Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.


Membongkar Militer(isasi) Amerika

(dipublikasi di Koran Tempo edisi Minggu, 4 Januari 2009)

Kalau ada negara yang terkenal dengan perang, ia adalah Amerika Serikat. Perang telah melabur sejarah internal negeri itu sejak didirikan oleh para eksil dari Eropa sekitar tiga abad lalu. Amerika Serikat juga aktif dalam tiap edisi Perang Dunia. Bahkan, hingga kini, tampuk panglima perang internasional kian kukuh dipegang negeri itu.

Mengapa negara yang akan dipimpin Barack Husein Obama hingga 2013 itu terkenal doyan perang? Nick Turse memiliki jawaban mengejutkan dalam buku setebal 304 halaman ini.

Setelah berada di kelompok pemenang pasca-Perang Dunia II, industri militer yang merujuk pada pengembangan teknologi persenjataan di Amerika luar biasa meningkat. Saat itulah istilah complex mulai mengemuka sebagai sebutan untuk industri militer. Tapi Presiden Amerika ke-34, Dwight D. Eisenhower, sempat meluapkan kekhawatiran terkait dengan eksistensi complex ketika menyampaikan pidato perpisahan di akhir masa jabatannya pada 1961.

Ike--panggilan akrab Eisenhower--memberi peringatan kepada publik Amerika bahwa complex akan berkembang hingga level yang mengerikan. Maka ia mengharapkan kecerdasan publik untuk meminimalisasi dampak negatif dari complex.

Itu semata-mata bertujuan agar keamanan dapat tumbuh subur bersama kebebasan. Sebelumnya, pada 1957, C. Wright Mills, seorang sosiolog terkemuka di Amerika, telah pula meramalkan tumbuhnya sebuah aliansi ekonomi-militer yang mampu merasuk ke ruang-ruang politik dan pendidikan (halaman 14-15).

Tapi, pada kurun berikutnya, complex tak sekadar dapat dikaitkan dengan industri senjata untuk militer. Entitas tersebut, sebagaimana dikatakan Turse, telah bermetamorfosis menjadi gurita dengan tentakel sangat banyak hingga mudah merengkuh apa saja.

Pihak militer Amerika kini telah membina hubungan yang sangat erat dari kaum akademisi, peneliti independen, media massa, kreator video game, produser film, produsen minuman-makanan, pabrik pakaian, hingga perusahaan pembuat peralatan dapur. Koalisi itu semata-mata bertujuan untuk melanggengkan militer sebagai identitas kenegaraan AS. Lebih jauh, complex yang kian menggurita dipandang oleh Turse sebagai usaha militerisasi masyarakat sipil Amerika.

Di negara-negara Barat, tak terkecuali Amerika, berlaku sebuah aturan yang disebut Posse Comitatus Act. Aturan tersebut melarang militer terlibat dalam usaha penegakan hukum di dalam negeri hingga berdampak pada minimnya anggaran dana yang disediakan untuk militer.

Tapi Turse berhasil mengungkap fakta betapa kaya militer Amerika. Pentagon dan Departemen Pertahanan Amerika bagai selang yang mengalirkan dana wajib pajak untuk kepentingan militer. Lalu dana tersebut disalurkan secara rutin kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi rekanan militer Amerika.

Sepuluh tahun sejak pidato peringatan dari Eisenhower, tercatat 22 ribu perusahaan yang mengerjakan pelbagai proyek untuk mendukung militer. Kini jumlah itu membengkak menjadi 47 ribu perusahaan (halaman 3).

Tentakel complex kian menjulur ke mana-mana setelah peristiwa 11 September 2001. Anggaran untuk keamanan dan militer makin membludak, yakni mendekati jumlah US$ 1 triliun per tahun. Turse menyindir sikap berlebihan pemerintah Amerika dalam menangani keamanan dengan kalimat "bringing the war home". Padahal, menurut Turse, tingkah Amerika di dunia internasional yang membuat negeri itu menjadi incaran banyak musuh.

Turse juga memaparkan data yang sangat mencengangkan terkait dengan perilaku militer Amerika dalam buku ini. Agen-agen CIA telah menghabiskan jutaan dolar untuk bersenang-senang sembari menjalankan tugas di luar negeri.

Pentagon pernah melaporkan bahwa konsumsi bahan bakar selama satu hari untuk berperang di Irak dan Afganistan sekitar 365 ribu barel, setara dengan konsumsi harian warga Swedia. Tapi Sohbet Karbuz, seorang ahli perminyakan internasional, memperkirakan bahwa jumlah itu sebenarnya mendekati angka 500 ribu barel (halaman 41-42). Tentu saja kebutuhan tersebut akan dengan mudah direngkuh oleh militer Amerika karena sejumlah perusahaan minyak berskala internasional telah menjadi kontraktor tetap dari Departemen Pertahanan.

Pemborosan yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan Amerika bukan berjalan tanpa kritik. Sejak 1940-an hingga saat sedang menjabat Presiden Amerika, Ike telah mengkritik pengeluaran Departemen yang tak terkendali. Ia mengungkapkan borosnya Departemen bagai jalan kecil menuju negara garnisun di mana militer akan memegang kekuasaan yang luar biasa di seluruh negeri (halaman 270).

Militerisasi di Amerika yang berjalan dengan memanfaatkan teknologi tinggi itu membuat gundah Turse. Tentu saja disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat Amerika bahwa mereka secara diam-diam telah mendukung pengiriman dan penyerbuan yang dilakukan militer Amerika ke pelbagai belahan dunia. Dukungan itu dilakukan ketika warga Amerika mengkonsumsi produk dari perusahaan yang menjadi kontraktor Pentagon dan Departemen Pertahanan.

Sayangnya, hampir tak ada perusahaan yang bukan rekanan Pentagon dan Departemen Pertahanan. Sebab, perusahaan yang tak bersedia membantu militer Amerika malah akan dipandang sangat "tak Amerika". Salah satu kampanye Barack Obama ialah "memulangkan semua tentara ke rumah mereka". Itu memang sebuah sinyal bagus bagi penciptaan perdamaian di muka bumi yang bisa disponsori oleh Amerika.

Salah satu indikator pembuktian, menurut hemat saya, ialah keberanian dia memotong tentakel complex. Kalau Obama tak kuasa memangkas anggaran untuk Departemen Pertahanan, apa boleh buat, kita akan selalu mengenal Amerika sebagai negara yang gemar bertempur.

Seterusnya..



"Elizabeth Pisani memberi dua tawaran kontroversial, keharusan menggunakan kondom di tempat pelacuran dan pemberian jarum steril bagi pengguna narkoba suntik."

AIDS mungkin bagai belusuk (ular laut berbisa). Siapa pun yang sering 'berbasah-basah di laut' bisa tergigit. Lantas apakah cukup melarang individu mandi di laut hanya karena keberadaan belusuk?
Sejak Luc Montagnier dan Francoise Barre-Sinoussi (keduanya meraih Hadian Nobel bidang Kesehatan 2008) menemukan HIV pada 1982, AIDS telah membunuh 25 juta orang. Bahkan hingga kini 33 juta orang di dunia telah terinfeksi HIV. Elizabeth Pisani menuturkan pengalamannya selama berkecimpung dalam kegiatan penanggulangan HIV/AIDS melalui buku setebal 589 halaman ini.
Pada 1993, Pisani memutuskan berhenti sebagai wartawan Reuters. Ia memilih mengikuti program master dalam bidang demografi medis. Tak dinyana, jalur itu justru mengantarkannya ke dalam pusaran penanggulangan HIV/AIDS. Noni asal Inggris itu kian sibuk setelah masuk ke UNAIDS pada 1996.
Pisani sadar bahwa menjadi aktivis penanggulangan HIV/AIDS justru meminta kerja ekstrakeras ketimbang saat ia masih berprofesi sebagai kuli tinta. Maka, buku ini pun bercerita tentang ketegaran seorang anak manusia bergelut dengan pilihan profesinya.
Jean Baudrillard (dalam Piliang, 2004:171-172) sempat mengupas persoalan AIDS melalui karyanya berjudul Seduction. Penyakit itu, menurut Baudrillard, muncul sebagai dampak dari sistem tak terkendali yang sebenarnya merupakan kreasi kita sendiri. Sistem itu ialah transparansi dan promiskuitas (jaringan seksual dengan siapa saja) dalam orbit global. Alih-alih meluapkan kenyamanan, analisa Baudrillard malah seperti manusia yang merutuki nasib tanpa berbuat apa-apa.
Pisani melangkah jauh dari sekadar bermuram durja ketika melihat persoalan AIDS. Penyakit itu, menurut Pisani, hanya menular lewat dua bentuk kegiatan, yaitu seks dan narkoba suntik. Globalisasi, kemiskinan dan tinggi rendahnya tingkat pendidikan bukanlah faktor utama yang menjadi tunggangan HIV untuk menyebar ke seluruh dunia.
Maka, solusi konkret dari Pisani ialah penggunaan kondom bagi kalangan yang melakukan seks berisiko tinggi dan pemberian jarum steril untuk pengguna narkoba suntik. Tentu solusinya mengundang kontroversi. Ia seperti mengamini berlangsungnya praktik gelap yang ada di belahan dunia.

Realitas Kondom
Pisani memang mengajak kita untuk menjejak di bumi realitas, bukan terus-menerus terbang mengawang di langit idealitas. Misalnya, mampukah menghapus prostitusi (salah satu pekerjaan tertua di muka bumi)? Pisani beranggapan, gerakan penutupan bordil hanya akan mempersulit proses pencegahan AIDS karena para penjaja seks komersial (PSK) tak lagi berada di satu tempat.
Noni dari Inggris ini tak segan masuk ke gerai seks, mulai dari lokalisasi Rawa Malang (Jakarta), bar-bar di Dili (Timor Leste), hingga sejumlah bordil di Dongxing (Tiongkok). Dia menemukan minimnya penggunaan kondom di kalangan pembeli seks dari PSK. Padahal, itulah wahana yang tepat bagi penularan HIV. Maka, aturan ketat penggunaan kondom di lokalisasi, menurut Pisani, mutlak diperlukan untuk mencegah penyebaran AIDS.
Sering berganti pasangan dalam hubungan seksual-—tanpa menggunakan kondom-—dipastikan menjadi penyebab seseorang tertular HIV. Namun, polanya bergantung pada geografis dan kultural suatu daerah. Pada kebanyakan negara di benua Afrika, tak perlu keberadaan prostitusi untuk menularkan HIV.
Demikian pula pola penyebaran HIV melalui jarum suntik yang dipakai bergantian di kalangan pengguna heroin. Walau seluruh dunia mengamini bahwa heroin adalah barang ilegal, tapi pengguna barang itu tak jua susut. Penjara menjadi lumbung penularan HIV melalui jarum suntik (hal.448).
Narkoba yang tidak dikonsumsi secara suntik pun turut berkontribusi pada penyebaran AIDS. Pengguna narkoba yang sedang high memiliki kecenderungan tinggi untuk melakukan hubungan seks tanpa kondom. Pisani mengakui bahwa di Indonesia dan sebagian besar negara di Asia, konsumsi narkoba memang saling tumpang tindih dengan perilaku seks berisiko tinggi dalam pola penularan HIV (hal.169).

Pertaruhan dana
Berbicara tentang upaya penanggulangan, Pisani melihat adanya beberapa kendala. Pertama, birokrat di negara berkembang masih enggan mengucurkan dana bagi pencegahan epidemi AIDS. Hal itu bertolak belakang dengan pejabat di negara maju yang mulai aktif menggelontorkan dolar bagi program penanggulangan HIV/AIDS, walau tentu saja, sebelumnya birokrat di negara maju juga malas melakukan hal itu.
Kedua, datang dari kultur suatu daerah. AIDS masih dipahami sebagai 'penyakit hukuman' bagi kelompok yang berperilaku di luar norma masyarakat. Akibatnya, orang-orang yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS enggan memeriksakan kesehatan mereka karena takut distigma negatif oleh masyarakat.
Ketiga, Pisani mengungkapkan adanya pertarungan antarlembaga yang berkecimpung di dunia narkoba dan AIDS juga sering memecahkan konsentrasi dari kegiatan pencegahan menyebarnya epidemi AIDS. Patut diketahui, kini lembaga internasional yang menangani AIDS bukan hanya UNAIDS. Pertarungan antarlembaga itu terjadi karena perbedaan ideologi yang diusung, hingga berakibat pada cara pandang dan penanganan terhadap AIDS.
Melalui buku ini kita bisa mengetahui bahwa AIDS telah menjadi komoditi yang bisa dijual, dan pengaruhnya mampu merasuk ke relung politik. Bahkan, 'belusuk' itu tak lagi hanya menyebarkan bisanya kepada mereka yang sering 'berbasah-basah di laut'. Para istri setia dan jabang bayi pun memiliki peluang mengidap AIDS karena tertular HIV dari seorang suami yang sering 'jajan' di luar rumah.
Akhirnya, buku ini memang menawarkan sikap bijak kepada kita dalam memahami penyakit AIDS.

Catatan: Judul resensi ini telah diganti oleh redaktur Media Indonesia menjadi: "Kondom dan Jarum Suntik Noni Inggris"

Seterusnya..

Selamat Hari Ibu

Sayang, selamat Hari Ibu. Engkau--tak peduli perempuan atau lelaki--kelak jadi Ibu. Sayang, ini saya kasih sedikit pengumuman tentang seorang ibu yang sedang duduk di tepi senja:

Dear allz,...

Saya baru dengar kabar soal NH Dini, salah satu novelis perempuan di era 70-an. saya pikir ini langkah bagus utk memulai CSR ala FPK.
Di usia senja, beliau kini tinggal di Wisma Langen Werdhasih, Ungaran (Rumah Lansia) dan sedang mengalami kesulitan dana untuk membiayai kesehatannya. Oleh karena itu, beliau hendak menjual lukisannya yang bergaya dekoratif Tionghoa seharga 3-7 juta.

Nah, jika ada yang berminat, silakan hubungi Ariany Isnamurti di 08179883592. Jika belum berminat, tolong bantu sebarkan informasi ini saja. T

Nomor telepon yang ada dibawah ini saya peroleh melalui email yg dikirim pada saya.

Cepat semnuh, bu ;-)

Terima kasih.

Catatan:
Saya mendapatkan pengumuman ini dari mailing-list Forum-Pembaca-Kompas. Tidak ada pengeditan sedikit pun juga, dikopi sesuai aslinya.

Seterusnya..

'Energi Mabuk' Musik Masa Kini

(dipublikasi di Lampung Post edisi Minggu, 30 November 2008)


TULISAN Susan S. di Lampung Post (16-11) membikin perasaan saya naik-turun. Bukan saja karena Susan menulis "Mungkin nadanya (maksud: suasana tulisan Susan) marah, kesal, dan gimana gitu." Namun disebabkan pula oleh "sesuatu" yang telah lama mengendap di hati. Maka, saya tergoda untuk balah soal "energi" yang ditawarkan belantika musik Indonesia masa kini.

Persoalan musik memang selalu bikin berisik sepanjang zaman. Dahulu, Bung Karno pernah melarang Koes Plus dengan alasan band tersebut menyebarkan energi asing (kebarat-baratan). Pendek kata, karya-karya Koes Plus tergolong lagu ngak ngik ngok yang kontrarevolusi.

Zaman Orde Baru, Betharia Sonata sempat juga mengelus dada saat lagu berjudul Hati Yang Luka dikecam pemerintah karena "melemahkan derajat kaum perempuan".

Kalau mau dirunut hingga masa sebelum Indonesia merdeka, kita juga akan beroleh fakta bahwa musik benar-benar bikin berisik. Lagu Indonesia Raya pernah menjadi momok menakutkan pemerintah kolonial Belanda. Lagu gubahan W.R. Supratman itu dilarang dikonsumsi publik karena penjajah Belanda takut semangat antikolonialisme menguat di khalayak.

Lagu, mau tidak mau, memang terikat dan terkait pada ruang dan waktu tempat ia digubah. Namun itu tidak mencerminkan "masa berlaku" lagu tersebut. Misal, pada abad XXI, kita masih senang menyanyikan lagu-lagu yang lahir di zaman revolusi fisik? Atau, kita juga masih asyik saja tatkala mendengar lagu-lagu gubahan Pance Pondaag dan Obbi Mesakh, bukan?

Lantas, apakah lagu-lagu yang menembus zaman dapat dikatakan sebagai karya "adiluhung"? Ah, terlalu sumpek rasanya membaca kata yang saya beri tanda kutip itu. Tapi, mari kita bahas saja biar fresh, gitu.

Musik juga merupakan refleksi kondisi batin masyarakat tempat ia bermukim. Wajar toh jika lagu-lagu yang diciptakan sekitar era revolusi fisik bernada persatuan, ketegaran seorang pejuang hingga keikhlasan seseorang yang ditinggal mati sosok tersayang.

Kalau tekanan dari struktur politik (baca; penguasa) pernah melabur sejarah musik Indonesia, itu hanyalah rangkaian proses yang memang sudah "seharusnya". Bukankah hambat-menghambat merupakan proses alamiah dalam tiap sistem pada tubuh masyarakat? Untuk soal larang-melarang ini, alasan bisa dipilih sesuai dengan kesukaan.

Lagu pun membentuk pola pengaruh-memengaruhi dengan masyarakat. Jadi, kondisi masyarakat merupakan lautan ide yang mahaluas untuk direguk orang-orang yang terlibat dalam sebuah lagu--penggubah lirik, penyanyi, dan pemain musik. Sebab itu, agak janggal kalau harus menyematkan istilah adiluhung untuk sebuah lagu di era teknologi canggih sekarang.

Istilah adiluhung dan massal mengemuka tatkala produk hasil kesenian dinikmati dua kelas berbeda: Kelas atas-terpelajar dan kelas bawah-tidak sekolah. Maaf saja, bagi saya, dua istilah itu jelas-jelas bersemangat "tidak memandang manusia sebagai manusia". Maka, istilah adiluhung dan massal tidak lagi relevan untuk membincangkan dunia musik masa kini.

Saya kok lebih sreg kalau memakai istilah populer. Lagu masa kini merupakan produk kebudayaan populer yang tujuan pembuatannya mencakup semua golongan. Dampaknya juga bermata dua; bisa mencerahkan atau membodohkan. Untuk urusan apresiasi, produk kebudayaan populer memang diserahkan secara individual.

Belantika musik Indonesia sekarang, dalam pandangan saya, bagai seorang pemabuk yang sedang sempoyongan. Ia terlalu banyak menenggak pelbagai jenis minuman beralkohol--mulai produksi luar negeri sampai home industry. Tidak hanya pikiran yang ke sana-sini, gerak badannya pun mondar-mandir; gak jelas sama sekali.

Ada penyanyi yang muncul dengan mengandalkan tubuh seksi semata dan suara pas-pasan. Ada yang gemar jingkrak-jingkrak di panggung sambil mengibarkan bendera Merah Putih. Ada pula yang sangat kemaruk; sudah jadi bintang iklan dan pemain sinetron masih juga ngotot mengejar status penyanyi.

Dari segi lirik--baik isi lagu maupun penggunaan bahasa--macam-macam pula. Ada yang menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan EYD. Banyak pula yang memakai gaya ucapan sehari-hari. Bahkan, ada yang bingung; lagunya menggunakan bahasa Inggris sekaligus bahasa Indonesia.

Kebudayaan populer dalam lagu masa kini menempatkan pesona polesan dan kekuatan modal sebagai dasarnya. Ada yang memoles pada liriknya, kehidupan para pemusiknya hingga aliran musik yang digeluti.

Kelompok musik macam Peterpan, Nidji, Dewa, Kangen Band, dan ST12 mampu memenuhi tiga unsur polesan di atas. Tentu saja, tidak kalah penting, mereka ditopang penyedia modal yang luar biasa kaya.

Maka, saya terus-terang bingung, sejak kemunculan Kangen Band, kenapa ramai-ramai mencerca mereka? Aha, tampaknya inilah proses alamiah hambat-menghambat itu.

Semua kelompok musik, bagi saya, sama saja. Lagu-lagu mereka pun sama lengkapnya; banyak yang cemen, tidak sedikit pula yang yahud. Tidak perlu rasanya meninggikan sebuah kelompok musik sambil merendahkan yang lain. Nyantai aja, toh mereka juga memiliki peluang yang sama: Meracuni atau mencerdaskan pikiran masyarakat. Keputusan menyukai atau membenci terletak pada apresiator (mereka yang kupingnya pernah mendengar lagu-lagu Indonesia masa kini).

Ambil contoh Kangen Band. Platinum berhasil diraih kelompok musik itu. Tapi pihak yang mengaku "kupingnya berdarah-darah" mendengar lagu-lagu mereka sama banyaknya dengan orang-orang yang sering mendendangkan lagunya.

Mudah saja, kalau tidak suka dengan lagu-lagu sebuah kelompok musik: Jangan didengar. Daripada koar-koar, malah kontraproduktif. Itulah konsekuensi kebudayaan populer. Seharusnya memang seperti itu kebudayaan populer. Khalayak memiliki kuasa penuh.

Sembari menyusun tulisan ini, saya mengirim pesan pendek via telepon seluler. Saya tanyakan pada beberapa orang: Coba beri dua kata yang terbersit di benak ketika mendengar Kangen Band.

Mereka yang saya kirim pesan itu ialah orang-orang yang punya kaitan dengan Lampung--yang masih berdomisili di sana atau sedang merantau di tanah seberang.

Hasilnya variatif. Dua jawaban paling kasar: Gua gak butuh dua kata, Den. Cukup satu aja: Norak dan kampungan banget! Ada juga yang menjawab begini: Kembali pulang atau "kerja keras".

Inilah sedikit bukti bahwa apresiasi terhadap satu kelompok musik memang bermacam adanya. Nilai positif dari sesuatu yang kita sangka buruk bisa saja muncul. Demikian pula, sisi negatif bisa saja melekat pada entitas yang kita anggap bagus.

Energi yang ditawarkan dunia musik Indonesia masa kini hanyalah "energi mabuk". Entah itu mabuk cinta, mabuk materi, mabuk tangisan, mabuk segalanya.

Namun, jentera musik Indonesia terus berjalan, bukan? Kreativitas tidak hanya harus dikembangkan oleh mereka yang terlibat aktif dalam dunia musik, tapi juga oleh orang-orang yang menjadi tujuan (baca; pasar) karya musik.

Kebudayaan populer memang memabukkan bagi mereka yang tidak hati-hati larut di dalamnya.

Seterusnya..


Penghargaan Bagi "Si Toekang Kritik"
(dimuat Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 10 November 2008)
Khalayak awam setidaknya pernah membaca ada empat "Bung" dalam buku sejarah. Yakni, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo. Namun, agaknya sangat sedikit yang mengetahui bahwa nama yang disebut terakhir baru saja diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

Antara (03/03/08) memberitakan, pada 28 Februari 2008 diselenggarakan bedah buku Bung Tomo Menggugat (terbitan Visi Media; Januari 2008). Kegiatan yang paling akhir tentu saja diadakannya pengumpulan sejuta tanda tangan untuk Bung Tomo. Sejumlah kegiatan itu tak sia-sia. Setelah menunggu waktu bertahun-tahun, akhirnya tokoh perjuangan ’45 tersebut diangkat menjadi Pahlawan Nasional sejak 7 November 2008. Polemik berkepanjangan soal pengangkatan Bung Tomo menjadi Pahlawan Nasional tuntas sudah.

Sebagai seorang tokoh, Bung Tomo memang bukan ’pribadi yang biasa’. Ia merasakan riuh-rendah gelombang pergolakan politik di Indonesia pada tiga zaman: awal Indonesia merdeka, Orde Lama, dan Orde Baru.

Ketokohan Bung Tomo selama ini hanya nampak pada era revolusi fisik, yakni ketika ia membakar semangat masyarakat Surabaya untuk melawan tentara Inggris. Ia merupakan salah seorang orator ulung yang lahir dari medan peperangan.

Tanpa menunggu perintah dari Jakarta, Bung Tomo berpidato dengan semangat berapi-api. "Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda rakyat Indonesia disuruh datang membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah dan takluk kepada Inggris. Inilah jawaban kita, jawaban pemuda-pemuda rakyat Indonesia, ’Hai Inggris, selama banteng-banteng, pemuda-pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan menyerah.’ Teman-temanku seperjuangan, terutama pemuda-pemuda Indonesia, kita terus berjuang, kita usir kaum penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai ini. Sudah lama kita menderita, diperas, diinjak-injak."

Maka tak aneh jika pertempuran 10 November 1945 menjadi perang yang dahsyat. Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran tersebut. Inggris benar-benar—pinjam istilah dari Bung Karno—"dilinggis" saat itu. Penjajahan memang tak hanya melahirkan penderitaan, namun juga menumbuhkan perlawanan yang sulit dimatikan.

Seorang orator sejati tak akan pernah bisa diam. Tipikal manusia seperti ini selalu menggali alam bawah sadar masyarakat—mencakup kegelisahan, penderitaan dan ketimpangan—tempat ia bernapas. Inilah pula ciri kritikus andal, yakni orang-orang yang tak pernah merasa dalam kondisi mapan. Kritik diungkapkan demi berjalannya perbaikan dalam tubuh masyarakat.

Bung Tomo memang laik disebut sebagai orator sejati. Ketika ia menjadi menteri sekaligus anggota legislatif pada tahun 1950-an, Bung Tomo tak pernah diam. Ia mengritik—melalui surat dan artikel—dekadensi moral yang menggejala di kalangan pejabat kala itu. Nalar kritis Bung Tomo tak luntur walau ia merupakan ’kelompok dalam’ dari elit penguasa di awal Indonesia merdeka.

"Bung Karno, betapa saya tidak gelisah, mengingat bahwa kepala pemerintahan dewasa ini adalah penggali Pancasila, sedangkan rakyat jelata rata-rata belum merasakan kemanfaatan dan kemaslahatan Pancasila. Kedaulatan rakyat telah lama diinjak-injak oleh pembantu-pembantu Bapak Presiden yang terdekat pada masa lampau, keadaan sosial tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Pada saat rakyat jelata hidup menderita merana, orang-orang yang terdekat dengan Bapak Presiden menyusun mahligai kemewahan. Yang lebih seram lagi adalah istri-istri para penguasa tertinggi yang secara sendiri menguras kekayaan negara untuk memuaskan nafsu pribadinya, berfoya-foya di luar negeri, menimbun kekayaan di dalam negeri! Sedangkan para penguasa berbuat seolah-olah tidak tahu semuanya itu." Demikian petikan surat terbuka Bung Tomo yang ditujukan kepada Bung Karno.

Bung Tomo bukanlah sosok yang membuktikan tesis Emile Durkheim tentang kondisi pascaperang. Seusai perang, kata Durkheim, masyarakat justru mengalami gejolak yang kian berat, sekelompok individu mengalami stres karena tak bisa melakukan pekerjaan selain mengangkat senjata. Selain itu, solidaritas masyarakat kian menipis hingga bermunculan kelompok-kelompok di dalam tubuh masyarakat yang berebut kekuasaan. Bung Tomo menganggap bahwa rakyat harus dimuliakan melalui kerja para pemimpin. Perjuangan setelah perang ialah bersatu membangun masyarakat.

Ketika Soeharto dan gerbong Orde Baru-nya berkuasa di Indonesia, Bung Tomo pun belum mau berhenti melancarkan kritik. Ia menyesalkan kedekatan penguasa Cendana dengan sejumlah pengusaha yang, menurut dia, "membikin buyar harapan Orde Baru dan menggerogoti kewibawaan Presiden". Bung Tomo merekam kondisi rakyat yang melihat bersatunya penguasa dan pengusaha tersebut, "Secara diam-diam, rakyat mulai tidak senang pada kepemimpinan kawan kami Soeharto, tetapi tidak berani."

Maka tak aneh kalau Bung Tomo "Sang Toekang Kritik" pernah menjadi tahanan di Penjara Kramatjati antara 1978-1979. Seumur hidup negara ini, memang kritik seolah menjadi tabu. Padahal, kritik ialah unsur pembentuk terpenting dalam masyarakat yang sedang memperbaiki diri. Kritik menjadi penjaga perangai elite penguasa yang sering kali keluar dari jalur "mewujudkan kesejahteraan masyarakat". Selain itu, menurut C. Wright Mills, kritik adalah pembuka selubung tidak rasional dan kepercayaan pada simbol yang menggejala sepanjang tumbuh-kembang masyarakat.

Nyala api semangat Bung Tomo harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia. Kritik bukanlah sesuatu yang membunuh. Perdebatan justru menjadikan masyarakat tak pernah sepi dari inovasi dalam memperbaiki diri. Peningkatan kualitas pendidikan ialah kunci untuk mewujudkan masyarakat yang menganggap kritik sebagai dialog.

Dulu sesudah Bung Tomo mengakhiri pidato dengan teriakan, "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!" rakyat maju ke medan laga melawan penjajah. Saat ini, sangat sayang kalau kita berteriak hanya untuk bertarung dengan saudara setanah air di jalanan. Kalau dulu Bung Tomo berteriak, "Semboyan kita tetap. Merdeka atau mati". Maka kini slogan bangsa Indonesia seharusnya ialah, dialog dan damai.***

Klik ini Saya mendengarkannya di warnet yang pasang musik pakai bahasa Inggris dengan bunyi keras sekali. Tapi saya dengarkan suara Bung Tomo itu tiga kali. Air mata saya jebol. Saya bukan romantis dan cengeng, tapi saya tak mau bohong kalau suara Bung Tomo merdu sekali. Ya Tuhan, limpahkan rahmat kepadanya...

Seterusnya..

Malang

(dimuat Lampung Post edisi Minggu, 31 Agustus 2008)


/1/ Hujan

Aku kembali berdiri menatapnya. Tingkat dua dari bangunan ini ialah saksi pembicaraan yang selalu terjadi ketika dia datang. Ia memang tidak berkata-kata. Akulah yang terlalu sering meneriakinya; "Ayo, beri aku yang lebih dari ini". Namun, ia seperti tak pernah lelah untuk diam. Butir-butir air yang kutatap hanya kian menegaskan perasaanku saja. Untuk itulah, aku senang berbicara dengan hujan.

Dari gedung berlantai dua ini, aku bisa sangat puas menatap sebuah kejatuhan. Mataku bagai kamera yang menangkap suatu objek. Satu butir air hujan itu akan kulihat sampai jatuh. Kalau hujan baru turun, jatuhnya butiran air itu bagai berdebum menebaskan debu di tanah. "Uh...," mulutku sering tiada sengaja berucap, "sakit sekali kejatuhan itu."

Lain hal jika tanah telah becek; tanda hujan bukan lagi sedang menyapa tapi telah menusuk-nusuk tanah. Butiran hujan yang jatuh seperti mengusir kawan-kawannya yang telah lebih dahulu sampai di tanah. Seolah butiran itu berkata dengan keras, "Minggir, aku butuh tempat".

Aku sangat takut kalau harus jatuh seperti butiran-butiran hujan itu.

Hujan pula yang sering membawaku pada kenangan tentang sebuah kota. Inilah yang paling aku suka. Lebih baik kenangan itu keluar saat aku sedang sadar. Aku tak pernah berharap kenangan itu menyambangi ketika aku terlelap. Aku tak suka bermimpi. Aku merasa beruntung sekali bisa berbicara dengan hujan. Walau hujan selalu diam menanggapi seluruh ucapanku.

"Kota ini menjadikan hujan sebagai atapnya," kata lelaki yang kini menjadi suamiku.

"Jangan gombal kamu, Mas." Sebelum kami diikat pernikahan, aku memang benar-benar alergi membincangkan hal yang tak berkaitan dengan hubungan kami. "Kalau mau membahas teologi lingkungan jangan sekarang. Nanti malam saja. Kamu kan biasa diskusi dengan teman-teman organisasimu yang sok idealis itu," ucapku ketus.

"Eh, aku nggak bohong. Lagian siapa yang ngajak kamu diskusi? Aku cuma pengen kasih tau kelebihan dari kota tempat kita kuliah ini."

"Hujan kok dibilang kelebihan. Lebih air?!"

"Ya, di kota ini, hujan datang tiap hari. Jadi, masyarakatnya lebih siap. Tak ada air hujan yang pampet di got. Orang-orang nggak pernah buang sampah di sembarang tempat. Selain itu, hawa juga lebih sejuk. Nggak panas, nggak dingin. Pokoknya aku senang kuliah di kota ini."

"Ya Mas, terserah kamu aja," aku mulai malas berbicara dengannya, "Omonganmu barusan nggak ada hubungannya dengan kita."

"Lo, ada hubungannya. Kalau kota ini nggak ada, kita nggak bakal ketemu," jawabnya sambil menyeringai.

"Huh...yang ini baru gombal," sahutku cepat; setengah kesal, separo malu. Aku tak mampu menutupi kebahagiaanku setelah bertemu dengan lelaki itu.

Masih banyak lagi kenangan indah yang dibawa hujan kepadaku. Dan dalam tiap kenangan yang mampir kembali di otakku, lelaki itu selalu hadir. "Hujan, tahukah kamu bahwa kenangan yang sekarang indah itu saat sedang terjadi tak demikian adanya?" Hujan tak menjawab. Ia terdiam sambil terus memberi arsiran yang indah untuk dilihat oleh mataku.

"Aku bukan komunis. Toh, PKI sudah gagal pakai cara revolusi di negara ini. Kenapa harus diikuti? Ah, aku belum tolol. Kau tahu itu?!"

"Tapi kata mereka, organisasi yang kamu ikuti itu berhaluan komunis. Makanya selalu pakai kata progresif di tiap pamflet yang kalian sebar di kampus." Aku tak mampu menahan tangis. Bingung dan kesal karena merasa dibohongi oleh lelaki itu silang-sengkarut di hatiku.

Itu semua karena orang-orang yang berada satu organisasi denganku berkumpul untuk memberi nasehat agar aku berhati-hati terhadap lelaki itu. Kupingku sangat panas mendengar celoteh mereka yang isinya selalu menghina dirinya. Aku bagai disidang teman-temanku sendiri atas nama solidaritas. Mereka tak ikhlas kalau aku harus berhubungan dengan lelaki itu.

"Aku sudah bilang, Mas. Tapi mereka tetap yakin kalau kamu komunis," suaraku serak. Kepalaku tetap tertunduk.

"Ya sudah. Sekarang, menurutmu, apakah aku komunis?" tangannya membelai pundakku.

"Bukan."

"Begini saja, kamu pilih aku atau teman-temanmu?"

Aku memilih lelaki itu. Aku tak aktif lagi di organisasi yang sempat mendaulatku sebagai pengurus harian, jabatan yang membuatku punya kegiatan selain kuliah. Segera setelahnya, setiap hari, aku bagai dihujani omongan yang mengatakan aku telah keliru menentukan langkah.

Ini mungkin pengorbanan untuk cinta, pikirku saat itu. Maka, aku melihat diriku sendiri seperti seseorang yang berdiri tegak di tengah lapangan sambil diguyur hujan tanpa henti. "Ah, itu berlebihan saja," ucap lelaki itu setelah kuceritakan unek-unekku.

"Tapi, sungguh Mas. Sekarang aku nggak punya kegiatan apa-apa selain ke kampus. Aku nggak tahan dengan kondisi ini."

"Ya, nanti kalau sudah lulus, kamu kan kerja. Jadi punya kegiatan untuk terapkan teori yang kamu dapatkan di kelas."

"Itu kalau aku dapat pekerjaan yang sesuai jurusanku. Ngewujudin yang kayak gitu kan sulit, Mas."

Tapi kini, aku selalu tersenyum saat mengenang semua kejadian yang kulewati bersama lelaki itu. Setelah kami menikah, aku kian yakin bahwa pikiranku soal pengorbanan itu tak berlebihan.

/2/ Rumah

Dan saat itu, aku harus menghadapi ibu. Menjelaskan soal hubunganku dengan lelaki itu. Bahkan, aku menuntut ibu agar merestui kami untuk bersanding di pelaminan.

"Tapi, pesan almarhum bapakmu itu jelas. Kamu harus menikah dengan anak Haji Rofik." Ketika itu nada bicara ibu mulai meninggi.

"Lantas, untuk apa ibu menguliahkan aku? Lebih baik, ibu melarang aku kuliah. Aku dibiarkan saja di rumah sampai Erwin, anak Haji Rofik itu datang melamar."

"Oh, jadi ini buah yang kau dapat dari bangku kuliah? Makin pintar melawan ibu?! Sudah, terserah kamu saja!"

Pembicaraan antara ibu dan diriku tetap menggantung. Rumah sempat menjadi tempat yang enggan kudatangi. Tapi lelaki itu tak pernah istirahat barang sejenak. Ia terus menyokong dan mendorongku agar mau berlaku halus kepada ibu. Meluluhkan hati ibu agar hubungan kami direstui.

Restu dari ibu keluar beberapa hari setelah aku diwisuda. Pada suatu malam, ibu memanggilku. Masalah hubunganku dengan lelaki itu dibuka lagi setelah selama dua tahun sebelumnya dianggap tiada oleh ibu.

"Kamu masih terus berhubungan dengan dia?"

"Ya, Bu."

"Ya sudah. Kamu menikah saja dengan dia."

"Maksud ibu? Ibu setuju? Terima kasih, Bu." Tak terbayangkan girangnya hatiku malam itu.

"Ya," ibu menjawab dengan dingin.

"Tapi, kalau boleh tahu, kenapa ibu setuju?"

"Dia hebat. Ibu tahu dari orang-orang di sekitar terminal kalau dia selalu mengantar dan menjemputmu tiap kamu pulang ke rumah."

Tapi rumah kontrakan kami tetap sepi walau pernikahan ini sudah 3 tahun umurnya. Kalau berkunjung ke rumah tiga kakakku, aku bisa melihat sorot mata yang cerah dari lelaki itu. Ia menikmati sekali ketika bermain dengan anak-anak yang lahir dari rahim semua kakakku.

"Masak yang bermasalah dengan fertilitas hanya kamu?" tanya lelaki itu setelah setahun pernikahan kami.

"Kok bilang gitu sih," aku mulai sewot. Perempuan mana yang tak menyamakan pertanyaan macam itu dengan sebuah hook yang telak?

"Abisnya, semua kakakmu bisa melahirkan. Apa betul ya, tiap keluarga yang hanya memiliki anak perempuan, bisa dipastikan salah satu anaknya ada yang sulit hamil?"

"Kamu makin ngawur, Mas. Aku capek. Mau tidur aja." Padahal mataku sulit terpejam karena ucapan lelaki itu.

Dokter yang kami datangi sungguh yakin bahwa hasil cek itu tidak salah. Kesuburan kami normal saja. "Mungkin kalau bikinnya di pagi hari setelah bangun tidur bisa sukses," kata dokter itu sambil tersenyum kecil.

Kami ikuti saran dokter itu. Tapi tiga bulan berikutnya, tamu bulanan tetap menyambangiku. Lelaki itu kian bingung. Sampai rahasia yang kusimpan ditemukan juga olehnya.

"Jadi, ini yang bikin semua usaha kita untuk punya anak gagal?" suara lelaki itu keras sekali dan tangannya menunjukkan pil KB yang ia temukan di laci lemari yang ada di ruang tamu kami. Kemudian dia membuangnya.

"Kita sudah sepakat di awal pernikahan. Punya anak satu, baru pakai kontrasepsi."

"Kita sama-sama sibuk, Mas. Aku belum siap punya anak. Aku masih ingin menikmati pekerjaanku sekarang." Aku berkata-kata pelan sekali, berharap ia tak melanjutkan marahnya.

"Alasan saja kamu ini!"

"Itu fakta, Mas. Kamu mau repot dengan anak kita? Aku belum siap, Mas!"

Oh, andai dia mau menengok lagi kenangan itu sebentar saja, lelaki itu bisa paham bahwa marah kepadaku sangat tak pantas.

Apa yang tak kulakukan untuknya? Jauh dari teman dan menghentikan aktivitasku di organisasi saat kuliah. Memiliki hubungan yang tak cair dengan ibu sampai aku lulus. Dan yang paling utama: Menjaga kehormatanku hanya untuknya hingga bisa kuberikan di malam setelah kami resmi menjadi suami-istri. Di abad sekarang, berapa banyak perempuan yang mampu menjaga keperawanan sebelum datang padanya sebuah pernikahan? Bisa jadi ini karena prinsip hidup yang mulai berubah bagi orang-orang sekarang.

Tapi, ini juga prinsipku untuk menunda kehamilan agar bisa melewatkan lebih banyak waktu hanya berdua dengan lelaki itu. Menjalani hidup dengan prinsip ialah cara menjadi manusia berdaulat, pikirku. Salahkah? Hujan tak pernah menjawab pertanyaanku.

Rumahku sepi setelah lelaki itu tak ada. Sudah satu minggu ini ia tak pulang. Aku merasa sikap lelaki itu memang berlebihan. Lantas siapa, di antara lelaki itu dan aku, yang kini bernasib layaknya butiran-butiran air yang jatuh ke tanah ketika hujan mengatapi bumi?

Seputaran Gumuk Kerang, 2008

Seterusnya..


Menangkap U(d)ang Dibalik Cinta

Saya selalu merasa terdapat permusuhan antara nenek-moyang kita dengan hewan udang. Jika tak percaya, coba tengok penggunaan kata udang pada peribahasa yang diwariskan oleh leluhur kita. Misalnya; udang dulu tangguk (dalam keadaan sangat gelisah) dan ada udang dibalik batu (memiliki maksud tersembunyi). Atau udang hendak mengatai ikan yang memiliki arti searah dengan udang tak tahu dibungkuknya, yaitu tak tahu aib yang ada pada diri sendiri.

Ditambah lagi dengan otak udang (bodoh) maka lengkaplah, kata udang senantiasa menempel pada peribahasa yang bermakna negatif. Padahal, hewan yang bernama-latin Crustacea itu sangatlah bergizi dan mahal harganya. Hampir tiap pulau di Indonesia memiliki daerah budidaya udang dalam tambak dengan orientasi pasar ekspor.

Seperti halnya udang, demikian pula cinta. Sama-sama kerap dimaknai secara keliru oleh masyarakat. Cinta sering dituduh sebagai faktor yang mengotak-udangkan seseorang. Sepintar apapun individu, kalau sudah terkena cinta maka pupus semua kejeniusannya. Hingga mau saja disuruh melakukan kegiatan yang dianggap ‘tak lumrah’ oleh publik.

Cinta pun tak jarang dijadikan perangkap oleh pihak tertentu untuk sekadar menangguk keuntungan. Lewat buku ini, Nurani memberi contoh dengan kerja aparat kapitalis yang mendengungkan cinta lewat iklan, lagu-lagu romantis dan film. Tentu saja, hal itu bertujuan untuk memompa aliran modal yang bersumber dari masyarakat dalam suatu proses konsumsi massal.

Saya jadi ingat penjualan nama cinta pada suatu iklan produk berlian yang berslogan “Say it with diamond”. Ini senilai-arti dengan ada udang dibalik batu; jika ingin mengatakan cinta maka harus membeli perhiasan yang mahal dahulu. Harga berlian yang tinggi tentu saja hanya menguntungkan pengusaha—masyarakat di sekitar daerah pertambangan batu mulia tak pernah ada yang sejahtera.

Nurani Soyomukti juga melihat adanya proses untuk menjadikan cinta sebagai barang ekslusif. Tayangan film dan sinteron yang memenuhi layar kaca setiap hari adalah medium dari kampanye eklusifitas cinta. Proses memaknai cinta tak lagi universal, tapi sebatas hubungan antar individu saja, misalnya pacaran dan pernikahan.

Cinta ialah hasrat sekaligus entitas yang selalu mengiringi peradaban manusia. Kita bisa melongok buktinya pada karya sastra macam Laila Majnun, Romeo and Juliet hingga Siti Nurbaya. Karya sastra sebagai produk masyarakat tak pernah menjadikan cinta hanya memiliki satu wajah. Romeo and Juliet misalnya, bukan mengisahkan hubungan dua kekasih yang gelap mata karena cinta. Namun kisah itu merupakan cita-cita pendongkelan terhadap sikap membedakan manusia berdasarkan status—miskin-kaya, hitam-putih, keluarga kerajaan-rakyat jelata.

Buku yang ditulis oleh Nurani ini melakukan pencarian makna cinta pada lorong filsafat Karl Marx, analisa seksualitas dari Sigmund Freud dan petuah-petuah Kahlil Gibran.
Hal menarik dari Karl Marx ialah bahwa filsuf yang sering dituduh sebagai bapak komunisme itu juga membincangkan cinta pada beberapa karyanya. Marx mendefinisikan cinta sebagai ungkapan manusia terhadap orang lain dan alam. Dalam masyarakat yang mengagungkan kepemilikan pribadi tidak terdapat cinta. Sebab masyarakat macam itu tak mampu mewujudkan keadilan ekonomi-politik dan pemerataan akses untuk memenuhi kebutuhan hidup yang senilai dengan substansi cinta (hlm.32).

Cinta yang melulu menempel pada materi tak akan pernah mencapai kesejatian. Bahkan, justru cinta seperti itu yang membelenggu umat manusia. Hal demikian tengah berlangsung luas di masyarakat. Materi seolah menjadi tujuan seluruh hidup manusia.

Masa kini, lembaga percintaan sakral bernama pernikahan pun telah dirasuki oleh belenggu materi. “...Tak jarang mempelai merasa lebih aman setelah pasangannya membacakan janji-janji: hendak memberikan nafkah lahir dan batin...” ungkap Bonari Nabonenar dalam Pengantar buku ini (hlm.viii). Bahkan ada pula perjanjian pra-nikah yang pasti diisi oleh hal terkait materi (harta). Maka, cinta tak lagi dianggap sebagai pondasi dalam rumah tangga namun hanya salah satu elemen yang nilainya bisa jadi kurang begitu penting.

Manipulasi konon merupakan elemen penting di abad super-canggih ini. Selain seringkali dimanipulasi dalam bentuk materi, cinta kerap pula ditonjolkan untuk sekadar memenuhi libido manusia. Pemahaman ini bukan hanya menyeruak dalam bentuk sex for fun yang dilakukan oleh kaum berduit. Tapi juga muncul dalam bentuk penguasaan manusia terhadap alam (hlm.87-104). Kerusakan lingkungan yang luarbiasa di abad 21 merupakan wujud nyata nafsu manusia yang dijalankan tanpa kendali untuk meraup keuntungan dari alam. Alasannya tentu saja karena kecintaan manusia kepada materi yang sungguh berlebihan.

“Esensi cinta adalah kesadaran”, demikian ungkapan legendaris dari Marx. Oleh karena itu, bohong jika cinta dianggap mampu membuat kita buta. Cinta justru berfungsi membakar semangat diri untuk terus melakukan perubahan. Bahkan cinta pun menyediakan kekuatan tanpa batas bagi manusia dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran. Tentu saja, pemahaman cinta seperti itu akan muncul tatkala sikap kritis telah bersemayam dalam diri kita.

Sikap kritis akan membuat manusia terhindar dari segala bentuk manipulasi yang mengatasnamakan cinta. Sebagaimana peradaban manusia yang berproses tanpa henti, demikian pula cinta. Setiap zaman memiliki perbedaan tafsir cinta sebab manusia akan terus-menerus mencari Cinta Sejati seumur hidup bumi. Sikap kritis menjadikan kita siap untuk merevisi pandangan hidup—termasuk soal cinta—setiap saat.

Alhasil, buku ini mengajak kita untuk ‘menangkap udang dibalik cinta’. Sayang memang, penulis buku ini sudah berkata: “Tulisan ini tidak layak dibaca oleh orang yang tidak percaya cinta” (hlm.ix). Padahal, melihat kekayaan isi buku ini, seharusnya Nurani menulis: “Mereka yang ingin menjelajahi ceruk-lekuk cinta seharusnya membaca buku ini”.(*)

Seterusnya..