Kalawan

yang sekarang nanti terkatakan lampau
merdu suara yang pasti menjelma parau

dekap rindu perlahan jadi jemput kematian
hangat tatapan yang berbayang dingin kebencian

tangan yang berjabat kelak dipakai membabat
kanan pun cepat berlari menuju kepalan kiri

kaki-kaki gerak serempak lalu saling sepak
cinta terserak dipungut berganti sepi paling kabut

oh, sulit sungguh kubaca beda warna pada tubuhmu.



Utuy Tatang Sontani
dan saya bercakap-cakap selama beberapa malam.
Ada saja yang berubah dari percakapan kami. Hingga saya pun kesulitan menuliskan percakapan itu.

1 komentar:

Udo Z Karzi mengatakan...

Utuy T Somtani, saya kenal melalui buku Peladjaran Bahasa Indonesia yang terbit sebelum G/30S meletus. Masih ejaan lama. Buku itu kayaknya peninggalan ortu. Sayangnya, buku udah hilang.

Saya terkesan dengan nukilan drama "Bunga Rumah Makan". Kemudian Lampung menggelar Liga Teater di Taman Budaya Lampung (TBL) yang mementaskan karya-karya Utuy T. Sontani, kalau nggak salah tahun 2004.

Tapi, kau beruntung ketemu buku karyanya. Sedang saya sampai sekarang belum.