka naek motor, terus macet. Aduh mukanya udah kayak apa aja di jalan. Seharusnya mereka bersenang-senang”.
Saya hanya angguk-angguk kepala dan Yeye yang senyum-senyum denger Pidi bersuara.
“Tadi malem apa gitu pengajian disini?”
“Malem Jum’at”, jawab Pidi dengan pasti.
“Berarti Kamis malam, Pak Haji?”
“Ya...Eh, Iya...Gitulah...”

Obrolan kami makin tak tentu ragamnya. Pidi tanya ke Yeye soal kuliah. “Oh, Fikom Unpad, ya...Itu si Iyang juga dari sana. Banyak temen-temen saya di Fikom Unpad.”, kata Pidi. Kemudian, Pidi menceritakan soal dunia komik yang ditekuninya kepada kami.
“Komik itu ya, juga Fikom loh. Saya mikir ini waktu di Belanda. Komik itu pasti singkatan yang punya kepanjangan. Pasti itu. Tapi saya cari kok gak ada. Jangan-jangan kepanjangannya adalah Communication Graphic. Ya beneran ini. Komik juga merupakan teknik berkomunikasi. Hanya saja dengan gambar. Kalo mau buat komik yang bagus harus bisa Fikom juga ‘kan”. Dalam hati saya, “Aduh, Pak Haji kok sembarangan? ‘Kan harusnya Ilmu Komunikasi bukan Fikom”. Namun ini uniknya Pidi Baiq, bicara yang (terkesan) sembarangan itu justru kita mengerti maksudnya. Banyak orang yang sudah dengan sangat rapi bicara dalam bahasa-bahasa ilmiah (yang tentu tak sembarangan) malah sulit dipahami maunya apa.

Obrolan itu ditemani dengan tiga gelas kopi. Yeye ditawari jus tapi malah milih kopi. Kelihatan sekali dia Orang Lampung. Propinsi penghasil kopi terlaris dan terkenal (saya tidak bilang terenak).
“Ini semua anak-anak SMA, Pak Haji?”, saya bertanya soal peserta bimbel di Villa Merah.
“Ya, semuanya. Kelas II dan III SMA”
“Ada berapa yang ikut bimbel disini?”
Pidi diam sejenak, mengernyitkan dahi, “Hmmm...Seribu orang”
“Mulai jam berapa gitu bimbelnya?”
“Jam 2 siang sampe jam 6. Tapi kalo disini sih ada orang terus. 24 jam, Den.”
Saya memperhatikan lekat-lekat tiap sudut Villa Merah yang bisa saya lihat dari posisi kami duduk berbincang. Pidi bicara soal membangun komunitas yang ternyata malah menjadi pekerjaan kalau bisa disebut begitu. “Kebanyakan orang ‘kan cari pekerjaan untuk bisa dapat uang. Nah, ternyata dari membangun komunitas itu juga bisa dapet uang. Tapi yang kita cari bukan itu ‘kan awalnya. Kita membangun komunitas itu untuk bersenang-senang gitulah. Jadi banyak pekerjaan sebenarnya yang bisa kita buat. Tentu saja kalau kita mau berkarya. Nah itulah yang utama. Membangun komunitas untuk berkarya.”, Pidi bicara panjang sekali memang. Nampaknya ia suka begitu. Saya pun memang senang mendengarkan orang bicara panjang. Semakin orang bicara panjang, semakin banyak ilmu yang bisa saya serap. Oh, Pidi Baiq maafkan daku ini, telah mencuri pemikiranmu. Semoga Pak Haji tak marah dikemudian hari.

Saya sudah tak berkonsentrasi lagi dengan obrolan kami. Lebih asyik memperhatikan peserta bimbel yang telah keluar dari ruangan. Jumlah mereka memang banyak. Nampaknya itu waktu mereka rehat. Sebab sebelum halaman rumah ramai oleh anak-anak SMA itu, ada dentang bel yang nyaring sekali. Bel yang kiranya dibunyikan via listrik itu tepat berada di tembok dihadapan tempat kami mengobrol. Maka saya bisa melihat bel berwarna merah itu menempel disana. Saya berpikir, itukah bel yang biasa dipakai untuk alarm tanda kebakaran? Bunyinya keras sekali seperti saat sebuah gedung mengalami peledakan, mirip dengan yang saya lihat di film-film. Aduh, alangkah uniknya Villa Merah itu. Suara Pidi yang bercerita menggebu soal banyak hal telah saya anggap sebagai embun pagi. Menyegarkan namun tak begitu saya perhatikan. Sekali lagi, karena saya lebih tertarik mengamati para siswa SMA yang riang diantara kami. Sebelum lebih jauh menelisik siswa SMA itu, saya minta buku Drunken Monster ke Yeye. Pidi sedang lengah tak bicara karena dia sibuk menyapa orang-orang yang ada di halaman Villa Merah.
“Eh, buku itu”, Pidi berkata seolah malu-malu melihat karyanya.
“Iya, Pak Haji. Ini minta tanda tangan dong...”, kata saya.
“Boleh”
“Tapi gak ada pulpen nih”, saya berkata lagi. Yeye juga dari tadi sebelumnya sudah mengobrol sana-sini dengan Pidi.
“Oh gitu...”, Pidi kemudian memanggil orang berbaju rapi dengan rambut klimis yang saya tidak tahu namanya. Pidi minta pulpen kepada dia. Datanglah pulpen kepada Pidi Baiq itu secepat angkot yang berhenti karena lambaian tangan calon penumpang.
“Disini aja Pak Haji kasih tanda tangannya”, saya berkata sambil menyodorkan buku Drunken Monster yang sudah saya buka pada halaman 9 atau tepat pada halaman ‘Ucapan Terimakasih’.
“Oke”, Pidi mengambil buku itu. Nampak berpikir sejenak. Lalu ia mulai menulis dengan pulpen pinjaman di halaman buku itu. Pertama ia tulis namanya dalam huruf Arab yang gundul.
“Nah ini kalau kalian jadi nikah, tulis ini di undangannya...hehehehe”, kata Pidi sambil menuliskan frase “dari dua jadi satu” dibawah “Kepada Deni ♥ Yeyey”.
“Apa itu Pak Haji?”, saya bertanya soal yang dituliskan Pidi. Sebelum dia menjawab, saya cepat berseloroh, “Oh, beli dua dapat satu, ya?”. Padahal saya sudah bisa baca dengan jelas tulisan itu.
“Bukan Den. Dari dua jadi satu”, jelas Pidi. “Beli dua dapat satu. Ah ada-ada aja, kamu”, timpal Pidi dengan senyum tersungging.
“Hehehehe....” saya tertawa kecil. Kelak, bercandaan saya inilah yang bikin saya dan Yeye membahas agak panjang dalam angkot ketika pulang ke Jatinangor. Jadi menyesal juga bilang “Beli dua dapat satu”.

Pidi berkisah lagi. Ceritanya kian rupa-rupa. Saya tetap asyik memperhatikan siswa SMA yang ada di Villa Merah. Mereka riang sekali. Ada yang ke kantin. Tertawa keras sambil berbincang senang. Adakah mereka mendapatkan hal ini di sekolah? Saya pernah bimbel ketika masa SMA dahulu. Namun suasana ketika istirahat tidak seperti ini. Kaku. Sebab saat di ruangan pun otak saya diperas oleh mentor yang mengajar bimbel. Maka saya dan teman-teman di bimbel dahulu sering bercanda yang cenderung melecehkan saat waktu istirahat tiba. Jadi tidak asyik. Misalnya saja, menggoda teman perempuan yang kami anggap cantik, kasih suit-suit kepada dia sampai akhirnya dia marah. Lantas kami tertawa. Hati senang sementara si perempuan merasa jadi pecundang: Korban pelecehan. Ah, masa lalu. Tak ada yang seperti itu di Villa Merah saat saya memperhatikan siswa SMA yang mondar-mandir di halaman. Mereka tenang walau riang. Tawa pun lepas. Siswa dan siswi campur-baur. Ada lagi yang unik. Beberapa siswa nampak dengan ikhlas dipandu oleh beberapa orang dewasa untuk menggores-gores kertas kosong warna putih. Mereka seperti diajari menggambar lewat proses privat, secara khusus. Pidi pernah cerita kepada saya, kalau siswa SMA yang ada Villa Merah itu adalah mereka yang bercita-cita untuk kuliah di FSRD ITB. Oh, itu saya dengar Pidi cerita soal Bu Rosi.
“Kalau istri saya tak suka saya nasehati, maka saya akan tengadahkan tangan”
“Ngapain?”, Yeye tanya.
“Saya bilang, Tuhan lihatlah saya sudah menasehatinya. Jadi biar dia takut sekalian. Saya ‘kan tidak pernah marah. Jadi kalau istri tidak senang dengan nasehat saya, biarlah saya laporkan kepada yang lebih berhak”, jelas Pidi.
“Hahahaha...”, saya hampir terpingkal karena keras tertawa. Lucu? Ya tentu saja. Tetapi tengoklah gaya bercanda Pidi. Inilah yang saya sebut sebagai ‘tertawa sarat makna’ (Kolom Bedah Pustaka Media Indonesia, 23/02/2008). Saya lalu mulai menyelidiki proses kreatif Pidi dalam menuliskan cerita-cerita di Drunken Monster.
“Itu semua yang di buku beneran kejadiannya, Pak Haji?”.
“Iya dong. Jadi saya nerapin langsung ide yang saya punya. Kalo gak gitu, gimana saya bisa tahu reaksi orang-orang itu. ‘Kan harus dilihat secara langsung.”, ungkap Pidi ringan saja. “Ya, ada juga sih yang beberapa gagal. Misalnya, pernah ya waktu itu saya mau bercandain seorang ibu di angkot. Kayaknya sih dia lagi punya masalah gitu. Jadi dia langsung marah ke saya. Pake bilang ‘Awas ya kamu, anak saya karate’. Kalo yang kayak gitu gagal, Den.”
“Hehehehe”, pikir saya dalam hati: gagal pun masih tetap lucu juga.
“Sebenarnya, kita harus tahu dulu gimana yang bener. Gimana yang seharusnya. Jadi ketika kita bercanda bukan hanya kita yang puas. Orang yang dibercandain pun juga mendapat sesuatu.”, jelas Pidi tanpa saya tanya.
“Ya , Pak Haji. Di buku itu juga ada tips membangun keluarga bahagia, tanpa harus bikin pembaca seolah jadi murid.”, tambah saya.
“Hehehehe...Ya gitulah.”
Ya memang begitu Pidi. Seseorang yang dalam permenungan saya telah sangat serius dalam bercanda dan berkarya. Sesuatu yang bagi kebanyakan orang dianggap sepele akan ditekuni sampai menemukan gayanya sendiri, ‘gaya yang sangat Pidi’. Bercanda yang tak sekadar bikin kita tertawa. Bercanda dengan nilai-nilai yang mengandung sisi serius yang mendalam.

Hari kian senja. Pukul lima kurang seperempat sore. Yeye minta ijin untuk shalat ashar. Anak-anak SMA sudah masuk ke ruang belajarnya lagi. Sebab bel tanda kembali beraktifitas di ruangan telah berbunyi sedari tadi entah pukul berapa. Jadi halaman Villa Merah sepi kembali. Kantin nampaknya telah bersiap untuk menutup diri. Saya berdua saja dengan Pidi; masih tetap di tempat kami bincang-senang. Beberapa orang baru datang di Villa Merah. Seorang menghampiri tempat kami ngobrol dan berdiri sambil menyapa Pidi. Pidi menjelaskan kalau orang itu adalah pengurus partai. Si orang itu menolak penjelasan Pidi. Saya hanya senyum-senyum.
“Mas, saya mau bikin partai nih rencananya. Namanya Partai Besar Rakyat Lapar. Ya, itu namanya. PBRL, gitu.”, Pidi berkata disambut tawa kecil dari orang itu.
“Disini banyak, Den, orang partai yang maen kesini. Mereka tertawa disini bersama-sama”, kata Pidi setelah orang itu pergi dari hadapan kami.
“Kemaren di Empat Mata ngapain aja, Pak Haji? Kebetulan saya gak nonton”, saya coba mengulik kemunculan Pidi di acara yang dipandu oleh Tukul.
Pidi kasih jawaban yang sangat menyentuh hati saya tentang alasan yang menyebabkan dia mau muncul di acara tersebut. Tetapi saya tak usah tulis disini jawaban dari Pidi itu. Pokoknya sebuah jawaban yang diluar dugaan saya. Setelah itu, Pidi kasih nasehat yang bikin saya makin kagum dengan dia. Sebuah nasehat yang berhubungan erat dengan alasan kehadirannya di Empat Mata. Ditambah lagi dengan nasehat tentang cara bertahan hidup di Indonesia. Seorang teman Pidi datang ikut nimbrung bersama kami. Pidi bincang-bincang dengan dia. Saya mendengarkan saja obrolan mereka. Lalu Yeye datang. Ia telah selesai shalat. Mukanya terlihat cerah, mungkin karena baru saja wudhu. Yeye duduk kembali di bangku yang sempat ditinggalkannya tadi.
“Udah?”, saya berkata sambil pandang Yeye.
“Eh, iya...Terserah aja”, jawab Yeye.
“Pak Haji, udah dulu. Kita mau pulang dulu aja.”, saya berucap berbarengan dengan mengarahkan mata ke Pidi.
“Oh gitu, okelah. Kapan-kapan disambung lagi. Itu kaos lima biji. Satu bonus buat kamu. Itu bukan punya saya soalnya. Tadi ambil di Mizan.”
Saya ambil uang dan serahkan ke Pidi. Teman-teman saya di Jember agaknya bisa tersenyum bahagia karena titipan mereka sudah saya dapatkan.
Saya tanya gimana cara ke Jalan Surapati sebab Bank Mandiri ada disana. Pidi kasih penjelasan. Kami jabatan tangan. Obrolan diselesaikan. Saya kasih Assalamu’alaikum ke Pidi. “Mari Pak Haji” adalah kalimat yang meluncur terakhir dari mulut saya. Yeye menundukkan kepala sambil senyum. Yeye dan saya berjalan keluar dari Villa Merah. Kami disambut Jalan Ciliwung lagi kemudian bergerak ke jalan yang lebih ramai, Jalan yang saya lupa namanya. Kami berhentikan angkot. Tanya sebentar apakah angkot ini ke Bank Mandiri. Supir bilang iya, tapi jalan sedikit soalnya angkot dia tidak lewat persis di depan Bank Mandiri. Baiklah tak mengapa kalau begitu, wahai supir yang baik hatinya.

Di angkot saya ingat-ingat lagi beberapa bagian obrolan dengan Pidi. Saya ingat soal dia bilang tentang keteguhan berkarya dan membuat sesuatu yang unik. Saya cerna lagi nasehat dia tentang menjalani hidup dengan riang-bahagia. Terimakasih Pak Haji. Saat itu saya berpikir, sebaiknya dia bikin buku dengan judul: “Canda Berbalut Nasehat Pidi Baiq”. Agaknya bagus kalau benar-benar jadi buku semacam itu. Sudahlah, Pidi berkarya dengan caranya. Kita pun akan berkarya dengan gaya kita. Tapi Pidi menginspirasi siapa saja, tentu saja mereka yang paham betul bahwa dalam humor atau bercanda ada makna yang harus disingkap. Agar humor jadi tak garing. Kesimpulan saya tetap setelah bertemu Pidi: dia benar-benar menyatu dengan karyanya.

Lalu kami tiba di Bank Mandiri. Ada nama Yeye di daftar pengumuman peserta tes yang lolos ke tahap 3. Ya sudahlah. Yeye berbahagia. Saya demikian pula adanya. Dan dia harus ke Jakarta untuk ikut tes lagi. Kemudian kami mencari cara untuk pulang. Bis Damri jurusan Dipatiukur-Jatinangor telah tiada karena hari sudah sangat petang hampir malam. Pukul 18.00 kata Yeye setelah saya bertanya, “Jam berapa?”. Kami naik angkot lagi, kini yang menuju Gedebage. Kemudian naik dua angkot lagi, sampailah Yeye dan saya di Jatinangor. Alhamdulillah dengan selamat.(*)


Jatinangor, 29 Maret-1 April 2008
***Ini adalah karangan pertama saya setelah dua minggu terakhir. Saya harus belajar lagi merangkai kata dalam berkalimat karena dua minggu ini saya lewati tanpa mengetik satu karangan pun.

Seterusnya..

Jaket
[Oh, engkau pastilah marah padaku jikalau kau tahu bahwa pesan pendek yang kau kirimkan padaku malam itu telah kujadikan alasan untuk menulis cerita dibawah ini. Engkau pasti marah kalau kau baca cerita ini. "Hey, ini kan kisahmu...", ucapmu pasti begitu. Tapi, pesan pendek yang isinya: "Habis sudah, sekarang jaketnya pun hilang. Tadi ketinggalan di desa.", itu engkau yang kirim ke ponselku 'kan? Oh, jangan marahlah. Jangan kau pilah-pilah lagi, mana kisahmu, dan yang manakah kisahku. Baca sajalah.]
(Dengan ijin Tuhan, sempat bernafas di Harian Surya edisi Minggu, 16 Maret 2008)
Ia ingin sekali pergi dari sini. Menghilang dari cerita yang sedang engkau baca ini. Tapi itu tak mudah. Sama seperti keinginan lari dari kota tempat tubuhnya mendekam sekira sepuluh tahun ini. Kota yang dahulu dengan ramah menyambut kedatangannya. Ia ingat betul, satu-dua terlampau sedikit untuk menghitung senyuman penyambutan yang dilakukan kota itu padanya.

“Mari kesini, bergabung bersama kami”, adalah kalimat yang selalu diucapkan semua mulut setelah selesai menyunggingkan senyum kepadanya. Ia bahagia sekali. Apalagi setelah mendapatkan jaket yang lama diidamkan. Jaket itu disimpannya dalam lemari, setelah sebelumnya disemprotkan pengharum.

Barang yang baru saja ia peroleh itu bahkan lebih berharga ketimbang jaket pemberian ibunya sebelum ia merantau ke kota itu. “Pakai jaket ini, biar tidak masuk angin”, ibunya berpesan sebelum ia naik bis yang berhenti di depan kantor kecamatan. “Ibu tidak mau muluk-muluk. Belajarlah yang rajin. Ibu hanya ingin kau bekerja disitu”, ucap ibunya sambil mengarahkan telunjuk ke bangunan yang berdiri di hadapan mereka.

“Ingat-ingatlah selalu, jaket yang kita pakai adalah jatidiri dan harga diri yang harus dipertahankan”, pesan itu selalu terngiang di telinganya. Suara menggelegar seorang senior pada suatu acara yang sakral. Maka ia memiliki tiga jaket. Dalam lemarinya terlipat rapi dua jaket yang telah dicuci bersih dan disemprotkan pengharum. Sementara jaket ibunya sudah lusuh tak terurus. Persis seperti gambaran kehidupanya di kota itu. Kota yang rusuh, tak lagi ramah. Kota yang membuat jaket pemberian ibunya sama sekali tak berharga. Bahkan mimpi ibunya tersangkut di awan pekat yang menggantung diatas kota itu.

***
“Aku tak bisa menjamin bahwa kita tidak akan diD.O jika terus menggelar aksi”, ucap pelan seorang senior yang dulu bersuara lantang soal jaket kepadanya. Ia menanggapi dengan suara yang cukup keras hingga otot lehernya pun sedikit nampak.
“Tapi, jelas-jelas rektor busuk itu sudah korup dan ada...”
“Apa? Ada bukti? Aku sudah tahu itu. Tapi kita tidak bisa! Kita harus hentikan aksi ini! Titik!”, potong senior itu kemudian pergi.
“Saudara-saudara, kita akan hentikan aksi ini. Kita akan membawa kasus ini ke ruang sidang saja!”, suara senior itu kembali menggelegar. Ia hanya terdiam. Sebab ia tahu, ruang sidang di negeri ini tak akan pernah menghukum siapapun yang memakan uang haram.

Ia sudah lelah mengumpat ketika mendengar kabar bahwa senior yang menghentikan aksi pengganyangan rektor korup itu telah dibebaskan dari pembayaran SPP sampai selesai studi. Bahkan seluruh SSP yang sudah dibayarkan akan dikembalikan.
“Aku ini perantau. Dan kau tahu, perantau yang baik akan selalu mencari cara agar dapat terus hidup di negeri orang.”, ucap senior itu pada suatu siang di sebuah warung.
“Bukan! Kau memang perantau. Tapi perantau yang licik. Perantau yang sangat paham cara menjual diri di negeri orang!”, ia membentak hingga semua pembicaraan orang lain terhenti di warung itu. Kemudian kekeh senior itu mengiringi dirinya yang keluar.

Pada suatu malam, ia membuang dua jaketnya ke comberan. “Lebih baik kalian ada disana daripada di lemariku!”

Ia tak akan pernah lagi mencaci. Hatinya telah terlampau sakit. Perempuan yang selama lima tahun bersedia mendengarkan keluh dan membagi tawa dengannya telah dipersunting oleh senior yang perantau itu.
“Aku menunggu kamu, Mas. Menunggu lamaranmu...”
“Ya, aku salah. Aku terlalu mendahulukan rasa takut untuk berkeluarga denganmu”
“Maaf Mas, dia telah dengan gagah berani membawa orangtuanya datang untuk melamarku. Aku menerima ajakan dia, Mas. Maaf”
Percakapan sore itu adalah bayangan yang tak pernah lekang menelungkupinya. Memburamkan jiwanya, bahkan mendiamkan mulutnya.

***

Mulutnya tak lagi bisa berkata-kata saat dia sadar bahwa bis yang baru saja ditumpanginya telah membawa serta jaketnya. Jaket yang diberikan perempuan itu pada sore yang memisahkan mereka. “Habis sudah. Kini jaketnya pun ikut pergi”, gumamnya dalam hati.

Ia duduk di pinggir ranjang dalam kamar yang pengap. Kamar yang tetap didiaminya walau kini ia telah bergelar sarjana. Gelar yang diharapkan ibunya agar ia mampu bekerja di kantor kecamatan yang berjarak 30 kilometer dari rumahnya. Lalu ia menatap rapat ke arah jaket yang digantung pada tembok. Jaket yang sangat kumal berhiaskan sarang laba-laba.

Ia raih jaket itu kemudian menebaskan tangannya agar debu dan jejaring laba-laba tak menyelimuti barang pemberian ibunya itu. Kini hanya jaket itu yang bisa membuatnya tahan dari dingin. Jaket yang telah lama dilupakannya. Bahkan untuk sekadar dicuci dan dilipat rapi dalam lemari pun tak pernah. “Ibu, maafkan Malin Kundang ini”, ia terisak. Lelehan bulir airmatanya adalah air pertama yang membasahi jaket itu setelah sepuluh tahun lalu.
Ia sangat ingin meninggalkan kota dan cerita ini. Kota dan cerita yang kini terlalu sering mencibir pergulatannya dengan nasib.(*)
Bumi Pendalungan, Maret 2008


Seterusnya..

Ayat-Ayat Parpol
“Aku gak nonton. Antrian panjang. Aku pulang saja.”, itu bunyi pesan pendek dari seorang teman yang kini mukim di Surabaya. Sebelumnya, saya bertanya “Apakah dikau telah menonton film Ayat-Ayat Cinta di bioskop?”. Sayang, masyarakat Jember harus menunggu agak lama untuk bisa menikmati buah karya Hanung Bramantyo itu.

Namun, ada gosip beredar. Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) sudah bisa ditonton masyarakat Jember. Aih, gosip tentu tak jelas ‘episentrum’-nya, jangan percaya. Kalaupun memang benar telah ada, hormatilah sebuah karya. AAC yang beredar di Jember itu pasti bajakan atau ‘barang gelap’, jangan ditonton.

Kenapakah, film AAC sangat menyihir publik Indonesia? Mungkin karena ketangkasan media massa menggembar-gemborkannya sejak mulai diproduksi. Lagu soundtrack film itu—besutan Melly Goeslaw dan Anto Hoed yang dinyanyikan Rossa—sudah lama berkumandang di sekitar kita. Bisa pula disebabkan oleh kesuksesan AAC dalam bentuk novel. Kang Abik, penulis novel itu, mampu menghadirkan epos tentang cinta dalam bentuk yang populer kepada masyarakat Indonesia.

Demikian seabrek ‘bagai’ ditengah-tengah kita. Masyarakat manusia konon bagai tubuh. Jika bisul bersemayam di kaki, maka sakitnya terasa juga oleh bagian tubuh lain. Lalu jikalau ada bagian tubuh yang memborok tak bisa disembuhkan lagi, pantaslah untuk diamputasi; dipotong tanpa basa-basi. Berlaku pulakah logika amputasi itu untuk masyarakat manusia? Jelaslah tidak. Tetapi melimpah-ruah fakta berseliweran di masyarakat: kelompok yang tidak mampu—dari perspektif apapun—boleh saja disingkirkan jauh-jauh. Aduh, saya mendadak takut hidup ditengah masyarakat lagi.

Baiklah, kita bicara ideal. Kalau tak ingin ada bagian tubuh yang diamputasi, maka hidup sehatlah. Sesama bagian tubuh membahu-bantu agar terhindar dari sakit. Persis seperti saat kita mandi. Tangan ikhlas saja mengedarkan sabun ke seluruh tubuh. Mirip ketika kita makan, aliran makanan di mulai dari kunyahan gigi sampai diproses oleh organ dalam dan darah menjadi medium untuk mengasupkan gizi pada tiap bagian tubuh kita. Sudah idealkah? Ahli ilmu biologi paling tahu soal ini. Kerjasama antar bagian tubuh itu seharusnya menjadi contoh bagi kita saat berinteraksi dengan sesama makhluk Tuhan dalam keseharian. Bicara ideal, saya jadi semangat untuk bermasyarakat kembali.

Hubungan baik antar organ tubuh itu, ternyata didasari pada saling cinta. Tangan tak ikhlas jika perut keroncongan, maka tanah dicangkul. Bahkan, kalau perlu, barang orang lain dicuri. Tangan tahu, jika perut tak diisi maka ia akan lunglai tanpa daya. Inikah cinta yang indah itu? Tapi mirip sekali dengan sekadar pemenuhan kepentingan saja. Ah, macam politik saja.

Benarlah, mungkin cinta itu tipis saja bedanya dengan politik. Keduanya memiliki tujuan yang sama untuk diraih: kesejatian. Cinta dan politik adalah pula kendaraan yang biasa kita naiki untuk melunaskan keinginan. Miripkah? Jika ada seorang lelaki mencintai seorang perempuan, maka ia akan menikahinya dengan proses ijab-qabul. Ya, anak muda bilang, itu kuno. Sekarang musim pacaran yang utama, maka ‘tembak’ saja.

Bandingkan dengan ini, seorang politisi yang nyambi calon legislatif/cagub/cabup/capres saat pemilu akan mengajak rakyat untuk menjadi pemilihnya. Si politisi itu mengumbar janji, mirip proses ijab-qabul atau aksi ‘nembak’ dalam pacaran anak muda masa kini. Cinta dilontarkan dengan semangat. Tetapi cinta, demikian politik, disempitkan dalam satu ruang saja. Yaitu, pemenuhan keinginan yang mengendap di hati. Cinta hilang kesejatian. Politik bukan alat untuk memenuhi umat dengan kesejahteraan. Cinta dan politik tak universal jadinya.

Maka mudah saja, seorang politisi lupa dengan konstituen ketika sudah berstatus anggota dewan/bupati/gubernur/presiden. Karena, “Aku mencintaimu saat Pemilu saja”, demikian mungkin ungkapan politisi itu. Cinta dan politik yang seremonial, sekadar pesta dan sebatas pemenuhan biologis (libidinal); jauh dari kesejatian. Saya takut dengan yang seperti itu.

Saya sangat bahagia jika mendapatkan istri atau pemimpin yang memahami logika hubungan antar anggota tubuh seperti telah diungkap diatas. Cinta selalu setiap saat. Tapi tak hanya kepada saya. Mereka juga mencintai tetangga, orang satu desa sampai beda negara. Mereka selalu mengerahkan cinta kepada sesama makhluk hidup. Menjaga kehidupan makhluk yang macam apapun rupanya. Membantu makhluk yang dianggap tidak mampu hidup agar tetap hidup. Aih, indahnya cinta jika termaknai seperti itu.

Jadilah cinta memancar kemana-mana. Bukan hanya kepada kekasih/suami saja. Tak sekadar mengarah pada individu yang satu kelompok dan satu golongan. Cinta yang indah bagai gerak tangan yang tiada lelah menyabuni seluruh kulit tiap kali kita mandi. Cinta yang sejati ialah cinta seorang pemimpin yang hidup miskin ketika rakyatnya miskin.

Ayat-Ayat Cinta berhasil mengajak kita memikir ulang tentang cinta yang sejati. Tapi saya takut, kalau para lelaki hanya terinspirasi pada sosok Fahri yang poligami. Saya yakin, penulis AAC tak bermaksud menjadikan poligami-nya Fahri sebagai wujud cinta universal. Percayalah, AAC tak laik disandingkan dengan kisah cinta Parpol kepada konstituennya. Ayat-Ayat cinta Parpol masa kini tak universal, tapi libidinal dan tentu saja: dangkal.(*)

Seterusnya..


Risalah Mahasiswa Melawan Neo-Liberalisme

Mahasiswa merupakan status sekaligus peran dalam masyarakat. Dalam belitan biaya pendidikan yang masih mahal di negara kita, jelaslah bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang mengisi kelas menengah. Layaklah jika mahasiswa menjadi salah satu ‘agen perubahan’ yang selalu meraung dari ruang tempatnya mendekam.
Peran yang seharusnya diambil oleh mahasiswa dalam masyarakat serupa dua sisi uang koin. Di satu sisi sering berbuah realita dalam pelbagai bentuknya. Namun, peran mahasiswa dalam masyarakat kerap pula dianggap mitos belaka. Nurani Soyomukti berusaha menelisik realita dan mitos Gerakan Mahasiswa (GM) melalui pengalaman sejarah dan pengamatan gaya hidup kontemporer dalam buku setebal 184 halaman ini.
Sebagai penghuni masyarakat yang mendekam di kelas menengah, mahasiswa memiliki potensi untuk memperoleh beragam akses ketimbang kelas bawah (masyarakat miskin). Hatta, tak aneh jika mahasiswa mudah disusupi pelbagai pengetahuan—yang kerap menjadi ideologi.
Mahasiswa yang diindoktrinasi oleh teori-teori ‘kepatuhan’ berbaju ilmu pengetahuan akademis hanya akan menjadi mahasiswa yang aktif di bangku kelas saja. Sementara mahasiswa yang dirasuki pengetahuan berbasis ‘kesenangan’ bisa dengan mudah menjelma makhluk hedonis yang individualistik. Kedua tipikal mahasiswa tersebut memiliki kesamaan ciri, yaitu mengurung diri dalam ruang yang mereka bangun sendiri tanpa pernah mau melongok bagian masyarakat yang lain.
Mahasiswa yang dipengaruhi oleh ajaran kritis dan filsafat yang mencerahkan hingga kerap melakukan proses reflektif adalah ciri mahasiswa ‘yang lain’. Tipikal mahasiswa seperti ini seolah tak kunjung lelah mencari makna hidup melalui buku-buku, aktif di organisasi dan berdekatan dengan persoalan masyarakat umum. Mereka tak hanya hidup dalam dunia yang digeluti sehari-hari.
Kelompok mahasiswa macam inilah yang kemudian menjadi motor penggerak dalam pelbagai GM. Merekalah yang bersedia membaktikan diri untuk membuktikan bahwa GM bukanlah mitos belaka. Hal tersebut, diurai dengan jelas melalui pendekatan sejarah (hal: 26-33) yang teliti oleh penulis buku ini.
Paska runtuhnya rezim orde baru, GM bagai memasuki masa surut. Padahal, ruang-ruang kebebasan berekspresi mulai terbuka luas. Demonstrasi tak lagi milik mahasiswa semata. Jika banyak buku yang membahas GM hanya memusatkan perhatian pada struktur interaksi-politis antar elemen demokratik di kalangan mahasiswa, maka buku ini melangkah ke jalan yang berbeda.
***
Tumpulnya mahasiswa sebagai kelompok pembaharu dalam masyarakat justru terjadi karena aktifitas mereka yang lebih disibukkan oleh memilah-pilih derajat ‘penting’ atau ‘tidak penting’ dari suatu tindakan. Jika kita melihat tindakan dengan perspektif Talcott Parsons maka analisa Nurani dalam buku ini menemukan ketepatannya. Menurut Parsons (dalam Poloma; 1984:172), tindakan individu dalam sistem sosial akan sesuai dengan norma atau aturan-aturan yang dibuat oleh sistem.
Dalam pandangan Nurani, ternyata sistem makro yang mengatur dunia mahasiswa tetaplah kapitalisme. Walau kampus dan dunia mahasiswa itu sendiri memiliki norma ideal, kapitalisme telah menundukkan dan mengatur semua itu. Jelmaan kapitalisme yang paling mutakhir adalah neo-liberalisme.
Secara tersirat, Nurani ingin mengemukakan bahwa segala kemajuan yang berlangsung di dunia pendidikan tinggi sebenarnya merupakan bentuk langsung dari kepatuhan pada neo-liberalisme (hal:80-82). Sistem belajar di pendidikan tinggi dirancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mampu kritis. Kampus tidak lagi dijadikan sebagai basis menemukan esensi hidup yang hakiki. Ruang kuliah hanyalah medium untuk mengadu nasib bagi para mahasiswa dalam menaikkan taraf hidup.
Sementara itu, diluar kampus, mahasiswa menemukan kehidupan serba berbalut kemewahan yang mewujud dalam mall, glamouritas selebritas dan segala bentuk ‘kesenangan’ lainnya. Mahasiswa dibentuk agar menganggap kampus sebagai ruang tersendiri yang tidak berdialektika dengan kehidupan diluarnya. Kalau saja Nurani memasukkan peristiwa tahun 2007, saat tiga orang mahasiswa ITS mendapat skorsing dari birokrat kampus karena ‘bersuara beda’ untuk menyikapi kasus lumpur Lapindo, tentulah analisa tentang ketertundukan kampus kepada neo-liberalisme dalam buku ini akan kian membumi-bukti.
***
Neo-liberalisme telah memalun mahasiswa dengan erat dan kuat. Inilah dampak nyata kreasi-konstruksi media massa tentang identitas mahasiswa. Dunia mahasiswa, sebagaimana dimunculkan oleh sinetron televisi misalnya, seolah sempit saja. Hanya seputar hubungan antar persona yang disebut pacaran, pertarungan gengsi antar kelompok dan bentuk ‘kehidupan gaul’ lainnya.
Neo-liberalisme yang bergerak lindap di tubuh mahasiswa saat ini seolah mendaraskan satu pesan singkat. Yaitu, mahasiswa hari ini haruslah mementingkan gaya hidup konsumtif ketimbang mencari hakikat paling dasar dari kehidupan sehari-hari melalui kerja produktif dan reflektif.
Bab III dalam buku ini mengupas dengan luas dan bernas tentang gaya hidup mahasiswa kini melalui psikoanalisis Freudian dan ‘kritik cinta’ Erich Fromm. Melalui penghayatan yang tinggi akan karya Khalil Gibran, Nurani turut pula menyerukan bahwa cinta yang etik, esetetik dan laik untuk dipertahankan adalah cinta tanpa kepura-puraan dan bersifat universal. Cinta bukanlah alat untuk memasung kreatifitas dan menggenjot konsumsi seperti galibnya kita temukan pada gaya pacaran mahasiswa masa kini. Cinta pada taraf yang sakral dan melampaui tubuh justru menjadikan manusia kian inovatif dalam melakukan perubahan dan berproduksi untuk kesejahteraan seisi alam.
Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah optimisme yang diusung oleh penulisnya. Melalui optimisme ini, Nurani seolah belum percaya bahwa neo-liberalisme benar-benar menang dalam peradaban manusia kini. Neo-liberalisme, selain menciptakan individu yang patuh dan konsumtif, juga telah melahirkan sosok individu (atau kelompok) yang terus berteriak melawannya. Mereka adalah kaum yang dianggap ‘tidak penting’ oleh peradaban neo-liberal masa kini. Akhirnya, bagi siapa saja yang masih menginginkan kebudayaan berbasis nilai kemanusiaan, pendidikan yang membebaskan dan demokrasi yang menuju kesejahteraan, maka buku karya Nurani Soyomukti ini adalah risalah nan penting untuk dihayati.(*)

Seterusnya..