Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.

Hallloooo....Nobel Ekonomi Tak Melulu Soal Ekonomi


Sampul buku ini biru laut. Pada warna biru laut, galibnya, disematkan makna perdamaian dan kesejahteraan. Hatta melalui sampulnya saja, kita bisa mengetahui bahwa buku ini khusus membahas bidang yang terkait dengan dua hal tersebut. Esai-Esai Nobel Ekonomi yang dieditori oleh Bagus Dharmawan ini adalah kumpulan yang (agak) lengkap dari pemikiran para penerima Hadiah Nobel di Bidang Ekonomi.

Karena buku ini adalah kumpulan tulisan, maka kerja keras Bagus Dharmawan sangat nampak dalam mengeditorinya. Tahun kelahiran tulisan diabaikan olehnya ketika menyusun urutan pemuatan dalam buku ini. Namun, tetaplah buku ini memiliki susunan yang teratur. Isi tulisan yang membahas pemikiran tiap tokoh penerima Hadiah Nobel Ekonomi adalah basis penyusunan buku ini. Hanya saja, tidak semua tokoh yang menerima penghargaan itu dikupas dalam buku ini. Maka, laiklah sejatinya jika editor buku ini menyertakan pula daftar nama penerima Hadiah Nobel Ekonomi dari tahun ke tahun.

Awalnya, penghargaan tahunan yang diadakan pertama kali pada 1901 itu hanya memberikan anugerah pada para tokoh yang bergelut di ranah ilmu kimia, fisika, kesusastraan, perdamaian dan kedokteran (fisiologi). Maka dari itu, jika usia penghargaan nobel untuk kelima bidang itu telah melampaui satu abad, maka umur Nobel Ekonomi—sampai tahun 2007—belumlah melewati lima puluh tahun. Namun, sejak diselenggarakan pada tahun 1969, Nobel Ekonomi tidak pernah absen dianugerahkan tiap tahun. Sementara penganugerahan Nobel di kelima bidang yang lain sempat berhenti pada tahun-tahun tertentu.

Royal Swedish Academy of Sciences (RSAS) pertama kali memberikan anugerah Nobel Ekonomi kepada Jan Tinbergen (Belanda) dan Ragnar Anton Kittil Frisch (Norwegia). Sayangnya, dalam buku ini yang diulas secara detail hanyalah pemikiran Tinbergen (hal.3-10). Tinbergen adalah salah satu ekonom yang pemikirannya kental dengan nuansa sosialis. Ia turut berandil besar dalam restrukturisasi ekonomi Belanda paska-Perang Dunia II. Sepanjang hayatnya, ia selalu menelurkan pemikiran yang berusaha memperkecil ketimpangan di antara negara maju yang berada di utara dan negara berkembang (miskin) di selatan. Namun, justru karena terobosannya dalam ekonometri, Tinbergen menerima Nobel Ekonomi bersama Frisch. Jan Tinbergen mampu menggunakan angka-angka untuk mengukur perkembangan ekonomi dan dikaitkan dengan tindakan-tindakan politik.

Selain itu, Tinbergen telah meletakkan suatu konsep penting dalam ranah ilmu ekonomi, yaitu teori konvergensi. Melalui teori ini, Tinbergen menunjuk pada dua arah. Pertama, ekonomi bukanlah ilmu yang bisa berdiri sendiri namun harus berdampingan dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya. Bahkan ia mengatakan bahwa keadilan sebagai tujuan sistem ekonomi hanya dapat ditegakkan jika moral juga diikutsertakan dalam pembangunan ekonomi. Kedua, Tinbergen melakukan analisa yang cukup meyakinkan bahwa sejak masa-masa awal keruntuhan komunisme dan bangkitnya kapitalisme yang tersisa adalah gabungan sistem ekonomi dari dua ideologi besar tersebut.

Di kemudian hari, dua arah pemikiran Tinbergen ini sama-sama berkembang dengan jalannya sendiri. Para tokoh yang menerima Nobel Ekonomi setelahnya adalah ekonom yang membina keahlian pada salah satu dari dua bidang ilmu ekonomi itu. Untuk itu tepatlah sudah ketika Nobel Ekonomi dianugerahkan pertama kali kepada Tinbergen.

Ilmu ekonomi—walau pernah “divonis mati” oleh Paul Ormerod karena terlalu matematis—tetaplah ranah yang menjadi titik tolak keberangkatan suatu masyarakat menuju kejayaan maupun kehancuran. Maka dari itu, tak aneh jika pemikiran macam Douglas C. North dan Robert W Fogel (pemenang Nobel Ekonomi 1993), Amartya Sen (1998), Joseph E Stiglitz (2001) turut pula mewarnai pemahaman kita soal ilmu ekonomi. Ternyata klaim Ormerod bisa kita maknai sebagai palu godam yang menghantam “jantung matematis” ilmu ekonomi yang terlalu kaku.

Douglas C. North dan Robert W. Fogel meletakkan pemikiran ekonomi yang diintegrasikan dengan ilmu sejarah. Hal inilah yang dianggap melanggar tradisi pemberian Nobel Ekonomi, karena peraih penghargaan tersebut sebelumnya adalah para ekonom yang berkecimpung di bidang ilmu ekonomi murni (hal.59-60). Pemikiran dua tokoh itu cukup segar dan meyakinkan; perkembangan ekonomi suatu negara akan sangat bergantung pada kondisi pranata sosial (North) dan perubahan-perubahan teknis yang dilakukan oleh suatu organisasi ekonomi (Fogel). Bahkan, Fogel—melalui hasil penelitian bertahun-tahun—dengan tegas menyatakan bahwa nasib pekerja pada masa perbudakan yang terjadi di Amerika tidak lebih jelek ketimbang pada era ‘pekerja bebas’ seperti saat ini (hal.63-64).

Kejutan dalam penganugerahan Nobel Ekonomi kembali berlanjut di tahun 1998. Padahal, sepuluh tahun sebelumnya, Amartya Sen pernah diremehkan oleh salah satu panitia penganugerahan Nobel Ekonomi. “Dr. Sen tidak akan pernah mampu meraih Hadiah Nobel. Ia terlalu banyak memasukkan masalah-masalah nilai dalam karya penelitian ekonominya”, demikian alasan si panitia (hal.124). Namun Sen justru meraih Hadiah Nobel karena kesetiaannya mendedahkan fakta-fakta sosial-ekonomi yang dikaitkan dengan moral dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Amartya Sen selalu berpihak pada kaum papa dalam setiap penelitian yang dilakukannya.

Ilmu ekonomi adalah bidang yang tidak saja bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan suatu masyarakat, perangkat analisa ekonomi seharusnya turut pula menciptakan perdamaian. Terpilihnya Joseph E Stiglitz pada tahun 2001 kiranya makin menegaskan bahwa ilmu ekonomi bukanlah sekadar permainan angka dalam kebijakan makro dan mikro ekonomi semata. Stiglitz kita kenal sebagai sosok yang selalu bersuara lantang menentang kebijakan ekonomi-politik yang menafikkan unsur perdamaian—seperti invasi Amerika terhadap Irak.

Buku ini juga dilengkapi dengan pemikiran beberapa ekonom yang pernah menjadi kandidat Hadiah Nobel, seperti Hernando de Soto (Peru), Constantino Tsallis (Yunani/Brazil), Louis Bachelier (Perancis). Pada bagian Kata Pengantar, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti mampu menutupi kekurangan buku ini, yaitu dengan menelisik ilmu ekonomi sampai ke akar filsafat Hegel dan Marx serta pemikiran revolusi saintifik milik Thomas Khun. Walhasil, buku ini tidak saja cocok dibaca oleh individu atau lembaga yang bergelut di ranah ekonomi saja.(*)

3 komentar:

Kele mengatakan...

For a more complete comments, I would advise you to be more detailed information, for example
here or here

Fejar mengatakan...

look here

Fejar mengatakan...

See here