Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.

Selamat Jalan Senyum...

Baiklah, saya akan catat kepergian Bapak Soeharto (Presiden RI Ke-2 [versi umum]). Akan saya ingat senyumnya...
Dan entahlah, ini kebetulan atau bukan. Hari Minggu (27 Januari 2008), beberapa koran memilih tulisan-tulisan bertema Soeharto untuk dimuat, padahal sekarang hari Minggu--dikenal sebagai hari lembar budaya dan buku (he2). Ada Jawa Pos yang memuat tulisan M Shoim Anwar. Ada Suara Pembaruan yang mempublikasi resensi buku tentang rezim Soeharto. Oiya, Koran Tempo juga menurunkan resensi buku soal "Rumah Penyiksaan" di era Soeharto (Orde Baru)...

Soeharto sakit sudah 24 hari sebelumnya...tapi mengapa, baru pada tanggal 27 Januari 2008, koran-koran itu menurunkan tulisan tentangnya di edisi Minggu? Percaya klenik? Ah, katanya itu syirik...tapi saya membahas soal itu untuk skripsi...Mungkin saja, ini kebetulan, sebuah salam perpisahan dari Pak Harto kepada pembaca koran Minggu...
Saya lalu ingat kata-kata Tagore, yang kira-kira begini bunyinya:
"Jika kau sudah tiada...Jangan cari nisanmu di pekuburan...Tapi carilah di hati orang-orang yang kamu tinggalkan dan mereka yang hidup setelah kamu"...

Baiklah, saya tidak akan membuat catatan panjang untuk Pak Harto...tiap kita berhak mengenang beliau dalam ragam gaya, cara dan karya...serta tentu saja rasa...
Saya ingat, saya tersenyum sebentar setelah menerima sandek ke telepon seluler saya pada Minggu siang sekira pukul 13.30 yang berisi kabar wafatnya Pak Harto...Saya senyum karena saya ingat ucapan Ibu saya soal orang yang menghadapi penyakit hebat dan berat hingga sulit dibuat sembuh secara cepat..."Lebih baik memang meninggal saja, daripada merepotkan keluarga...Tapi semua terserah Tuhan...Dia yang akan mengambil kita...Kita hanya berusaha semampu mungkin berusaha memperlambat panggilan itu..."

Woops...masih terlalu panjang...baiklah, habis...

Selamat Jalan Jenderal...Tenang saja, kau pasti kami kenang...

Tidak ada komentar: