Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.

Sebuah Cerita Tentang...

[Entah dari siapa saya dengar cerita ini. Saya telah berusaha keras untuk mengingat sumbernya. Tapi nihil hasilnya. Jangan-jangan cerita ini bermuasal dari hati saya sendiri?]

Syahdan...
Seorang turis bernama Kuciumi Matamu berkunjung ke Indonesia. Ia melawat ke sebuah daerah. Ditemani seorang pemandu yang sangat licik, ia berkeliling di daerah itu. Pemandu itu licik? Ya, sebab namanya Licik Niandikau. Ia hanya mengajak si turis berkeliling ke tempat-tempat yang mudah dijangkau dan banyak makanan. Licik Niandikau selalu berkata bahwa tempat yang mereka kunjungi adalah tempat wisata yang mashyur di daerah tersebut, walau mereka hanya bertandang ke sebuah sawah. Sebab Kuciumi bukanlah penduduk asli daerah tersebut, maka percaya sajalah dia (seperti percayanya pembaca kisah ini kepada saya).

Maka ketika mereka rehat di sebuah rumah makan, Kuciumi sedang melihat-lihat brosur perjalanan wisata.
"Oooo...Ini nama apakah ini?", tanya Kuciumi sambil menunjuk kata 'Rafflesia Arnoldi' yang tertera di brousr.
"Ohhh...itu nama bunga langka, Nona Kuciumi", sahut Licik sambil menyeka makanan yang masih ada di sekitar mulutnya.
"Aaaa...saya mau lihat itu bunga. Gimana bisa caranya?"
"Wahhh, gampang saja...Usai makan ini, saya ajak Nona kesana", Licik menjawab setelah bersendawa dan menyeruput es alpukat. Ia telah kenyang bukan kepalang.
"Dari namanya saja sudah indah sekali. Pasti demikian bentuknya. Juga sangat harum ya?"
"Oh, iya tentu saja. Nanti Nona Kuciumi lihat sendiri. Bunga yang luar biasa"

Lalu mereka sampai jua di lokasi penangkaran bunga Rafflesia Arnoldi. Jarak antara rumah makan ke tempat itu, sebenarnya dekat saja. Tetapi Licik melewati jalan yang tak seharusnya. Ia berputar agar sampai disana satu jam setelah pergi dari rumah makan.
"Ohhh...Licik bau apa ini? Mana bunga yang harum dan langka itu?", Kuciumi berkata sambil menutup hidung.
"Wah, Nona...kita telah salah ambil waktu untuk melihat bunga itu", ucap Licik "Sekarang, bunga itu sedang sensitif. Jadi menyemprotkan bau tak sedap ini. Kapan-kapan kita kesini lagi. Yang penting, Nona Kuciumi pernah ke tempat bunga Rafflesia Arnoldi."

Akhirnya...
Janganlah kamu, wahai manusia, menjadi makhluk yang mudah terpesona hanya karena nama.

PS: Buat warga negara yang sedang sibuk oleh Pemilihan Gubernur di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan lainnya di seluruh kepulauan Nusantara.
"Memilih atau Tidak Memilih saat Pemilu tak pernah bisa dijadikan ukuran nasionalisme"

Tidak ada komentar: