Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.

Dibalik Kasus Ibu Bunuh Lima Anaknya
[dipublikasi di Kolom Bedah Pustaka Harian Media Indonesia edisi Sabtu, 19 April 2008]

Siapa yang tak terenyuh saat diberitakan adanya pembunuhan anak oleh ibu kandung? Referensi pengetahuan kita yang bermuasal dari dongeng—misal kisah Malin Kundang—hanya menceritakan seorang ibu yang mengutuk anaknya. Itu pun karena si anak telah mendurhakai sang ibu. Maka, wajar jika Prof. Sartono Mukadis menulis pada bagian Pengantar buku ini (hal.16): “Rasanya kalau ada penulis datang menawarkan skenario mirip kasus Andrea Yates—tentu sebelum kasus ini terungkap—hampir pasti akan ditolak produser paling kaya sekalipun. Terlalu berlebihan...”

Buku ini adalah fakta dari kisah Andrea Yates yang membunuh kelima anaknya pada 20 Juni 2001 dalam waktu tak lebih dari satu jam. Kasus ini sempat menghebohkan seluruh pelosok Amerika Serikat. Suzanne O’Malley mendedahkan cerita seputar kasus Andrea dengan alur yang tidak monoton dan kalimat nun memikat dalam buku bertebal 432 halaman ini.

Banyak pihak, awalnya, menduga bahwa salah satu pendorong Andrea ‘menginterupsi’ hak hidup kelima buah hatinya—yang tertua berusia 7 tahun dan paling kecil baru genap 6 bulan—adalah penyakit kejiwaan (psikosis) bernama post-partum depression. Psikosis macam ini lazim diderita ibu yang baru melahirkan anaknya. Sejak tahun 400 SM, Hippocrates telah menyatakan bahwa kasus kriminal karena dorongan post-partum depression tak laik diberi hukuman oleh pengadilan (hal.414).

Namun, persoalan pelik membelit kasus Andrea. Galibnya, seorang ibu yang membunuh anak karena alasan post-partum depression akan mengungkapkan penyesalan yang mendalam sebab saat peristiwa berlangsung ia dalam keadaan tak sadar. Andrea justru mengakui secara sadar bahwa tindakannya adalah suatu kebenaran namun salah di mata hukum. Hal ini yang menjadikan Kejaksaan Harris County di Texas berkeyakinan bahwa Andrea tidak gila. Hingga laiklah digelar sebuah sidang untuk menentukan vonis bagi Andrea. Drama persidangan Andrea adalah kisah tentang pembelaan bagi ‘ketaksadaran’ dan tuntutan atas ‘kesadaran’ Andrea.

Persidangan kasus Andrea Yates dimulai pada 18 Februari 2002—bersamaan dengan keluarnya maklumat keras dari George W Bush untuk memerangi ‘Poros Setan’ (hal.223). Perlu diketahui, kasus Andrea disebut banyak pihak sebagai salah satu tragedi sosial terbesar yang terjadi di Amerika Serikat pada awal abad XXI. Peristiwa ‘penyerangan Menara Kembar WTC dan Pentagon’ pada 11/09/2001 sempat membuat proses penyidikan kasus Andrea tertunda (hal:190). Vonis hukuman mati adalah mosi yang diajukan Kejaksaan Harris County kepada Andrea. Sebelumnya, pada 30 Juli 2001, tim pengacara Andrea menyatakan pembelaan atas dasar kegilaan.

Judul asli buku ini: The Unspeakable Crime of Andrea Yates: “Are You There Alone?” sangatlah cocok menggambarkan isinya. Yakni cerita dari pelbagai sisi nan tak terlacak oleh banyak pihak terkait kasus Andrea. O’Malley telah menggumpalkan hasil investigasinya ke dalam sebuah kalimat “Are You There Alone?”. Kalimat tanya itu menunjukkan bahwa ada keluasan bahasan—bukan sekadar kasus psikologi—yang terkandung dalam analisa O’Malley.

Bahkan, penggunaan kalimat tanya itu bagai menunjukkan bahwa O’Malley secara radikal tidak percaya kalau Andrea melakukan pembunuhan itu 'seorang diri'. Inilah keunikan laporan investigasi yang dituliskan dengan kaidah jurnalisme sastrawi. Kandungan data dan fakta jelas menopang isi cerita, namun sisi estetika sastra turut menampakkan diri. Penerjemah buku ini, sangat disayangkan, telah mengubah ‘umbul orisinil’ buku ini menjadi sangat formal-akademis—bagai judul tugas akhir seorang mahasiswa fakultas psikologi. Walau harus diakui pula bahwa secara keseluruhan kualitas terjemahan isi buku ini sangatlah baik.

Andrea memang tak 'sendiri' melakukan pembunuhan itu. O’Malley menelisik sejarah kehidupan Andrea melalui wawancara dengan seratus orang lebih yang dibagi kedalam 20 area investigasi (hal.21-22). Catatan kehidupan Andrea merupakan kisah seorang penderita psikosis akut yang mudah berhalusinasi. Ia kurang mendapatkan perhatian—terutama pujian usai menyelesaikan suatu kegiatan—dari orangtua. Andrea tumbuh menjadi perempuan yang diduga kuat menderita skizofrenia.

17 Juni 1999 ialah awal malapetaka bagi kejiwaan Andrea ketika ia mencoba bunuh diri dengan menenggak lebih dari 40 butir Trazodone 50 miligram—obat penenang dosis tinggi. Ketika itu, Luke—anak ketiga Andrea—baru berusia 4 bulan (hal:77-78). Ia melakukan percobaan bunuh diri lagi pada 20 Juli 1999. Pendorongnya ialah keinginan untuk lepas dari penderitaan.
Andrea kemudian menjalani rehabilitasi mental dengan sejumlah psikiater berbeda yang selalu meresepkan beragam obat untuk kesembuhannya. Kondisi kejiwaan Andrea yang mudah berhalusinasi kian diperumit oleh isi khotbah dari Michael Woroniecki.

Penebusan manusia kepada Tuhan agar kelak di akherat mendapatkan surga adalah inti doktrin Woroniecki. Namun, “doktrin Woroniecki kacau-balau. Entah itu bagi pengamat awam maupun bagi orang-orang yang berusaha mengikuti Woroniecki selama bertahun-tahun”. Lebih jauh, “Walaupun tebusan diberikan kepada seluruh umat manusia sepanjang masa, jumlah orang yang selamat sepertinya hanya ada delapan orang: Woroniecki beserta istri dan anak-anaknya” (hal:181). Woroniecki sempat dikecam sebagai pihak yang menyebabkan kasus Andrea terjadi. Hanya saja, ia mengelak dengan mengatakan bahwa ia hanyalah penyampai pesan Tuhan dan keluarga Yates salah menginterpretasikannya.

Dengan menenggelamkan kelima anaknya sampai tak bernyawa ke dalam bath-up, Andrea berharap mereka tak tercemar dosa dunia hingga pasti masuk surga. Pengacara Andrea mengatakan ini adalah bagian dari halusinasi Andrea. Sementara Penuntut Umum berkeyakinan hal tersebut merupakan pembunuhan tingkat tinggi. O’Malley juga merekam terbelahnya opini publik AS dengan menyertakan pemberitaan media soal kasus Andrea dalam buku ini.

Melalui persidangan yang dramatis, Andrea akhirnya hanya dihukum penjara seumur hidup. Kematian tetaplah tragedi, namun yang terpenting adalah mengetahui sebab kematian itu terjadi. Buku yang ditulis O’Malley ini (dan kasus Andrea itu sendiri) mampu memancangkan pelbagai perubahan di AS, terutama pada ranah hukum, ilmu psikologi dan hak-hak kaum ibu.(*)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

wah bung...kasus semacam ini memeng bisa dibilang rumit. tdak semata bisa langsung memberi penilaian benar dan salah. di inidonesai banyak kasus terjadi. menariknya, kenapa hal itu dilakukan oleh ibu bukan ayahnya?

Jesica Astarina mengatakan...

Mau bls komen di atas. Knp dilakukan oleh seorang ibu bukan ayahnya? Ayah adalah kepala rumah tangga di mana dia lah seorang pencari nafkah dan sebagian besar aktivitasnya di luar bukan di rumah. Sedangkan ibu sebagian besar tinggal di rumah mengasuh anak2 dan menyelesaikan pkerjaan rumah tangga. Tentu lambat laun ia merasa bosan dan lelah. Namun hal itu tidak akan trjadi (bosan dan lelah) apabila suaminya perhatian kepada istrinya. Jikalau suami pergi pagi pulang malam atau workaholic, hendaknya menghubungi istrinya, ajak ngbrol sbntar atau mengatakan suatu pujian dan kata penuh cinta agar sang istri tak merasa jenuh dan kesepian. Bayangkan jika dia merasa lelah seperti kasus di atas, apa dia perlu curhat kepada lima anaknya sedangkn mreka msih kecil dan tidak mngrti apa2. Saya kira itu yg mnjdi dasar pembnuhan ini trjadi dan Andrea mnjadi sprti ini skrg.