Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.


Risalah Mahasiswa Melawan Neo-Liberalisme

Mahasiswa merupakan status sekaligus peran dalam masyarakat. Dalam belitan biaya pendidikan yang masih mahal di negara kita, jelaslah bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang mengisi kelas menengah. Layaklah jika mahasiswa menjadi salah satu ‘agen perubahan’ yang selalu meraung dari ruang tempatnya mendekam.
Peran yang seharusnya diambil oleh mahasiswa dalam masyarakat serupa dua sisi uang koin. Di satu sisi sering berbuah realita dalam pelbagai bentuknya. Namun, peran mahasiswa dalam masyarakat kerap pula dianggap mitos belaka. Nurani Soyomukti berusaha menelisik realita dan mitos Gerakan Mahasiswa (GM) melalui pengalaman sejarah dan pengamatan gaya hidup kontemporer dalam buku setebal 184 halaman ini.
Sebagai penghuni masyarakat yang mendekam di kelas menengah, mahasiswa memiliki potensi untuk memperoleh beragam akses ketimbang kelas bawah (masyarakat miskin). Hatta, tak aneh jika mahasiswa mudah disusupi pelbagai pengetahuan—yang kerap menjadi ideologi.
Mahasiswa yang diindoktrinasi oleh teori-teori ‘kepatuhan’ berbaju ilmu pengetahuan akademis hanya akan menjadi mahasiswa yang aktif di bangku kelas saja. Sementara mahasiswa yang dirasuki pengetahuan berbasis ‘kesenangan’ bisa dengan mudah menjelma makhluk hedonis yang individualistik. Kedua tipikal mahasiswa tersebut memiliki kesamaan ciri, yaitu mengurung diri dalam ruang yang mereka bangun sendiri tanpa pernah mau melongok bagian masyarakat yang lain.
Mahasiswa yang dipengaruhi oleh ajaran kritis dan filsafat yang mencerahkan hingga kerap melakukan proses reflektif adalah ciri mahasiswa ‘yang lain’. Tipikal mahasiswa seperti ini seolah tak kunjung lelah mencari makna hidup melalui buku-buku, aktif di organisasi dan berdekatan dengan persoalan masyarakat umum. Mereka tak hanya hidup dalam dunia yang digeluti sehari-hari.
Kelompok mahasiswa macam inilah yang kemudian menjadi motor penggerak dalam pelbagai GM. Merekalah yang bersedia membaktikan diri untuk membuktikan bahwa GM bukanlah mitos belaka. Hal tersebut, diurai dengan jelas melalui pendekatan sejarah (hal: 26-33) yang teliti oleh penulis buku ini.
Paska runtuhnya rezim orde baru, GM bagai memasuki masa surut. Padahal, ruang-ruang kebebasan berekspresi mulai terbuka luas. Demonstrasi tak lagi milik mahasiswa semata. Jika banyak buku yang membahas GM hanya memusatkan perhatian pada struktur interaksi-politis antar elemen demokratik di kalangan mahasiswa, maka buku ini melangkah ke jalan yang berbeda.
***
Tumpulnya mahasiswa sebagai kelompok pembaharu dalam masyarakat justru terjadi karena aktifitas mereka yang lebih disibukkan oleh memilah-pilih derajat ‘penting’ atau ‘tidak penting’ dari suatu tindakan. Jika kita melihat tindakan dengan perspektif Talcott Parsons maka analisa Nurani dalam buku ini menemukan ketepatannya. Menurut Parsons (dalam Poloma; 1984:172), tindakan individu dalam sistem sosial akan sesuai dengan norma atau aturan-aturan yang dibuat oleh sistem.
Dalam pandangan Nurani, ternyata sistem makro yang mengatur dunia mahasiswa tetaplah kapitalisme. Walau kampus dan dunia mahasiswa itu sendiri memiliki norma ideal, kapitalisme telah menundukkan dan mengatur semua itu. Jelmaan kapitalisme yang paling mutakhir adalah neo-liberalisme.
Secara tersirat, Nurani ingin mengemukakan bahwa segala kemajuan yang berlangsung di dunia pendidikan tinggi sebenarnya merupakan bentuk langsung dari kepatuhan pada neo-liberalisme (hal:80-82). Sistem belajar di pendidikan tinggi dirancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mampu kritis. Kampus tidak lagi dijadikan sebagai basis menemukan esensi hidup yang hakiki. Ruang kuliah hanyalah medium untuk mengadu nasib bagi para mahasiswa dalam menaikkan taraf hidup.
Sementara itu, diluar kampus, mahasiswa menemukan kehidupan serba berbalut kemewahan yang mewujud dalam mall, glamouritas selebritas dan segala bentuk ‘kesenangan’ lainnya. Mahasiswa dibentuk agar menganggap kampus sebagai ruang tersendiri yang tidak berdialektika dengan kehidupan diluarnya. Kalau saja Nurani memasukkan peristiwa tahun 2007, saat tiga orang mahasiswa ITS mendapat skorsing dari birokrat kampus karena ‘bersuara beda’ untuk menyikapi kasus lumpur Lapindo, tentulah analisa tentang ketertundukan kampus kepada neo-liberalisme dalam buku ini akan kian membumi-bukti.
***
Neo-liberalisme telah memalun mahasiswa dengan erat dan kuat. Inilah dampak nyata kreasi-konstruksi media massa tentang identitas mahasiswa. Dunia mahasiswa, sebagaimana dimunculkan oleh sinetron televisi misalnya, seolah sempit saja. Hanya seputar hubungan antar persona yang disebut pacaran, pertarungan gengsi antar kelompok dan bentuk ‘kehidupan gaul’ lainnya.
Neo-liberalisme yang bergerak lindap di tubuh mahasiswa saat ini seolah mendaraskan satu pesan singkat. Yaitu, mahasiswa hari ini haruslah mementingkan gaya hidup konsumtif ketimbang mencari hakikat paling dasar dari kehidupan sehari-hari melalui kerja produktif dan reflektif.
Bab III dalam buku ini mengupas dengan luas dan bernas tentang gaya hidup mahasiswa kini melalui psikoanalisis Freudian dan ‘kritik cinta’ Erich Fromm. Melalui penghayatan yang tinggi akan karya Khalil Gibran, Nurani turut pula menyerukan bahwa cinta yang etik, esetetik dan laik untuk dipertahankan adalah cinta tanpa kepura-puraan dan bersifat universal. Cinta bukanlah alat untuk memasung kreatifitas dan menggenjot konsumsi seperti galibnya kita temukan pada gaya pacaran mahasiswa masa kini. Cinta pada taraf yang sakral dan melampaui tubuh justru menjadikan manusia kian inovatif dalam melakukan perubahan dan berproduksi untuk kesejahteraan seisi alam.
Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah optimisme yang diusung oleh penulisnya. Melalui optimisme ini, Nurani seolah belum percaya bahwa neo-liberalisme benar-benar menang dalam peradaban manusia kini. Neo-liberalisme, selain menciptakan individu yang patuh dan konsumtif, juga telah melahirkan sosok individu (atau kelompok) yang terus berteriak melawannya. Mereka adalah kaum yang dianggap ‘tidak penting’ oleh peradaban neo-liberal masa kini. Akhirnya, bagi siapa saja yang masih menginginkan kebudayaan berbasis nilai kemanusiaan, pendidikan yang membebaskan dan demokrasi yang menuju kesejahteraan, maka buku karya Nurani Soyomukti ini adalah risalah nan penting untuk dihayati.(*)

1 komentar:

Malashicage mengatakan...

This comment has been removed because it linked to malicious content. Learn more.